Blogroll

Rabu, 08 Juni 2016

Inflasi rendah kah ? Inflasi tinggi kah?



Inflasi rendah kah ? Inflasi tinggi kah?
Perekonomian yang stabil adalah damba’an semua negara di dunia, inflasi yang tinggi, inflasi yang rendah pun akan menjadi tantangan bagi setiap negara. Maka manakah yang lebih baik ? inflasi yang tinggi kah atau yang rendah ? dibawah ini dimulai dengan gambaran bagaimana inflasi yang tinggi mempenagruhi ekonomi .
“Inflasi “ adalah kata – kata yang membuat semua orang dalam suatu negara terdiam sejenak. Mengapa karena kebanyakkan masyarakat mengingat kembali kejadian pada krisis keuangan tahun 1997- 1998, dimana itu adalah awal dari keterpurukan ekonomi Indonesia. Tahun- tahun sebelumnya ekonomi indonesia sangat berjaya dimana angka pertumbuhan ekonomi pada tahun 1994 sebesar 7.5 persen , 1995 sebesar 8.2 persen dan pertumbuhan ekonomi tahun 1996 sebesar 7.8 persen. langsung anjlok pada tahun 1997 angka inflasi sebesar 10.31 persen semakin parah pada inflasi tahun 1998 77.63 persen .
Dimana yang terjadi adalah tahun  1998. Saat semua mata uang negara di Asia menurn tajam, terhadap dollar Amerika Serikat, akibatnya Perbankkan adalah sektor yang paling parah dari imbas krisis ekonomi (Auliya :2008). Mengapa demikian jawabannya adalah dengan merosotnya mata uang Indonesia dikisaran 8.025 rupiah pada tahun 1998 yang semula pada tahun 1996 sebesar 2.383 rupiah (BPS & BI).  Perbankkan yang melakukan pinjamin dalam bentuk valuta asing tanpa adanya perlindungan, maka jumlah utangnya akan berlimpat ganda ditambah lagi perbankkan dan perusahaan mengandalkan pemebanyaran dari sumber bisnis yang mengahasilkan rupiah, ditambah dengan kas – kas bank yang menurun akibat penarikan uang oleh nasabah secara berlebihan  , akhirnya bank dan perusahaan yang meminjam dalam valuta asing tidak mampu memenuhi kewajibannya (Auliya;2008). Dapat dikatahui lonjakan utang publik menjadi Rp 1270,00 trillun atau sekitar 102 persen dari PDB tahun 2000 (Auliya:1008).
Dampaknhya maka pertumbuhan yang sebelumnya mencapai 7.8 persen pada tahun 1996 merosot tajam bahkan terjun menjadi -13.1 persen, tingkat pengangguran pada tahun 1996 sebesar 4,9 persen pada tahun 1998 menjadi 5.5 persen, otomatis tingkat kemiskinan melonjak tajam(Auliya;2008). Bukan hanya sektor  ekonomi yang terpukul tapi semua bidang kehidupan. Maka kebijakan yang diambil pemerintah dalam mengatisi krisis 1998 adalah dengan kebijakan pengetatan likuiditas dimana BUMN dihimbau menempatakandana mereka di bank – bank pemerintahan. Intervensi pemerintah dalam perekonomian tidak dapat membantu ngatasi masalah makan , maka pada september 1997 presiden memberikan 2 pilihan kebijakan yaitu dengan menutup bank atau menyelamatkan melalui pemberina likuiditas (Auliya ;2008). Dan untuk mengembalikan kepercayaan masyarakat terhadap perbankkan nasional maka pemerintah memberikan jaminan pembayaran kewajiban bank kepada deposan.
Krisis besar pun terjadi pada perekonomian global yang disebabkan Akibat terjadi krisis kredit pasar subprime mortage senilai US $ 1,8 triliun (Teguh:2009).  Dalam tulisanya Juan Feju menjelaskan yang dimaksud krisis kredit mortage berawal  dari bank tertua yang ad di AS yaitu Bank Lehman Brothers yang meminjam uang kepada The Fed dengan sangat agresif  melebihi bank lainnya karena suku bunga yang ditetapkan sangat kecil yaitu 1 persen, karena menginginkan pengembalian yang maksimal maka bank tersebut memberikan pinjam dalam bentuk KPR secara tergesa – gesa dan mendobrak semua regulasi yang harus dilewati oleh peminjam . akibatnya harga properti terjun bebas, hal ini sangat tidak diprediksi para investor karena mereka menganggap nilai investasi properti tidak akan tergerus. Dalam tulisannya Teguh Sihono menjelaskan,  krisis ini menjatuhkan harga saham global dan berdampak pada kondisi ekonomi Eropa, melemahkan dollar Amerika terhadap Euro sebesar US $ 1,4967. Bukan hanya Eropa dampak ini terasa hingga ke Asia dan Australia karena mata uang negara – negara di Asia dan Australia melemah terhadap dollar penyebabnya adalah  sentimen negatif para investor terhapa pasar menyebabkan mereka mengambil kembali dananya dan menukarkannya dalam bentuk dollar.
