Blogroll

Kamis, 09 Juni 2016

KONGJUNTUR OMBAK PEREKONOMIAN



KONGJUNTUR OMBAK PEREKONOMIAN
Oleh : Devi Sylvia Herman
Ekonomi yang sehat, stabil,  tidak terlalu bergejolak adalah dambaan bagi semua negara. Perekonomian yang jauh dari penurunan dalam satu tahun, triwulanan bahkan dalam bulanan , dimana terdapat kestabilan harga barang - barang umum, ketersedian lapangan pekerjaan yang luas, pendapatan perkapita yang naik, neraca pembanyaran dan neraca perdagangan yang surplus atau setidaknya seimbang. Apakah hal itu dapat terjadi, jawabannya semua itu adalah khayalan semata. Perekonomian yang sebenaranya mengalami pasang surut. Kadang terjadi masa booming, kadang terjadi masa resesi. Semua hal ini tidak dapat dihindari oleh suatu negara. Gelombang naik turun suatu perekonomian terjadi pada rentang waktu yang tidak dapat diprediksi dan cenderung bervariasi.
Hal ini dapat kita lihat pada siklus bisnis suatu negara. Siklus bisnis sendiri adalah konjungtur suatu fluktuasi dimana terdapat masa resesi dan masa booming. Besarnya produk domestik bruto dibentuk dari besarnya pendapatan dan pengeluaran total dalam perekonomian. Jadi produk domestik bruto (PDB) dapat menjadi tolak ukur dari sebuah perekonomian. Analisis siklus bisnis ini dapat kita mulai dari pertumbuhan PDB riil.
Kondisi ekonomi global pada tahun 2015 yang cenderung mengalami kondisi resesi dimana pertumbuhan ekonomi global 2.4 persen akibatnya proyeksi pertumbuhan ekonomi global pada tahun 2016 dipangkas dari 3.3 persen menjadi 2.9 persen.
Puncak kecemasan akan keberlanjutan ekonomi tahun 2016 pada puncaknya saat harga minyak dunia merosot. Diketahui dari artikel diatas harga kontrak minyak West Texas Intermediate dan Brent anjlok, masing-masing turun 5 dan 12 persen selama sepekan. Keduanya berada di bawah 40 dollar AS per barrel. Terus berlangsung hingga awal tahun 2016. Pada minggu ketiga tahun 2016 harga minyak dunia terpuruk sejak 12 tahun terakhir. Harga minyak di London yaitu kontrak minyak mentah BNS untuk yang dikirim pada Maret ditutup pada USD 28.94 per barel turun USD 2,09 dari hari sebelumnya. Dan harga minyak di New York minyak mentah mentah WTI atau light sweet untuk pengirman Februari mencapai USD 29.42 per barel turun USD 1,78 dari hari sebelumnya.
Lalu mengapa hal ini terjadi?? Jawabannya adalah terjadi lemahnya pertumbuhan ekonomi global dan ketidakstabilan ekonomi global. Akibatnya permintaan minyak berkurang dan supply minyak berlebih. Melambatanya ekonomi negra – negara adikuasa seperti Amerika Serikat dimana dalam kuartal pertama tahun 2015 perekonomian Amerika tumbuh sangat lambat sekitar 0.2 persen penyebabnya adalah konsumsi yang menurun karena musim dingin yang ekstrim. Dan disebabkan harga minyak yang turun. Hal ini berdampak pada ekonomi global.
 Negara – negara konsumen minyak seperti India dan  China yang mengalami perlambatan ekonomi, persentase pertumbuhan ekonomi China pada tahun 2015 yang berkisar 6,3 persen. Sekedar info saja China adalah konsumen minyak terbesar ke 2, India konsumen minyak nomer 4. Akibatnya permintaan akan minyak semakin menurun. Sementara negara penghasil minyak yaitu yang tergabung dalam OPEC enggan untuk menurunkan produksinya ditambah dengan pencabutan embargo ekonomi pada Iran yang mengakibatkan supply minyak membludak. Hal ini sesuai dengan prinsip ekonomi dimana apabila barang yang diperjual belikan makin berlimpah namun permintaan tidak sebanyak jumlah penawaran maka harga barang tersebut akan menurun.
Lalu bagaimana dengan Indonesia?
Sentimen pasar kedepan tentang IHSG dan nilai tukar bermacam macam. Walaupun pertumbuhan ekonomi Indonesia masih lebih baik daripada negara – negara berkembang lainnya yaitu proyeksi pertumbuhan ekonomi Ukraina sebesar – 4 persen, Kroasia sebesar 0.2 persen,  dan Brasil sebesar – 1.6 persen. Di Indonesia sendiri, dapat diketahui bahwa IHSG menurun pada pekan kedua bulan desember 2015 sebesar 15 persen lalu nilai tukar pada bulan september lalu yang menembus 14.700 per dollar AS. Kurs tengah Bank Indonesia pada minggu pertama bulan Desember tahun 2015 menembus angka Rp 13.833 per dolar.  
Tekanan depresiasi rupiah pada tahun 2015 sebesar 11 persen, hal ini masih lebih baik daripada Brasil sebesar 49 persen, Turki sebesar 33 persen, dan negara- negra lain yang mata uangnya terdepresiasi hingga diatas 20 persen. Banyak tantangan yang akan dihadapi oleh Indonesia tahun 2016 antara lain perdagangan dunia yang melemah pada tahun 2015, perlambatan ekonomi di China, dampak normalisasi suku bunga The Fed, dan penurunan harga komoditas yang dimulai dari tahun 2012 mencapai titik nadir pada tahun 2015. Dan tentunya penurunan harga minyak dunia yang mencapai puncak tahun 2015.
