Inflasi rendah kah ? Inflasi tinggi
kah?
Perekonomian
yang stabil adalah damba’an semua negara di dunia, inflasi yang tinggi, inflasi
yang rendah pun akan menjadi tantangan bagi setiap negara. Maka manakah yang
lebih baik ? inflasi yang tinggi kah atau yang rendah ? dibawah ini dimulai
dengan gambaran bagaimana inflasi yang tinggi mempenagruhi ekonomi .
“Inflasi
“ adalah kata – kata yang membuat semua orang dalam suatu negara terdiam
sejenak. Mengapa karena kebanyakkan masyarakat mengingat kembali kejadian pada
krisis keuangan tahun 1997- 1998, dimana itu adalah awal dari keterpurukan
ekonomi Indonesia. Tahun- tahun sebelumnya ekonomi indonesia sangat berjaya
dimana angka pertumbuhan ekonomi pada tahun 1994 sebesar 7.5 persen , 1995
sebesar 8.2 persen dan pertumbuhan ekonomi tahun 1996 sebesar 7.8 persen.
langsung anjlok pada tahun 1997 angka inflasi sebesar 10.31 persen semakin
parah pada inflasi tahun 1998 77.63 persen .
Dimana
yang terjadi adalah tahun 1998. Saat
semua mata uang negara di Asia menurn tajam, terhadap dollar Amerika Serikat,
akibatnya Perbankkan adalah sektor yang paling parah dari imbas krisis ekonomi
(Auliya :2008). Mengapa demikian jawabannya adalah dengan merosotnya mata uang
Indonesia dikisaran 8.025 rupiah pada tahun 1998 yang semula pada tahun 1996
sebesar 2.383 rupiah (BPS & BI).
Perbankkan yang melakukan pinjamin dalam bentuk valuta asing tanpa
adanya perlindungan, maka jumlah utangnya akan berlimpat ganda ditambah lagi
perbankkan dan perusahaan mengandalkan pemebanyaran dari sumber bisnis yang
mengahasilkan rupiah, ditambah dengan kas – kas bank yang menurun akibat
penarikan uang oleh nasabah secara berlebihan
, akhirnya bank dan perusahaan yang meminjam dalam valuta asing tidak
mampu memenuhi kewajibannya (Auliya;2008). Dapat dikatahui lonjakan utang
publik menjadi Rp 1270,00 trillun atau sekitar 102 persen dari PDB tahun 2000
(Auliya:1008).
Dampaknhya
maka pertumbuhan yang sebelumnya mencapai 7.8 persen pada tahun 1996 merosot
tajam bahkan terjun menjadi -13.1 persen, tingkat pengangguran pada tahun 1996
sebesar 4,9 persen pada tahun 1998 menjadi 5.5 persen, otomatis tingkat
kemiskinan melonjak tajam(Auliya;2008). Bukan hanya sektor ekonomi yang terpukul tapi semua bidang
kehidupan. Maka kebijakan yang diambil pemerintah dalam mengatisi krisis 1998
adalah dengan kebijakan pengetatan likuiditas dimana BUMN dihimbau
menempatakandana mereka di bank – bank pemerintahan. Intervensi pemerintah
dalam perekonomian tidak dapat membantu ngatasi masalah makan , maka pada
september 1997 presiden memberikan 2 pilihan kebijakan yaitu dengan menutup
bank atau menyelamatkan melalui pemberina likuiditas (Auliya ;2008). Dan untuk
mengembalikan kepercayaan masyarakat terhadap perbankkan nasional maka
pemerintah memberikan jaminan pembayaran kewajiban bank kepada deposan.
Krisis
besar pun terjadi pada perekonomian global yang disebabkan Akibat terjadi
krisis kredit pasar subprime mortage senilai US $ 1,8 triliun
(Teguh:2009). Dalam tulisanya Juan Feju
menjelaskan yang dimaksud krisis kredit mortage berawal dari bank tertua yang ad di AS yaitu Bank Lehman Brothers yang
meminjam uang kepada The Fed dengan sangat agresif melebihi bank lainnya karena suku bunga yang
ditetapkan sangat kecil yaitu 1 persen, karena menginginkan pengembalian yang
maksimal maka bank tersebut memberikan pinjam dalam bentuk KPR secara tergesa –
gesa dan mendobrak semua regulasi yang harus dilewati oleh peminjam . akibatnya
harga properti terjun bebas, hal ini sangat tidak diprediksi para investor
karena mereka menganggap nilai investasi properti tidak akan tergerus. Dalam
tulisannya Teguh Sihono menjelaskan,
krisis ini menjatuhkan harga saham global dan berdampak pada kondisi
ekonomi Eropa, melemahkan dollar Amerika terhadap Euro sebesar US
$ 1,4967. Bukan hanya Eropa dampak ini terasa hingga ke Asia dan Australia
karena mata uang negara – negara di Asia dan Australia melemah terhadap dollar
penyebabnya adalah sentimen negatif para
investor terhapa pasar menyebabkan mereka mengambil kembali dananya dan
menukarkannya dalam bentuk dollar.
