INFLASI DI
INDONESIA
Oleh Coniq Putri
Andinata, Mahasiswi S1 angkatan 2013,
Konsentrasi Moneter Ilmu Ekonomi Universitas Jember.
Inflasi merupakan momok mengerikan
yang selalu di kendalikan oleh setiap negara. Terlebih lagi bagi negara
berkembang seperti inonesia. Tingkat petumbuhan negara mengasumsikan bahwa
kondisi perekonomian negara tersebut bergerak maju atau malah mengalami
kemunduran. Salah satu faktor yang mempengaruhinya adalah inflasi. Inflasi
merupakan peningkatan atau kenaikan pada harga-harga umum yang terjadi pada
suatu periode secara signifikan yang bersifat umum. Inflasi disini terjadi dari
beberapa faktor baik dari sisi fiskal maupun moneter. Dampak dari adanya
kenaikan harga atau inflasi ini secara cepat akan berpengaruh pada pertumbuhan
ekonomi.
Untuk mengetahui tingkat inflasi,
biasanya menggunakan indeks harga konsumen (IHK). IHK dapat menjelaskan tingkat
konsumsi baik barang maupun jasa yang terjadi di masyrakat. Secara umum dapat
kita simpulkan bahwa ketika terjadi kenaikan harga maka nilai dari IHK akan
cenderung menurun. Dan begitupula sebaliknya. Ketika terjadi kenaikan nilai IHK
maka mengindikasikan bahwa terjadi peningkatan konsumsi masyarakat kaaren
penurunan harga secara umum. Hal ini dapat kita sebut dengan deflasi.
Laporan Badan Pusat Statistik yang
menunjukkan laju inflasi sebesar 0,51% pada bulan januari 2016 menunjukkan
bahwa inflasi masih di kisaran ringan. Dan
laju pertahun (year on year) berada pada presentese 4,14. Laju ini
masiih juga dianggap ringan dalam parameter tingkat inflasi karena masih berada
di bawah nilai 10%. Akan tetapi disuatu negara berkembang laju ini akan
berpengaruh cepat pada terhadap berbagai sektor.
Laju inflasi pada awal januari ini
disebabkan oleh terjadinya kenaikan harga pada bahan-bahan pokok serta kenaikan
pada tarif listrik yang ditetapkan oleh perusahaan listrik negara (PLN).
Kenaikan harga pada bahan pokok seperti beras, daging ayam, bawang putih dll
disebabkan dari tingkat penawaran yang rendah sehingga terjadi kenaikan harga
yang memicu kenaikan harga pada barang lain. Sebagai mana yang telah kita
ketahui bahwa saat ini dalam pasar gloal harga minyak dunia terjadi penurunan.
Berarti kenaikan harga ini berasal dari sektor domestik sendiri.
Dari sektor pertanian, para petani
masih belum mengalami musim panen. Sedangkan stock beras yang ada tidak
mencukupi permintaan yang diinginkan oleh pasar. Dan pada komoditi lain seperti
daging ayam maupun daging sapi terjadi karena stock ayam dan sapi yang siap
dijual dipasaran masih kurang. Sedangkan pemerintah saat ini sedang berusaha
untuk menekan impor daging dengan cara meningkatkan jumlah sapi dan ayam
didalam negri. Serta untuk menanggulangi permintaan daging di kota kota besar
seperti jakarta, pemerintah mendatangkan langsung dari daerah yang notabennya
kelebihan stock daging seperti wilayah NTT, Madura, dsb. Hal ini tak lain juga
akan berpengaruh pada kestabilan laju inflasi saat ini. Pendistribusian yang
panjang juga berpengaruh pada kenaikan harga ini. Banyaknya campur tangan dari
berbagai pihak sehingga menghabiskan dana yang banyak untuk sampai di tangan
konsumen. Sehingga harga akhir akan sangat tinggi. Perlu adanya pemangkasan
pada beberapa tangan sehingga harga juga akan terkontrol dengan baik.
Pada berita tersebut, inflasi pada
bulan januari 2016 tersebut juga disebabkan oleh terjadinya pelemahan nilai
tukar rupiah dan harga minyak mentah indonesia yang terjadi pada desember akhir
tahun 2016. Pengahapusan subsidi pada golongan kedua yaitu pada pelanggan rumah
tangga yang menggunakan listik 1.300 dan 2.500. sehingga terjadi kenaikan dari
Rp. 1.352 menjadi Rp.1059,38 per kwh, kenaikan ini diperkiran sekitar 11,6%.
Hal inilah yang juga menjadi pemacu kenaikan harga komoditi lain yang
menggunakan faktor produksi listrik.
Komiditi lain juga di sebutkan
konsumsi sandang berpengaruh sebesar 0,26%. Hal ini ungkin saja terjadi karena
adanya permintaan di barang sandang pada awal tahun. Sehingga pasar secara
aktif akan merespon hal ini dan dengan terbatasnya penawaran yang ada akan
menyebabkan kenaikan harga. Dan adanya kenaikan permintaan di barang maupun
jasa yang bersifat sandang ini menunjukkan adanya tingkat kenaikan pada
pendapatan.
Dan pada dasarnya inflasi pada bulan
januari ini juga dipengaruhi oleh inflasi pada bulan lalu yaitu desember 2015.
Faktor yang menjadi penyebabnya juga antara lain masa libur sekolah yang
pastinya akan membuat sektor rekreasi dan olahraga meningkat dari sebelumnya.
Menurut berita tersebut telah
diungkapkan dengan jelas bahwa Kenaikan harga umum juga terjadi di beberapa
wilayah indonesia, antara lain di kabupaten
Sibolga Sumatera utara yang mencapai 1,82%. Angka ini cenderungbesar
jika dibandingkan dengan laju inflasi secara keseluruhan yaitu sebesar 0,51%.
Sebagaimana yang telah penulis jelaskan sebelumnya bahwa alur distribuusi juga
dapat berpengaruh terhadap harga dipasar. Sedangkan untuk wilayah dengan laju
inflasi paling rendah yaitu Padang Sumatera Barat yaitu 0,02%. Yang menarik
adalah ketika terjadi kenaikan laju inflasi secara nasional, wilayah Gorontalo
mengalami deflasi atau penurunan harga secara umum dipasar yaitu senilai
0,58%.Hal ini menunjukkan bahwa kondisi perekonomian di Gorontalo tidak
sepenuhnya lagi bergantung pada perekonomian Indonesia. Hal ini juga
menunjukkan adanya kesinambungan yang baik antara kebijakan fiskal maupun
moneter yang dilakukan oleh pemerintah di Gorontalo.
Dari keseluruhan ulasan diatas
menunjukkan bahwa terjadinya inflasi pada awal tahun 2016 berasal dari sektor
rill yang juga dipengaruhi oleh sektor keungan. Dalam hal ini Bank Indonesia
tetap menjaga suku bunga acuan BI rate sebesar 7,5% pada akhir desember 2015
lalu. Hal ini dirasa efektif sehingga pada awal tahun 2016 kondisi inflasi yang
terjadi masih bisa dikendalikan.






0 komentar:
Posting Komentar