Ketika
Kondisi Perekonomian Amerika Serikat (AS) Berjalan
Oleh
Zannatul Maulida
Konsentrasi
Moneter, Ekonomi Pembangunan, Universitas Jember
Pengaruh perekonomian
Amerika Serikat (AS) terhadap perekonomian dunia dan terjadinya turbulensi di pasar modal dunia di awal tahun
2016 ini. Yang membuat kita
betanya-tanya mengenai kondisi perekonomian dunia (perekonomian global). Pada
bulan desember akhir tahun lalu, kondisi perekonomian Amerika Serikat (AS) sudah
cukup kuat hal ini dikarenakan kenaikan tingkat suku bunga acuan yang
dikeluarkan oleh The Fed selaku Bank sentral Amerika Serikat (AS). Hal ini
memberi kesan kepada kita bahwa perekonomian Amerika Serikat (AS) cukup kuat
dan dalam kondisi yang stabil dan akan terus tumbuh tanpa dorongan yang terlalu
signifikan dari sector moneter.
Untuk mengetahui
prospek kondisi perekonomian Amerika Serikat ada baiknya kita melihat dan
mengenal mengenai prospek siklus bisnis (business
cycle) bukan hanya dari tingakat suku bunga yang dikeluarkan oleh The Fed
selaku Bank sentral Amerika Serikat (AS).
Siklus bisnis merupakan
suatu peristiwa yang berualang-ulang dari suatu perekonomian yang awalnya tidak
bisa berekspansi secara terus menerus akan tetapi pada suatu masa akan mempunyai
masa untuk bisa berekspansi. Yang akan diikuti oleh kondisi perkonomian yang
melambat. Dan kemudian akan mencapai titik puncak dalam perekonomian dan kemudian
mengalami masa resesi atau depresi dalam suatu perekonomian itu sendiri, dimana
kondisi perekonomian dari titik puncak menjadi titik terendah. Dan kemudian
kondisi perkeonomian akan berekpansi kembali, bertumbuh dengan cepat, dan
melalui kondisi perelambatan perekonomian lagi dan mencapai titik puncak
perekonomian lagi dan kemudian menuju ketiitik terendah kondisi perekonomian.
Dalam suatu negara
memiliki siklus bisnis (business cycle)
yang berbeda-beda. Panjang dan system siklus bisnis disuatu negara juga
berbeda-beda tergantung dari kondisi suatu negara tersebut dan para pelaku
ekonomi dinegara tersebut. semakin pandai dan pintar para pelaku ekonomi dan
penentu kebijakan ekonominya di suatu negara maka siklus bisnis (business cycle) dalam suatu negara tersebut akan semakin
panjang. Artinya bahwa., perekonomian di suatu negara tersebut dapat melakukan
ekspansi dalam jangka waktu yang cukup lebih lama. Hal ini menandakan bahwa
para pelaku ekonomi dan pembuat kebijakan berperan penting dalam perekonomian,
dan panjang waktu siklus bisnis (business
cycle) di suatu negara dapat dijadikan indicator untuk mengurukur suatu
kondisi perekonomian di suatu negara tersebut.
Di dalam perekonomian
Amerika Serikat (AS) panjang siklus bisnis (business
cycle) di negara adidaya tersebut bervariasi antara 7 sampai 10 tahun. Ketika
kondisi perekonomian Amerika Serikat (AS) berjalan dengan baik, maka kondisi
siklus bisnis Amerika Serikat bisa tumbuh selama 10 tahun. Dan sebaliknya jika
kebijakan dalam mengatur kondisi perekonomiannya kurang baik, maka kondisi
siklus bisnis Amerika Serikat (AS) hanya bisa tumbuh sepanjang 7 tahun dan
setelahnya itu kondisi perekonomian Amerika Serikat (AS) jatuh dalam keadaan
resesi.
Seperti contoh, jika
kondisi perekonomian Amerika Serikat mengalami ekspansi pada mas periode
1983-1990 sekitar 7 tahun. Dan sepanjang 10 tahun dari periode 1991-2001. Dalam
pertengahan periode tahun 2001-2008
sepanjang 7 tahun. Maka kondisi perekonmian Amerika Serikat memasuki masa
bereskspansi lagi apda pertengahan tahun 2009.
Apabila siklus bisnis
Amerika Serikat berjangka pendek terjadi, maka kondisi perekonomian Amerika
Serikat akan berekspansi lagi samapi tahun 2016 maka dapat diperkirakan kondisi
perekonomian tahun ini akan mengalami resesi. Namun, jika siklus bisnis
berjangka panjang maka kondisi perekonomian Amerika Serikat dapat diperkirakan
akan tetap tumbuh sampai tahun 2019 nanti.
Terdapat banyak teori
ekonomi yang dapat mencoba untuk menjelaskan penyebab dari siklus bisnis itu
terjadi. Meski, belum ada jawaban yang pasti mengenai penyebab utamanya. Bahwa
data-data terkini menunjukkan bahwa adanya pengaruh yang signifikan dari
kebijakan moneter yang dikeluarkan oleh suatu Bank Sentral di suatu negara terhadap siklus bisnis.
