KONGJUNTUR OMBAK PEREKONOMIAN
Oleh : Devi Sylvia Herman
Ekonomi
yang sehat, stabil, tidak terlalu
bergejolak adalah dambaan bagi semua negara. Perekonomian yang jauh dari
penurunan dalam satu tahun, triwulanan bahkan dalam bulanan , dimana terdapat
kestabilan harga barang - barang umum, ketersedian lapangan pekerjaan yang
luas, pendapatan perkapita yang naik, neraca pembanyaran dan neraca perdagangan
yang surplus atau setidaknya seimbang. Apakah hal itu dapat terjadi, jawabannya
semua itu adalah khayalan semata. Perekonomian yang sebenaranya mengalami
pasang surut. Kadang terjadi masa booming, kadang terjadi masa resesi. Semua
hal ini tidak dapat dihindari oleh suatu negara. Gelombang naik turun suatu
perekonomian terjadi pada rentang waktu yang tidak dapat diprediksi dan
cenderung bervariasi.
Hal
ini dapat kita lihat pada siklus bisnis suatu negara. Siklus bisnis sendiri
adalah konjungtur suatu fluktuasi dimana terdapat masa resesi dan masa booming.
Besarnya produk domestik bruto dibentuk dari besarnya pendapatan dan
pengeluaran total dalam perekonomian. Jadi produk domestik bruto (PDB) dapat
menjadi tolak ukur dari sebuah perekonomian. Analisis siklus bisnis ini dapat
kita mulai dari pertumbuhan PDB riil.
Kondisi
ekonomi global pada tahun 2015 yang cenderung mengalami kondisi resesi dimana
pertumbuhan ekonomi global 2.4 persen akibatnya proyeksi pertumbuhan ekonomi
global pada tahun 2016 dipangkas dari 3.3 persen menjadi 2.9 persen.
Puncak
kecemasan akan keberlanjutan ekonomi tahun 2016 pada puncaknya saat harga
minyak dunia merosot. Diketahui dari artikel diatas harga
kontrak minyak West Texas Intermediate dan Brent anjlok, masing-masing turun 5
dan 12 persen selama sepekan. Keduanya berada di bawah 40 dollar AS per barrel.
Terus berlangsung hingga awal tahun 2016. Pada minggu ketiga tahun 2016 harga
minyak dunia terpuruk sejak 12 tahun terakhir. Harga minyak di London yaitu
kontrak minyak mentah BNS untuk yang dikirim pada Maret ditutup pada USD 28.94
per barel turun USD 2,09 dari hari sebelumnya. Dan harga minyak di New York
minyak mentah mentah WTI atau light sweet untuk pengirman Februari mencapai USD
29.42 per barel turun USD 1,78 dari hari sebelumnya.
Lalu mengapa
hal ini terjadi?? Jawabannya adalah terjadi lemahnya pertumbuhan ekonomi global
dan ketidakstabilan ekonomi global. Akibatnya permintaan minyak berkurang dan
supply minyak berlebih. Melambatanya ekonomi negra – negara adikuasa seperti
Amerika Serikat dimana dalam kuartal pertama tahun 2015 perekonomian Amerika
tumbuh sangat lambat sekitar 0.2 persen penyebabnya adalah konsumsi yang
menurun karena musim dingin yang ekstrim. Dan disebabkan harga minyak yang
turun. Hal ini berdampak pada ekonomi global.
Negara – negara konsumen minyak seperti India
dan China yang mengalami perlambatan
ekonomi, persentase pertumbuhan ekonomi China pada tahun 2015
yang berkisar 6,3 persen. Sekedar info saja China adalah konsumen minyak
terbesar ke 2, India konsumen minyak nomer 4. Akibatnya permintaan akan minyak
semakin menurun. Sementara negara penghasil minyak yaitu yang tergabung dalam
OPEC enggan untuk menurunkan produksinya ditambah dengan pencabutan embargo
ekonomi pada Iran yang mengakibatkan supply minyak membludak. Hal ini sesuai
dengan prinsip ekonomi dimana apabila barang yang diperjual belikan makin
berlimpah namun permintaan tidak sebanyak jumlah penawaran maka harga barang tersebut
akan menurun.
Lalu
bagaimana dengan Indonesia?
Sentimen
pasar kedepan tentang IHSG dan nilai tukar bermacam macam. Walaupun pertumbuhan
ekonomi Indonesia masih lebih baik daripada negara – negara berkembang lainnya
yaitu proyeksi pertumbuhan ekonomi Ukraina sebesar – 4 persen, Kroasia sebesar
0.2 persen, dan Brasil sebesar – 1.6
persen. Di Indonesia sendiri, dapat diketahui bahwa IHSG menurun pada pekan
kedua bulan desember 2015 sebesar 15 persen lalu nilai tukar pada bulan september
lalu yang menembus 14.700 per dollar AS. Kurs tengah Bank Indonesia pada minggu
pertama bulan Desember tahun 2015 menembus angka Rp 13.833 per
dolar.
Tekanan
depresiasi rupiah pada tahun 2015 sebesar 11 persen, hal ini masih lebih baik
daripada Brasil sebesar 49 persen, Turki sebesar 33 persen, dan negara- negra
lain yang mata uangnya terdepresiasi hingga diatas 20 persen. Banyak tantangan
yang akan dihadapi oleh Indonesia tahun 2016 antara lain perdagangan dunia yang
melemah pada tahun 2015, perlambatan ekonomi di China, dampak normalisasi suku
bunga The Fed, dan penurunan harga komoditas yang dimulai dari tahun 2012
mencapai titik nadir pada tahun 2015. Dan tentunya penurunan harga minyak dunia
yang mencapai puncak tahun 2015.
