Blogroll

Rabu, 08 Juni 2016

Mitigasi gejolak ekonomi



Mitigasi gejolak ekonomi
Ekonomi tidak selamanya menunjukakn konjungtur yang lurus seperti permintaan pada pasar persaingan sempurna. Juga tidak d=selalu berada dalam keadaan full employment dan dalam keadaan keseimbangan seperti yang dikatakan Adam Smith, juga tentunya pernyataan JB Say tentang setiap penawaran akan menciptakan permintaannya sendiri sehingga tidak akn terjadi kelebihan permintaan atau penawaran hal tersebut tidak akan terjadi karena setiap pendapatan yang diterima masyarakat tidak semua untuk konsumsi pasti ada sebagian untuk berinvestasi atu untuk saving. Maka sudah jelas suatu saat akan terjadi gelombang dalam suatu perekonomian, maka yang perlu dilakukan adalah meredakan gelombang tersebut . seperti yang dikatakan oleh keynes perlu adanya campur tangan pemerintah dalam perekonomian. saat terjadi kegagalan pasar dalam menyeimbangkan, kegagalan peran swasta dalam menyediakan fasilitas publik. Maka kehadiran pemerintah sangat diharapkan pada posisi seperti itu.
Perekonomian yang jauh dari penurunan dalam satu tahun, triwulanan bahkan dalam bulanan , dimana terdapat kestabilan harga – harga barang - barang umum, ketersedian lapangan pekerjaan yang luas, pendapatan perkapita yang naik, neraca pembanyaran dan neraca perdagangan yang surplus. Apakah hal itu terjadi, jawabannya semua itu adalah khayalan semata. Perekonomian yang sebenaranya mengalami pasang surut. Kadang terjadi masa booming, kadang terjadi masa resesi. Semua hal ini tidak dapat dihindari oleh suatu negara. Gelombang naik turun suat prekonomian terjadi pada rentang waktu yang tidak dapat diprediksi dan cenderung bervariasi.
Hal ini dapat kita lihat pada siklus bisnis suatu negara. Siklus bisnis sendiri adalah konjungtur suatu fluktuasi dimana terdapat masa resesi dan masa booming. Besarnya produk domestik bruto dibentuk dari besarnya pendapatan dan pengeluaran total dalam perekonomian. jadi produk domestik bruto (PDB) dapat menjadi tolak ukur dari sebuah perekonomian. analisis siklus bisnis ini dapat kita mulai dari pertumbuhan PDB riil.
Seperti krisis moneter pada masa orde baru yaitu kisaran tahun 1997 – 1998 yang mencapai puncak pada tahun  1998. Saat semua mata uang negara di Asia menurun tajam, terhadap dollar Amerika Serikat, akibatnya Perbankkan adalah sektor yang paling parah dari imbas krisis ekonomi (Auliya :2008). Mengapa demikian jawabannya adalah dengan merosotnya mata uang Indonesia dikisaran 8.025 rupiah pada tahun 1998 yang semula pada tahun 1996 sebesar 2.383 rupiah (BPS & BI).  Perbankkan yang melakukan pinjamin dalam bentuk valuta asing tanpa adanya perlindungan, maka jumlah utangnya akan berlimpat ganda ditambah lagi perbankkan dan perusahaan mengandalkan pemebanyaran dari sumber bisnis yang mengahasilkan rupiah, ditambah dengan kas – kas bank yang menurun akibat penarikan uang oleh nasabah secara berlebihan  , akhirnya bank dan perusahaan yang meminjam dalam valuta asing tidak mampu memenuhi kewajibannya (Auliya;2008). Gambaran ibawah ini menjelaskan lonjakan utang publik menjadi Rp 1270,00 trillun atau sekitar 102 persen dari PDB tahun 2000 (Auliya:1008). Dampaknhya maka pertumbuhan yang sebelumnya mencapai 7.8 persenpada tahun 1996 merosot tajam bahkan terjun menjadi -13.1 persen, tingakt pengangguran pada thun 1996 4,9 persen pada tahun 1998 menjadi 5.5 persen, otomatis tingkat kemiskinan melonjak tajam(Auliya;2008). Bukan hanya sektor  ekonomi yang terpukul tapi semua bidang kehidupan terpukul banyk terjadi kejahatan penjarahan terhadap toko – toko, kondisi politik yang tidak kondusif dengan didesaknya presiden Soeharto  untuk mundur dari kursi kepresidenan karena tidak mampu menjaga kestabilan dalam negara.  Maka kebijakan yang diambil pemerintah dalam mengatisi krisis 1998 adalah dengan kebijakan pengetatan likuiditas dimana BUMN dihimbau menempatakandana mereka di bank – bank pemerintahan. Intervensi pemerintah dalam perekonomian tidak dapat membantu ngatasi masalah makan , maka pada september 1997 presiden memberikan 2 pilihan kebijakan yaitu dengan menutup bank atau menyelamatkan melalui pemberina likuiditas (Auliya ;2008). Dan untuk mengembalikan kepercayaan masyarakat terhadap perbankkan nasional maka pemerintah memberikan jaminan pembayaran kewajiban bank kepada deposan.  
