Blogroll

Kamis, 09 Juni 2016

Inflasi dan Bayang-Bayang Pengangguran


Inflasi dan pengangguran merupakan dua masalah dalam perekonomian yang dianggap sebagai momok. Hal ini dikarenakan dua masalah tersebut akan mengurangi kesejahteraan masyarakat. Hal ini menjadi suatu “PR” atau tugas tersendiri bagi pemerintah untuk mencari akar dari permasalahan tersebut dan bagaimana mencabut “akar” tersebut sampai adanya perekonomian yang stabil. Dimana tujuan yang sebenarnya adalah meningkatnya kesejahteraan masyarakat dengan adanya penyerapan tenaga kerja. sehingga dengan adanya penyerapan tenga kerja hal ini sangat berkaitan dengan pengangguran.
Apabila inflasi tidak cepat diatasi maka tingkat inflasi akan meningkat dan hal ini inflasi akan semakin sulit diatasi. Kita analogiikan inflasi dengan tubuh manusia dimana, tubuh manusia sebagai perekonomian. Dengan tubuh yang sehat dimana asupan gizi terpenuhi maka virus-virus ataupun penyakit tidak akan mudah masuk karena tubuh mempunyai metabolisme yang kuat. Sama halnya dengan perekonomian, ketika pasokan bahan baku maupun bahan kebutuhan masyarakat harus di proteksi oleh pemerintah. Intervensi pemerintah dalam hal ini sangat dibutuhkan. Pemerintah harus siap sedia dengan pasokan yang cukup, agar permintaan yang ada di dalam masyarakat tidak melebihi penawaran. Tetapi inflasi juga bisa terjadi karena adanya faktor dari luar seperti “virus” diatas. Di sini di dalam negeri sebagian besar bahan baku maupun alat-alat yang digunakan untuk kegiatan produksi didapatkan dengan impor dari negara lain. Hal ini dapat meningkatkan inflasi karenan belanja yang dilakukan oleh industri ataupun swasta.
Masalah inflasi merupakan topik yang sering diperbincangkan, hal ini dikarenakan terjadinya inflasi yang tinggi akan mempengaruhi daya beli dan menjadikan perekonommian lemah. Inflasi yang terjadi dalam suatu perekonomian menimbulkan masalah-masalah dalam perekonomian yang komplek apabila tidak ditangani dengan benar. Menurut widyanti (1995) Inflasi yang tinggi akan menyebabkan memburuknya distribusi pendapatan hal ini terjadi dengan adanya transfer sumber daya dari konsumen, dan dari masayrakat berpenghasilan tetap kepada konsumen.
Inflasi tidak bisa dikatakan salalu berbahaya. Karena inflasi mempunyai tingkatan untuk mengukur sejauh mana parahnya dan tindakan atau kebijakan apa yang harus dilakukan oleh pemerintah. Menurut Drs Muchdarsyah Sinungan tingkatan inflasi ada empat, yaitu :inflasi ringan (dibawah 10% per tahun), inflasi sedang (pada tingkat antara 10%- 30% per tahun), inflasi berat ( antara 30% - 100% per tahun), dan hiperinflasi (diatas 100% per tahun). Inflasi ringan, pada inflasi ini kenaikan harga secara umum belum bisa dikatakan berbahaya bagi perekonomian atau belum berpotensi menimbulkan krisis. Karena inflasi yang ringan juga bisa menjadi peluang bagi pemerintah untuk meningkatkan ekspor barang keluar negeri. Kedua, inflasi sedang. Inflasi sedang juga belum membahayakan bagi perekonomian, karena inflasi dianggap masih di tahap wajar. Tetapi pada tingkat inflasi ini akan mulai merugikan para pekerja yang berpenghasilan tetap, karena harga-harga mulai mengalami kenaikan tetapi pendapatan tidak mengalami kenaikan. Ketiga inflasi berat, pada tahap ini kenaikan harga secara umum sudah mulai mengganggu perekonomian, karena ada ketidak seimbangan antara supply dan demand atau permintaan dan penawaran barang. Pada tahap ini juga masyarakat tidak berminat untuk mengivestasikan uangnya atau dananya di Bank. Karena tidak mendapatkan keuntungan dari investasi di Bank. Terakhir adalah hyperinflasi atau inflasi sanagt berat. Pada tahap ini, inflasi sudah mulai susah dikendalikan. Tingkat inflasi yang tinggi seperti pada tahap ini akan membuat perekonomian menjadi lesu.
Berbagai tingkatan inflasi pernah dialami oleh Indonesia. Bahkan hyperinflasi juga. Hyperinflasi di Indonesia pernah terjadi pada tahun 1966 sebesar 635%. Tetapi inflasi pada tahun 1966 tersebut dapat ditekan dengan munculnya orde baru. Setelah inflasi tersebut, mulai muculnya pengendalian inflasi di Indonesia. Hyperinflasi lainnya yang pernah terjadi adalah pada saat krisis moneter pada tahun 1998. Hyperinflasi yang terjadi saat itu menyebabkan pemutusan hubungan kerja (PHK) yang besar di segala sektor. Hal ini terjadi bukan hanya karena krisis yang terjadi di dalam negeri tetapi juga karena terjadinya krisis keuangan global saat itu.
Disetiap periode tertentu Bank Indonesia (BI) sebagai bank sentral menentukan terget inflasi yang harus dicapai. Menurut Bank Indonesia (BI) target inflasi yang dibuat untuk sebagai acuan bagi pelaku usaha agar dalam melakukan kegiatan perekonomian kedepan, maka tingkat target inflasi yang dibuat pada tingkat yang rendah dan stabil. Tetapi keadaan perekonomian yang terkadang tidak terprediksi, hal tersebut membuat inflation targetting tidak selalu tercapai.