Dampak
dari krisis ini terasa pula pada di Indonesia salah satunya terjadi pelemahan
niali tukar mencapai 10.000 / USD pada minggu kedua oktober 2008, karena
penarikan kembali dana modal oleh investor akibat reaksi yangerlebihan terdapat
krisis yang terjadi di Amerika, Eropa. Maka hal tersebut langsung berdampak
pada barang – barang yang di impor mengalami kenaikan akhirnya menyebabkan
inflasi.
Maka
teori klasik tentang perekonomian yang selalu pada posisi keimbangn adalah
tidak benar, Teori para tokoh aliran klasik menyebutkan tanpa adanya campur
tangan pemerintah dalam perekonomian, perekonomian sendiri akan berada pada
titik keseimbangan apabila terjadi gangguan dalam perekonomian ada invisble
hand yang akan membawa perekonomian menjadi stabil dan paham klasik, menyakini
volume barang yang diperdagangkan akan selalu sama atau konsisten mengapa
demikian karena anggapan full employment tadi.
Dan merurut tokoh klasik J. B. Say, dia mengungkapkan setiap penawaran
kan membuat atau menciptakn permintaannya sendiri jadi tidak akan ada excess
supply ataupun excess demand maka dampaknya tidak akan ad inflasi ataupun
deflasi.
Namun
paham ini ditentang oleh J.M. Keynes setelah terjadi kegagalan pasar yang tidak
adanya barang publik yang dapat dipenuhi oleh swasta , dia mengungkapkan
perekonomian tidak selamnya pada posisi keseimbangan. Excess demand dan excess
supply mungkin saja terjadi maka diperlukan keikutcampuran pemerintah dalam
perekonomian untuk menstabilkan perekonomin dan menyediakan barang – barang
publik yang dibutuhkan oleh masyarakat .
Masalah
utama yang dihadapi oleh sebuah perekonomian adalah inflasi dan pengganguran.
Dijelaskan oleh Philips dalam sebuah kurvanya yang menjelaskan bahwa terjadi
tradeoff antara inflasi dan pengganguran. Jadi apabila pemerintah ingin
mengurangi inflasi yang terjadi adalah penganggutran makin menjadi – jadi atau
makin bertambah, begitu pula sebaliknya . mengapa dan bagimana alurnya , jadi
dalam suatu kebijakan perekonomian ada prioritas utama yang ,enjadi sasaran
bagi pemerintah yairtu ingin mengurangi inflasi atau mengurangi pengangguran.
Apabila pilihanya mengurangi pengangguran maka pemerintah kan melakukan
kebijakan moneter dan fiskal yang ekspansif
seperti menerapkan sistem defisit
pengeluaran dan kebijakan moneter pemerintah dapat menerapkan 5 instrumen kebijkan moneter, agar sektor – sektor riil dapat berkembang
dan menciptakan banyak usaha baru serta mengembangkan usaha yang suda ada
dengan adanya hal tersebut dapat menyerap banyak tenaga kerja. Namun apabikla
arus dana dari pemerintah ini dapat dikelola dengan baik, sesorang yang
meminjam uangnya dibank bukan untuk berproduksi namun untuk berkonsumsi maka
yang terjadi inflasi akan terjadi. Jadi
ekspansi yang dilakukan pemerintah tidak dapat berpengaruh pada sektor riil melainkkan
hanya berpengaruh pada kenaikkan harga
barang umum.
Terlihat
dari pengalaman tahun 2008 dan khusunya dampak dari krisis 1997 - 1998 hal itu
yang membuat masyarakat Indonesia mempunyai phobia tersendri dengan yang
namanya Inflasi, karena bukan hanya biaya ekonomi yang dikeluarakan akibat
semua barang – barang dan jasa naik , namun lebih dari itu terjadi kekacauan
dalam semua sendi kehidupan berbangsa bernegara. Dimana terjadi kekacauan
politik dengan dilengserkannya presiden saat itu yaitu bapak Soeharto sebagai
persidn Republik Indonesia digantikan oleh bapak B . J. Habibie. Keamanan pun
porak poranda dimana terjadi penjarahan dimana toko – toko dijarah. Hingga
pengguntingan uang kertas karena sudah dianggap tidak ada nilainya lagi. Dan
juga pemulihan pasca krisis keuangan
tersebut memerlukan waktu dan biaya yang tidak sedikit.
