KURVA
PHILLIPS, GAMBARKAN HUBUNGAN NEGATIF
PENGANGGURAN
DAN INFLASI
Perekonomian Indonesia memanglah tak luput dari
gejolak permaslahan yang terus bermunculan dan selalu silih berganti. Dari
meningkatnya pengangguran, menguatnya inflasi, rendahnya nilai tukar rupiah,
turunnya investasi dan masih banyak lagi. Namun permasalahan ini tidak hanya
menyerang perekonomian di Indonesia, permasalahan seperti ini memang sangat
sering melanda negara-negara yang masih berkembang termasuk Indonesia. Dimana
negara-negara berkembang sangat bergantung terhadap negara maju seperti Amerika
Serikat misalnya. Ketergantungan tersebut bukanlah ketergantungan yang selalu
menggantungkan diri kepada negara maju tersebut, tetapi negara berkembang lebih
kepada berpatokan terhadap perekonomian mereka. Dengan kemampuan dan kekayaan
yang negara maju miliki, dapat menjadi penguasa terhadap negara-negara lain.
Apabila terjadi sesuatu hal yang melanda perekonomian di negara maju missal
Amerika, maka akan berdampak pula terhadap negara-negara di bawahnya, Indonesia
pun juga termasuk. Contohnya saja terjadinya krisis ekonomi yang Melanda
Amerika Serikat pada tahun 2008. Dengan adanya krisis tersebut Indonesia ikut
merasakan kepahitan yang diderita oleh Amerika. Jadi apalah daya, Indonesia masih
membutuhkan bantuan dari berbagai pihak untuk memajukan kesejahteraan
masyarakatnya melalui pertumbuhan ekonomi.
Kebijakan-kebijakan dan rencana yang telah dibuat dan
dijalankan oleh pemerintah bersama dengan Bank Sentral dan lembaga-lembaga lain
yang masih memiliki tugas dalam lingkup yang sama tentunya telah ada dalam
berbagai bentuk, aturan yang disesuaikan dengan keadaan perekonomian Indonesia.
Kebijakan yang telah dibuat tentunya mencakup segala aspek untuk mengatasi,
menjaga dan mengurangi permaslahan yang ada di negara tercinta ini. Masalah
pengangguran, inflasi dan kemiskinan pun pasti telah memiliki kebijakan
tersendiri. Pemerintah pun telah mengupayakan yang terbaik untuk mengatasi
masalah yang dianggap telah berakar kuat di Indonesia ini. Namun ketiga maslah
ini tidaklah mudah untuk diatasi. Inflasi, pengangguran dan kemiskinan memiliki
hubungan yang saling berkaitan satu sama lain. Ketiga masalah ini selalu
menyita perhatian banyak kalangan, baik dari masyarakat hingga pemerintah. Oke,
kita bahas satu per satu dari ketiga masalah tersebut:
a.
Pengangguran
Apa
sih yang dimaksud dengan pengangguran?. Pengangguran atau dapat disebut juga
tuna karya adalah sebutan untuk seseorang tidak memiliki pekerjaan, masih
mencari pekerjaan, sudah bekerja tetapi memiliki jam kerja yang sedikit, atau
seseorang yang sedang berusaha mencari pekerjaan yang lebih layak. Penyebab
pengangguran secara umum tentunya sudah sangat dipahami oleh masyarakat. Ya,
pengangguran ada karena jumlah angkatan kerja yaitu masyarakat yang telah
berumur produktif yang relative banyak dan pertumbuhannya tidak sebanding
dengan jumlah lapangan kerja yang ada. Lalu, apakah faktor penyebab
pengangguran hanya karena ha tersebut? Jika tidak lalu apa faktor yang
lainnya?. Pengangguran tidak hanya disebabkan oleh kurangnya lowongan pekerjaan
tetapi juga karena kurangnya keterampilan yang dimiliki oleh Sumber Daya
Manusia (SDM), tidak hanya itu saja, pengangguran terjadi juga karena adanya
kemauan dari seseorang sendiri yang memutuskan untuk berhenti bekerja dan
berusaha mendapatkan pekerjaan yang lebih layak. Seperti yang dikatakan oleh
Keynes, pengangguran yang disengaja terjadi karena orang lebih memilih
menganggur daripada harus bekerja dengan pekerjaan yang sangat berat tetapi
mendapatkan gaji sedikit. Serta adanya persyaratan-persyaratan kerja yang tidak
bisa dipenuhi oleh angkatan kerja karena tidak sesuai dengan keterampilan yang
dimiliki.