Dampak dari krisis ini terasa pula pada di Indonesia salah satunya terjadi pelemahan niali tukar mencapai 10.000 / USD pada minggu kedua oktober 2008, karena penarikan kembali dana modal oleh investor akibat reaksi yangerlebihan terdapat krisis yang terjadi di Amerika, Eropa. Maka hal tersebut langsung berdampak pada barang – barang yang di impor mengalami kenaikan akhirnya menyebabkan inflasi.
Maka teori klasik tentang perekonomian yang selalu pada posisi keimbangn adalah tidak benar, Teori para tokoh aliran klasik menyebutkan tanpa adanya campur tangan pemerintah dalam perekonomian, perekonomian sendiri akan berada pada titik keseimbangan apabila terjadi gangguan dalam perekonomian ada invisble hand yang akan membawa perekonomian menjadi stabil dan paham klasik, menyakini volume barang yang diperdagangkan akan selalu sama atau konsisten mengapa demikian karena anggapan full employment tadi.  Dan merurut tokoh klasik J. B. Say, dia mengungkapkan setiap penawaran kan membuat atau menciptakn permintaannya sendiri jadi tidak akan ada excess supply ataupun excess demand maka dampaknya tidak akan ad inflasi ataupun deflasi.
Namun paham ini ditentang oleh J.M. Keynes setelah terjadi kegagalan pasar yang tidak adanya barang publik yang dapat dipenuhi oleh swasta , dia mengungkapkan perekonomian tidak selamnya pada posisi keseimbangan. Excess demand dan excess supply mungkin saja terjadi maka diperlukan keikutcampuran pemerintah dalam perekonomian untuk menstabilkan perekonomin dan menyediakan barang – barang publik yang dibutuhkan oleh masyarakat .
Masalah utama yang dihadapi oleh sebuah perekonomian adalah inflasi dan pengganguran. Dijelaskan oleh Philips dalam sebuah kurvanya yang menjelaskan bahwa terjadi tradeoff antara inflasi dan pengganguran. Jadi apabila pemerintah ingin mengurangi inflasi yang terjadi adalah penganggutran makin menjadi – jadi atau makin bertambah, begitu pula sebaliknya . mengapa dan bagimana alurnya , jadi dalam suatu kebijakan perekonomian ada prioritas utama yang ,enjadi sasaran bagi pemerintah yairtu ingin mengurangi inflasi atau mengurangi pengangguran. Apabila pilihanya mengurangi pengangguran maka pemerintah kan melakukan kebijakan moneter dan fiskal yang ekspansif  seperti  menerapkan sistem defisit pengeluaran dan kebijakan moneter pemerintah dapat  menerapkan 5 instrumen kebijkan moneter,   agar sektor – sektor riil dapat berkembang dan menciptakan banyak usaha baru serta mengembangkan usaha yang suda ada dengan adanya hal tersebut dapat menyerap banyak tenaga kerja. Namun apabikla arus dana dari pemerintah ini dapat dikelola dengan baik, sesorang yang meminjam uangnya dibank bukan untuk berproduksi namun untuk berkonsumsi maka yang terjadi inflasi akan terjadi.  Jadi ekspansi yang dilakukan pemerintah tidak dapat berpengaruh pada sektor riil melainkkan hanya berpengaruh pada kenaikkan  harga barang umum.
Terlihat dari pengalaman tahun 2008 dan khusunya dampak dari krisis 1997 - 1998 hal itu yang membuat masyarakat Indonesia mempunyai phobia tersendri dengan yang namanya Inflasi, karena bukan hanya biaya ekonomi yang dikeluarakan akibat semua barang – barang dan jasa naik , namun lebih dari itu terjadi kekacauan dalam semua sendi kehidupan berbangsa bernegara. Dimana terjadi kekacauan politik dengan dilengserkannya presiden saat itu yaitu bapak Soeharto sebagai persidn Republik Indonesia digantikan oleh bapak B . J. Habibie. Keamanan pun porak poranda dimana terjadi penjarahan dimana toko – toko dijarah. Hingga pengguntingan uang kertas karena sudah dianggap tidak ada nilainya lagi. Dan juga pemulihan  pasca krisis keuangan tersebut memerlukan waktu dan biaya yang tidak sedikit.
