Investasi
Portofolio RI Kian Menguat dengan Bantuan
Berbagai
Pihak
Pada tahun ini keberuntungan tengah berpihak di
tangan Indonesia, dimana peluang meningkatnya jumlah investor di negara
berkembang ini lebih besar dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Dari 28
negara, Indonesia dan India merupakan dua negara yang berhasil menarik hati
para investor global untuk menanamkan modalnya. Tiga alasan yang dianggap dapat
menjamin Return On Investment
terhadap modal yang telah ditanamkan oleh para investor merupakan faktor yang
membuat Indonesia menjadi begitu kuat ke depannya untuk dijadikan pelabuhan
penanaman modal. Tiga faktor tersebut antara lain:
1.
Adanya prospek ekonomi
Indonesia yang diperkirakan akan meningkat pada tahun 2016 dan 2017.
2.
Adanya sepuluh paket kebijakan
yang telah ditetapkan dan dijalankan oleh kepemerintahan saat ini, yang
berfokus pada peningkatan investasi dalam negeri.
3.
Adanya penetapan tingkat
suku bunga negatif oleh banyak bank sentral luar negeri.
Ketiga
faktor yang melatarbelakangi prospek peningkatan investor yang akan masuk ke
dalam negeri di atas merupakan alasan yang sangat realistis dan memang sesuai
dengan keadaan perekonomian di Indonesia saat ini. Dilihat dari faktor yang
pertama, prospek ekonomi yang ada di Indonesia saat ini menunjukkan bahwa
Indonesia sedikit demi sedikit mengalami peningkatan, apalagi dengan adanya pembangunan
infrastruktur yang mulai ditingkatkan membuat Indonesia memiliki pandangan
perekonomian yang lebih bagus ke depannya. Kemudahan transportasi akibat adanya
pembangunan infrastruktur di Indonesia membuat kemudahan dalam pemerataan
bahan-bahan atau barang kebutuhan masyarakat di Indonesia. Dengan seperti itu,
diharapkan kesejahteraan masyarakat Indonesia dapat semakin meningkat, sehingga
kemajuan perekonomian dapat terjadi pada tahun ini, tahun depan, dan
tahun-tahun berikutnya.
Kedua, dengan
adanya sepuluh paket kebijakan ekonomi yang telah ditetapkan oleh pemerintah,
memberikan dampak yang positif terhadap pertumbuhan perekonomian saat ini.
Namun, apakah dampak positif tersebut dapat dirasakan oleh masyarakat?
Memanglah jika pertanyaan tersebut ditanyakan kepada masyarakat, maka banyak
dari mereka yang menjawab tidak terasa sama sekali dampak dari adanya sepuluh
paket kebijakan tersebut. Tetapi pada kenyataannya, sepuluh paket kebijakan
yang diusung oleh kepemerintahan Bapak Presiden Jokowi ini memberikan manfaat
terhadap perekonomian Indonesia sendiri. Memang manfaat yang dihasilkan tidak
dapat dinikmati oleh masyarakat secara langsung, karena menurut masyarakat
kebijakan tersebut dinilai mendatangkan manfaat hanya pada saat harga
barang-barang atau kebutuhan masyarakat berada pada harga yang rendah, atau
dengan kata lain murah. Banyak dari masyarakat kita yang tidak memperdulikan
manfaat yang telah dihasilkan dalam bidang lainnya, misalnya seperti dengan
adanya paket kebijakan II, pemerintah berhasil menurunkan tingkat inflasi yang
sebelumnya telah membelenggu ekonomi Indonesia, walaupun memang penurunannya
tidak sedrastis yang diinginkan oleh seluruh warga negara Indonesia. Dengan
adanya sepuluh kebijakan ekonomi ini, jumlah investor yang ada di Indonesia pun
juga mengalami peningkatan. Jika memang dengan adanya sepuluh kebijakan yang
dinilai tidak bermanfaat dan tidak memiliki arah tujuan ini tidak memberikan
dampak positif, atau dengan kata lain tidak berhasil, maka Indonesia tidak akan
pernah dilirik di mata investor, apalagi sekarang ini Indonesia sedang menjadi
pusat perhatian dari para investor asing yang sedang berlomba menanamkan
sahamnya di negara kepulauan ini.