Pada umumnya untuk
mengukur dan melihat kondisi perekonomian di suatu negara ditentukan oleh
tingkat suku bunga. Jika tingkat suku bunga rendah maka perekonomian cenderung
tumbuh lebih cepat. Dan sebaliknya, jika tingkat suku bunga yang dikeluarkan
oleh Bank sentral di suatu negara itu tinggi maka tingkat pertumbuhan
perekonomian cenderung lebih lambat.
Suatu kebijakan moneter
yang dikeluarkan dan diimplementasikan terhadap perekonomian dampaknya akan
terlihat setelah beberapa bulan kemudian setelah kebijakan moneter tersebut
dikeluarkan dan diimplementasikan.
Dampak dari kebijakan
moneter tersebut yaitu Bank Sentral akan terus memperketat kebijakan moneter
seperti menaikkan tingkat suku bunga, padahal jika dilihat pada saat itu
tingkat suku bunga yang ditetapkan oleh Bank Sentral sudah cukup untuk
memperlambat pertumbuhan ekonomi yang diinginkan. Maka akibatnya, kebijakan
Bank Sentral tersebut justru mengakibatakan konsdisi perekonomian jatuh dalam
masa resesi bukan mengalami perlambatan perekonomian saja. Ketika perekonomian
dalam keadaan resesi, biasanya Bank Sentral cendurung melonggarkan kebijakan
moneter seperti menurunkan tingkat suku bunga dengan agresif. Terkadang Bank
Sentral memberi stimulus terhadap perekonomian sehingga membuat perekonomian
tumbuh lebih cepat dan dapat memicu terjadinya inflasi.
Dan mengakibatkan
aktivitas perekonomian perlahan-lahan akan keluar dari masa resesi dan mulai
melakukan ekspansi lagi.
Seperti contoh kasus
pada perekonomian Amerika Serikat menagalmi resesi pada tahun 1991, setelah
tingkat suku bunga (Fed Funds Rate/FFR) yang dikeluarkan oleh The Fed tingginya
sebesar 8 persen pada tahun 1990. Setelah itu, The Fed menurunkan tingkat suku
bunga mencapai 3 persen hingga tahun 1994. Maka, perekonomian Amerika Serikat (AS)
kembali dan tumbuh dengan cepat. Sampai tahun 2001, kondisi perekonomian
Amerika Serikat (AS) kembali jatuh dalam masa resesi. Kondisi ini disebabkan
oleh tingkat suku bunga yang tinggi mencapai 6,5 persen di tahun 2000. Dan
kemudian tingkat suku bunga diturunkan secara agresif sejak tahun 2001 mencapai
level terendah sebesar 1 persen pada tahun 2003 dan 2004. Dan kondisi
perekonmian Amerika Serikat akan kembali tumbuh dengan cepat.
Pada periode tahun 2006
dan 2007 tingkat suku bunga kembali dinaikkan mencapai level 5,25 persen,
merupakan salah satu penyebab atau pemicu dari resesi pada tahun 2008 dan 2009.
Maka, tingkat suku bunga di turunkan kembali pada level terendah yaitu 0-0,25
persen merupakan tingkat suku bunga level terendah sepanjang sejarah. Data ini
berdasarkan sumber dari Bank Sentral Amerika Serikat (AS).
Berdasarkan data di
atas, menunjukkan bahwa The Fed selaku Bank Sentral Amerika Serikat sering melaksanakan
kebijakan overkill atau overpush dikarenakan dinilai lemah dalam
menilai kondisi perekonomian Amerika Serikat (AS) sendiri disaat kebijakan
tersebut dilaksanakan dan di implementasikan. Maka, dalam menentukan kebijakan
moneter diperlukan kemampuan untuk memprediksi arah dari perekonomian untuk
menjadi lebih baik. Dan hal tersebut bukanlah hal yang mudah bagi Bank Sentral dikarenakan
adanya delay (jangka waktu) dari dampak kebijakan moneter yang dikeluarkan oleh
Bank Sentral terhadap perekonomian.
Ada beberapa indicator
lain yang dapat menunjukkan prospek perekonomian yang relative cukup baik,
salah satunya yaitu Leading Economic
Index (LEI). Leading Economic Index (LEI)
biasanya berfungsi untuk menunjukkan arah perekonomian dari 6-12 bulan ke depan.
Jika prospek Leading Economic Index (LEI)
naik menunjukkan bahwa arah perekonomian akan membaik 6-12 ke depan. Dan jika
prospek Leading Economic Index (LEI)
turun menunjukkan indikasi arah perekonomian mengalami kelambatan hingga 6-12
ke depan.
Dalam mengeluarkan
kebijakan yang kurang hati-hati mengakibatkan terjadinya siklus bisnis jangka
pendek.






0 komentar:
Posting Komentar