Sekarang
kita lihat apakah tingkat inflasi yang rendah pada tahun 2015 dapat membawa
ekonomi menjadi lebih baik lagi?
Indonesia
mengalami inflasi yang lebih kecil dari pada proyeksi APBN – P 2015
sebesar 5.0 persen namun inflasi pada
2015 3.35 persen. Dan konsumsi rumah tangga yang tidak dapat ditumbuh sebsar 5
persen dan dampaknya terasa pada pertumbuhan ekonomi yang menurun menjadi 4.7
persen . Dapat terlihat terjadi penurunan daya beli masyrakat.
Lalu apa yang menyebabkan hal ini terjadi.
Jawabnnya karena kenaikan harga bahan pangan dan pangan. Terlihat terjadi
inflasi harga pangan sebesar 6,42 dan inflasi bahan pangan 4.93 persen. Harga
pangan khususnya pada beras naik pada bulan november 2015 sebesar 0,68%
dibandingkan Oktober 2015 dan naik 13,5% dibandingkan November 2014, harga cabe
naik pada bulan november mengalami peningkatan cukup tinggi sebesar ,98 %
dibandingkan dengan bulan Oktober 2015. Jika dibandingkan dengan November 2014,
harga cabe merah mengalami penurunan sebesar 62,38 %. Kenaikan harga pada bulan
november ini pula diikuti oleh semua komditas pangan seperti daging ayam,
daging sapi. Pemantauan yang dilakukan di pasar induk Kramat Jati Jakarta, pada
awal tahun 2015 harga cabaimerah masih tinggi dan jatuh sebesar 13.000 ribu
rupiah pada bulan maret 2015. Dan pada bulan juli cabai merah mengalami
kenaikan lagi sebesar 40.000 ribu rupiah dan 32000 pada akhir tahun 2015.
Sedangkan harga bawang merah yang pada awal januari 2015 berada pada kisaran
13000/ kg naik pada bulan maret 2015 pada kisaran 30.000/kg pada akhir tahun
harga bawang merah naik 32.000/kg.
Penyebabnya
adalah periode panen yang kacau dan fenomena el nino yang menyebabkan harga
besar naik . sementara pada kenaikan harga ayam akibat pengurangn DOCnya karena
mereka menyesuaikan harga yang turun pada bulan – bulan sebelumnnya selain itu
larangan mengimpor jagung juga menjadi penyebab harga ternak menjadi naik.
Kenaikan harga ini tidak dapat dirasakan oleh para petani penjualan gabah
kering pada tingkat petani cenderung konstan walupun pemerintah sudah menaiikan
harga pokok pembelian setiap tahunnhya. Keenganan pemerintah untuk mengimpor
komoditas pertania juga menajadi faktor naiknya harga – harga komoditas pangan.
Namun kenaikkan harga – harga ini tidak sama
sekali dirasakan oleh para petani karena walupun upah tani meningkat secara
nominal namun upah itu tergerus dengan adanya inflasi pada bahan pangan yang
menyebabkan upah riil mereka tergerus karena sebagian pendapat para buruh tani
itu di gunakan untuk konsumsi. Terlihat berdasarkan data bps, upah buruh tani
pada tahun 2015 mengalami kenaikan namun secara nominal, seperti data yang
diambil dari bps, pada bulan februari yang sebesar 46.059 meningkat
dari bulan januari sebesar 45.846 dan pada bulan mei yang sebesar 46.386 mengalami
peningkatan pada bulan juni 46.458 sebsar dan seterusnya meningkat
sampai akhir tahun pada bulan desember 46 995. Namun hal ini
tidak dibarengi dengan kenaikan upah riil yang berfluktuasi pada tahun 2015 dan
cenderung menurun dilihat dari data bps pada bulan. Upah riil adalh gambaran
daya beli upah riil yang menurun artinya daya beli masyarakaty menurun begitu
pula naiknya upah riil menggambarkan naiknya daya beli. Pada tahun 2015 upah
riil harian buruh tani mengalami fluktuasi upah riil yang mengalami kenaikan
terdapat pada bulan februari, april, juli , september, oktober dan mengalami
puncak kenaikan pada bualn oktober sebsar Rp 37.918 per hari. Tidak hanya
mengalami kenaiikan, upah riil lebih banyak mengalami penurunan terjadi
penurunan upah terendah berapa pada Rp 37.486 per hari pada bulan desember
2015.
