Blogroll

Kamis, 09 Juni 2016

HUBUNGAN KAUSAL ANTARA INFLASI DAN PENGANGGURAN


Inflasi sejak dahulu kala hingga saat ini merupakan masalah klasik yang tak teratasi dengan baik. Inflasi yang tidak teratasi mampu memicu masalah-masalah moneter yang mampu memberikan guncangan terhadap kestabilan perekonomian yang tentu saja akan menyebabkan masalah yang akan menjadi hal yang sangat menakutkan jika hal tersebut terjadi. Bisa jadi masalah krisis yang menjadi momok untuk setiap negara karena tidak hanya mengakibatkan masalah perekonomian tetapi juga akan merambat pada masalah sosial. Setidaknya krisis ekonomi Indonesia pada 1998 sudah menjadi pelajaran yang sangat berharga bagi kita semua. Dimana pada saat itu tidak hanya harga-harga yang melambung tinggi tetapi masalah sosial seperti penjarahan dan perampokan marak terjadi pada saat itu. Dan inflasi pada saat itu telah menjadi saksi bisu terjadinya konflik yang sangat memilukn dan sarat akan luka pada saat itu. Telah banyak kebijakan yang dilakukan untuk menekan dan mengendalian inflasi itu sendiri. Hal ini yang memicu suatu pemerintahan untuk mendirikan lembaga otoritas moneter yang dalam hal ini sering kita sebut sebagai bank sentral untuk mengatasi segala macam masalah moneter yang terjadi di negara tersebut. Bank sentral di sini berperan sebagai otoritas moneter yang menerapkan kebijakan untuk mengatasi maslah-masalah m9oneter yang sering kita sebut sebagai kebijakan moneter. Suatu kebijakan moneter diambil oleh otoritas moneter (bank sentral) di Indonesia Bank Indonesia untuk menstabilkan rupiah. Salah satu hal untuk menstabilkan rupiah adalah dengan mengendalikan dan menekan inflasi.  Bank sentral di suatu negara memiliki peran penting dalam mengatur kestabilan nilai mata uang negara tersebut. Kestabilan yang dimaksud di sini adalah ketahanan terhadap fluktuasi harga barang komoditas yang ada di negara tersebut. Inflation targeting (IT) merupakan desain ekonomi moneter baru yang diterbitkan oleh Bank Indonesia untuh mengatasi masalh inflasi. Kebijakan target inflasi ini telah diterbitkan oleh Bank Indonesia pada tahun 2005. Diterapkannya target inflasi di Indonesia berdasarkan pada beberapa pertimbangan. Pertama karena sistem nilai tukar anchor telah ditinggalkan maka akan sangat diperlukan sistem anchor relatif. Kedua karena independensi Bank Indonesia sehingga target inflasi menjadi konsekuensi bagi independensi Bank Indonesia dalam penetapan kebijakan moneter yang memfokuskan pada pengendalian dan penekanan inflasi. Telah banyak negara yang menerapkan target inflasi ini karena kebijakan target inflasi ini dianggap mampu mengatasi masalah inflasi yang bersifat forward looking.

Target inflasi ini menuntut kemampuan bank sentral dalam hal ini Bank Indonesia (BI) untuk mampu memprediksi inflasi yang akan terjadi pada masa yang akan datang. Inflasi suatu negara pada saat ini dapat dipengaruhi oleh inflasi masa lalu, msa depan atau  mungkin keduanya. Inflasi masa lalu memberikan kontribusi sejarah harga yang ditetapkan oleh produsen untuk produknya saat ini. Inflasi sekarang merupakan representasi dari apa yang telah terjadi pada inflasi masa lalu dan merupakan cerminan dari inflasi  di masa depan. Inflasi yang akan terjadi di masa depan merupakan refrensi bagi para pembuat kebijakan untuk menciptakan kebijakan yang sesuai dengan apa yang akan terjadi terhadap perekonomian yang akan terjadi di masa depan. Inflasi di masa depan yang telah terprediksi mampu meningkatkan sentiment pasar global terhadap perekonomian. Inflasi mampu memperngaruhi suku bunga dan suku bunga pun demikian dapat mempengaruhi inflasi. Ini berarti bahwa inflasi dan suku bunga ini memiliki hubungan kausal atau hubungan timbale balik antar keduanya. Inflasi yang tinggi mampu memicu tingginya suku bunga dan rendahnya inflasi mampu memicu rendahnya suku bunga itu sendiri yang tentu saja tinggi rendahnya suku bunga tersebut akan mempengaruhi perekonomian yang terjadi di suatu negara secara langsung. Dan tinggi rendahnya suku bumga secara tidak langsung pasti akan mempengaruhi tingi rendahnya penyerapan pengangguran yang ada di suatu negara.

