Kebijakan dan Kondisi pasar yang
bersahabat
Oleh M Rizqi Iskhaqi,Ilmu Ekonomi
dan Studi Pembangunan
UniversitasJember
Seperti yang telah kita ketahui bahwa sebuah
perekonomian akan mengalami sebuah perubahan di dalamnya jika mendapat sentuhan
dalam suatu kebijakan yang di jalankan, maka akan mengalami perubahan pula dalam berbagai sikap doleh pelaku
ekonomi. Seperti yang sudah di kabarkan diatas bahwa terjadi sentimen pasar
ketika indonesia melalui bank indonesia melakukan pelonggaran disisi moneter dengan
menurunkan suku bungan acuan dan memangkas giro wajib minimum atau yang sering
di sebut GWM. Seiring dengan berlanjutnya perekonomian akan terjadi gejolak
atau perubahan yang sudah dilakukan oleh para pelaku ekonomi lainnya atau
sering disebut dengan sentimen pasar akibat persaingan yang terjadi.
Banyak bidang yang
mengalami perubahan perilaku yang awalnya pro dengan menanamkan sahamnya di indonesia
namun dengan adanya kebijakan tersebut beralih pada sektor yang dinilai lebih
menguntung dengan tingkat perputran percepatan uang yang lebih besar dari pada
lembaga perbankan yang mematok bungan denga acuan yang telah di turunkan
tersebut. Sentimen 19 pasar bukannya tidak berdasar, mereka yang bergerak atau
mengalami perubahan paska kebijakan tersebut merupakan seperti lembaga atau
badan yang berperan dalam sektor pokok atau sentral yang harusnya menjadi penggerak sebuah perekonomian.
Berbeda kasus dalam
hal ini, kebijakan bank indonesia dalam menurunkan suku bunga acuan seperti
mengalami dukungan tak terduga oleh pasar yang terjadi di berbagai lembaga dan
perekonomian di luar negri. Ketakutan sejenak tertahan dengan sentimen pasar
yang seakan berpihak terhadap apa yang dijalan oleh bank indonesia. Hal ini
membuat bank indonesia dengan bersantai dengan menambah atau meneruskan
pelonggaran ekonomi disektor moneter. Perekonomian ini dengan sendirinya
mendorong bahwa pelonggaran yang dimaksudkan tidak menjadi sebuah kendala
terhadap sektor produksi meski tidak
demikian pada mestinya.
Dalam hal ini tidak
luput dari penurun haraga minyak yang baru- baru ini mengalami kenaikan yang
cukup tajam. Produksi minyak yang sangat besar di amerika serikat mebuat harga
minyak terkoreksi dengan jumlah minyak yang di produksi oleh amerika yang menjadi
salah stu negara eksportir minyak. Namun dalam hal ini kita dapat bersantai
dengan kondisi yang saat ini terjadi karena ada kemugkinan bahwa peningkatan
produksi minyak dikarenakan tersentralnya sumber modal yang beredar di
indonesia yang kemudian beralih pada
investasi produksi minyak dunia.
Harga minyak
terkoreksi setelah kemarin mengalami kenaikan yang cukup mengagetkan yang
dimana awalnya dalam posisi harga dibawah 30, sekianUS$ per barel sempat
berubah sampai melewati 35 lebih dolar amerika perbarel. Namun dengan adanya
produksi yang besar-besaran oleh amerika sedikit dalam menurunkan atau menjawab
bahwa setor minyak dunia yang menjadi salah satu penggerak roda perekonomian
dapat terkoreksi. Penurunan ini cukup baik karen hampir menurunkan kembali
dalam posisi semula dimana telah disampaikan diatas bahwa “ WTI diperdagangkan
melemah 0,82% ke US$30,41 per barel sedangkan Brent turun 1,68% ke US$33,92 per
barel”.
Penurunan ini memang
tidak lepas dari bagaimana produksi besar besaran yang dilakukan oleh negara
paman sam. Stok minyak yang snagat melimpah dengan sendirinya menurunkan harga
minyak dunia yang saat ini kita kethui sebgai penggerak roda perekonomian dari
sektor produksi, distribusi, dan pemasara barang dalam suatu perkonomian dalam
kondisi dewasa ini. Berdasrakan data yang di peroleh haraga minyak dengan
seketika turun dengan hal ini bukan hanya karena sementara saja namun dapat di
pastikaan dapat menjadi lumbung atau stok cadanagan minyak yang di
perdagangkan.