Jika
ada masalah, seharusnya juga ada solusi pemecahannya, pengangguran dapat
meningkat karena rendahnya permintaan agregat masyarakat. Bagaimana bisa hal
tersebut terjadi? Kita pikirkan kembali, jika permintaan agregat masyarakat
terhadap suatu barang mengalami peningkatan, maka secara tidak langsung dapat
mempengaruhi produsen barang tersebut untuk membuat barang tersebut dalam
jumlah yang relative lebih banyak. Dengan permintaan barang yang meningkat
produktivitas perusahaan untuk memuaskan permintaan masyarakat taersebut tidak
akan bisa teratasi jika masih menggunakan jumlah tenaga kerja yang sama, maka terjadi
penawaran tenaga kerja oleh perusahaan yang pada akhirnya terjadi penyerapan
tenaga kerja. Tetapi kembali lagi, peningkatan permintaan agregat dipengaruhi
oleh pendapatan nasional yang ada di Indonesia. sehingga semakin tinggi tingkat
pendapatan nasional semakin tinggi pula penyerapan tenaga kerja di negara ini.
Selain
menghubungkan dengan permintaan agregat masyarakat, cara untuk mengatasi
pengangguran adalah sebagai berikut:
1.
Peningkatan mobilitas
tenaga kerja dan modal
Peningkatan
mobilitas tenaga kerja dapat dilakukan dengan cara memindahkan tenaga kerja ke
tempat kerja baru agar melatih dan menambah kaetrampilan yang ia miliki.
Sedangkan peningkatan mobilitas modal dapat dilakukan memindahkan industry yang
besifat padat karya yaitu industry yang membutuhkan banyak pekerja ke wilayah
yang mempunyai tingkat pengangguran yang parah.
2.
Penyediaan informasi
tentang kebutuhan tenaga kerja
Sebaiknya perlu
dilakukan pemberitahuan adanya lowongan pekerjaan dalam suatu perusahaan yang
sedang membutuhkan pekerjaan melalui berbagai sumber informasi seperti Koran,
radio, televisi, internet brosur dan sebagainya. Karena pengangguran terjadi
juga disebabkan karena masyarakat tidak mengetahui perusahaan mana yang sedang
membuka lowongan pekerjaan, khususnya untuk masyarakat yang buta huruf.
3.
Pertumbuhan ekonomi
Ya, memang benar
pertumbuhan ekonomi adalah cara yang dapat mengatasi pengangguran bahkan tidak
hanya mengatasi pengangguran dengan pertumbuhan ekonomi masalah-masalah yang
ada dalam paerekonomian akan dapat terkurangi. Tetapi dalam menumbuhkan ekonomi
suatu negara khususnya Indonesia harus dilakukan dari berbagai sisi. karena
pertumbuhan ekonomi juga dipengaruhi oleh dana yang dimiliki negara ini
sendiri.
4.
Program pendidikan dan
pelatihan
Pendidikan dan
pelatihan terhadap angkatan kerja sangatlah penting, dengan cara ini mereka
akan memiliki tanbahan keterampilan yang dapat digunakan untuk mencari
pekerjaan.
b. Inflasi
Apa
yang dimaksud dengan inflasi ? Infalsi merupakan keadaan yang mana terjadi
kenaikan harga barang dan jasa secara umum dan terus-menerus dalam kurun waktu
yang relatife lama. jadi jika terjadi kenaikan harga barang atau jasa dalam
waktu relatif sebentar belum dapat dikatan ada indikasi inflasi di dalamnya.
