Blogroll

Jumat, 10 Juni 2016

kompleksitas pengangguran dan inflasi



kompleksitas pengangguran dan inflasi
Oleh M Rizqi Iskhaqi,Ilmu Ekonomi dan Studi Pembangunan
UniversitasJember

Dalam dunia kerja saat ini di temukan bahwa terdapat beberapa permasalahan yang komplek dalam penyerapan tenaga kerja. Dalam kegiatan ekonomi terlampir jelas bahwa terdapat penambahan akan pengangguran yang semakin menguat. Kondisi ini di pengaruhi beberapa sebab mulai dari inflasi dan pengangguran. Tidak hanya didalam pengaruh inflasi saja. Posisi nilai tukar rupiah yang tidak menentu dan cenderung selalu menurun terhadap dolar amerika semakin membuat kondisi perekonomian carut marut dan tidak stabil. Ditambah lagi dalam permasalahan penawaran tenaga kerja dengan kualitas yang rendah yang akan semakin menambah jumlah pengangguran dalam suatu wilayah tersebut. Hal ini tidak akan pernah merubah siklus yang ada tanpa dilakukan beberapa sentuhan di dalamnya.
            Berawal dari inflasi yang tinggi suatu perekonomian akan mengalami gejolak yang cukup mempengaruhi kesetabilan kegiatan ekonomi. Laju perekonomian yang seharusnya normal kembali menuai batu ganjalan bila arus perputaran uang yang terjadi mengalami hambatan. Inflasi sendiri dapat ditinjau dari masuknya barang dari luar daerah dan beberapa akan stok komoditas yang tersedia dalam daerah tersebut. Pasalnya dalam kondisi tersebut akan berhubungan dengan produksi dan tak terlepas dengan pergerakan pengangguran yang semakin meningkat. Dalam kondisi seperti ini harus di pangkas dengan peningkatan suatu pendapatan sehingga daya beli masyarakat meningkat. Namun dalam rangka peninggkatan pendapatan sendiri sering kali terganjal dengan masalah permodalan dan kreativitas sumberdaya manusia sendiri.
Dalam meningkatkan perekonomian perlu suatu dorongan akan daya dukung lingkungan seperti lingkungan yang produktiv dengan digambarkan dengan arus investasi produktive dalam perekonomian. Kondisi tersebut akan diikuti dengan peningkatan penyerapan tenaga kerja dan dapat meningkatkan pendapatan akan masyarakat daerah tersebut. Dengan ini suatu perekonomian akan kembali stabil bila kenaikan akan suatu barang dapat diikuti dengan pertumbuhan ekonomi yang di tandai dengan pertambahan pendapatan atau daya beli masyarakat. Kekuatan suatu perekonoman seperti yang di gambarkan oleh masyarakat di atas merupakan sebuah keseimbangan antara daya tawar dan daya permintaan masyarakat itu sendiri.
            Industri produktif dinilai dapat mengangkat perekonomian tidak hanya dengan penyerapan tenaga kerja, namun unit komoditas atau output yang di hasilkan juga dapat menambah penawaran akan barang dalam pasar. Dengan ini maka akan menekan inflasi dalam perekonomian yang sedang berjalan. Jenis produk yang di produksi yang bersifat homogen juga akan menekan harga yang sudah ada dengan jumlah barang yang lebih banyak maka terjadi persaingan antar produk sehingga menekan harga dalam pasaran. Ini juga dapat menjadi kunci untuk mengembalikan suatu perekonomian yang tidak stabil.
Dari sini dapat di tarik garis yang menyebabkan pengangguran. Pengangguran disini disebabkan dengan penawaran tenaga kerja yang berlimpah tanpa di ikuti dengan kondisi iklim lapangan pekerjaan yang tersedia. Tidak habis sampai disini, perekonomian yang di terbentuk merupakan perekonomian yang rendah akan penyerapan tenaga kerja seperti dalam sektor industri, perdagangan, perhotelan dan retail. Sektor tersebut dinilai mulai bergeser dari padat karya menjadi padat modal terkait dengan perkembangan teknologi zaman. Penawaran tenaga kerja yang terjadi hanya menjadi sebuah ornamen yang tidak pernah terurai jika tidak muncul sebuah industri produktif.
