Blogroll

Jumat, 10 Juni 2016

Ketika Kondisi Perekonomian Amerika Serikat (AS) Berjalan



Ketika Kondisi Perekonomian Amerika Serikat (AS) Berjalan
Oleh Zannatul Maulida
Konsentrasi Moneter, Ekonomi Pembangunan, Universitas Jember

Pengaruh perekonomian Amerika Serikat (AS) terhadap perekonomian dunia dan terjadinya  turbulensi di pasar modal dunia di awal tahun 2016 ini.  Yang membuat kita betanya-tanya mengenai kondisi perekonomian dunia (perekonomian global). Pada bulan desember akhir tahun lalu, kondisi perekonomian Amerika Serikat (AS) sudah cukup kuat hal ini dikarenakan kenaikan tingkat suku bunga acuan yang dikeluarkan oleh The Fed selaku Bank sentral Amerika Serikat (AS). Hal ini memberi kesan kepada kita bahwa perekonomian Amerika Serikat (AS) cukup kuat dan dalam kondisi yang stabil dan akan terus tumbuh tanpa dorongan yang terlalu signifikan dari sector  moneter.
Untuk mengetahui prospek kondisi perekonomian Amerika Serikat ada baiknya kita melihat dan mengenal mengenai prospek siklus bisnis (business cycle) bukan hanya dari tingakat suku bunga yang dikeluarkan oleh The Fed selaku Bank sentral Amerika Serikat (AS).
Siklus bisnis merupakan suatu peristiwa yang berualang-ulang dari suatu perekonomian yang awalnya tidak bisa berekspansi secara terus menerus akan tetapi pada suatu masa akan mempunyai masa untuk bisa berekspansi. Yang akan diikuti oleh kondisi perkonomian yang melambat. Dan kemudian akan mencapai titik puncak dalam perekonomian dan kemudian mengalami masa resesi atau depresi dalam suatu perekonomian itu sendiri, dimana kondisi perekonomian dari titik puncak menjadi titik terendah. Dan kemudian kondisi perkeonomian akan berekpansi kembali, bertumbuh dengan cepat, dan melalui kondisi perelambatan perekonomian lagi dan mencapai titik puncak perekonomian lagi dan kemudian menuju ketiitik terendah kondisi perekonomian.
Dalam suatu negara memiliki siklus bisnis (business cycle) yang berbeda-beda. Panjang dan system siklus bisnis disuatu negara juga berbeda-beda tergantung dari kondisi suatu negara tersebut dan para pelaku ekonomi dinegara tersebut. semakin pandai dan pintar para pelaku ekonomi dan penentu kebijakan ekonominya di suatu negara maka siklus bisnis (business cycle)  dalam suatu negara tersebut akan semakin panjang. Artinya bahwa., perekonomian di suatu negara tersebut dapat melakukan ekspansi dalam jangka waktu yang cukup lebih lama. Hal ini menandakan bahwa para pelaku ekonomi dan pembuat kebijakan berperan penting dalam perekonomian, dan panjang waktu siklus bisnis (business cycle) di suatu negara dapat dijadikan indicator untuk mengurukur suatu kondisi perekonomian di suatu negara tersebut.
Di dalam perekonomian Amerika Serikat (AS) panjang siklus bisnis (business cycle) di negara adidaya tersebut bervariasi antara 7 sampai 10 tahun. Ketika kondisi perekonomian Amerika Serikat (AS) berjalan dengan baik, maka kondisi siklus bisnis Amerika Serikat bisa tumbuh selama 10 tahun. Dan sebaliknya jika kebijakan dalam mengatur kondisi perekonomiannya kurang baik, maka kondisi siklus bisnis Amerika Serikat (AS) hanya bisa tumbuh sepanjang 7 tahun dan setelahnya itu kondisi perekonomian Amerika Serikat (AS) jatuh dalam keadaan resesi.
Seperti contoh, jika kondisi perekonomian Amerika Serikat mengalami ekspansi pada mas periode 1983-1990 sekitar 7 tahun. Dan sepanjang 10 tahun dari periode 1991-2001. Dalam pertengahan  periode tahun 2001-2008 sepanjang 7 tahun. Maka kondisi perekonmian Amerika Serikat memasuki masa bereskspansi lagi apda pertengahan tahun 2009.
Apabila siklus bisnis Amerika Serikat berjangka pendek terjadi, maka kondisi perekonomian Amerika Serikat akan berekspansi lagi samapi tahun 2016 maka dapat diperkirakan kondisi perekonomian tahun ini akan mengalami resesi. Namun, jika siklus bisnis berjangka panjang maka kondisi perekonomian Amerika Serikat dapat diperkirakan akan tetap tumbuh sampai tahun 2019 nanti.