Berdasarkan data yang disampaikan di atas Badan
Informasi Energi AS menginformasikan cadangan minyak mentah amerika tersebut
dari 2,15 juta barel menjadi 504,1 juta barel per pekan. Ini harus dapat dibaca
dengan jelas atau di cermati kemungkinan apa yang akan dilakukan apabila amerika
dapat melakukan intervensi dalam mengatur alokasi minyak dalam dunia dan
didukung dengan teknologi panel sel surya yang sudah mulai di kembangkan dalam
perekonomian di amerika. Pasalnya peningkatan tersebut merupakan produksi yang
sampai dapat menghasilkan atau stok terbanyak dalam 86 tahun terakhir.
Namun anehnya adalah Impor minyak negri paman
sam tersebut malah mengalami kenaikan menjadi 11%, sedangkan stok di pusat
distribusi WTI di Cushing naik menjadi 64,7 juta barel dari kapasitas optimal
sebesar 73 juta barel. Dalam hal ini dapat digambarkan bahwa negara amerika
merupakan konsumen yang tinggi akan minyak dunia. Pergerakan impor minyak dapat
mengidikasikan bahwa suatu negara hendak melakukan penguatan dalam negri dengan
meningkatkan sektor produksi. Dalam artian banyak negara ketika terjadi
kenaikan minyak dunia mereka meningkatkan perekonomian dalam negaranya seperti
yang di contohkan oleh negri paman sam tersebut.
The fed perbankan yang ada di amerika
meyebutkan bahwa dampak inflasi yang di sebabkan oleh investor dapat
menciptakan ruang untuk pemangku kebijakan untuk menahan tingkat suku bunga
karen inflasi karena investor ini dinilai berifat sementara seiring dengan
perubahan perekonomian yang belum stabil. Kondisi menahan tingkat suku bunga harus
diikuti dengan dasar yang kuat dalam
negara seperti devisa negara dan kemampuan perekonomian dalam menyesuaikan
menuju market equilibrium. Apabila hal ini dapat dilakukan maka pemangku
kebijakan dapat menempatkan diri dalam program menjaga kesetabilan moneter
saja. Sesuai apa yang di lakukan oleh john williams salah satu pengmabil
kebijakan di the fed.
Kembali dalam indonesia sendiri disini
kebijakan dalam menurunkan suku bungan acuan dan giro wajib minimum di harapkan
dan dalam perbankan dapat terserap dalam masyarakat. Salah satu upaya yang
harus dilakukan adalah menekan suku bungan kredit yang harus di tekan dalam
pemberian kredit terhdap nasabah. Ini natinya di harapkan menambah greget para
nasabah untuk mengambil pinjaman untuk nantinya dapat di alokasikan dalam
menggerakkan sektor riil seperti yang mungkin di harapkan oleh darmin nasution
di atas. Seharusnya tidak hanya samapai disitu saja, apabila memang diharapkan
ada pertumbuhan ekonomi di sektor riil maka harus ada difersivikasi produk
dalam lembaga keuangan itu sendiri. Misalnya pemberlakukan bunga rendah untuk
dana yang berjalan untuk membuka suatu usaha atu memperbesar suatu usaha.
Pertumbuhan ekonomi yang di harapkan nantinya
mampu menekan inflasi sampai 0.15% dalam bulan februari kemaren. Deflasi ini di
bentuk oleh sektor yang dinilai menjadi pilihan orang dewasa ini berbicara
dengan efisiensi waktu dan ramah lingkungan. Dalam hal kehidupan seperti
penurunan harga BBM yang memang menjadi tolak punggung perekonomian dan jasa
angkutan udara yang dinilai mempunyai effisiensi dan dampak yang besar sehingga
masyarakat dapat mengalokasikan uangnya pada sektor lainnya. Contoh saja di
sektor lain seperi jasa infrastruktur to yang mulai mencabut subsidi 50%nya,
pemberian diskon untuk pajak bumi dan bangunan dan beberapa perusahaan lainnya
yang semakin meningkatkan produktivitas dengan berbagai target, perbankan yang
mulai meningkatkan modal pribadinya dalam pemberian kredit karena dinilai akan
meningkatkan permintaan kredit jika terjadi penurunan suku bunga baik acuan
maupupun suku bunga kredit.
Hal
Cerminan ini dapat di harapkan menjadi awal mula berjalannya perekonomian yang
produktif namun dapat disimpulkan dari berbagai respon pasar saat ini bahwa
sektor permodalan mengalami kekurangan yang nantinya dapat di isi oleh
masyarakat lokal indonesia atau di sumbangkan oleh keuangan masyarakat lokal
saja. Karena dengan suku bunga rendah dapat menurunkan tingkat partisipasi
penanaman modal asing di indonesia.






0 komentar:
Posting Komentar