Kepastian
Bank Indonesia dalam Menentukan Instrument Kebijakan Moneter sebagai Target Operasi
Oleh
Zannatul Maulida
Konsentrasi
Moneter, Ekonomi Pembangunan, Universitas Jember
Bank sentral merupakan lembaga atoritas moneter atau
pembuat dan mengatur kebijakan moneter , melakukan fungsi-fungsi pengolahan
moneter. Serta, mempunyai wewenang untuk memeberi izin dan mengatur bank-bank
komersial .Tujuan utama dari Bank Sentral untuk menggunakan wewenangnya dalam
menciptakan uang kartal dan cadangan bank, memberikan elastisitas dan mencegah atau menangani krisis serta
kepanikan bank. Bank Sentral juga
mempunyai wewenang untuk menggantikan system kliring dan penagihan cek yang
lambat dan mahal. Dengan adanya, system yang lebih cepat dan lebih efesien,
menyediakan alat fiscal yang lebih memudahkan untuk pemerintah. Tujuan primer
dari Bank Sentral yaitu menanggulangi atau mencegah adanya krisis pada sector
perbankan. Secara umum tugas Bank Sentral mengolah uang secara berhati-hati dan
untuk mencapai tujuan ekonomi yang diharapkan.meskipun ada pertentangan dalam
penerapannya.
Dalam bertindak sebagai
alat fiscal, Bank Sentral sangat banyak melakukan pekerjaan untuk pemerintah.
Diantara fungsi-fungsi yang dilakukan oleh Bank Sentral sebagai banker utama
bagi pemerintah yaitu sebagai :
1.
Penasehat keuangan
2.
Tempat penyimpanan dan penerimaan serta
wakil pembayaran
3.
Alat untuk menerbitkan dan membayar
surat-surat berharga Departemen Keuagan
4.
Mewakili dalam transaksi lain yang
menyangkut pembelian dan penjualan surat-surat berharga atas rekening
departemen keuangan.
5.
Mewakili pemerintah dalam pembelian dan
penjualan emas dan valuta asing
Bank Sentral begitu
mengetahui seluk beluk uang, surat berharga dan bursa valuta asing dan tentunya paling mampu membantu pemerintah
dalam pengolahaan hutang dan transaksi devisa.
Basis moneter M0 merupakan
uang kartal dan rekening giro merupakan bidang yang diwenangkan kepada bank
komersial. Bank komersial merupakan satu-satunya lembaga keuangan yang secara
langsung dipengaruhi oleh Bank Sentral. Bank komerisal menjadi tumpuan dari
kebijakan moneter yang dikeluarkan. Bank komerseial juga berfungsi sebagai
perantara keuangan yang paling penting jika dilihat dari ukuran dan cakupan aktivitasnya.
Sedangkan peran dari lembaga non-bank
berawal dari perubahan pesat dari system keuangan didalam perekonomian.
Namun bank komersial tetap menjadi lembaga keuangan yang terbesar dan
terpenting untuk tingkat nasional maupun internasional.
Terdapat beberapa
instrument moneter yang digunakan oleh Bank Sentral dalam melakukan target
operasi kebijakan moneter. Seperti di
Indonesia bahwa Bank Indonesia menetapkan tingkat suku bunga sebagai
kebijakan utama dalam mempengaruhi suatu kegiatan perekonomian di Indonesia
dengan tujuan akhir yaitu untuk menjaga dan memelihara kestabilan nilai rupiah
yang dicerminkan dari pencapaian tingkat inflasi yang rendah dan stabil, maka
tujuan akhir dari instrument tingkat suku bunga sebagai instrument kebijakan
utama yaitu pencapaian tingkat inflasi yang rendah. Dalam pencapaiannya dari
kebijakan yang dikeluarkan oleh Bank Sentral Indonesia (BI) memerlukan waktu (time lag) cukup lama dan sangat kompleks. Karena perubahan
mekanisme dari Instrumen tingkat suku
bunga atau BI rate ini dalam menjaga dan menstabilkan tingkat inflasi sebagai
target operasinya dapat mempengaruhi berbagai variabel ekonomi lainnya.
Mekanisme dari transmisi instrument kebujakan BI rate yaitu melalui Bank
Sentral, kemudian melalui perbankan dan sector keuangan, dan sector riil. Perubahan instrument kebijakan BI rate yang
bertujuan untuk mempengaruhi inflasi
melalui berbagi macam jalur diantaranya
yaitu jalur suku bunga, jalur kredit, jalur nilai tukar, jalur harga aset, dan
jalur ekspektasi terhadap inflasi yang juga merupakan instrument kebijakan
moneter.
Jika perekonomian
mengalami kelesuan maka Bank Indonesia (BI) dapat mengeluarkan kebijakan
moneter yang ekspansif dengan menurunkan tingkat suku bunga dengan tujuan
mendorong aktifitas perekonomian. Dengan adanya penurunan tingkat suku bunga BI
rate diharapkan suku bunga kredit juga ikut turun sehingga permintaan kredit
dari perusahaan maupun rumah tangga akan meningkat. Dengan adanya penurunan dari tingkat suku
bunga kredit dapat juga menurunkan biaya modal dari perusahaan dalam melakukan
investasi. Sehingga dapat meningkatkan tingkat konsumsi dan tingkat investasi
dan aktifitas dari perekonomian masih tetap berjalan dan bergairah. dan jika
perekonomian mengalami laju inflasi yang tinggi maka Bank Indonesia (BI)
mengeluarkan kebijakan moneter yang kontraktif melalui menaikkkan tingkat suku
bunga BI rate untuk dapat mengerem aktifitas perekonomian sehingga dapat
mengurangi tekanan laju inflasi.
Mekanisme transmisi
instrument kebijakan moneter ini memerlukan waktu dalam penerapannya. Time
lag dari instrument kebijakan moneter tingkat suku bunga BI rate
masing-masing jalur memiliki time lag yang
berbeda. Seperti jalur dari nilai tukar (kurs)
yang biasanya langsung dipengaruhi oleh perubahan tingkat suku bunga BI rate .
Maka dapat disimpulkan bahwa kondisi sector keuangan, sektor perbankan dan
sector riil mempunyai peran yang sangat
penting dalam efektif atau tidak efektifnya dari proses penerapan
transmisi kebijakan moneter melalui instrument tingkat suku bunga BI rate
sebagai target operasi.






0 komentar:
Posting Komentar