Ketiga, adanya
penetapan tingkat suku bunga acuan negatif yang telah ditetapkan oleh Bank
Sentral luiar negeri, yakni Swiss dengan -0,75%, Denmark -0,65%, European Central Bank -0,4%, Swedia
-0,35%, dan Jepang -0,1%. Penetepan suku bunga acuan negatif tersebut
memberikan dampak tersendiri terhadap keadaan invetasi di Indonesia, dimana
pada saat negara-negara lain menetapkan tingkat suku bunga negatif di dalam
perekonomian mereka, Bank Sentral Indonesia justru memberikan penawaran tingkat
suku bunga yang masih dapat dikatakan tinggi dibandingkan dengan negara
lainnya. Tidak hanya Indonesia saja yang memiliki tingkat suku bunga acuan yang
positif pada saat ini, tingkat suku bunga acuan yang dimiliki oleh India,
Brasil, Argentina, dan Rusia juga relatif tinggi. Namun, yang masuk ke dalam
pandangan mata para Investor hanyalah Indonesia dan India. Ketiga negara yang
lebih unggul dari Indonesia dan India tersebut memanglah memiliki tingkat suku
bunga acuan yang begitu tinggi, akan tetapi, perekonomian yang terjadi di
ketiga negara tersebut menunjukkan bahwa pertumbuhan perekonomiannya mengarah
pada kondisi negatif. Jadi, dewi kebeuntungan memang sangat berpihak kepada Indonesia
dan India pada saat ini.
Lalu kenapa
negara-negara lain menetapkan tingkat suku bunga acuan yang negatif? Apa alasan
yang mendasari keputusan tersebut? Masyarakat awam tentu saja akan bertanya-tanya mengenai penetapan tingkat suku
bunga yang seperti ini, bahkan banyak dari masyarakat yang baru pertama kali
mendengar mengenai tingkat suku bunga acuan dalam nilai yang negatif. Penerapan
suku bunga acuan negatif ini bertujuan untuk menekan merosotnya perekonomian
suatu negara. Dengan adanya suku bunga dalam nilai negative, diharapkan
perekonomian di suatu negara dapat mengalami peningkatan kembali. Dengan adanya
suku bunga negatif, maka masyarakat yang melakukan deposita atau menyimpan
uangnya di Bank akan dikenakan biaya tertentu. Tujuan dari masyarakat melakukan
saving adalah untuk mendapatkan bunga
dari jumlah dana yang mereka simpan, akan tetapi dengan adanya tingkat suku
bunga negatif ini, mereka tidak akan menikmati bunga, mereka justru akan dikenakan
sejumlah biaya ketika melakukan saving.
Hal tersebut dilakukan untuk mendorong masyarakat agar tidak cenderung
menabungkan uangnya di bank, mereka diharapkan menggunakan uangnya untuk suatu
transaksi agar uang tersebut likuid,
sehingga jumlah uang yang beredar di masyarakat tidak mengalami kekurangan atau
tidak berada pada kondisi deflasi. Penerapan suku bunga negatif tidak hanya bertujuan
untuk menggenjot peningkatan laju inflasi suatu negara, tetapi dalam zona Euro,
suku bunga negatif diterapkan untuk mengatasi krisis keuangan yang terjadi di
negara-negaranya.
Penerapan suku
bunga negatif ini telah banyak dilakukan di berbagai negara, khususnya negara
Eropa. Pada awalnya banyak pihak yang terkejut dan kaget dengan adanya penerapan
suku bunga negatif ini, banyak pertanyaan di benak mereka mengenai penerapan
suku bunga pada level negatif. Apakah akan berjalan dengan baik, atau justru
akan memberikan dampak yang buruk terhadap perekonomian di negara tersebut.
Namun, pertanyaan tersebut telah dijawab dengan suatu keadaan dimana penerapan
suku bunga negatif telah banyak diterapkan di berbagai negara. Gubernur Bank
Sentral Amerika Serikat (AS) yang bernama Janet Yellen juga menyatakan setuju
dengan adanya penerapan suku bunga negatif, bahkan beliau telah menyampaikan
kepada anggota parlemen bahwa Amerika Serikat juga akan bersifat terbuka dengan
adanya kebijakan baru tersebut. Hal itu berarti AS juga akan menetapkan
kebijakan suku bunga negatif tersebut. Bahkan, beliau yakin bahwa penerapan
suku bunga pada level negatif ini akan diikuti oleh banyak negara lainnya.
Lalu tidakkah
peluang investor yang masuk ke negara-negara yang memiliki tingkat suku bunga
negative justru membesar? Seperti halnya yang telah kita ketahui bahwa investor
sangat senang apabila tingkat suku bunga yang ada di negara rendah. Tidak serta-merta
investor hanya mengincar tingkat suku bunga yang rendah dalam berinvestasi,
tetapi mereka juga melakukan suatu pertimbangan lainnya dalam berinvestasi.
