Blogroll

Jumat, 10 Juni 2016

Investasi Portofolio RI Kian Menguat dengan Bantuan Berbagai Pihak

Investasi Portofolio RI Kian Menguat dengan Bantuan
Berbagai Pihak

Pada tahun ini keberuntungan tengah berpihak di tangan Indonesia, dimana peluang meningkatnya jumlah investor di negara berkembang ini lebih besar dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Dari 28 negara, Indonesia dan India merupakan dua negara yang berhasil menarik hati para investor global untuk menanamkan modalnya. Tiga alasan yang dianggap dapat menjamin Return On Investment terhadap modal yang telah ditanamkan oleh para investor merupakan faktor yang membuat Indonesia menjadi begitu kuat ke depannya untuk dijadikan pelabuhan penanaman modal. Tiga faktor tersebut antara lain:
1.        Adanya prospek ekonomi Indonesia yang diperkirakan akan meningkat pada tahun 2016 dan 2017.
2.        Adanya sepuluh paket kebijakan yang telah ditetapkan dan dijalankan oleh kepemerintahan saat ini, yang berfokus pada peningkatan investasi dalam negeri.
3.        Adanya penetapan tingkat suku bunga negatif oleh banyak bank sentral luar negeri.
Ketiga faktor yang melatarbelakangi prospek peningkatan investor yang akan masuk ke dalam negeri di atas merupakan alasan yang sangat realistis dan memang sesuai dengan keadaan perekonomian di Indonesia saat ini. Dilihat dari faktor yang pertama, prospek ekonomi yang ada di Indonesia saat ini menunjukkan bahwa Indonesia sedikit demi sedikit mengalami peningkatan, apalagi dengan adanya pembangunan infrastruktur yang mulai ditingkatkan membuat Indonesia memiliki pandangan perekonomian yang lebih bagus ke depannya. Kemudahan transportasi akibat adanya pembangunan infrastruktur di Indonesia membuat kemudahan dalam pemerataan bahan-bahan atau barang kebutuhan masyarakat di Indonesia. Dengan seperti itu, diharapkan kesejahteraan masyarakat Indonesia dapat semakin meningkat, sehingga kemajuan perekonomian dapat terjadi pada tahun ini, tahun depan, dan tahun-tahun berikutnya.
Kedua, dengan adanya sepuluh paket kebijakan ekonomi yang telah ditetapkan oleh pemerintah, memberikan dampak yang positif terhadap pertumbuhan perekonomian saat ini. Namun, apakah dampak positif tersebut dapat dirasakan oleh masyarakat? Memanglah jika pertanyaan tersebut ditanyakan kepada masyarakat, maka banyak dari mereka yang menjawab tidak terasa sama sekali dampak dari adanya sepuluh paket kebijakan tersebut. Tetapi pada kenyataannya, sepuluh paket kebijakan yang diusung oleh kepemerintahan Bapak Presiden Jokowi ini memberikan manfaat terhadap perekonomian Indonesia sendiri. Memang manfaat yang dihasilkan tidak dapat dinikmati oleh masyarakat secara langsung, karena menurut masyarakat kebijakan tersebut dinilai mendatangkan manfaat hanya pada saat harga barang-barang atau kebutuhan masyarakat berada pada harga yang rendah, atau dengan kata lain murah. Banyak dari masyarakat kita yang tidak memperdulikan manfaat yang telah dihasilkan dalam bidang lainnya, misalnya seperti dengan adanya paket kebijakan II, pemerintah berhasil menurunkan tingkat inflasi yang sebelumnya telah membelenggu ekonomi Indonesia, walaupun memang penurunannya tidak sedrastis yang diinginkan oleh seluruh warga negara Indonesia. Dengan adanya sepuluh kebijakan ekonomi ini, jumlah investor yang ada di Indonesia pun juga mengalami peningkatan. Jika memang dengan adanya sepuluh kebijakan yang dinilai tidak bermanfaat dan tidak memiliki arah tujuan ini tidak memberikan dampak positif, atau dengan kata lain tidak berhasil, maka Indonesia tidak akan pernah dilirik di mata investor, apalagi sekarang ini Indonesia sedang menjadi pusat perhatian dari para investor asing yang sedang berlomba menanamkan sahamnya di negara kepulauan ini.