Penurunan
harga komoditas ini menekan ekspor Indonesia. Seperti yang terlihat pada bulan
Oktober, saat itu terjadi kenaikkan permintaan ekspor, namun harga –harga
komoditas yang tidak kunjung memberi sinyal positif membuat niali ekpor melemah
sebesar mencapai
US$12,08 miliar atau turun 4,00% dibanding nilai ekspor pada September 2015
namun hal berbeda terjadi pada volume ekspornya justru mengalami peningkatan
sebesar 4,38%. Dimana harga dua komoditas yang sangat berpengruh pada ekspor Indonesia
karena memiliki pangsa pasar yang luas sebsar 25,85% dari nilai ekspor non migas adalah
harga CPO pada oktober 2015 rata-rata mencapai US$584,00/ ton
turun 19,11% dibanding bulan oktober 2014. Dan harga batu bara yang pada
Oktober 2015 harga rata-rata mencapai US$52,20/ton atau turun 18,05% dari
Oktober 2014.
Namun dari
segala permasalahan ekonomi global dan dalam negeri yang menekan pertumbuhan
Indonesia pada tahun 2015. Otoritas Jasa Keuangan memprediksi pertumbuhan
Indonesia pada tahun 2016 membaik. Di tegaskan pula oleh berbagai organisasi
Internasional seperti yang ditgaskan oleh IMF yaitu kisaran 5,1 persen. Dan
inflasi pada kisaran 5,1 persen (ADB) hingga 6,3 persen (OECD). Dan Bank Indonesia memprediksi inflasi pada
tahun 2016 pada kisaran 4 persen
Semua
proyeksi pertumbuhan ini akan membaik jika pemerintah dapat mengoptimalkan
investasi swasta yang ada di dalam negeri, berbagai kebijakan ekonomi yang
dikeluarkan oleh pemerintah diharapkan dapat membawa dampak yang baik pada
tahun 2016 tentunya harus didukung kosistensi oleh pemerintah.
Pada
tahun 2016 diprediksi BI RATE akan turun
hingga 50 basis point yaitu menyentuh 7 persen. Hal itu terbukti pada Januari
2016 Bank Indonesia memangkas suku bunga acuannya sebesar
25 basis point menjadi 7. 25 persen, tentunya Bi melihat kondisi
fundamental ekonomi Indonesia yaitu inflasi pada tahun 2015 yang tergolong
kecil yaitu 3. 35 persen, membaiknnya defisit transaksi berjalan dari 3.1
persen menjadi 2 persen, cadangan devisa yang membaik yaitu setara dengan 7
bulan impor yaitu sebesar 105,9 miliar dolar AS. Dan
berakhirnya ketidakpastian ekonomi karena The Fed mengumumkan normalisasi FFR yang sangat tipis 25 basis poin(bps) sebesar 0,25 –
0,50 persen. Hal ini dapat diantisipasi pasar dengan baik sehingga tidak dapat
menyebabkan gejolak pada pasar global. Hal itu pula ditegaskan oleh The Fed
bahwa kebijakan kenaikan FFR itu dilakukan dengan bertahap atau gradual dan
terbatas agar tidak berpengaruh pada ekonomi global.
Dengan
diturunnya BI RATE dapat mendukung pelonggaran kebijkan makroprudensial dan
penurunan GWM berdasarkan LFR diharapan dapat memperbesar kredit perbankkan
pada tahun 2016 dan menumbukan minat berinvestasi.Tentunya
stabilitas pasar keuangan harus terus dipantau oleh pemerintah. Kebijakan
makroprudensial yang berorientasi pada stabilitas pasar keuangan harus terus
dilakukan. Dengan memperhatikan rasio kecukupan modal dan rasio kredit
bermasalah.
Alhasil Bank
Indonesia beberapa kali melakukan penurunan BI rate dan pelonggaran sektor
monoter lainnya pada bulan Februari 2016, nilai tukar indonesia terapersiasi
pada kisaran Rp 13.372 per dolar AS hal ini terjadi karena aliran
modal masuk yang termasuk bertambah dan
pada sisi domestik sentimen investor yang membaik akibat dari penurunan BI RATE
dan implementasi proyek –proyek infrastukutr yang mulai direalisasikan. Neraca perdagangan pula menunjukkan angka
positif yaitu surplus pada bulan Februari sebesar 1,15
miliar dolar AS akibat
peningkatan ekspor perhiasan, besi dan baja. Dan defisit pada transaksi
berjalan dapat dibaiyai oleh surplus pada neraca finansial dimana terjadi
kenaikan investasi portofolio sebesar 2,2 miliar dolar AS.
Diharapkan
hal positif diatas dapat berlanjut hingga akhir tahun 2016 dengan syarat
pemerintah harus konsisten dalam penerapan kebijakan guna mendorong pertumbuhan
ekonomi yang lebih baik daripada tahun 2015. Dan menciptakan pemerataan
pendapatan pada masyarakat. Tentunya pemerintah bersama Bank Indonesia dan OJK
bersama - sama harus menjaga stabilitas sistem keuangan agar pelonggaran – pelonggaran disektor
moneter tidak membawa resiko sistemik.






0 komentar:
Posting Komentar