Blogroll

Kamis, 09 Juni 2016

INFLASI INDONESIA




INFLASI DI INDONESIA
Oleh Coniq Putri Andinata, Mahasiswi  S1 angkatan 2013, Konsentrasi Moneter Ilmu Ekonomi Universitas Jember.
Inflasi merupakan momok mengerikan yang selalu di kendalikan oleh setiap negara. Terlebih lagi bagi negara berkembang seperti inonesia. Tingkat petumbuhan negara mengasumsikan bahwa kondisi perekonomian negara tersebut bergerak maju atau malah mengalami kemunduran. Salah satu faktor yang mempengaruhinya adalah inflasi. Inflasi merupakan peningkatan atau kenaikan pada harga-harga umum yang terjadi pada suatu periode secara signifikan yang bersifat umum. Inflasi disini terjadi dari beberapa faktor baik dari sisi fiskal maupun moneter. Dampak dari adanya kenaikan harga atau inflasi ini secara cepat akan berpengaruh pada pertumbuhan ekonomi.
Untuk mengetahui tingkat inflasi, biasanya menggunakan indeks harga konsumen (IHK). IHK dapat menjelaskan tingkat konsumsi baik barang maupun jasa yang terjadi di masyrakat. Secara umum dapat kita simpulkan bahwa ketika terjadi kenaikan harga maka nilai dari IHK akan cenderung menurun. Dan begitupula sebaliknya. Ketika terjadi kenaikan nilai IHK maka mengindikasikan bahwa terjadi peningkatan konsumsi masyarakat kaaren penurunan harga secara umum. Hal ini dapat kita sebut dengan deflasi.
Laporan Badan Pusat Statistik yang menunjukkan laju inflasi sebesar 0,51% pada bulan januari 2016 menunjukkan bahwa inflasi masih di kisaran ringan. Dan  laju pertahun (year on year) berada pada presentese 4,14. Laju ini masiih juga dianggap ringan dalam parameter tingkat inflasi karena masih berada di bawah nilai 10%. Akan tetapi disuatu negara berkembang laju ini akan berpengaruh cepat pada terhadap berbagai sektor.
Laju inflasi pada awal januari ini disebabkan oleh terjadinya kenaikan harga pada bahan-bahan pokok serta kenaikan pada tarif listrik yang ditetapkan oleh perusahaan listrik negara (PLN). Kenaikan harga pada bahan pokok seperti beras, daging ayam, bawang putih dll disebabkan dari tingkat penawaran yang rendah sehingga terjadi kenaikan harga yang memicu kenaikan harga pada barang lain. Sebagai mana yang telah kita ketahui bahwa saat ini dalam pasar gloal harga minyak dunia terjadi penurunan. Berarti kenaikan harga ini berasal dari sektor domestik sendiri. 
Dari sektor pertanian, para petani masih belum mengalami musim panen. Sedangkan stock beras yang ada tidak mencukupi permintaan yang diinginkan oleh pasar. Dan pada komoditi lain seperti daging ayam maupun daging sapi terjadi karena stock ayam dan sapi yang siap dijual dipasaran masih kurang. Sedangkan pemerintah saat ini sedang berusaha untuk menekan impor daging dengan cara meningkatkan jumlah sapi dan ayam didalam negri. Serta untuk menanggulangi permintaan daging di kota kota besar seperti jakarta, pemerintah mendatangkan langsung dari daerah yang notabennya kelebihan stock daging seperti wilayah NTT, Madura, dsb. Hal ini tak lain juga akan berpengaruh pada kestabilan laju inflasi saat ini. Pendistribusian yang panjang juga berpengaruh pada kenaikan harga ini. Banyaknya campur tangan dari berbagai pihak sehingga menghabiskan dana yang banyak untuk sampai di tangan konsumen. Sehingga harga akhir akan sangat tinggi. Perlu adanya pemangkasan pada beberapa tangan sehingga harga juga akan terkontrol dengan baik.
Pada berita tersebut, inflasi pada bulan januari 2016 tersebut juga disebabkan oleh terjadinya pelemahan nilai tukar rupiah dan harga minyak mentah indonesia yang terjadi pada desember akhir tahun 2016. Pengahapusan subsidi pada golongan kedua yaitu pada pelanggan rumah tangga yang menggunakan listik 1.300 dan 2.500. sehingga terjadi kenaikan dari Rp. 1.352 menjadi Rp.1059,38 per kwh, kenaikan ini diperkiran sekitar 11,6%. Hal inilah yang juga menjadi pemacu kenaikan harga komoditi lain yang menggunakan faktor produksi listrik.
Komiditi lain juga di sebutkan konsumsi sandang berpengaruh sebesar 0,26%. Hal ini ungkin saja terjadi karena adanya permintaan di barang sandang pada awal tahun. Sehingga pasar secara aktif akan merespon hal ini dan dengan terbatasnya penawaran yang ada akan menyebabkan kenaikan harga. Dan adanya kenaikan permintaan di barang maupun jasa yang bersifat sandang ini menunjukkan adanya tingkat kenaikan pada pendapatan.
Dan pada dasarnya inflasi pada bulan januari ini juga dipengaruhi oleh inflasi pada bulan lalu yaitu desember 2015. Faktor yang menjadi penyebabnya juga antara lain masa libur sekolah yang pastinya akan membuat sektor rekreasi dan olahraga meningkat dari sebelumnya.
Menurut berita tersebut telah diungkapkan dengan jelas bahwa Kenaikan harga umum juga terjadi di beberapa wilayah indonesia, antara lain di kabupaten  Sibolga Sumatera utara yang mencapai 1,82%. Angka ini cenderungbesar jika dibandingkan dengan laju inflasi secara keseluruhan yaitu sebesar 0,51%. Sebagaimana yang telah penulis jelaskan sebelumnya bahwa alur distribuusi juga dapat berpengaruh terhadap harga dipasar. Sedangkan untuk wilayah dengan laju inflasi paling rendah yaitu Padang Sumatera Barat yaitu 0,02%. Yang menarik adalah ketika terjadi kenaikan laju inflasi secara nasional, wilayah Gorontalo mengalami deflasi atau penurunan harga secara umum dipasar yaitu senilai 0,58%.Hal ini menunjukkan bahwa kondisi perekonomian di Gorontalo tidak sepenuhnya lagi bergantung pada perekonomian Indonesia. Hal ini juga menunjukkan adanya kesinambungan yang baik antara kebijakan fiskal maupun moneter yang dilakukan oleh pemerintah di Gorontalo.
Dari keseluruhan ulasan diatas menunjukkan bahwa terjadinya inflasi pada awal tahun 2016 berasal dari sektor rill yang juga dipengaruhi oleh sektor keungan. Dalam hal ini Bank Indonesia tetap menjaga suku bunga acuan BI rate sebesar 7,5% pada akhir desember 2015 lalu. Hal ini dirasa efektif sehingga pada awal tahun 2016 kondisi inflasi yang terjadi masih bisa dikendalikan.

0 komentar:

Posting Komentar