Ketiga, adanya penetapan tingkat suku bunga acuan negatif yang telah ditetapkan oleh Bank Sentral luiar negeri, yakni Swiss dengan -0,75%, Denmark -0,65%, European Central Bank -0,4%, Swedia -0,35%, dan Jepang -0,1%. Penetepan suku bunga acuan negatif tersebut memberikan dampak tersendiri terhadap keadaan invetasi di Indonesia, dimana pada saat negara-negara lain menetapkan tingkat suku bunga negatif di dalam perekonomian mereka, Bank Sentral Indonesia justru memberikan penawaran tingkat suku bunga yang masih dapat dikatakan tinggi dibandingkan dengan negara lainnya. Tidak hanya Indonesia saja yang memiliki tingkat suku bunga acuan yang positif pada saat ini, tingkat suku bunga acuan yang dimiliki oleh India, Brasil, Argentina, dan Rusia juga relatif tinggi. Namun, yang masuk ke dalam pandangan mata para Investor hanyalah Indonesia dan India. Ketiga negara yang lebih unggul dari Indonesia dan India tersebut memanglah memiliki tingkat suku bunga acuan yang begitu tinggi, akan tetapi, perekonomian yang terjadi di ketiga negara tersebut menunjukkan bahwa pertumbuhan perekonomiannya mengarah pada kondisi negatif. Jadi, dewi kebeuntungan memang sangat berpihak kepada Indonesia dan India pada saat ini.
Lalu kenapa negara-negara lain menetapkan tingkat suku bunga acuan yang negatif? Apa alasan yang mendasari keputusan tersebut? Masyarakat awam tentu saja akan  bertanya-tanya mengenai penetapan tingkat suku bunga yang seperti ini, bahkan banyak dari masyarakat yang baru pertama kali mendengar mengenai tingkat suku bunga acuan dalam nilai yang negatif. Penerapan suku bunga acuan negatif ini bertujuan untuk menekan merosotnya perekonomian suatu negara. Dengan adanya suku bunga dalam nilai negative, diharapkan perekonomian di suatu negara dapat mengalami peningkatan kembali. Dengan adanya suku bunga negatif, maka masyarakat yang melakukan deposita atau menyimpan uangnya di Bank akan dikenakan biaya tertentu. Tujuan dari masyarakat melakukan saving adalah untuk mendapatkan bunga dari jumlah dana yang mereka simpan, akan tetapi dengan adanya tingkat suku bunga negatif ini, mereka tidak akan menikmati bunga, mereka justru akan dikenakan sejumlah biaya ketika melakukan saving. Hal tersebut dilakukan untuk mendorong masyarakat agar tidak cenderung menabungkan uangnya di bank, mereka diharapkan menggunakan uangnya untuk suatu transaksi agar uang tersebut likuid, sehingga jumlah uang yang beredar di masyarakat tidak mengalami kekurangan atau tidak berada pada kondisi deflasi. Penerapan suku bunga negatif tidak hanya bertujuan untuk menggenjot peningkatan laju inflasi suatu negara, tetapi dalam zona Euro, suku bunga negatif diterapkan untuk mengatasi krisis keuangan yang terjadi di negara-negaranya.
Penerapan suku bunga negatif ini telah banyak dilakukan di berbagai negara, khususnya negara Eropa. Pada awalnya banyak pihak yang terkejut dan kaget dengan adanya penerapan suku bunga negatif ini, banyak pertanyaan di benak mereka mengenai penerapan suku bunga pada level negatif. Apakah akan berjalan dengan baik, atau justru akan memberikan dampak yang buruk terhadap perekonomian di negara tersebut. Namun, pertanyaan tersebut telah dijawab dengan suatu keadaan dimana penerapan suku bunga negatif telah banyak diterapkan di berbagai negara. Gubernur Bank Sentral Amerika Serikat (AS) yang bernama Janet Yellen juga menyatakan setuju dengan adanya penerapan suku bunga negatif, bahkan beliau telah menyampaikan kepada anggota parlemen bahwa Amerika Serikat juga akan bersifat terbuka dengan adanya kebijakan baru tersebut. Hal itu berarti AS juga akan menetapkan kebijakan suku bunga negatif tersebut. Bahkan, beliau yakin bahwa penerapan suku bunga pada level negatif ini akan diikuti oleh banyak negara lainnya.