Terdapat banyak teori ekonomi yang dapat mencoba untuk menjelaskan penyebab dari siklus bisnis itu terjadi. Meski, belum ada jawaban yang pasti mengenai penyebab utamanya. Bahwa data-data terkini menunjukkan bahwa adanya pengaruh yang signifikan dari kebijakan moneter yang dikeluarkan oleh suatu Bank Sentral  di suatu negara terhadap siklus bisnis.
Pada umumnya untuk mengukur dan melihat kondisi perekonomian di suatu negara ditentukan oleh tingkat suku bunga. Jika tingkat suku bunga rendah maka perekonomian cenderung tumbuh lebih cepat. Dan sebaliknya, jika tingkat suku bunga yang dikeluarkan oleh Bank sentral di suatu negara itu tinggi maka tingkat pertumbuhan perekonomian cenderung lebih lambat.
Suatu kebijakan moneter yang dikeluarkan dan diimplementasikan terhadap perekonomian dampaknya akan terlihat setelah beberapa bulan kemudian setelah kebijakan moneter tersebut dikeluarkan dan diimplementasikan. 
Dampak dari kebijakan moneter tersebut yaitu Bank Sentral akan terus memperketat kebijakan moneter seperti menaikkan tingkat suku bunga, padahal jika dilihat pada saat itu tingkat suku bunga yang ditetapkan oleh Bank Sentral sudah cukup untuk memperlambat pertumbuhan ekonomi yang diinginkan. Maka akibatnya, kebijakan Bank Sentral tersebut justru mengakibatakan konsdisi perekonomian jatuh dalam masa resesi bukan mengalami perlambatan perekonomian saja. Ketika perekonomian dalam keadaan resesi, biasanya Bank Sentral cendurung melonggarkan kebijakan moneter seperti menurunkan tingkat suku bunga dengan agresif. Terkadang Bank Sentral memberi stimulus terhadap perekonomian sehingga membuat perekonomian tumbuh lebih cepat dan dapat memicu terjadinya inflasi.
Dan mengakibatkan aktivitas perekonomian perlahan-lahan akan keluar dari masa resesi dan mulai melakukan ekspansi lagi.
Seperti contoh kasus pada perekonomian Amerika Serikat menagalmi resesi pada tahun 1991, setelah tingkat suku bunga (Fed Funds Rate/FFR)  yang dikeluarkan oleh The Fed tingginya sebesar 8 persen pada tahun 1990. Setelah itu, The Fed menurunkan tingkat suku bunga mencapai 3 persen hingga tahun 1994. Maka, perekonomian Amerika Serikat (AS) kembali dan tumbuh dengan cepat. Sampai tahun 2001, kondisi perekonomian Amerika Serikat (AS) kembali jatuh dalam masa resesi. Kondisi ini disebabkan oleh tingkat suku bunga yang tinggi mencapai 6,5 persen di tahun 2000. Dan kemudian tingkat suku bunga diturunkan secara agresif sejak tahun 2001 mencapai level terendah sebesar 1 persen pada tahun 2003 dan 2004. Dan kondisi perekonmian Amerika Serikat akan kembali tumbuh dengan cepat.
Pada periode tahun 2006 dan 2007 tingkat suku bunga kembali dinaikkan mencapai level 5,25 persen, merupakan salah satu penyebab atau pemicu dari resesi pada tahun 2008 dan 2009. Maka, tingkat suku bunga di turunkan kembali pada level terendah yaitu 0-0,25 persen merupakan tingkat suku bunga level terendah sepanjang sejarah. Data ini berdasarkan sumber dari Bank Sentral Amerika Serikat (AS).
Berdasarkan data di atas, menunjukkan bahwa The Fed selaku Bank Sentral Amerika Serikat sering melaksanakan kebijakan overkill atau overpush dikarenakan dinilai lemah dalam menilai kondisi perekonomian Amerika Serikat (AS) sendiri disaat kebijakan tersebut dilaksanakan dan di implementasikan. Maka, dalam menentukan kebijakan moneter diperlukan kemampuan untuk memprediksi arah dari perekonomian untuk menjadi lebih baik. Dan hal tersebut bukanlah hal yang mudah bagi Bank Sentral dikarenakan adanya delay (jangka waktu) dari dampak kebijakan moneter yang dikeluarkan oleh Bank Sentral terhadap perekonomian.
Ada beberapa indicator lain yang dapat menunjukkan prospek perekonomian yang relative cukup baik, salah satunya yaitu Leading Economic Index (LEI). Leading Economic Index (LEI) biasanya berfungsi untuk menunjukkan arah perekonomian dari 6-12 bulan ke depan. Jika prospek Leading Economic Index (LEI) naik menunjukkan bahwa arah perekonomian akan membaik 6-12 ke depan. Dan jika prospek Leading Economic Index (LEI) turun menunjukkan indikasi arah perekonomian mengalami kelambatan hingga 6-12 ke depan.
Dalam mengeluarkan kebijakan yang kurang hati-hati mengakibatkan terjadinya siklus bisnis jangka pendek.



0 komentar:

Posting Komentar