Contoh krisis selanjutnya adalah krisis keuangan tahun 2008. Dimulai dari BNP Paribas, Perancis, pada Agustus 2007 yang tidak mampun mencairkan dana terkait subprime mortage di Amerika Serikat adalah awal dari keterpurukan likuiditas yang paling buruk. Subprrime mortage adalah penyaluran kredit kepada nasabah yang memiliki riwayat kredit buruk atau sama sekali belum emepunyai riwayat kredit, hal ini membuat kredit ini berisiko tinggi. Hal ini dimulai dari bank tertua yang ad di AS yaitu Bank Lehman Brothers yang meminjam uang kepada The Fed dengan sangat agresif  melebihi bank lainnya karena suku bunga yang ditetapkan sangat kecil yaitu 1 persen, karena menginginkan pengembalian yang maksimal maka bank tersebut memberikan pinjam dalam bentuk KPR secara tergesa – gesa dan mendobrak semua regulasi yang harus dilewati oleh peminjam. Penyaluran kredit subpriome mortage ini mengalami peningkatan setiap tahunnya dimulai dari tahun 2002 di bawah USD 200 miliar hingga menjadi kisaran USD500 miliar pada tahun 2005. Kerugian yqang besar berawal dari pengemasan subprime mortage ke dalam bentuk sekuritas lalu diperdagangkan di pasar saham global. akibatnya harga properti terjun bebas, hal ini sangat tidak diprediksi para investor karena mereka menganggap nilai investasi properti tidak akan tergerus. Dalam tulisannya Teguh Sihono menjelaskan,  krisis ini menjatuhkan harga saham global dan berdampak pada kondisi ekonomi Eropa, melemahkan dollar Amerika terhadap Euro sebesar US $ 1,4967.
Menurut Merrill Lynch dan Goldman Sachs, Amerika Serikat telah memasuki bahaya resesi, dengan 5 indikator (1) keuangan rapuh, (2) pasar tetap lemah, (3) ketidakjelasan bank-bank besar terkena dampak krisis kredit, (4) tingginya harga minyak, dan (5) lemahnya daya beli konsumen. Akibatnya Nilai PDB menyusut hingga kuartal ke tiga 2009 menyebabkan terjadinya kondisi krisis terdalam dan terlama sejak krisis The Great Depression, untuk mengatasi hal ini kongres Amerika mengucurkan dana sebesar guna membeli ekuitas bank – bank dan perusahaan senilai 700 milyar dan pada Januari 2009 presiden Obama mensetujui pengucuran dana stimulus fiskal sebesar 787 milyar USD guna tamabahan belanja negara guna pemulihan ekonomi, pemotongan pajak bagi perusahaan.
Dampak dari krisis ini terasa pula pada di Indonesia salah satunya terjadi pelemahan niali tukar mencapai 10.000 / USD pada minggu kedua oktober 2008, karena penarikan kembali dana modal oleh investor akibat reaksi yangerlebihan terdapat krisis yang terjadi di Amerika, Eropa. Maka hal tersebut langsung berdampak pada barang – barang yang di impor mengalami kenaikan akhirnya menyebabkan inflasi. Dan juga tentunhya berimbas pada gejolak pasar modal dan pasar uang, dimana indeks harga saham gabungan (IHSG) yang ditutup pada level 1.355.4 terpangkas hampir setengahnya dari level pada awal 2008 sebesar 2.627,3 berbarengan dengan turunya volume arus perdagangan. Dan terjadi pembalikan arus kepemilikan asing pada surat utang negara maupaun SBI yang terus berlanjut hingga akhir tahun 2008. Dan tentunya sektor ekspor pun terpukul karena negara mitara juag terkena imbas krisi ekonomi global men yebabkan permintaan menurun, tentunya sekto tenaga kerja juga terpukul khussusnya sektor tenaga kerja yang berorientasi pada pasar ekspor.