Lalu tidakkah peluang investor yang masuk ke negara-negara yang memiliki tingkat suku bunga negative justru membesar? Seperti halnya yang telah kita ketahui bahwa investor sangat senang apabila tingkat suku bunga yang ada di negara rendah. Tidak serta-merta investor hanya mengincar tingkat suku bunga yang rendah dalam berinvestasi, tetapi mereka juga melakukan suatu pertimbangan lainnya dalam berinvestasi. Dengan tingkat suku bunga yang negatif itu, menandakan bahwa keadaan di dalam negara tersebut mengalami permasalahan, tepatnya deflasi. Jika investasi dilakukan di dalam negara yang mengalami permasalahan ekonomi, darimana mereka akan mendapatkan laba yang besar, bagaimana investasi yang mereka tanamkan dapat berkembang, merupakan beberapa alasan mengapa investor tidak memilih berinvestasi di negara tersebut.
Beralih pada keadaan dimana Indonesia menjadi negara yang begitu cemerlang di mata para investor, tidak hanya karena ketiga faktor di atas, tetapi dengan adanya penguatan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat membuat para investor tidak was-was untuk membeli surat berharga di negara ini. Jika nilai tukar rupiah menguat, maka permintaan rupiah juga akan meningkat, sehingga para investor memilih untuk menanamkan modalnya dalam bentuk rupiah. Tidak hanya dengan adanya penguatan nilai tukar rupiah, Indonesia juga telah berani memberikan penawaran yield yang sangat tinggi dalam suatu investasi, yaitu sebesar 7,79 persen. Tingkat yield yang diberikan oleh Indonesia ini merupakan tingkat yang paling tinggi di antara negara-negara lainnya, seperti Hongkong, Cina, Jepang, Thailand, Korea Selatan, dan sebagainya. Yield itu sendiri merupakan jumlah hasil usaha yang dapat dibagikan kepada para investor. Bagaimana para investor tidak sangat tertarik untuk berinvestasi di negara kepulauan ini ketika pembagian hasil yang diberikan sangatlah tinggi dibanding dengan negara-negara lainnya. Negara-negara lain seperti yang telah disebutkan di atas hanya berani memberikan tingkat yield sebesar -0,08 persen hingga 4,97 persen saja. Nilai tersebut masih sangat jauh jika dibandingkan dengan Indonesia yang telah berani mengambil keputusan tersebut.
Menjaga stabilitas investasi yang ada di suatu negara juga tidak akan lepas dari menjaga inflasi di dalam suatu negara. Kedua masalah tersebut sangatlah sensitif untuk saling berkaitan dan mempengaruhi. Inflasi yang tinggi, akan berdampak pada investasi yang rendah. Untuk itu, kehati-hatian dalam menjaga laju inflasi di negara berkembang ini sangatlah penting. Selain berfokus pada tiga alasan yang membuat Indonesia menarik di mata investor tersebut, kita juga jangan terlena dalam menjaga laju inflasi di negara ini. Selain kebijakan yang telah dikeluarkan oleh Bank Sentral sebagai kuasa keuangan RI, peran bank-bank umum juga tidak bisa lepas dalam hal ini. Melalui terobosan-terobosan baru yang mereka keluarkan, dapat membantu mengatasi laju inflasi yang tidak sesuai dengan harapan. Selain memiliki kewajiban dalam menjaga inflasi, tingkat investasi portofolio yang ada di Indonesia tahun ini sangat dipengaruhi oleh kebijakan bank-bank umum yang ada di negara ini.
Misalnya saja terobosan yang telah dikeluarkan oleh Bank Bukopin, dimana ia berusaha menggenjot tingkat investasi di sektor kredit Usaha Kecil Menengah (UKM). Bank Bukopin berusaha mengubah mindset para investor untuk memilih invesatsi dalam jangka panjang. Strategi tersebut jika dipikirkan sangatlah sulit, dimana para investor kebanyakan sangatlah menginginkan pendapatan keuntungan dengan cepat dan tanpa harus menunggu lebih lama, sehingga hal tersebut menarik para investor untuk berinvestasi dalam jangka pendek. Namun, Bank Bukopin telah berhasil membuktikan bahwa ia bisa merubah mindset para invetor untuk berinvestasi dalam jangka panjang. Dalam memperlancar strateginya ini, Bank Bukopin memiliki dua anak usaha, yaitu Bank Bukopin Syariah dan Bukopin Finance yang bertugas untuk memperlancar proses penyaluran kredit UKM.