Kenaikan harga (inflasi) dapat terjadi karena dua hal yaitu adanya tarikan
permintaan, yang menunjukkan bahwa terdapat kelebihan likuiditas alat
pembayara/ uang yang berada di tangan masyarakat. Dan yang kedua adalah adanya
desakan atau dorongan produksi, distribusi, jadi dengan adanya permintaan
masyarakat akan barang tertentu meningkat tetapi produk yang dihasilkan tidak
dapat memenuhi permintaan tersebut maka akan terjadi desakan. Pada sebab yang
kedua ini lebih dipengaruhi oleh kebijaka pemerintah atau kebijakan fiscal
seperti perpajakan, pungutan/ insentif, pembangunan infrastruktur negara dan
sebagainya. Seperti halnya pengangguran, inflasi juga memiliki berbagai jenis,
yaitu:
1.
Inflasi ringan, yaitu
inflasi yang prtumbuhannya kurang dari 10 persen per tahun.
2.
Inflasi sedang, yaitu
inflasi yang tingkat pertumbuhannya antara 10 persen sampai 30 persen per
tahun.
3.
Inflasi berat, yaitu
inflasi yang tingkat pertumbuhannya antara 30 persen sampai 100 persen per
tahun.
4.
Hipeinflasi, yaitu
inflasi yang tingkat pertumbuhannya lebih dari 100 persen per tahun.
Inflasi merupakan keadaan yang dapat mengurangi
tingkat kemakmuran masyarakat. Karena adanya inflasi banyak masyarakat termasuk
masyarakat yang berpenghasilan di bawah rata-rata kesulitan untuk memenuhi
kebutuhan hidupnya karena kenaikan harga barang dan jasa yang terjadi dalam
jangka waktu yang lama. Apakah inflasi selalu mendatangkan akibat yang buruk
dalam perekonomina. Yuk disimak,
inflasi tidak hanya selalu memberikan dampak yang negative dalam perekonomian,
pada saat terjadi inflasi ringan dalam jangka waktu yang pendek inflasi justru
mendatangkan manfaat positif bagi perekonomian ini. Dengan adanya inflasi maka
dapt mendorong perekonomian dalam keadaan yang lebih baik, yaitu pendapatan
nasional tentunya akan meningkat sehingga membuat masyarakat bersemangat dan
bergairah untuk lebih memilih menabungkan uangnya di Bank, atau bahkan
melakukan suatu investasi. Namun jika inflasi terjadi terus menerus dan dalam
jangka waktu yang cukup panjang, dan inflasi berada pada tingkat yang tak
terkendali atau hiperinflasi maka keadaan perekonomian malah akan menjadi
kacau, sehingga menimbulkan berbagai dampak pada perekonomian. Biasanya
masyarakat akan malas untuk bekerja, melakukan investasi, dan menyimpan uangnya
di bank. Masyarakat pegawai negeri pun yang memiliki gaji pas setiap bulannya,
juga akan mengalami kewalahan untuk memenuhi kebutuhan pada saat inflasi pada
posisi hiper ini. Karena mereka tidak dapat mengimbangi harga setelah terkena
inflasi dengan penghasilan yang tetap setiap bulannya, sehingga banyak dari
mereka yang mengalami kesusahan bahkan menjadi miskin.
c.
Kemiskinan
Inflasi
dan pengangguran memiliki dampak negative terhadap keadaan suatu negara, salah
satunya yaitu terjadi kemiskinan. Karena meningkatnya jumlah inflasi dan
pengangguran, menyebabkan masyarakat kesulitan untuk memenuhi kebutuhan hidup
mereka, sehingga mereka tidak dapat merasakan fasilitas yang seharusnya mereka
rasakan, oleh karena itu disebutlah jumlah masyarakat tersebut sebagai
masyarakat miskin. Apa sih definisi kemiskinan? Kemiskinan dapat didefinisikan
sebagai keadaan dimana seseorang atau masyarakat tidak bisa memenuhi kebutuhan
sehari-hariatau dapat dikatan sebagai suatu kondisi yang serba kekurangan
karena pendapatan yang sangat minim yang membuat mereka tidak bisamenikmati
fasilitas kesehatan, fasilitas pendidikan, dan fasilitas-fasilitas lain yang
tersedia pada zaman modern seperti ini. Kemiskinan pun dibagi ke dalam beberapa
jenis, diantaranya adalah:
1.