Sekarang kita lihat apakah tingkat inflasi yang rendah pada tahun 2015 dapat membawa ekonomi menjadi lebih baik lagi?
Indonesia mengalami inflasi yang lebih kecil dari pada proyeksi APBN – P 2015 sebesar  5.0 persen namun inflasi pada 2015 3.35 persen. Dan konsumsi rumah tangga yang tidak dapat ditumbuh sebsar 5 persen dan dampaknya terasa pada pertumbuhan ekonomi yang menurun menjadi 4.7 persen . Dapat terlihat terjadi penurunan daya beli masyrakat.
 Lalu apa yang menyebabkan hal ini terjadi. Jawabnnya karena kenaikan harga bahan pangan dan pangan. Terlihat terjadi inflasi harga pangan sebesar 6,42 dan inflasi bahan pangan 4.93 persen. Harga pangan khususnya pada beras naik pada bulan november 2015 sebesar 0,68% dibandingkan Oktober 2015 dan naik 13,5% dibandingkan November 2014, harga cabe naik pada bulan november mengalami peningkatan cukup tinggi sebesar ,98 % dibandingkan dengan bulan Oktober 2015. Jika dibandingkan dengan November 2014, harga cabe merah mengalami penurunan sebesar 62,38 %. Kenaikan harga pada bulan november ini pula diikuti oleh semua komditas pangan seperti daging ayam, daging sapi. Pemantauan yang dilakukan di pasar induk Kramat Jati Jakarta, pada awal tahun 2015 harga cabaimerah masih tinggi dan jatuh sebesar 13.000 ribu rupiah pada bulan maret 2015. Dan pada bulan juli cabai merah mengalami kenaikan lagi sebesar 40.000 ribu rupiah dan 32000 pada akhir tahun 2015. Sedangkan harga bawang merah yang pada awal januari 2015 berada pada kisaran 13000/ kg naik pada bulan maret 2015 pada kisaran 30.000/kg pada akhir tahun harga bawang merah naik 32.000/kg.
Penyebabnya adalah periode panen yang kacau dan fenomena el nino yang menyebabkan harga besar naik . sementara pada kenaikan harga ayam akibat pengurangn DOCnya karena mereka menyesuaikan harga yang turun pada bulan – bulan sebelumnnya selain itu larangan mengimpor jagung juga menjadi penyebab harga ternak menjadi naik. Kenaikan harga ini tidak dapat dirasakan oleh para petani penjualan gabah kering pada tingkat petani cenderung konstan walupun pemerintah sudah menaiikan harga pokok pembelian setiap tahunnhya. Keenganan pemerintah untuk mengimpor komoditas pertania juga menajadi faktor naiknya harga – harga komoditas pangan.
 Namun kenaikkan harga – harga ini tidak sama sekali dirasakan oleh para petani karena walupun upah tani meningkat secara nominal namun upah itu tergerus dengan adanya inflasi pada bahan pangan yang menyebabkan upah riil mereka tergerus karena sebagian pendapat para buruh tani itu di gunakan untuk konsumsi. Terlihat berdasarkan data bps, upah buruh tani pada tahun 2015 mengalami kenaikan namun secara nominal, seperti data yang diambil dari bps, pada bulan februari yang sebesar 46.059 meningkat dari bulan januari sebesar 45.846 dan pada bulan mei yang sebesar 46.386 mengalami peningkatan pada bulan juni 46.458 sebsar dan seterusnya meningkat sampai akhir tahun pada bulan desember 46 995. Namun hal ini tidak dibarengi dengan kenaikan upah riil yang berfluktuasi pada tahun 2015 dan cenderung menurun dilihat dari data bps pada bulan. Upah riil adalh gambaran daya beli upah riil yang menurun artinya daya beli masyarakaty menurun begitu pula naiknya upah riil menggambarkan naiknya daya beli. Pada tahun 2015 upah riil harian buruh tani mengalami fluktuasi upah riil yang mengalami kenaikan terdapat pada bulan februari, april, juli , september, oktober dan mengalami puncak kenaikan pada bualn oktober sebsar Rp 37.918 per hari. Tidak hanya mengalami kenaiikan, upah riil lebih banyak mengalami penurunan terjadi penurunan upah terendah berapa pada Rp 37.486 per hari pada bulan desember 2015.