Penganguran yang terbentuk disini tidak hanya di pengaruhi oleh inflasi yang ada dan runtutan perekonomian yang menyebabkan penambahan pengangguran di dalamnya. Penawaran akan tenaga kerja sendiri di rasa tidak dapat memberikan apa yang tengah di harapkan oleh permintaan pasar yang sedang berjalan saat ini. Tingkat kualitas yang rendah menjadi salah satu penyebab yang tidak menemukan akan pasar tenaga kerja dengan permintaan akan tenaga kerja. Tuntutan zaman yang tinggi mengharuskan perekrutan tenaga kerja harus di imbangi dengan kualitas atau skill tenaga tersebut. Efisiensi dan efektivitas menjadi tuntutan demi mendapat keuntungan perusahaan yang maksimal bahkan optimal.
Kondisi ekonomi penawaran tenaga kerja dengan kualitas yang rendah digambarkan dengan tingkat pendidikan yang telah di tempuh oleh para tenaga kerja yang sudah bekerja disana. Sperti yang telah dinyatakan oleh syech suhaimi bahwa penyerapan tenaga kerja masih di dominasi oleh pekerja dengan tingka pendidikan yang rendah dengan lulusan sekolah dasar sebesar 38%, sekolah menegah atas 18% dan yang berpendidikan tinggi sebesar sisanya dengan diploma yang hanya 3 % dari total tenaga kerja yang ada di banten. Dengan kondisi seperti ini dapat disimpulkan bahwa kondisi pendidikan disini masih dalam taraf yang rendah seperti yang tergambarkan di atas.
 Dalam konsep tenaga kerja bahwa suatu pendidikan merupakan suatu investasi jangka panjang dimana dengan tingkat pendidikan yang tinggi maka seseorang akan mendapatkan pendapatan yang tinggi. Pendapatan yang tinggi ini didasarkan pada tingkat pemikiran dan kreativitas serta temuannya yang dinilai dapat mengantarkan suatu perekonomian terus berkembang dan akan memacu investasi dalam suatu perekonomian. Perekonomian yang bak tentunya tidak berhenti pada kondisi yang tengah dicapai, penggunaan faktor produksi dengan maksimal menjadi tujuan utama yang menjadikan suatu kondisi selalu di evaluasi dan dikembangkan.
            Namun kendala yang besar juga di sebabkan oleh sektor perusahaan sendiri yang melakukan pemutusan hubungan karena terjadi penekan arus ekonomi global. Arus ekonomi global mulai merangsak memengaruhi perekonomian dalam negri sehingga terdapat pengurangan akan tenaga kerja dalam produksinya sebagai akibat input produksi lainnya yang semakin melonjak. Kondisi industri yang sering bergantung pada impor menjadi salah satu penyebab pemutusan hubungan kerja oleh perusahan. Hal ini di akibatkan dengan nilai tukar rupiah yang semakin melemah terhadap mata uang dolar amerika.
            Dari kondisi seperti ini dapat disimpulkan dalam suatu perekonomian bahwa suatu pengangguran, inflasi, nilai tukar rupiah dan tingkat pendidikan memiliki tingkat keterkaitan di dalamnya. Hal ini ditandakan dengan inflasi yang secara signifikan mempengaruhi pengangguran dengan harga input yang lebih tinggi dapat melakukan pengurangan tenaga kerja yang digunakan demi keberlangsungan usaha. Pengangguran juga di akibatkan tingkat pendidikan yang rendah sehingga tidak mempertemukan lowongan tenaga kerja dengan penawaran tenaga kerja. Dari pengangguran ini menyebabkan turunnya pendapatan masyarakat, Penurunan barang dan lemahnya daya beli masyarakat menurun sehingga menyebabkan terjadinya inflasi di dalamnya.
            Solusi dalam masalah ini adalah dengan penguatan dalam sektor pendidikan untuk meningkatkan kualitas akan tenaga kerja dan investasi yang di harapkan dapat menciptakan lapangan kerja baru guna meningkatkan pendapatan dan di ikuti dengan daya beli masyarakat. Dalam mempertemukan antara permintaaan dan penawaran tenaga kerja dapat dilakukan job fair agar memberikan ruang yang cukup untuk para pencari kerja. Tidak hnaya sampai disiitu pelatihan akan kewirausahaan muda dan suntingan alokasi modal yang kuat seperti program KUR dan sejenisnya akan semakin mendorong terciptanya perekonomian yang stabil dan penyerapan pengagguran didalamnya.

0 komentar:

Posting Komentar