Kemiskinan sementara
Kemiskinan ini
terjadi karena adanya upah atau gaji yang tidak sesuai dengan pekerjaan yang
telah dilakukan.
2.
Kemiskinan kronis
Kemiskinan kronis
terjadi dalam suatu perekonomian negara karena disebabkan oleh adanya
faktor-faktor biologis, psikologis, dan social yaitu sifat malas, kurang
terampil dan kurangnya kemampuan dalam segala hal, serta lemahnya fisik).
Sedangkan kemiskinan dapat terjadi karena
disesbabkan oleh beberapa faktor seperti faktor yang berasal dari diri
seseorang sendiri (faktor individu) seperti misalnya malas. Kemudian disebabkan
pula oleh faktor structural, yaitu faktor yang berasal dari luar individu yang
memiliki pengaruh besar terhadap kemiskinan serta individu sulit untuk
mengendalikan faktor ini. Pemerintah harus menjaga tingkat kemiskinan yang ada
di Indonesia. Karena dengan adanya tingkat kemiskinan yang tinggi mengartikan
bahwa dalam negara tersebut, tingkat kesejahteraan social pun juga rendah,
sehingga memberikan pandangan negative di mata negara-negara lain kusunya
investor yang akan berpikir dua kali jika menanmkan modalnya di negara yang
daya belinya sangat rendah karena adanya kemiskinan yang tinggi. Dari data BPS
mulai dari tahun 2013 hingga data tahun 2015 menenrangkan bahwa kemiskinan di
Indonesia masih sangat tinggi dan mengalami peningkatan dari tahun ke tahunnya.
d.
Hubungan antara
Pengangguran dan Inflasi
Seperti
yang telah dijelaskan mengenai inflsi dan pengangguran di atas, bahwa inflasi
dan pengangguran memiliki keterkaitan satu sama lain dan memberikan dampak
terhadap kemiskinan yang terjadi. Lalu, bagaimanakah keterkaitan yang terjadi
antara kedua aspek yang sanagt menyita perhatian masyarakat tersebut?.
keterkaitan antara inflasi dan pengangguran telah digambarkan oleh teori
inflasi A.W Phillips yang menjelaskan bahwa terdapat hubungan yang sangat erat
antara tingkat pengangguran dan tingkat perubahan upah nominal. Kemudian
keterkaitan antara inflasi dan pengangguran dijelaskna melalui kurva Phillips.
Kurva tersebut menggambarkan bahwa inflasi dan pengangguran memiliki hubungan
negative, dimana apabila suatu kebijakan pemerintah lebih berfokus terhadap
penurunan tingkat inflasi, maka pengangguran seolah-olah protes karena tidak
diperhatikan, ia akan mengalami peningkatan untuk mengatakan bahwa dia juga
butuh untuk diperhatikan. Kemudian jika pemerintah dengan kebijakannya lebih
berfokus pada penurunan tingkat pengangguran, maka inflasi lah yang akan naik
untuk melakukan protes agar diperhatikan. Lalu dengan kebijakan dan aturan yang
bagaimana agar kedua maslah ini dapat terselesaikan dengan bersama tanpa harus
saling mempengaruhi satu sama lain.