Akibat perlambatan ekonomi yang pada kuartal pertaman sebsar 4.7 persen ini bukan hanya mengurangi pendapatan nasional pada kuartal pertama Rp 2.724 triliun, namun juga bertambah penggangguran sebesar pada bulan februari 2015 sebesar  5,81 persen, mengalami kenaikan dibandingkan periode Februari tahun lalu sebesar 5,7 persen. Melemahnya penyerapan tenaga kerja sektor produksi akibat daya beli masrayakat yang berkurang dan ketidakpastian ekonomi dimana terjadi pemutusan hubungan kerja yang dilakukan industri – industri akibat melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dollar membuat sebagian bahan baku yang dimpor biayanya menjadi naik ditambah daya beli masyarakat yang menurun,  menyebabkan pengganguran pada bulan agustus Agustus 2015 sebanyak 7,56 juta orang, bertambah 320 ribu orang dibandingkan Agustus tahun 2014 yang sebesar 7,24 juta orang.
Apabila pemerintah bisa mengusahakan pertumbuhan ekonomi mencapai 5  persen maka persentase pengangguran akan 5.7 persen. Tentunya kemiskinan pun bertambah dapat diketahui dari artikel diatas dilihat dari Indeks Kemiskinan Multidimensi, dimana yang diukur adalah kesehatan, pendidikan dan standar hidup. Hasilnya adalah angka kemiskinan multidemensi Indonesia masi berda pada titik yang tinggi yaitu 29,7 persen pada 2014. Artinya, 79,5 juta jiwa atau 19,3 juta rumah tangga tergolong miskin multidimensi, yakni terjerat masalah pendidikan, kesehatan, dan standar hidup. Dari hasil survei World Bank dari artikel diatas dapat ketahui angka kemiskinan pada tahun 2014 sebesar 65 juta jiwa, sangat rentan jatuh miskin. Dari data Bps dimana penduduk dengan pengeluaran pendapatan perkapita dibawah garis kemiskinan sebesar 28,59 juta orang, setara dengan 11,22 persen penduduk (Maret 2015) pada bulan  maret 2015
Ditengarai penyebab kenaikan angka kemiskinan karena kenaikan bahan pangan dan tranportasi. Penduduk miskin memang sangat rentan dengan gejolak yang terjadi terhadap harga – harga pangan karena pendapatan yang mereka dapatnya mereka alokasikan untuk membeli pangan dan transportasi.
Deflasi di Inggris
Bukan hanya China dan Amerika yang mengalami perlamatan ekonomi namun Inggris pun merasakan hal itu, pertumbuhan ekonomi yang rendah pada kuatral pertama tahun 2015 sebesar 0.2 persen dibandingkan pada pertumbuhan kuartal terakhir atau kuartal ke empat tahun 2014 sebesar 0.6 persen. Pertumbuhan yang rendah diikuti pula dengan angka inflasi yang melambat mencapai negati 0.1 persen pada bulan April. Hal ini disebabkan harga minyak yang rendah dan lesunya perdagangan global pada negara – negara ekonomi utama. Dapat kita ketahui bahwa apabilia terjadi deflasi pada suatu perekonomian maka harga – harga akan cebderung menurun akibatnya perusahaan tidak dapat berproduksi dengan maksimal karena profit yg mereka dapatkan cenderung rendah , dan hasilny upah pun sulit untuk naik.
Dapat kita simpulakan inflasi yang rendah pun tidak dapat mendorong permintaan masyarakat dan mendorong sektor riil untuk bergerak lebih lagi. Inflasi justru diharapakan ditengah terjadinya perlambatan ekonomi global bank dunia menyebutkan pertumbuhan ekonomi global tahun 2015 hanya 2.4 persen  dimana terjadi perlambatan ekonomi di Eropa berupa stagnasi dalam perekonomian  terjadinya deflasi  di jepang, perlambatan ekonomi  yang melambat dialami negara berkembang, kebijakn mormalisasi suku bunga The Fed yang membuat ketidakpastian perekonomian dan gejolak pasar uang. Salah satu cara yang dilakukan negara – negra Eropa dan diikuti oleh jepang  menghadapi stagnasi perekonomian  menerapkan suku  bunga negatif jadi dengan kebijkan tersebut diharapkan dapat mendorong  daya beli masyarakat dan masyarakat menjadi enggan menabungkan uangnya di bank karena apabila mereka menabung mereka harus membayar sejumlah uang kepada bank akibat kebijakan suku bunga negatif itu tadi. Namun pasti ada dampaknya yaitu dengan menerapkan kebijakn tersebut makn dampak pada produk – produk sektor keuangan yaitu larinya modal –modal asing ke luar negeri. Jadi bisa disimpulkan dari kebijkan suku bunga rendah tersebut ditujukan utnuk menggenjot konsumsi masyarakat agar perekonomian kembali berjalan.