Inflasi dapat disebabkan oleh berbagai hal.  Inflasi berdasarkan pada sebabnya terdapat dua yaitu, demand pull inflation atau infalsi dorongan permintaan. Merupakan inflasi yang dikarenakan ada kenaikan belanja atau permintaan barang secara agregat. Permintaan akan barang ini bisa disebabkan kenaikan belanja oleh swasta maupun belanja pemerintah. Hal lain yang termasuk dalam demand pull inflation adalah adanya kenaikan permintaan akan ekspor barang dari dalam negeri. Inflasi yang kedua adalah cost pull inflation atau inflasi dorongan biaya. Inflasi ini disebabkan adanya kenaikan biaya dalam proses produksi suatu barang. Seperti kenaikan bahan baku dengan naiknya bahan baku maka secara otomatis harga dari produk juga mengalami kenaikan. Kenaikan pada biaya produksi barang tersebut dapat memicu timbulnya inflasi.
Adanya kondisi-kondisi alam tertentu yang bisa memicu terjadinya inflasi. Selain itu faktor alam bisa menyebabkan terjadinya inflasi seperti halnya El nino yang menyebabkan gagal panen dari sektor pertanian. Distribusi pangan juga harus diperhatikan karena musim yang ekstrim juga dapat menyebabkan distribusi bahan pangan terlambat.
Inflasi juga bisa timbul disebabkan kebijakan yang dibuat pemerintah. Fenomena seperti yang terjadi ini biasanya terjadai pada negara berkembang dimana pemerintah membuat kebijakan tentang devaluasi  mata uang. Kebijakan ini dibuat karena adanya perekonomian yang terbuka, sehingga arus barang, jasa, dan modal dengan mudahnya keluar dan masuk dalam perekonomian. Devaluasi merupakan kebijakan penyesuaian mata uang terhadap mata uang asing. Adanya kebijakan devaluasi memicu peningkatan harga- harga secara umum.
Yang menjadi masalah pengangguran salah satunya adanya kekakuan dalam upah riil, dimana tidak mencapai ekuilibrium di pasar tenaga kerja. Permintaan dan penawaran akan tenaga kerja tidak berbanding lurus. Pengangguran yang disebabkan tidak adanya kecocokan upah biasa di sebut dengan pengangguran strktural. Dimana pengangguran jenis ini juga merupakan dampak dari adanya inflasi. Inflasi yang tinggi menyebabkan biaya yang harus di keluarkan perusahaan juga harus meningkat tetapi disisi lain adanya kekakuan upah merupakan hal yang mendorong terjadinya lojakan tingat pengangguran.
            Untuk melakukan pencengahan terjadinya inflasi Bank Indonesia bersama pemerintah pusat dan pemerintah daerah sepakat menjaga kestabilan harga pangan. Inflasi yang ada di daerah biasanya mempunyai pengaruh besar terhadap inflasi nasional. Maka pangan yang biasanya diproduksi di daerah di harapkan mencukupi permintaan masyarakat. Karena apabila tidak bisa memenuhi kebutuhan masyarakat, harga cenderung naik karena permintaan yang semakin meningkat tetapi tidak diimbangi dengan kecukupan stok produk.           
            Pemerintah dengan kebijakannya terus berusaha membuat inflasi pada posisi yang rendah. Kenapa pada posisi rendah dan bukannya inflasi pada titik 0 (nol). Menjadikan inflasi pada titik nol sulit dilakukan oleh pemerintah karena perekonomian yang selalu fluktuatif dan adanya faktor- faktor tidak terduga yang dapat membuat tingkat inflasi naik. Maka dari itu pemerintah selalu berusaha untuk menjaga inflasi pada tingkat rendah pada jangka panjang. Apabila sudah terjadi inflasi maka kebijakan yang bisa dilakukan pemerintah adalah kebijakan moneter. Dalam kebijakan moneter pemerintah meurunkan tingkat penawaran uang. Karena inflasi berkaitan dengan jumlah uang yang beredar dalam masyarakat berlebihan. Dengan menurunkan tingkat penawaran uang maka suku bunga akan mengalami kenaikan. Kenaikan suku bunga ini untuk menarik masyarakat agar bersedia menginvestasikan uangnya di bank. Kemudaian dalam kebijakan moneter juga terdapat operasi pasar terbuka, kebijakan ini dilakukan dengan menjual Sertifikat Bank Indonesia (SBI). Lalu kredit selektif, yaitu dengan pemerintah mengurangi pemberian kredit yang konsumtif terhadap masyarakat.
            Inflasi  yang terjadi di dalam sebuah perekonomian, tidak sepenuhnya barakibat buruk. Inflasi yang rendah ataupun sedang juga bisa dilihat dari sisi positifnya. Dimana inflasi juga bisa menjadi peluang suatu negara untuk membuat pasar di luar negeri. Karena apabila terjadi inflasi maka harga- harga di dalam negeri lebih rendah daripada negara-negara lainnya. Hal ini apabila ditangani dengan bijak bisa dijadikan peluang. Peluang yang bisa tercipta adalah dengan menningkatkan ekspor. Maka dengan peningkatan ekspor juga akan mendorong peningkatan pendapatan perkapita dan mendorong pertumbuhan ekonomi dan menyerap tenaga kerja sehingga masalah pengangguran bisa teratasi.



0 komentar:

Posting Komentar