Penurunan harga komoditas ini menekan ekspor Indonesia. Seperti yang terlihat pada bulan Oktober, saat itu terjadi kenaikkan permintaan ekspor, namun harga –harga komoditas yang tidak kunjung memberi sinyal positif membuat niali ekpor melemah sebesar mencapai US$12,08 miliar atau turun 4,00% dibanding nilai ekspor pada September 2015 namun hal berbeda terjadi pada volume ekspornya justru mengalami peningkatan sebesar 4,38%. Dimana harga dua komoditas yang sangat berpengruh pada ekspor Indonesia karena memiliki pangsa pasar yang luas sebsar 25,85%  dari nilai ekspor non migas adalah harga CPO pada oktober 2015 rata-rata mencapai US$584,00/ ton turun 19,11% dibanding bulan oktober 2014. Dan harga batu bara yang pada Oktober 2015 harga rata-rata mencapai US$52,20/ton atau turun 18,05% dari Oktober 2014.
Namun dari segala permasalahan ekonomi global dan dalam negeri yang menekan pertumbuhan Indonesia pada tahun 2015. Otoritas Jasa Keuangan memprediksi pertumbuhan Indonesia pada tahun 2016 membaik. Di tegaskan pula oleh berbagai organisasi Internasional seperti yang ditgaskan oleh IMF yaitu kisaran 5,1 persen. Dan inflasi pada kisaran 5,1 persen (ADB) hingga 6,3 persen (OECD).  Dan Bank Indonesia memprediksi inflasi pada tahun 2016 pada kisaran 4 persen
Semua proyeksi pertumbuhan ini akan membaik jika pemerintah dapat mengoptimalkan investasi swasta yang ada di dalam negeri, berbagai kebijakan ekonomi yang dikeluarkan oleh pemerintah diharapkan dapat membawa dampak yang baik pada tahun 2016 tentunya harus didukung kosistensi oleh pemerintah.
Pada tahun  2016 diprediksi BI RATE akan turun hingga 50 basis point yaitu menyentuh 7 persen. Hal itu terbukti pada Januari 2016 Bank Indonesia memangkas suku bunga acuannya  sebesar  25 basis point menjadi 7. 25 persen, tentunya Bi melihat kondisi fundamental ekonomi Indonesia yaitu inflasi pada tahun 2015 yang tergolong kecil yaitu 3. 35 persen, membaiknnya defisit transaksi berjalan dari 3.1 persen menjadi 2 persen, cadangan devisa yang membaik yaitu setara dengan 7 bulan impor yaitu sebesar 105,9 miliar dolar AS. Dan berakhirnya ketidakpastian ekonomi karena The Fed mengumumkan normalisasi FFR yang sangat tipis 25 basis poin(bps) sebesar 0,25 – 0,50 persen. Hal ini dapat diantisipasi pasar dengan baik sehingga tidak dapat menyebabkan gejolak pada pasar global. Hal itu pula ditegaskan oleh The Fed bahwa kebijakan kenaikan FFR itu dilakukan dengan bertahap atau gradual dan terbatas agar tidak berpengaruh pada ekonomi global.
Dengan diturunnya BI RATE dapat mendukung pelonggaran kebijkan makroprudensial dan penurunan GWM berdasarkan LFR diharapan dapat memperbesar kredit perbankkan pada tahun 2016 dan menumbukan minat berinvestasi.Tentunya stabilitas pasar keuangan harus terus dipantau oleh pemerintah. Kebijakan makroprudensial yang berorientasi pada stabilitas pasar keuangan harus terus dilakukan. Dengan memperhatikan rasio kecukupan modal dan rasio kredit bermasalah.
Alhasil Bank Indonesia beberapa kali melakukan penurunan BI rate dan pelonggaran sektor monoter lainnya pada bulan Februari 2016, nilai tukar indonesia terapersiasi pada kisaran Rp 13.372 per dolar AS hal ini terjadi karena aliran modal masuk  yang termasuk bertambah dan pada sisi domestik sentimen investor yang membaik akibat dari penurunan BI RATE dan implementasi proyek –proyek infrastukutr yang mulai direalisasikan.  Neraca perdagangan pula menunjukkan angka positif yaitu surplus pada bulan Februari sebesar 1,15 miliar dolar AS  akibat peningkatan ekspor perhiasan, besi dan baja. Dan defisit pada transaksi berjalan dapat dibaiyai oleh surplus pada neraca finansial dimana terjadi kenaikan investasi portofolio sebesar 2,2 miliar dolar AS.
Diharapkan hal positif diatas dapat berlanjut hingga akhir tahun 2016 dengan syarat pemerintah harus konsisten dalam penerapan kebijakan guna mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih baik daripada tahun 2015. Dan menciptakan pemerataan pendapatan pada masyarakat. Tentunya pemerintah bersama Bank Indonesia dan OJK bersama - sama harus menjaga stabilitas sistem keuangan  agar pelonggaran – pelonggaran disektor moneter tidak membawa resiko sistemik.

0 komentar:

Posting Komentar