            Lalu mitigasi atau kebijakan apa yang dilakukan pemerintah untuk menanguulangi dampak – dampak krisi keuangn global yang berimbas di Indonesia. Kebijakn pada sisi moneter a\kan di terus dilakukan secara konsisten dengan mengacu pda ITF (inflation targeting framework). Kebijkan ini akan  dilaksanakan dengan melihat perkembangan ekonomi dan mengupayakan keseimbangn ekonomi pasar, dengan melihat kestabilan harga, menjaga kestabilan dan ketenangan pada pasar keuangan dan menjaga laju ekonomi di sektor riil. Tentunya semua kebijakan moneter di tingkat operasional juga harus terus di tingkatkan. Dalam menjaga pasar keuangan agar jauh dari goncangan. Maka diperlukan langkah perbaikan sistem majemen resiko dan dengan menggunakan prinsip good goverence pada lembaga keuangan dan lembaga keuangan non bank. migasi dalam sektor keuangan makro dan mikro juga hatrus dijaga agar tidak menjadi resiko yang berdampak sistemik.
Kebijakn fiskal yang bersifat stimulu dan penguatan penerimaan akan dilaksanakan dan disesuaikan dengan kondisi ekonomi. mungkin dengan ekonomi yang pada tahun 2008 terjadi maka kebijakn counter cycle pada fiskal yaitu memberikan stimulus untuk menahan agar resesi tidak semakin dalam. Dan pada jangka panjang dan menengah pemerintah akan mengoptimalisasi penerimaan negara dan juga akan memerhatikan perlunya instensif fiskal bagi industri – industri dengan berbgai macam syarat dengan tujuan menggairahkan investasi dan penyerapan tenaga kerja. Dalm sisi pengeluaran pemerintah harus berfokus pada hasil apa yang akan akan dicapi yaitu dengan pengeluaran pada sektor yang starategis. Kordinasi dalam kebijakan fiskal dan moneter perlu ditingkatkan seperti koordinasi pemerintah dalm menjaga kestabilan inflasi dan kestabilan harga- harga penagan. Dan tim pengendalian inflasi daerah, merupakan suatu contoh koordinasi antara pemerintah dan Bank Indonesia. Tentunyua semua kebijkan diatas diaharpakan dapat mendorong dan mempengaruhi sektor riil, menggairahkan investasi dan memperbaiki iklim industri dan investasi yang melemah pada tahun 2008. Ketersedian infrastuktur yang memadai dan meningkatkan kualitas institusi dalam negara dapat memperbaiki dan meningkatkan investasi karena barbagai input dan output dapat disalurkan dengan cepat dan efisien. Perbaikan iklim industri dan investasi dapat memperbaiki daya saing ekonomi indonesia dengan ekonomi global. Dengan perbaikan lembaga atau instusi dapat membuat semua persyaratan dalm membuka uaha menjadi lebih mudah dan tidak berbelit hal ini terkait pembuatan semua perijinan. Jelas kebijkan yang diperlukan adalah kebijkan counter cycle yang bersifat menahan gejolak ekonomi yang gterjadi agar tidak lebih dalam. Dan tentunya pemerintah harus menghindarai kebijakan yang sifat pro cycle yang besifat memperparah gejolak ekonomi.
Dalam menjaga kestabilan keuangan nasional Bank Indonesia bersama dengan OJK melakukan kebijakn makroprudensial dan mikroprudensial. Implementasi kebijkan makroprudensial yang dilakukan oleh bank sentral terjadi pada tahun 2013, dengan kebijkan loan to value (LTV)  untuk kredit properti dan down paymen DP untuk kredit kendaran bermotor, karena tingkat konsumsi yang tinggi pada bidang otomotif  dan properti. Tingkat permintaan yang tinggi pada kredit perumahan dan kendaraan bermotor menyebabkan harganya melambung tinggi tak terkendali, pengambilan kredit – kredit tersebut dikhawatirkan menjadi kredit gagal bayar yang mengancam prekonomian nasional. Kebijakan ini akan di berlakukan pada bank – bank konvensional. Dengan surat edaran berikut ini yang diambil dari website resmi Bank Indonesia (SE BI No.14/10/DPNP tgl 15 Maret 2012 untuk bank umum konvensional & SE No.14/33/DPbS tgl 27 November 2012 untuk bank umum syariah. Kalibrasi ulang dgn SE BI No.15/40/DKMP tgl 24 September 2013).  Cakupan pengaturan kredit terdiri dari properti yang berupa : kredit kepemilikan  rumah tapak, kredit kepemilikan  rumah susun, kredit kepemilikan rumah kantor dan kredit kepemeilikan rumah toko , dan kredit kpemelikan kendaraan bermotot untuk konsumsi dan kredit kendaraan bermotor untuk produksi (BI.go.id). dan pengecualian loan – to- value pada program pemrumahan pemerintah. Kebijakn LTV yang diberlakukan diharapkan dengan efektif dalam meredam arus kredit properti. Dalam pengantisipasian kredit macet atau gagal bayar maka gubernur BI pada sat ini Darmin Nasution juga meningkatakan Kewajiban Penyediaan Modal Minimum (KPMM) dari 8 persen sampai 14 persen. Tujuan diberlakukannya aturan ini untuk meningkatkan ketahanan bank – bank terhadap banyaknya peminjaman dana oleh nasabah yang berpotensi gagal bayar atau resiko sistemik lainnya dan resiko kredit dan likuiditas, sehingga dapat menjaga sistem keuangan dan stabilitas moneter melalui pengutan peran sebagai intermediasi.

