kompleksitas
pengangguran dan inflasi
Oleh M Rizqi Iskhaqi,Ilmu Ekonomi
dan Studi Pembangunan
UniversitasJember
Dalam
dunia kerja saat ini di temukan bahwa terdapat beberapa permasalahan yang
komplek dalam penyerapan tenaga kerja. Dalam kegiatan ekonomi terlampir jelas
bahwa terdapat penambahan akan pengangguran yang semakin menguat. Kondisi ini
di pengaruhi beberapa sebab mulai dari inflasi dan pengangguran. Tidak hanya
didalam pengaruh inflasi saja. Posisi nilai tukar rupiah yang tidak menentu dan
cenderung selalu menurun terhadap dolar amerika semakin membuat kondisi
perekonomian carut marut dan tidak stabil. Ditambah lagi dalam permasalahan
penawaran tenaga kerja dengan kualitas yang rendah yang akan semakin menambah
jumlah pengangguran dalam suatu wilayah tersebut. Hal ini tidak akan pernah
merubah siklus yang ada tanpa dilakukan beberapa sentuhan di dalamnya.
Berawal dari inflasi yang tinggi
suatu perekonomian akan mengalami gejolak yang cukup mempengaruhi kesetabilan
kegiatan ekonomi. Laju perekonomian yang seharusnya normal kembali menuai batu
ganjalan bila arus perputaran uang yang terjadi mengalami hambatan. Inflasi
sendiri dapat ditinjau dari masuknya barang dari luar daerah dan beberapa akan
stok komoditas yang tersedia dalam daerah tersebut. Pasalnya dalam kondisi
tersebut akan berhubungan dengan produksi dan tak terlepas dengan pergerakan
pengangguran yang semakin meningkat. Dalam kondisi seperti ini harus di pangkas
dengan peningkatan suatu pendapatan sehingga daya beli masyarakat meningkat. Namun
dalam rangka peninggkatan pendapatan sendiri sering kali terganjal dengan
masalah permodalan dan kreativitas sumberdaya manusia sendiri.
Dalam
meningkatkan perekonomian perlu suatu dorongan akan daya dukung lingkungan
seperti lingkungan yang produktiv dengan digambarkan dengan arus investasi
produktive dalam perekonomian. Kondisi tersebut akan diikuti dengan peningkatan
penyerapan tenaga kerja dan dapat meningkatkan pendapatan akan masyarakat
daerah tersebut. Dengan ini suatu perekonomian akan kembali stabil bila
kenaikan akan suatu barang dapat diikuti dengan pertumbuhan ekonomi yang di
tandai dengan pertambahan pendapatan atau daya beli masyarakat. Kekuatan suatu
perekonoman seperti yang di gambarkan oleh masyarakat di atas merupakan sebuah
keseimbangan antara daya tawar dan daya permintaan masyarakat itu sendiri.
Industri produktif dinilai dapat
mengangkat perekonomian tidak hanya dengan penyerapan tenaga kerja, namun unit
komoditas atau output yang di hasilkan juga dapat menambah penawaran akan barang
dalam pasar. Dengan ini maka akan menekan inflasi dalam perekonomian yang
sedang berjalan. Jenis produk yang di produksi yang bersifat homogen juga akan
menekan harga yang sudah ada dengan jumlah barang yang lebih banyak maka
terjadi persaingan antar produk sehingga menekan harga dalam pasaran. Ini juga
dapat menjadi kunci untuk mengembalikan suatu perekonomian yang tidak stabil.
Dari
sini dapat di tarik garis yang menyebabkan pengangguran. Pengangguran disini
disebabkan dengan penawaran tenaga kerja yang berlimpah tanpa di ikuti dengan
kondisi iklim lapangan pekerjaan yang tersedia. Tidak habis sampai disini,
perekonomian yang di terbentuk merupakan perekonomian yang rendah akan
penyerapan tenaga kerja seperti dalam sektor industri, perdagangan, perhotelan
dan retail. Sektor tersebut dinilai mulai bergeser dari padat karya menjadi
padat modal terkait dengan perkembangan teknologi zaman. Penawaran tenaga kerja
yang terjadi hanya menjadi sebuah ornamen yang tidak pernah terurai jika tidak
muncul sebuah industri produktif.
Penganguran
yang terbentuk disini tidak hanya di pengaruhi oleh inflasi yang ada dan
runtutan perekonomian yang menyebabkan penambahan pengangguran di dalamnya.