Dampak – dampak yang timbul dari sebuah deflasi atau menurnnya inflasi adalah (i) merosotnya pendapatan sektor bisnis akibat penurunan harga barang yanag mereka produksi, (ii) banyaknya pemutusan kerja dan upah yang sulit naik, karena point yang pertama tadi dijlaskan akibat dari sebuah penuruan harga menyebabkan profit perusahaan turun maka perusahaan tidak ingin semakin merugi maka mereka melakukan pemutusan hubungan kerja, (iii) maka akibatnya pola pengeluaran masyarakat akan berubah akibat tidak naiknya upah dan terjadinya PHK, (iv) efek selanjutnya pada pasar keuangan diman sentimen negatif para investor menyebabkan harga saham mengalami penurunan. Maka dapat dilihat bahwa deflasi pun yang awalnya kita menganggap akan makin banyak ornag yang berkonsumsi namun dampaknya daya beli masyarakat yang menurun akibat efek – efek domino yang timbul.
Bisa dibanyakan inflasi yang rendah saja tidak baik bagi perekonomian apalagi inflasi yang tinggi akan lebih membawa dampak yang besar dalam perekonomian. seperti yang         sudah dijelaskn di atas contohnya pada tahun krisis keuangan global tahun 1997 – 1998 yang membuat pertumbuhan ekonomi merosot, pengangguran bertambah nili tukatr yang jatuh, dijelaskan pula tidak sektor ekonomi saja yang merasakan dampaknya namun semua bidang – bidang kehidupan merasakan dampak. Proses pemulihan dampak – dampak yang timbul ini juga memerlukan waktu yang cukup lama. Banyak biaya – biaya yang dikeluarkan untuk menanggulangi.  
Tidak ada yang lebih baik antara inflasi yang rendah ataupun inflasi yang tinggi yang diperlukan adalah kondisi ekonomi yang stabil dimana tingkat inflasi yang cukup, pertumbuhan ekonomi yang tidak terlalu tinggi namun dapat menyentuh semua lapisan masyarakat, sektor riil yang terus bergerak dengan baik dalam menyediakan produk – produk. Tingkat upah yang sesuai dengna perekonomian pada saat itu, penyedian cadanagn pangan yang cukup.  
Maka semua negara akan mengeluarkan berbagai kebijkan entah fiskal ataupun kebijakan moneter untuk secepat mungkin menyentuh sektor riil dan dapat memperbaiki kondisi ekonomi akibat inflasi yang terjadi namun apabila yang lakuakn pmerintah dengan menambah jumlah uang beredar melalui tingkat bunga yang rendah ataupun pelonggaran giri wajib minimun yang nantiny oleh masyarakat hanya dimanfaatkan untuk berkonsumsi bukan untuk berinvestasi atau berproduksi maka hasilnya akan makin memperparah kondisi perekonomian. maka diperlukan kebijakan yang langsung menyentuh sektor riil dan bersifat jangka pendek juga jangka panjang. Dimana tercermin dari kebijakan yang dilakukan oleh bapak presiden kita Jokowidodo dengan mengeluarkan berbagai rangakain kebijkan ekonomi. di kebijakan ekonomi jilid 3 dimana pemerintah menurunkan tarif dasar listrik, gas dan BBM, lalu yang kedua melakukan penurunan suku bunga kredit pada KUR dan penyederhanaan izin pertanahan guna penanaman modal. Dapat kita lihat dari kebijakn –kebijakan diatas bahwa pemerintah ingin memangkas biaya – biaya yang timbul pada ongkos produksi dan, menciptakan usaha baru.
Lalu dalam sisi kebijkan sisitem keuangan bank sentral melonggarkan kebijkan makroprudensial pada tahun 2015  diman penyesuaian  ulang pada loan to deposit ratio (LDR), dan giro wajib minimum. Guna mendorong tumbuhnya kredit – kredit  baru yang dapat meningkatkan peran pengusaha dalm perekonomian dan meningkatkan daya beli masyarakat.

0 komentar:

Posting Komentar