Perlambatan ekonomi 2015
Perekonomian global pada tahun 2015 mengalami pelambatan, hal ini tidak hanya dirasakan oleh negara – negara berkembang namun juga dirasakan oleh negara maju. Perlambatan ekonomi yang dirasakan di pasar domestik, disebabkan oleh faktor eksternal dan internal. Faktor ekternal adalah terjadinya ketidakpastian dari kapan The Fed menaiikan suku bunga acuannya atau FFR (Fed Fund Rate). Sepanjang tahun 2014 ekonomi Amkerika serikat mengalmi perkembangan yang sangat baik membuat The Fed memutuskan melakukan normalisasi kebijakn monetrnya yang direncanakan pada triwulan II tahun 2015, membuat dollar AS terapresiasi terhadap semua mata uang termasuk Indonesia, membuat Indonesia tetap mempertahankan suku bunga acuan ditas 7 persen sepanjang tahun 2015 guna menarik minat investor untuk masuk ke pasar uang Indonesia, faktor eksternal lain adalah perekonomian Eropa dan Jepang juga mengalmi masa reses pada tahun 2014 yang terus berlanjut pada thun 2015 meski telah dtanggulangi dengan stimulus moneter. Perekonomian China yang melambat dalam 3 tahun terakhir membuat China merubah ekspansi ekonominya yang dahulu terpaku pada investasi dan ekspor sekarang dirubah dan terkonsentrasi pada peningkatan konsumsi. Semua perlambtan ekonomi ini membuat harga – harga komoditas menurun tajam berimbas pada ekspor komoditas primer Indonesia. 
Pada sisi domestik penyebab perlambatan ekonomi karena tingkat konsumsi yang rendah, seperti yang kita ketahui inflasi yang lebih kecil dari pada proyeksi APBN – P 2015 sebesar  5.0 persen namun inflasi pada 2015 3.35 persen. Dan konsumsi rumah tangga yang tidak dapat ditumbuh sebsar 5 persen dan dampaknya terasa pada pertumbuhan ekonomi yang menurun menjadi 4.7 persen . artinya bhwa inflasi yang rendah tidak dapat mendorong daya beli masyarakat dan tentunya pertumbuhan ekonomi pun tidak tumbuh.
Pokok persoalannya terletak pada kenaikan harga pangan dan bahan pangan yang menyebabkan inflasi harga pangan sebesar 6,42 dan inflasi bahan pangan 4.93 persen.  Harga pangan khususnya pada beras naik pada bulan november 2015 sebesar 0,68% dibandingkan Oktober 2015 dan naik 13,5% dibandingkan November 2014, harga cabe naik pada bulan november mengalami peningkatan cukup tinggi sebesar ,98 % dibandingkan dengan bulan Oktober 2015. Jika dibandingkan dengan November 2014, harga cabe merah mengalami penurunan sebesar 62,38 %.