Akibat
perlambatan ekonomi yang pada kuartal pertaman sebsar 4.7 persen ini bukan
hanya mengurangi pendapatan nasional pada kuartal pertama Rp 2.724 triliun,
namun juga bertambah penggangguran sebesar pada bulan februari 2015
sebesar 5,81 persen, mengalami kenaikan
dibandingkan periode Februari tahun lalu sebesar 5,7 persen. Melemahnya
penyerapan tenaga kerja sektor produksi akibat daya beli masrayakat yang
berkurang dan ketidakpastian ekonomi dimana terjadi pemutusan hubungan kerja
yang dilakukan industri – industri akibat melemahnya nilai tukar rupiah
terhadap dollar membuat sebagian bahan baku yang dimpor biayanya menjadi naik
ditambah daya beli masyarakat yang menurun,
menyebabkan pengganguran pada bulan agustus Agustus 2015 sebanyak 7,56
juta orang, bertambah 320 ribu orang dibandingkan Agustus tahun 2014 yang
sebesar 7,24 juta orang.
Apabila pemerintah
bisa mengusahakan pertumbuhan ekonomi mencapai 5 persen maka persentase pengangguran akan 5.7
persen. Tentunya kemiskinan pun bertambah dapat diketahui dari artikel diatas
dilihat dari Indeks Kemiskinan Multidimensi, dimana yang diukur adalah kesehatan,
pendidikan dan standar hidup. Hasilnya adalah angka kemiskinan multidemensi
Indonesia masi berda pada titik yang tinggi yaitu 29,7 persen pada 2014.
Artinya, 79,5 juta jiwa atau 19,3 juta rumah tangga tergolong miskin
multidimensi, yakni terjerat masalah pendidikan, kesehatan, dan standar hidup. Dari
hasil survei World Bank dari artikel diatas dapat ketahui angka kemiskinan pada
tahun 2014 sebesar 65 juta jiwa, sangat rentan jatuh miskin. Dari data Bps
dimana penduduk dengan pengeluaran pendapatan perkapita dibawah garis
kemiskinan sebesar 28,59 juta orang, setara dengan 11,22 persen penduduk (Maret
2015) pada bulan maret 2015
Ditengarai
penyebab kenaikan angka kemiskinan karena kenaikan bahan pangan dan
tranportasi. Penduduk miskin memang sangat rentan dengan gejolak yang terjadi
terhadap harga – harga pangan karena pendapatan yang mereka dapatnya mereka
alokasikan untuk membeli pangan dan transportasi.
Deflasi
di Inggris
Bukan
hanya China dan Amerika yang mengalami perlamatan ekonomi namun Inggris pun
merasakan hal itu, pertumbuhan ekonomi yang rendah pada kuatral pertama tahun
2015 sebesar 0.2 persen dibandingkan pada pertumbuhan kuartal terakhir atau
kuartal ke empat tahun 2014 sebesar 0.6 persen. Pertumbuhan yang rendah diikuti
pula dengan angka inflasi yang melambat mencapai negati 0.1 persen pada bulan
April. Hal ini disebabkan harga minyak yang rendah dan lesunya perdagangan
global pada negara – negara ekonomi utama. Dapat kita ketahui bahwa apabilia
terjadi deflasi pada suatu perekonomian maka harga – harga akan cebderung
menurun akibatnya perusahaan tidak dapat berproduksi dengan maksimal karena
profit yg mereka dapatkan cenderung rendah , dan hasilny upah pun sulit untuk
naik.
Dapat
kita simpulakan inflasi yang rendah pun tidak dapat mendorong permintaan
masyarakat dan mendorong sektor riil untuk bergerak lebih lagi. Inflasi justru
diharapakan ditengah terjadinya perlambatan ekonomi global bank dunia
menyebutkan pertumbuhan ekonomi global tahun 2015 hanya 2.4 persen dimana terjadi perlambatan ekonomi di Eropa
berupa stagnasi dalam perekonomian
terjadinya deflasi di jepang,
perlambatan ekonomi yang melambat
dialami negara berkembang, kebijakn mormalisasi suku bunga The Fed yang membuat
ketidakpastian perekonomian dan gejolak pasar uang. Salah satu cara yang
dilakukan negara – negra Eropa dan diikuti oleh jepang menghadapi stagnasi perekonomian menerapkan suku bunga negatif jadi dengan kebijkan tersebut
diharapkan dapat mendorong daya beli
masyarakat dan masyarakat menjadi enggan menabungkan uangnya di bank karena
apabila mereka menabung mereka harus membayar sejumlah uang kepada bank akibat
kebijakan suku bunga negatif itu tadi. Namun pasti ada dampaknya yaitu dengan
menerapkan kebijakn tersebut makn dampak pada produk – produk sektor keuangan
yaitu larinya modal –modal asing ke luar negeri. Jadi bisa disimpulkan dari
kebijkan suku bunga rendah tersebut ditujukan utnuk menggenjot konsumsi
masyarakat agar perekonomian kembali berjalan.