Dengan tingkat suku bunga yang negatif itu, menandakan bahwa keadaan di dalam
negara tersebut mengalami permasalahan, tepatnya deflasi. Jika investasi
dilakukan di dalam negara yang mengalami permasalahan ekonomi, darimana mereka
akan mendapatkan laba yang besar, bagaimana investasi yang mereka tanamkan
dapat berkembang, merupakan beberapa alasan mengapa investor tidak memilih
berinvestasi di negara tersebut.
Beralih pada
keadaan dimana Indonesia menjadi negara yang begitu cemerlang di mata para
investor, tidak hanya karena ketiga faktor di atas, tetapi dengan adanya
penguatan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat membuat para
investor tidak was-was untuk membeli surat berharga di negara ini. Jika nilai
tukar rupiah menguat, maka permintaan rupiah juga akan meningkat, sehingga para
investor memilih untuk menanamkan modalnya dalam bentuk rupiah. Tidak hanya
dengan adanya penguatan nilai tukar rupiah, Indonesia juga telah berani
memberikan penawaran yield yang sangat
tinggi dalam suatu investasi, yaitu sebesar 7,79 persen. Tingkat yield yang diberikan oleh Indonesia ini
merupakan tingkat yang paling tinggi di antara negara-negara lainnya, seperti
Hongkong, Cina, Jepang, Thailand, Korea Selatan, dan sebagainya. Yield itu sendiri merupakan jumlah hasil
usaha yang dapat dibagikan kepada para investor. Bagaimana para investor tidak
sangat tertarik untuk berinvestasi di negara kepulauan ini ketika pembagian
hasil yang diberikan sangatlah tinggi dibanding dengan negara-negara lainnya.
Negara-negara lain seperti yang telah disebutkan di atas hanya berani
memberikan tingkat yield sebesar
-0,08 persen hingga 4,97 persen saja. Nilai tersebut masih sangat jauh jika
dibandingkan dengan Indonesia yang telah berani mengambil keputusan tersebut.
Menjaga stabilitas
investasi yang ada di suatu negara juga tidak akan lepas dari menjaga inflasi
di dalam suatu negara. Kedua masalah tersebut sangatlah sensitif untuk saling
berkaitan dan mempengaruhi. Inflasi yang tinggi, akan berdampak pada investasi
yang rendah. Untuk itu, kehati-hatian dalam menjaga laju inflasi di negara
berkembang ini sangatlah penting. Selain berfokus pada tiga alasan yang membuat
Indonesia menarik di mata investor tersebut, kita juga jangan terlena dalam
menjaga laju inflasi di negara ini. Selain kebijakan yang telah dikeluarkan
oleh Bank Sentral sebagai kuasa keuangan RI, peran bank-bank umum juga tidak bisa
lepas dalam hal ini. Melalui terobosan-terobosan baru yang mereka keluarkan,
dapat membantu mengatasi laju inflasi yang tidak sesuai dengan harapan. Selain
memiliki kewajiban dalam menjaga inflasi, tingkat investasi portofolio yang ada
di Indonesia tahun ini sangat dipengaruhi oleh kebijakan bank-bank umum yang
ada di negara ini.
Misalnya saja
terobosan yang telah dikeluarkan oleh Bank Bukopin, dimana ia berusaha menggenjot
tingkat investasi di sektor kredit Usaha Kecil Menengah (UKM). Bank Bukopin
berusaha mengubah mindset para
investor untuk memilih invesatsi dalam jangka panjang. Strategi tersebut jika
dipikirkan sangatlah sulit, dimana para investor kebanyakan sangatlah
menginginkan pendapatan keuntungan dengan cepat dan tanpa harus menunggu lebih
lama, sehingga hal tersebut menarik para investor untuk berinvestasi dalam
jangka pendek. Namun, Bank Bukopin telah berhasil membuktikan bahwa ia bisa
merubah mindset para invetor untuk
berinvestasi dalam jangka panjang. Dalam memperlancar strateginya ini, Bank
Bukopin memiliki dua anak usaha, yaitu Bank Bukopin Syariah dan Bukopin Finance yang bertugas untuk memperlancar
proses penyaluran kredit UKM.