Harga minyak dunia juga mampu memicu terjadinya inflasi di suatu negara. Apalagi untuk negara yang sangat bergantung pada negara-negara besar tentunya. Tingginya harga minyak dunia akan menyebabkan tingginya biaya produksi yang ada di suatu negara dan tentu saja akan memicu tingginya harga barang-barang komoditas yang ada di pasar barang negara tersebut. Seperti yang sudah dikatakan di atas bahwa tingginya inflasi dapt mempengaruhi tinginya tingkat suku bunga secara tidak langsung. Begini mekanismenya, jika harga yang ada di pasar meningkat maka permintaan akan uang akan meningkat dan tentu saja hal ini akan mempengaruhi umlah uang yang beredar (JUB). Banyaknya jumlah uang yang beredar tentu saja tidak akan baik bagi kestabilan sistem keuangan hal ini memicu bank sentral (jika di Indonesia Bank Indonesia) untuk mengambil kebijakan untuk menarik jumlah uang yang beredar (JUB) tersebut yang dalam hal ini dengan menaikkan tingkat suku bunga untuk menimbulkan keinginan masyarakat dalam menabung sehingga dapat mengurangi jumlah uang yang beredar di masyarakat. Tingkat suku bunga yang tinggi menyebabkan enggannya para investor yang ingin berinvestasi tentu saja. Tingginya tingkat suku bunga akan mengakibatkan berkurangnya kredit akan modal pada negara tersebut. Jika hal itu maka perekonomian akan lesu sehingga pemerintah akan menerapkan kelonggaran dalam investasi dengan menurunkan tingkat suku bunga. Hal ini akan berhasil mengingat para investor cenderung menghindari suku bunga yang tinggi. Akan menjadi kabar baik bagi pengangguran yang menjadi beban negara tersebut untuk mendapatkan pekerjaan. Karena investasi yang berdatangan akan menyebabkan produksi yang meningkat yang akan berdampak pada permintaan tenaga kerja semakin meningkat pula.

Dalam mengatasi pengangguran tentu pemrintah tidak hanya memainkan tari ulur inflasi tetapi lebih ke pemberdayaan yang harusnya dilakukan oleh pemerintah. Pertama, lebih memfokuskan pada koordinasi tentang pengendalian inflasi di daerah yang berupaya menyediakan pasokan pangan dan lebih memanfaatkan optimalisasi penggunaan kapal ternak. Hal ini tentu saja dengan pertimbangan bahwa inflasi di darah satu dengan daerah yang lain beragam terkait dengan harga baha pangan itu sendiri. Kendala dalam transportasi yang tidak memadai dan tidak mudah untuk dijangkau oleh kendaraan pengangkut pangan. Selain Karena kendala jarak dan transportasi juga kendala lain dalam pendistribusian bahan pangan yang ada di Indonesia adalah waktu bongkar muat yang memakan waktu yang sangat lama. Hal ini tentu disinyalir dapat menyebabkan inflasi di daerah tersebut.



Kedua, memperkuat pertanian scara intensif agar mampu meninggkatkan produktivitas sektor pertanian. Hal ini dilakukan dengan cara pendampingan dan memberikan pelatihan tentang modernisasi pertanian. Seperti yang telah ditegaskan pada poin pertama yaitu mengenai masalah pangan yang merupakan salah satu faktor penting bagi kehidupan masyarakat Indonesia. Pun juga demikian dengan ketersediaan pangan tersebut merupakan hal yang mutlak harus dilaksanakan oleh pemerintah. Pertanian merupakan sektor yang potensial mengingat banyaknya lahan Indonesia yang sangat subur. Alangkah lebih baiknya jika didukung dengan teknologi pertanian yang memadai agar mampu menciptakan prodektivitas yang maksimum serta bermanfaat banyak bagi perekonomian ini.



Ketiga, menetapkan sebuah lembaga yang akan bertanggung jawab terhadap logistik pangan dalam hal ini Bulog. Strategi ini menujang strategi dua sebelumnya dimana pemerintah lebih menfokuskan pada ketersediaan pangan mengingat sembangsi pangan dalam hal inflasi mencapai 3,9%.