Dampak
– dampak yang timbul dari sebuah deflasi atau menurnnya inflasi adalah (i)
merosotnya pendapatan sektor bisnis akibat penurunan harga barang yanag mereka
produksi, (ii) banyaknya pemutusan kerja dan upah yang sulit naik, karena point
yang pertama tadi dijlaskan akibat dari sebuah penuruan harga menyebabkan
profit perusahaan turun maka perusahaan tidak ingin semakin merugi maka mereka
melakukan pemutusan hubungan kerja, (iii) maka akibatnya pola pengeluaran
masyarakat akan berubah akibat tidak naiknya upah dan terjadinya PHK, (iv) efek
selanjutnya pada pasar keuangan diman sentimen negatif para investor
menyebabkan harga saham mengalami penurunan. Maka dapat dilihat bahwa deflasi
pun yang awalnya kita menganggap akan makin banyak ornag yang berkonsumsi namun
dampaknya daya beli masyarakat yang menurun akibat efek – efek domino yang
timbul.
Bisa
dibanyakan inflasi yang rendah saja tidak baik bagi perekonomian apalagi
inflasi yang tinggi akan lebih membawa dampak yang besar dalam perekonomian.
seperti yang sudah dijelaskn di
atas contohnya pada tahun krisis keuangan global tahun 1997 – 1998 yang membuat
pertumbuhan ekonomi merosot, pengangguran bertambah nili tukatr yang jatuh,
dijelaskan pula tidak sektor ekonomi saja yang merasakan dampaknya namun semua
bidang – bidang kehidupan merasakan dampak. Proses pemulihan dampak – dampak
yang timbul ini juga memerlukan waktu yang cukup lama. Banyak biaya – biaya
yang dikeluarkan untuk menanggulangi.
Tidak
ada yang lebih baik antara inflasi yang rendah ataupun inflasi yang tinggi yang
diperlukan adalah kondisi ekonomi yang stabil dimana tingkat inflasi yang
cukup, pertumbuhan ekonomi yang tidak terlalu tinggi namun dapat menyentuh
semua lapisan masyarakat, sektor riil yang terus bergerak dengan baik dalam
menyediakan produk – produk. Tingkat upah yang sesuai dengna perekonomian pada
saat itu, penyedian cadanagn pangan yang cukup.
Maka
semua negara akan mengeluarkan berbagai kebijkan entah fiskal ataupun kebijakan
moneter untuk secepat mungkin menyentuh sektor riil dan dapat memperbaiki
kondisi ekonomi akibat inflasi yang terjadi namun apabila yang lakuakn pmerintah
dengan menambah jumlah uang beredar melalui tingkat bunga yang rendah ataupun
pelonggaran giri wajib minimun yang nantiny oleh masyarakat hanya dimanfaatkan
untuk berkonsumsi bukan untuk berinvestasi atau berproduksi maka hasilnya akan
makin memperparah kondisi perekonomian. maka diperlukan kebijakan yang langsung
menyentuh sektor riil dan bersifat jangka pendek juga jangka panjang. Dimana
tercermin dari kebijakan yang dilakukan oleh bapak presiden kita Jokowidodo
dengan mengeluarkan berbagai rangakain kebijkan ekonomi. di kebijakan ekonomi
jilid 3 dimana pemerintah menurunkan tarif dasar listrik, gas dan BBM, lalu
yang kedua melakukan penurunan suku bunga kredit pada KUR dan penyederhanaan
izin pertanahan guna penanaman modal. Dapat kita lihat dari kebijakn –kebijakan
diatas bahwa pemerintah ingin memangkas biaya – biaya yang timbul pada ongkos
produksi dan, menciptakan usaha baru.
Lalu
dalam sisi kebijkan sisitem keuangan bank sentral melonggarkan kebijkan
makroprudensial pada tahun 2015 diman
penyesuaian ulang pada loan to deposit
ratio (LDR), dan giro wajib minimum. Guna mendorong tumbuhnya kredit –
kredit baru yang dapat meningkatkan
peran pengusaha dalm perekonomian dan meningkatkan daya beli masyarakat.






0 komentar:
Posting Komentar