Peningkatan
inflasi, peningkatan ouput produksi dan peningkatan pengangguran dapat
disebabkan oleh tingkat permintaan agregat dan penawaran agregat. Apabila
terjadi peningkatan permintaan agregat, maka akan mempengaruhi peningkatan
output yang kemudian meningkatkan penyerapan tenaga kerja sehingga
penganggguran dapat dikurangi. Tetapi dampak negatifnya yaitu karena adanya
permintaan outpu yang meningkat, menyebabkan harga barang tersebut mengalami
kenaikan yang kemudian memicu munculnya inflasi. Kemudian bagaimana jika
terjadi penurunan penawaran dalam suatu negara terhadap barang-barang dan
jasa?. Jika dalam suatu negara mengalami penurunan penawaran, maka di dalam
negara tersebut tentu saja akan mengalami penurunan output (penurunan produksi)
yang kemudian berdampak terhadap tingkat penyerapan tenaga kerja pun juga akan
mengalami penurunan sehingga terjadilah peningkatan pengangguran. Tidak hanya
pengangguran, jika penawaran turun dan permintaan tetap mengalami kenaikan maka
akan mempengaruhi harga barang produksi menjadi naik, dan inflasi tidak dapat
dihindari dalam hal ini. Jadi dengan adanya penurunan penawaran, maka dapat
mengakibatkan meningkatnya inflasi dan pengangguran dalam suatu negara serta
penurunan pertumbuhan ekonomi pun akan terjadi.
Hubungan antara pengangguran, inflasi dan kemiskinan
pun sudah terlihat sangat jelas. Dengan adanya inflasi, maka apabila inflasi
naik maka harga barang-barang umum pun akan naik keseluruhan sehingga
masyarakat yang dulunya dapat membeli barang dengan harga pada tingkat A
kemudian setelah adanya inflasi, harga-harga akan mengalami kenaikan kemudian
masyarakat yang dulunya mampu membeli barang dengan harga A tidak mampu lagi
membeli barang tersebut yang kemudian membuat masayarakat mengganti barang lain
yang harganya lebih murah. Dengan adanya ketidak mampuan masayarakat untuk
membeli suatu barang dengan harga A menandakan kemiskinan sedang mengalami
peningkatan.
Memanglah
tidak mudah untuk dapat memahami perekonomian yang bergejolak di negara yang
kita tinggali ini, namun tidak hanya negara kita saja yang sering mengalami
gejolak ekonomi, negara lain pun juga banyak yang mengalami nasib sama. Tetapi
kita harus tetap berusaha untuk memahami situasi dan kondisi. Jangan kita hanya
melakukan aksi protes kesana kemari menyalahkan pemerintah, jika harga barang
dan jasa mengalami kenaikan tanpa tahu apa sebabnya. Tidak ad kerugian pula kan
jika kita mempelajari tentang perekonomian.
Perekonomian di berbagai negara
memiliki permasalahan sendiri-sendiri sesuai dengan keadaan negaranya, baik itu
negara maju ataupun negara berkembang. Tetapi mereka juga telah menyiapkan
berbagai alat untuk mengatasi masalah tersebut, yaitu melalui
kebijakan-kebijakan yang telah dibuat dan disepakati bersama. Seperti halnya
yang ada di Indonesia, terdapat dua kebijakan yang ada dalam perekonomian di
Indonesia, yaitu kebijakan moneter dan kebijakan fiscal. Kebijakan moneter
adalah suatu kebijakan atau aturan yang ditetapkan oleh Bank Indonesia dengan
tujuan untuk menstabilkan perekonomian di Indonesia, yang dilakukan melalui
kebijakan seperti kebijakan makroprudensia, mikroprudensial, kebijakan
perbankan dan sebagainya. Sedangkan kebijakn fiscal merupakan suatu kebijakan
atau aturan yang ditetapkan oleh pemerintah dengan tujuan mensejahterakan
rakyat, yang biasanya dilakukan melalui pemungutan pajak, kebijakan public dan
sebagainya. Sebagaimana dalam mengatasi inflasi dan pengangguran yang terjadi
di Indonesia, keduanya telah diatasi oleh dua kebijakan tersebut, yaitu kebijakan
moneter dan kebijakan fiscal. Untuk mengatasi tingak inflasi Bank Indonesia
dengan kebijakannya menetapkan tingkat suku bunga, menjaga nilai tukar rupiah,
menjaga capital inflow yang masuk ke dama negeri, dan masih banyak lagi. Dan
untuk kebijkan fiscal, pemerintah menetapkan pada tingkat berapa inflasi harus
ditarget setiap tahunnya. Begitu juga dengan pengangguran, yang mana
pengangguran yang ada di Indonesia masih dalam angka yang relative besar.