Dampaknya dari pertumbuhan yang tidak sejalan dengan yang diinginkan bahkan menurun dari tahun sebelumnya, adalah melesetnya target pengurangan penangguran, pengangguran bertambah pada bulan februari 2015 sebesar  5,81 persen, mengalami kenaikan dibandingkan periode Februari tahun lalu sebesar 5,7 persen. Melemahnya penyerapan tenaga kerja sektor produksi akibat daya beli masrayakat yang berkurang dan ketidakpastian ekonomi dimana terjadi pemutusan hubungan kerja yang dilakukan industri – industri akibat melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dollar membuat sebagian bahan baku yang dimpor biayanya menjadi naik ditambah daya beli masyarakat yang menurun,  menyebabkan pengganguran pada bulan agustus Agustus 2015 sebanyak 7,56 juta orang, bertambah 320 ribu orang dibandingkan Agustus tahun 2014 yang sebesar 7,24 juta orang.  Dari artikel diatas dapat diketahui dengan jumlah angkatan kerja pada Agustusn 2015 mencapai 122,38 juta orang, yang bekerja hanya 114,82 juta orang. Sebanyak 48,5 juta orang atau 42,24 persen bekerja pada sektor formal dan 66,3 juta orang atau 57,76 persen bekerja pada sektor informal. Dari latar belakang pendidikan, pekerja formal masih didominasi penduduk berpendidikan rendah, yaitu SD ke bawah sebanyak 50,8 juta orang atau 44,27 persen; SMP sebanyak 20,7 juta orang atau 18,03 persen; dan sebanyak 12,6 juta orang berpendidikan tinggi (BPS: 2015).
Tentunya kemiskinan pun bertambah menurut Indeks Kemiskinan Multidimensi, dimana yang diukur adalah kesehatan, pendidikan dan standar hidup. Hasilnya adalah angka kemiskinan multidemensi Indonesia masi berda pada titik yang tinggi yaitu 29,7 persen pada 2014. Artinya, 79,5 juta jiwa atau 19,3 juta rumah tangga tergolong miskin multidimensi, yakni terjerat masalah pendidikan, kesehatan, dan standar hidup. Dari hasil survei World Bank dari artikel diatas dapat ketahui angka kemiskinan pada tahun 2014 sebesar 65 juta jiwa, sangat rentan jatuh miskin. Dari data Bps dimana penduduk dengan pengeluaran pendapatan perkapita dibawah garis kemiskinan sebesar 28,59 juta orang, setara dengan 11,22 persen penduduk (Maret 2015) pada bulan  maret 2015. Ditengarai penyebab tingginya angka kemiskinan karena kenaikan bahan pangan dan tranportasi. Penduduk miskin memang sangat rentan dengan gejolak yang terjadi terhadap harga – harga pangan karena pendapatan yang mereka dapatnya mereka alokasikan untuk membeli pangan dan transportasi.
Kebijakan apa yang ditempuh pemerintah dalam mendorong pertumbuhan dan daya beli masyarakat. pertama pemerintah dengan penyesuaian kembali kebijakan makroprudensial yaitu GWM berdasarkan LDR, LTV pada untuk kredit perumahan (KPR), serta ketentuan pembanyaran uang muak untuk kredit kendaraan bermotor (KKB). Koordinasi pemerintah dengan bank sentral yang terus ditingkatkan bukan hanhya dalam menjaga klkestabilan neraca  tarbsakasi berjaln dan inflasi namun juag dalam percepatan stimulus fiskal, seperti pembangunan infrastuktur yang harus segara direalisasikan. Semua kebijkan struktural yang terus ditingkatkan guan menciptakn propekekonomi Indonesia yang lebih baik lagi.
Dan pemerintah mengeluarakan beberapa kebijakan ekonomi pada tahun 2015 guna memperbaiki ekonomi akibat dari pengaruh perekonomian global. Kebijakan ekonomi jilid 1 yang fokus pada meningkatkan daya saing industri dalam negeri, menumbuhkan investasi sektor properti dengan deregulasi, dan membangun proyek – proyek yang strategis. Kebijkan ekonomi jilid II berfokus pada peningktan investasi, dengan deregulasisasi debirokratisasi pada perizinan dan hal – hal yang mempermudah pembentukan investasi. Kebijkan jilid III berfokus pada tiga hal yaitu penurunan harga gas, BBM, dan tarif dasar listrik guna mengurangi biaya produksi pada sektor industri, kedua adalah penurunan suku bunga pinjaman KUR, ketiga adalah penyederhanaan izin pertanahan untuk permodalan, kebijakan jilid IV berfokus pada tiga hal yaitu yang pertama, setiap yahun upah buruh akan dinaikan dengan formula upah minimun  padathun ini ditambah inflasi dan pertumbuhan ekonomi, kedua adalah penrybahan KUR menjadi kredit perseorangan dan kredit karayawanyang melakukan kegiatan usaha yang produktif, ketiga adalah bentuk bantuan kepada usaha menengah dan kecil yang melakukan ekspor atau menompangh ekspor. Kebijkan jilid V berfokus pada insentif pajak dan revaluasi aset pada perusahaan. Kebijakan – kebijaakan ekonomi ini diharapkan bersifat counter cycle yang dapat menumbuhkan ekonomi pada tahun 2016, dan tidak malah membawa dampak pro cycle.

0 komentar:

Posting Komentar