Selain terobosan Bank Bukopin untuk memperluas invests di sektor UKM tersebut, Bank Rakyat Indonesia (BRI) bersama dengan strategi barunya juga turut berperan dalam meningkatkan investasi di negaranya. Jika Bank Bukopin lebih terfokus dalam peningkatan investasi kredit UKM yang nantinya dapat membantu para pemilik usaha kecil dalam mengembangkan usahanya tersebut, BRI memilih untuk mengubah posi investasi dana pensiun (dapen) yang dalam jangka panjang akan dapat meningkatkan investasi dalam sektor riil. Dana pensiun atau sering dikenal dengan istilah dapen merupakan dana alokasi khusus yang digunakan untuk mengelola program pensiun masyarakat. Dapen dilakukan dengan cara memberikan dana alokasi kusus dalam bentuk investasi, yang mana besar kecilnya jumlah investasi akan memberikan keuntungan terhadap si penanam modal. Namun peningkatan investasi dapen ini dilatarbelakangi oleh adanya prospek penurunan suku bunga yang akan terjadi di Indonesia, dalam kasus ini kita ambil contoh Bank Rakyat Indonesia (BRI).
Dengan adanya kondisi perekonomian Indonesia saat ini, Bank Rakyat Indonesia melakukan terobosan baru, dimana ia akan mengubah investasinya pada dana pensiun. BRI akan meningkatkan jumlah dana pensiun (dapen) dari jumlah dana yang sebelumnya. Alasan bank ini mengubah jumlah alokasi dana investasi terhadap dapen karena diperkirakan bahwa suku bunga akan mengalami penurunan. Suku bunga yang rendah akan mendatangkan peluang besar serta keuntungan yang akan didapat oleh para investor. Dengan bunga yang rendah, maka para investor akan berlomba-lomba untuk menanamkan modal mereka dalam bentuk investasi dibandingkan dengan menyimpan uang di dalam bank. Begitu juga dengan bank-bank komersil, mereka juga memiliki kebijakan sendiri untuk meningkatkan jumlah pendapatan terhadap bank mereka, seperti BRI ini misalnya. Dengan tingkat suku bunga yang rendah, BRI juga meningkatkan jumlah investasi mereka dibandingkan dengan jumlah deposito. Karena dengan investasi, mereka akan mendapatkan keuntungan yang lebih besar, sedangkan dana deposito hanya sebagai dana yang digunakan untuk likuiditas BRI sendiri agar tetap eksis.
Dengan adanya tanda-tanda akan penurunan suku bunga, BRI mengubah jumlah investasi dana terhadap dapen menjadi lebih besar. Investasi dana pensiun yang dicanangkan oleh BRI adalah sebesar Rp 14,8 triliun, hal ini seperti yang dijelaskan oleh Direktur Investasi Dana Pensiun BRI, Budi Purwanto. Tidak hanya terjadi perubahan pada alokasi dana pensiun saja yang telah diubah oleh Bank umum satu ini, tetapi Bank Rakyat Indonesia memang lebih mengutamakan program investasinya pada tahun ini. Ada beberapa perubahan racikan dalam investasi portofolio BRI dibandingkan dengan tahun lalu, dimana alokasi dana untuk deposito lebih rendah yaitu 11,61 persen, dibandingkan dengan jumlah investasi pada SBN yaitu sebesar 16,84 persen.
Perubahan alokasi investasi yang dilakukan oleh Bank Rakyat Indonesia (BRI) adalah dalam hal obligasi korporasi yang diperbesar menjadi 22,23 persen, kemudian porsi saham pun diperbesar menjadi 19,51 persen. BRI juga meningkatkan penempatan investasi pada reksadana sebesar 5,11 persen, Instrumen KIK EBA juga diperbesar menjadi 0,21 persen. Penyertaan langsung oleh BRI juga diperbesar menjadi 10,1 persen, dan juga investasi pada tanah bangunan juga diperbesar menajadi 14,48 persen. Semua perubahan alokasi dana tersebut dilatarbelakangi karena adanya himbauan bahwa suku bunga akan turun pada tahun ini. Hal ini tidaklah menjadi suatu kebijakan yang dianggap salah, kebijakan ini sangatlah dibenarkan. Bagaimanapun juga, bank komersil yang ada di Indonesia tetaplah berorientasi pada pendapatan keuntungan, termasuk Bank Rakyat Indonesia.