Penawaran akan tenaga kerja sendiri di rasa tidak dapat memberikan apa yang tengah
di harapkan oleh permintaan pasar yang sedang berjalan saat ini. Tingkat
kualitas yang rendah menjadi salah satu penyebab yang tidak menemukan akan
pasar tenaga kerja dengan permintaan akan tenaga kerja. Tuntutan zaman yang
tinggi mengharuskan perekrutan tenaga kerja harus di imbangi dengan kualitas
atau skill tenaga tersebut. Efisiensi dan efektivitas menjadi tuntutan demi
mendapat keuntungan perusahaan yang maksimal bahkan optimal.
Kondisi
ekonomi penawaran tenaga kerja dengan kualitas yang rendah digambarkan dengan
tingkat pendidikan yang telah di tempuh oleh para tenaga kerja yang sudah
bekerja disana. Sperti yang telah dinyatakan oleh syech suhaimi bahwa
penyerapan tenaga kerja masih di dominasi oleh pekerja dengan tingka pendidikan
yang rendah dengan lulusan sekolah dasar sebesar 38%, sekolah menegah atas 18%
dan yang berpendidikan tinggi sebesar sisanya dengan diploma yang hanya 3 %
dari total tenaga kerja yang ada di banten. Dengan kondisi seperti ini dapat
disimpulkan bahwa kondisi pendidikan disini masih dalam taraf yang rendah
seperti yang tergambarkan di atas.
Dalam konsep tenaga kerja bahwa suatu
pendidikan merupakan suatu investasi jangka panjang dimana dengan tingkat
pendidikan yang tinggi maka seseorang akan mendapatkan pendapatan yang tinggi.
Pendapatan yang tinggi ini didasarkan pada tingkat pemikiran dan kreativitas
serta temuannya yang dinilai dapat mengantarkan suatu perekonomian terus
berkembang dan akan memacu investasi dalam suatu perekonomian. Perekonomian
yang bak tentunya tidak berhenti pada kondisi yang tengah dicapai, penggunaan
faktor produksi dengan maksimal menjadi tujuan utama yang menjadikan suatu
kondisi selalu di evaluasi dan dikembangkan.
Namun kendala yang besar juga di
sebabkan oleh sektor perusahaan sendiri yang melakukan pemutusan hubungan
karena terjadi penekan arus ekonomi global. Arus ekonomi global mulai merangsak
memengaruhi perekonomian dalam negri sehingga terdapat pengurangan akan tenaga
kerja dalam produksinya sebagai akibat input produksi lainnya yang semakin
melonjak. Kondisi industri yang sering bergantung pada impor menjadi salah satu
penyebab pemutusan hubungan kerja oleh perusahan. Hal ini di akibatkan dengan
nilai tukar rupiah yang semakin melemah terhadap mata uang dolar amerika.
Dari kondisi seperti ini dapat
disimpulkan dalam suatu perekonomian bahwa suatu pengangguran, inflasi, nilai
tukar rupiah dan tingkat pendidikan memiliki tingkat keterkaitan di dalamnya.
Hal ini ditandakan dengan inflasi yang secara signifikan mempengaruhi
pengangguran dengan harga input yang lebih tinggi dapat melakukan pengurangan
tenaga kerja yang digunakan demi keberlangsungan usaha. Pengangguran juga di
akibatkan tingkat pendidikan yang rendah sehingga tidak mempertemukan lowongan
tenaga kerja dengan penawaran tenaga kerja. Dari pengangguran ini menyebabkan
turunnya pendapatan masyarakat, Penurunan barang dan lemahnya daya beli
masyarakat menurun sehingga menyebabkan terjadinya inflasi di dalamnya.
Solusi dalam masalah ini adalah
dengan penguatan dalam sektor pendidikan untuk meningkatkan kualitas akan
tenaga kerja dan investasi yang di harapkan dapat menciptakan lapangan kerja
baru guna meningkatkan pendapatan dan di ikuti dengan daya beli masyarakat.
Dalam mempertemukan antara permintaaan dan penawaran tenaga kerja dapat
dilakukan job fair agar memberikan ruang yang cukup untuk para pencari kerja.
Tidak hnaya sampai disiitu pelatihan akan kewirausahaan muda dan suntingan
alokasi modal yang kuat seperti program KUR dan sejenisnya akan semakin
mendorong terciptanya perekonomian yang stabil dan penyerapan pengagguran
didalamnya.






0 komentar:
Posting Komentar