Selain terobosan
Bank Bukopin untuk memperluas invests di
sektor UKM tersebut, Bank Rakyat Indonesia (BRI) bersama dengan strategi barunya
juga turut berperan dalam meningkatkan investasi di negaranya. Jika Bank
Bukopin lebih terfokus dalam peningkatan investasi kredit UKM yang nantinya
dapat membantu para pemilik usaha kecil dalam mengembangkan usahanya tersebut,
BRI memilih untuk mengubah posi investasi dana pensiun (dapen) yang dalam
jangka panjang akan dapat meningkatkan investasi dalam sektor riil. Dana pensiun
atau sering dikenal dengan istilah dapen merupakan dana alokasi khusus yang
digunakan untuk mengelola program pensiun masyarakat. Dapen dilakukan dengan
cara memberikan dana alokasi kusus dalam bentuk investasi, yang mana besar
kecilnya jumlah investasi akan memberikan keuntungan terhadap si penanam modal.
Namun peningkatan investasi dapen ini dilatarbelakangi oleh adanya prospek
penurunan suku bunga yang akan terjadi di Indonesia, dalam kasus ini kita ambil
contoh Bank Rakyat Indonesia (BRI).
Dengan
adanya kondisi perekonomian Indonesia saat ini, Bank Rakyat Indonesia melakukan
terobosan baru, dimana ia akan mengubah investasinya pada dana pensiun. BRI
akan meningkatkan jumlah dana pensiun (dapen) dari jumlah dana yang sebelumnya.
Alasan bank ini mengubah jumlah alokasi dana investasi terhadap dapen karena
diperkirakan bahwa suku bunga akan mengalami penurunan. Suku bunga yang rendah
akan mendatangkan peluang besar serta keuntungan yang akan didapat oleh para
investor. Dengan bunga yang rendah, maka para investor akan berlomba-lomba
untuk menanamkan modal mereka dalam bentuk investasi dibandingkan dengan
menyimpan uang di dalam bank. Begitu juga dengan bank-bank komersil, mereka
juga memiliki kebijakan sendiri untuk meningkatkan jumlah pendapatan terhadap
bank mereka, seperti BRI ini misalnya. Dengan tingkat suku bunga yang rendah,
BRI juga meningkatkan jumlah investasi mereka dibandingkan dengan jumlah deposito.
Karena dengan investasi, mereka akan mendapatkan keuntungan yang lebih besar,
sedangkan dana deposito hanya sebagai dana yang digunakan untuk likuiditas BRI
sendiri agar tetap eksis.
Dengan
adanya tanda-tanda akan penurunan suku bunga, BRI mengubah jumlah investasi
dana terhadap dapen menjadi lebih besar. Investasi dana pensiun yang
dicanangkan oleh BRI adalah sebesar Rp 14,8 triliun, hal ini seperti yang dijelaskan
oleh Direktur Investasi Dana Pensiun BRI, Budi Purwanto. Tidak hanya terjadi
perubahan pada alokasi dana pensiun saja yang telah diubah oleh Bank umum satu
ini, tetapi Bank Rakyat Indonesia memang lebih mengutamakan program
investasinya pada tahun ini. Ada beberapa perubahan racikan dalam investasi
portofolio BRI dibandingkan dengan tahun lalu, dimana alokasi dana untuk
deposito lebih rendah yaitu 11,61 persen, dibandingkan dengan jumlah investasi
pada SBN yaitu sebesar 16,84 persen.
Perubahan
alokasi investasi yang dilakukan oleh Bank Rakyat Indonesia (BRI) adalah dalam
hal obligasi korporasi yang diperbesar menjadi 22,23 persen, kemudian porsi
saham pun diperbesar menjadi 19,51 persen. BRI juga meningkatkan penempatan
investasi pada reksadana sebesar 5,11 persen, Instrumen KIK EBA juga diperbesar
menjadi 0,21 persen. Penyertaan langsung oleh BRI juga diperbesar menjadi 10,1
persen, dan juga investasi pada tanah bangunan juga diperbesar menajadi 14,48
persen. Semua perubahan alokasi dana tersebut dilatarbelakangi karena adanya
himbauan bahwa suku bunga akan turun pada tahun ini. Hal ini tidaklah menjadi
suatu kebijakan yang dianggap salah, kebijakan ini sangatlah dibenarkan.
Bagaimanapun juga, bank komersil yang ada di Indonesia tetaplah berorientasi
pada pendapatan keuntungan, termasuk Bank Rakyat Indonesia.