Lalu apakah tujuan utama dari adanya perubahan jumlah investasi dapen yang dicanangkan oleh BRI tersebut? Dengan adanya perubahan alokasi dana terhadap investasi Bank Rakyat Indonesia, diharapkan jumlah keuntungan yang akan didapatkan oleh BRI juga lebih besar dari tahun sebelumnya. Pendapatan Bank Rakyat Indonesia atau Return on Investment yang akan didapatkan sesuai dengan target BRI sendiri adalah sebesar 10,5 persen pada akhir tahun ini. Sedangkan Return on investment yang didapatkan oleh Bank Rakyat Indonesia pada bulan Januari lalu sebesar 1,18 persen, sehingga masih banyak lagi kesempatan yang masih dapat dikembangkan untuk mencapai target yang telah ditetapkan. Dengan adanya perubahan dana alokasi investasi yang telah mereka ubah pada bulan ini, maka mereka yakin bahwa Return on investment yang telah ditargetkan akan dapat terealisasi.
Lalu kenapa hanya investasi dapen yang hanya mengalami peningkatan jumlah investasi? Kenapa investasi di bidang deposito mengalami penurunan? Alasan utama mengapa investasi dana pensiun mengalami peningkatan adalah dimana investasi dalam dapen ini memiliki resiko yang rendah apabila terjadi sesuatu. Dengan keadaaan perekonomian yang tidak menentu seperti yang telah dijelaskan di atas, dimana negara-nega Eropa banyak yang menetapkan suku bunga negatif termasuk negara adikuasa, yaitu Amerika Serikat (AS). Untuk menjaga kondisi Bank Rakyat Indonesia (BRI) itu sendiri, maka diambilah langkah peningkatan investasi dapen tersebut. Investasi dapen memiliki tingkat resiko yang rendah karena dana pensiun merupakan dana yang diberikan kepada para pensiun pegawai negeri, yang mana dalam penetapan ini dapen telah memiliki ikatan dengan pemerintah, sehingga pemerintah ikut bertanggung jawab terhadap resiko yang akan terjadi. Selain memiliki resiko yang rendah, dapen juga merupakan investasi yang dapat memperbesar portofolio surat utang yang berbasis proyek, sehingga dapat mendukung sektor riil. Sedangkan alasan mengapa investasi deposito menurun adalah untuk mengurangi resiko terhadap bank karena adanya kondisi ekonomi nasional dan internasional yang tak menentu saat ini.
Sebenarnya masih banyak kebijakan-kebijakan yang ada untuk menunjang tumbuhnya investasi yang ada di Indonesia. Baik itu kebijakan yang berasal dari kebijakan moneter ataupun kebijakan yang berasal dari kebijakan fiscal. Uuraian yang telah dijelaskan di atas telah menunjukkan bagaimana kebijakan moneter bekerja dalam menunjang pertumbuhan investasi portofolio di negara ini. Lalu bagaimana dengan kebijakan fiscal dari pemerintah untuk ikut serta menunjang laju investasi portofolio di negara kepulauan ini? Kebijakan fiscal yang telah dilakukan pemerintah telah disinggung sedikit di bagian atas, yaitu dengan adanya sepuluh paket kebijakan ekonomi yang diusung oleh keperintahan Bapak Jokowi tahun ini. Kebijakan tersebut berhasil memberikan dampak positif terhadap eksistensi Indonesia di mata para investor. Dalam paket kebijakan tersebut, baik dari paket kebijakan jilid I hingga paket kebijakan jilid II, menjelaskan strategi-strategi yang dilakukan pemerintah untuk menunjang peningkatan investasi di Indonesia mulai dari pembangunan infrastruktur, pelayanan investasi cepat, pengembangan daerah pinggiran yang memiliki kekayaan sumber daya alam ,dan masih banyak lagi.
Bagaimana pun kebijakan yang akan dilakukan oleh pemerintah sebagai pemegang kebijakan fiscal dan Bank Indonesia sebagai pemegang kebijakan moneter saat ini, pasti bertujuan untuk memajukan dan meningkatkan alokasi investasi terhadap Indonesia, sehingga industri-industri yang ada di negara Indonesia dapat berjalan maju dan dapat bersaing dengan industri negara lain. Dengan adanya kemajuan investasi portofolio, diharapkan modal Indonesia dalam memajukan negaranya lebih besar. Dari pemaparan yang telah dijelaskan di atas, menunjukkan keadaan yang sangat positif terhadap perekonomian negara tercinta ini. Maka yang menjadi tugas kita khususnya, serta tugas pemerintah pada umumnya, yaitu harus tetap menjaga bahkan meningkatkan investasi yang ada di Indonesia tetap terjaga dan semakin meningkat.



0 komentar:

Posting Komentar