Peningkatan pun tidak hilang dari pengangguran ini. Pemerintah juga telah
menargetkan tingkat berapa pengangguran yang dirasa sudah ideal.
Kedua permaslahan tersebut, tidak
hanya senang bersarang di Indonesia, mereka juga telah menyerang berbagai
negara di belahan dunia ini. Dimana terdapat negara yang mengalami perlemahan
perekonomian, diditulah kedua masalah ini akan masuk ke dalam negara tersebut.
seperti yang terjadi di negara Eropa. Eropa pada tahun 2013, mengalami laju
inflasi yang rendah, tetapi tingkat pengangguran di negara-negara tersebut justru
mengalami peningkatan yang cukup mengagetkan yaitu naik sebesar 11,9 persen.
Peningkatan pengangguran tersebut berada pada level tertinggi yang pernah
terjadi di Eropa. Badan kepemerintahan Eropa yaitu Badan Eurostat menyebutkan
bahwa tingkat pengangguran di 17 negara mengalami kenaikan sehingga menjadi
11,9 persen pada Januari 2013. Dari rekor 11,8 persen pada bulan Desember 2013, yaitu diperkirakan hampir 19
juta orang keluar dari pekerjaannya. Angka tersebut mendekati perkiraan resmi
pemerintah Eropa, yaitu 12,2 persen pengangguran untuk tahun ini. Badan
Eurostat menyatakan bahwa di 27 negara yang bergabung dal Eropa ini tercatat
bahwa tingkat penganggura pada bulan Desembers sebesar 10,8 persen dari 10,7
persen. Dan diperkirakan jumlah pengangguran tersebut kurang lebih sebanyak
26,2 juta orang. Kemudia Eurostat mengatakan bahwa tingkat pengangguran
tertinggi terjadi di Yunani sebesar 27 persen dan kemudian disusul oleh Spanyol
sebesar 26,2 persen pada bulan tersebut. sedangkan pengangguran terendah terjadi
di Austria sebesar 4,9 persen kemudian juga terjadi di Jerman dan Luksemburg
sebesar 5,3 persen. Memanglah di negar Eropa tidak mengalami inflasi, tetapi
masalah yang harus dihadapi oleh negara-negara Eropa pada tahun tersebut adalah
tingkat pengangguran yang meningkat dari tahun sebelumnya.
Seperti yang telah digambarkan
melalui kurva Phillips mengenai hubungan negative antara laju inflasi dan laju pengangguran.
Bahwasannya dalam ekspektasi dan kenyataan yang terjadi, tingkat pengangguran
dan inflasi tidak pernah berada pada angka yang sama. Pasti ada jarak antara
kedua aspek tersebut dalam penetapan maupun kenyataan yang terjadi. Ingatlah
bagaimana kurva phillip menerangkan antara hubungan kedua peristiwa tersebut.
apabila nilai pengangguran tinggi maka nilai inflasi akan rendah, karena dengan
adanya pengangguran maka masyarakat yang tidak memiliki pekerjaan akan
meningkat, produktivitas pun juga mengalami penurunan maka daya beli akan
berkurang yang menyebabkan tingkat permintaan akan barang juga mengalami
penurunan, oleh karena itu inflasi pun juga rendah karena barang-barang akan
mengalami penurunan harga.
Sedangkan jika pengangguran
mengalami penurunan, maka tingkat inflasi pun akan mengalami peningkatan. Hal
tersebut terjadi karena pada saat masyarakat banyak yang bekerja maka
produktivitas merek juga meningkat sehingga menyebabkan jumlah uang beredar dan
permintaan akan suatu barang juga meningkat yang kemudian akan terjadi kondisi
dimana permintaan lebih tinggi dibandingkan dengan alat pemuas kebutuhan. Jika
hal tersebut terjadi maka akan berdampak pada harga barang yang mengalami
peningkatan itulah mengaap inflasi mengalami peningkatan.






0 komentar:
Posting Komentar