Lalu
apakah tujuan utama dari adanya perubahan jumlah investasi dapen yang dicanangkan
oleh BRI tersebut? Dengan adanya perubahan alokasi dana terhadap investasi Bank
Rakyat Indonesia, diharapkan jumlah keuntungan yang akan didapatkan oleh BRI
juga lebih besar dari tahun sebelumnya. Pendapatan Bank Rakyat Indonesia atau Return on Investment yang akan
didapatkan sesuai dengan target BRI sendiri adalah sebesar 10,5 persen pada
akhir tahun ini. Sedangkan Return on
investment yang didapatkan oleh Bank Rakyat Indonesia pada bulan Januari
lalu sebesar 1,18 persen, sehingga masih banyak lagi kesempatan yang masih
dapat dikembangkan untuk mencapai target yang telah ditetapkan. Dengan adanya
perubahan dana alokasi investasi yang telah mereka ubah pada bulan ini, maka
mereka yakin bahwa Return on investment
yang telah ditargetkan akan dapat terealisasi.
Lalu
kenapa hanya investasi dapen yang hanya mengalami peningkatan jumlah investasi?
Kenapa investasi di bidang deposito mengalami penurunan? Alasan utama mengapa
investasi dana pensiun mengalami peningkatan adalah dimana investasi dalam
dapen ini memiliki resiko yang rendah apabila terjadi sesuatu. Dengan keadaaan
perekonomian yang tidak menentu seperti yang telah dijelaskan di atas, dimana
negara-nega Eropa banyak yang menetapkan suku bunga negatif termasuk negara adikuasa,
yaitu Amerika Serikat (AS). Untuk menjaga kondisi Bank Rakyat Indonesia (BRI)
itu sendiri, maka diambilah langkah peningkatan investasi dapen tersebut. Investasi
dapen memiliki tingkat resiko yang rendah karena dana pensiun merupakan dana
yang diberikan kepada para pensiun pegawai negeri, yang mana dalam penetapan
ini dapen telah memiliki ikatan dengan pemerintah, sehingga pemerintah ikut
bertanggung jawab terhadap resiko yang akan terjadi. Selain memiliki resiko yang
rendah, dapen juga merupakan investasi yang dapat memperbesar portofolio surat
utang yang berbasis proyek, sehingga dapat mendukung sektor riil. Sedangkan
alasan mengapa investasi deposito menurun adalah untuk mengurangi resiko
terhadap bank karena adanya kondisi ekonomi nasional dan internasional yang tak
menentu saat ini.
Sebenarnya
masih banyak kebijakan-kebijakan yang ada untuk menunjang tumbuhnya investasi
yang ada di Indonesia. Baik itu kebijakan yang berasal dari kebijakan moneter
ataupun kebijakan yang berasal dari kebijakan fiscal. Uuraian yang telah dijelaskan di atas telah menunjukkan
bagaimana kebijakan moneter bekerja dalam menunjang pertumbuhan investasi
portofolio di negara ini. Lalu bagaimana dengan kebijakan fiscal dari pemerintah untuk ikut serta menunjang laju investasi
portofolio di negara kepulauan ini? Kebijakan fiscal yang telah dilakukan pemerintah telah disinggung sedikit di
bagian atas, yaitu dengan adanya sepuluh paket kebijakan ekonomi yang diusung
oleh keperintahan Bapak Jokowi tahun ini. Kebijakan tersebut berhasil
memberikan dampak positif terhadap eksistensi Indonesia di mata para investor.
Dalam paket kebijakan tersebut, baik dari paket kebijakan jilid I hingga paket
kebijakan jilid II, menjelaskan strategi-strategi yang dilakukan pemerintah
untuk menunjang peningkatan investasi di Indonesia mulai dari pembangunan
infrastruktur, pelayanan investasi cepat, pengembangan daerah pinggiran yang
memiliki kekayaan sumber daya alam ,dan masih banyak lagi.
Bagaimana
pun kebijakan yang akan dilakukan oleh pemerintah sebagai pemegang kebijakan fiscal dan Bank Indonesia sebagai
pemegang kebijakan moneter saat ini, pasti bertujuan untuk memajukan dan
meningkatkan alokasi investasi terhadap Indonesia, sehingga industri-industri
yang ada di negara Indonesia dapat berjalan maju dan dapat bersaing dengan
industri negara lain. Dengan adanya kemajuan investasi portofolio, diharapkan
modal Indonesia dalam memajukan negaranya lebih besar. Dari pemaparan yang
telah dijelaskan di atas, menunjukkan keadaan yang sangat positif terhadap
perekonomian negara tercinta ini. Maka yang menjadi tugas kita khususnya, serta
tugas pemerintah pada umumnya, yaitu harus tetap menjaga bahkan meningkatkan
investasi yang ada di Indonesia tetap terjaga dan semakin meningkat.






0 komentar:
Posting Komentar