Keempat, menorong percepatan dalam perbaikan sistem infrastruktur logistik pangan agar mampu menekan biaya dan mampu meningkatkan keefisienan perdagangan antar daerah. Kelima akan mendorong tata niaga dalam hal rantai komoditas pertanian dengan cara memotong rantai distribusi agar mampu memberikan keuntungan bagi para pedagang dan para petani khususnya. Kelima hal di atas saling berkaitan satu dengan yang lainnya, sehingga akan mampu mengatasi masalah pangan yang ada di Indonesia. Perbaikan infrastruktur akan mampu meningkatkan penndistribusian pangan ini sehingga perbedaan harga dari daerah satu dengan daerah lainnya tidak terlalu besar. Adanya jembatan antar pulau akan membantu banyak dalam hal pendistribusian pangan antar pulau. Yang hal ini tentu saja akan mampu meningkatkan pertumbuhan perekonomian Indonesia jika inffrastruktur tersebut terealisasi dengan baik tentunya.



Keenam, pemerintah akan focus pada peningkatan produksi lokal guna mendukung produsen lokal dan mampu meningkatkan pendapatan para produsen lokal tentunya. Peningkatan konsumsi barang lokal akan mampu meningkatkan barang produksi lokal, sehingga mampu meningkatkan produktifitas industry dalam negeri. Hal ini akan mampu menyerap pengangguran yang terjadi di Indonesia yang telah menjadi masalah makro yang sangat klasik dan sampai sekarang pun masih dicari penyelesaiannya oleh berbagai negara di dunia. Berkurangnya pengangguran tentu mampu meningkatkan perekonomian Indonesia. Meningkatnya produksi dalam negeri juga mampu meningkatkan pendapatan pemerintah yang merupakan penunjang seluruh kegiatan yang dilakukan oleh negara ini. Peningkatan pendapatan nasional akan meningkatkan pelayanan terhadap masyarakat. Jadi secara tidak langsung apa yang dilakukan kita dengan mendukung produk lokal dengan cara meningkatkan konsumsi barang lokal akan mampu mendorong perekonomian kita.



Ketujuh, memperkuat adanya komitmen pemerintah pusat dan pemerintah daerah mengenai upaya dalam penekanan inflasi daerah kkususnya dengan cara mengintensifkan peranan dari Tim Pengndali Inflasi serta Tim Pengendali Inflasi Daerah serta menetapkan program stabilitas harga yang merupakan bagian dari Rencana Kerja Pemerintah agar mampu mengendalikan harga yang stabil. Harga yang stabil merupakan dambaan bagi masyarakat baik oleh konsumen maupu produsen itu sendiri. Stabilnya harga akan mampu mengurangi inflasi yang terjadi disuatu daerah dan mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat.



Kedelapan, optimalisasi terhadap penyerapan belanja kemetrian/lembaga serta penyerapan APBD dengan disertai berbagai langkah yang mampu memperkuat stabilitas pengelolaan keuangan.



Kesembilan, pemerintah akan mempercepat pembangunan pembangkit listrik yang ada di daerah, khususnya daerah yang sangat minim penerangan seperti yang terjadi di Indonesia bagian timur. Dimana masyarakat di sana hamper tidak terjangkau oleh listrik sama sekali sehingga segala kegiatan yang mampu mereka hasilkan jika ada listrik tidak dapat terlaksana dengan baik. Tidak tersedianya listrik akan mengakibatkan pertumbuhan ekonomi daerah tersebut terhamabat dan menguangi produktifitas serta dapat menyebabkan kemiskinan di daerah tersebut karena ketidak tersediaan listrik dapat membuat investor enggan untuk menginvestasikan uangnya dengan pertimabangan tidak memadainya infrastruktur daerah tersebut.



Terakhir, pemerintah mendukung penyaluran kredit usaha rakyat. Saat ini pemerintah bersama Bank Indonesia tengah menggalakkan pelonggaran kredit agar mampu merangsang para kreditur untuk meminjam dana pihak ketiga dari Bank. Tidak hanya itu Bank Indonesia tengah menurunkan Giro Wajib Minimum agar mampu memenuhi kebutuhan kredit yang di ajukan oleh masyarakat. Dalam perkembangannya kredit mampu meningkatkan pertumbuhan ekonomi serta menambah pendapatan suatu negara. Kredit yang bijak tentu sangat diperlukan dalam hal ini. Mengingan NPls Indonesia relative kecil hanya sekitar 2% maka tidak akan menjadi masalah bila pemerintah menggerakan kredit guna menunjang sektor riil tentunya.



Setiap kebijakan yang diambil pemerintah tidak lain hanya demi kesejahteraan masyarakatnya. Menjadi hal yang mutlak bagi masyarakat tersebut medukung segala yang dilakukan pemerintah. Agar tercipta hubungan yang baik antara pemerintah dan masyarakatnya tentu saja ini merupakan dambaan bagi setiap orang yang ada di dunia ini tidak terkecuali masyarakat Indonesia.


0 komentar:

Posting Komentar