Blogroll

Jumat, 10 Juni 2016

Kepastian Bank Indonesia dalam Menentukan Instrument Kebijakan Moneter sebagai Target Operasi



Kepastian Bank Indonesia dalam Menentukan Instrument Kebijakan Moneter sebagai Target Operasi
Oleh Zannatul Maulida
Konsentrasi Moneter, Ekonomi Pembangunan, Universitas Jember
Bank sentral  merupakan lembaga atoritas moneter atau pembuat dan mengatur kebijakan moneter , melakukan fungsi-fungsi pengolahan moneter. Serta, mempunyai wewenang untuk memeberi izin dan mengatur bank-bank komersial .Tujuan utama dari Bank Sentral untuk menggunakan wewenangnya dalam menciptakan uang kartal dan cadangan bank, memberikan elastisitas  dan mencegah atau menangani krisis serta kepanikan  bank. Bank Sentral juga mempunyai wewenang untuk menggantikan system kliring dan penagihan cek yang lambat dan mahal. Dengan adanya, system yang lebih cepat dan lebih efesien, menyediakan alat fiscal yang lebih memudahkan untuk pemerintah. Tujuan primer dari Bank Sentral yaitu menanggulangi atau mencegah adanya krisis pada sector perbankan. Secara umum tugas Bank Sentral mengolah uang secara berhati-hati dan untuk mencapai tujuan ekonomi yang diharapkan.meskipun ada pertentangan dalam penerapannya.
Dalam bertindak sebagai alat fiscal, Bank Sentral sangat banyak melakukan pekerjaan untuk pemerintah. Diantara fungsi-fungsi yang dilakukan oleh Bank Sentral sebagai banker utama bagi pemerintah yaitu sebagai :
1.      Penasehat keuangan
2.      Tempat penyimpanan dan penerimaan serta wakil pembayaran
3.      Alat untuk menerbitkan dan membayar surat-surat berharga Departemen Keuagan
4.      Mewakili dalam transaksi lain yang menyangkut pembelian dan penjualan surat-surat berharga atas rekening departemen keuangan.
5.      Mewakili pemerintah dalam pembelian dan penjualan emas dan valuta asing
Bank Sentral begitu mengetahui seluk beluk uang, surat berharga dan bursa valuta asing  dan tentunya paling mampu membantu pemerintah dalam pengolahaan hutang dan transaksi devisa.
Basis moneter M0 merupakan uang kartal dan rekening giro merupakan bidang yang diwenangkan kepada bank komersial. Bank komersial merupakan satu-satunya lembaga keuangan yang secara langsung dipengaruhi oleh Bank Sentral. Bank komerisal menjadi tumpuan dari kebijakan moneter yang dikeluarkan. Bank komerseial juga berfungsi sebagai perantara keuangan yang paling penting jika dilihat dari ukuran dan cakupan aktivitasnya. Sedangkan peran dari lembaga non-bank  berawal dari perubahan pesat dari system keuangan didalam perekonomian. Namun bank komersial tetap menjadi lembaga keuangan yang terbesar dan terpenting untuk tingkat nasional maupun internasional.
Terdapat beberapa instrument moneter yang digunakan oleh Bank Sentral dalam melakukan target operasi kebijakan moneter. Seperti di  Indonesia bahwa Bank Indonesia menetapkan tingkat suku bunga sebagai kebijakan utama dalam mempengaruhi suatu kegiatan perekonomian di Indonesia dengan tujuan akhir yaitu untuk menjaga dan memelihara kestabilan nilai rupiah yang dicerminkan dari pencapaian tingkat inflasi yang rendah dan stabil, maka tujuan akhir dari instrument tingkat suku bunga sebagai instrument kebijakan utama yaitu pencapaian tingkat inflasi yang rendah. Dalam pencapaiannya dari kebijakan yang dikeluarkan oleh Bank Sentral Indonesia (BI)  memerlukan waktu (time lag) cukup lama dan sangat kompleks. Karena perubahan mekanisme  dari Instrumen tingkat suku bunga atau BI rate ini dalam menjaga dan menstabilkan tingkat inflasi sebagai target operasinya dapat mempengaruhi berbagai variabel ekonomi lainnya. Mekanisme dari transmisi instrument kebujakan BI rate yaitu melalui Bank Sentral, kemudian melalui perbankan dan sector keuangan, dan sector riil.  Perubahan instrument kebijakan BI rate yang bertujuan untuk  mempengaruhi inflasi melalui berbagi macam  jalur diantaranya yaitu jalur suku bunga, jalur kredit, jalur nilai tukar, jalur harga aset, dan jalur ekspektasi terhadap inflasi yang juga merupakan instrument kebijakan moneter.
Jika perekonomian mengalami kelesuan maka Bank Indonesia (BI) dapat mengeluarkan kebijakan moneter yang ekspansif dengan menurunkan tingkat suku bunga dengan tujuan mendorong aktifitas perekonomian. Dengan adanya penurunan tingkat suku bunga BI rate diharapkan suku bunga kredit juga ikut turun sehingga permintaan kredit dari perusahaan maupun rumah tangga akan meningkat.  Dengan adanya penurunan dari tingkat suku bunga kredit dapat juga menurunkan biaya modal dari perusahaan dalam melakukan investasi. Sehingga dapat meningkatkan tingkat konsumsi dan tingkat investasi dan aktifitas dari perekonomian masih tetap berjalan dan bergairah. dan jika perekonomian mengalami laju inflasi yang tinggi maka Bank Indonesia (BI) mengeluarkan kebijakan moneter yang kontraktif melalui menaikkkan tingkat suku bunga BI rate untuk dapat mengerem aktifitas perekonomian sehingga dapat mengurangi tekanan laju inflasi.
Mekanisme transmisi instrument kebijakan moneter ini memerlukan waktu dalam penerapannya.  Time lag dari instrument kebijakan moneter tingkat suku bunga BI rate masing-masing jalur memiliki time lag yang berbeda. Seperti jalur dari nilai tukar (kurs) yang biasanya langsung dipengaruhi oleh perubahan tingkat suku bunga BI rate . Maka dapat disimpulkan bahwa kondisi sector keuangan, sektor perbankan dan sector riil mempunyai peran yang sangat  penting dalam efektif atau tidak efektifnya dari proses penerapan transmisi kebijakan moneter melalui instrument tingkat suku bunga BI rate sebagai target operasi.

0 komentar:

Posting Komentar