Blogroll

Jumat, 10 Juni 2016

Konsekuensi Gejolak ekonomi Kebijakan Moneter

Konsekuensi Gejolak ekonomi Kebijakan Moneter
Oleh
Moch Fitroh Kardiansyah
Univ Jember

Ketergantungan akan suatu barang merupakan ciri khas karakter orang indonesia. Tak bisa dipungkiri jumlah penduduk yang besar akan menjadi sebuah peluang yang besar bagi pangsa pasar baik asing maupun domestik untuk mengembangkan sayap-sayap usahanya. Kebiasaan mengkonsumsi barang menjadi satu kesatuan yang tak terpisahkan bagi masyarakat kita. Anehnya keingingan konsumsi suatu barang sulit sekali mengalami perubahan atau konsumsi masyarakat cendrung sama dan sulit menerima barang deveratif lainnya. Hal ini akan sangat menyulitkan bagi masyarakat nantinya apabila permintaan yang tinggi tidak disertai dengan kemampuan produksi yang tinggi pula sehingga pemenuhan permintaan akan sebuah barang akan mengalami kesulitan.
 Perayaan hari besar seperti halnya hari raya merupakan rutinitas wajib yang harus dilaksanakan. Meskipun tidak dipungkiri indonesia bukanlah negara muslim seutuhnya namun mayoritas rakyatnya penganut agama islam. Dalam perayaan hari raya tentu terdapat sebuah aktifitas yang membudaya dimana menjelang hari raya masyarakat berbondong-bondong membelanjakan pendapatannya untuk membeli kebutuhan pada hari raya tersebut. Budaya memperlakukan tamu dengan baik menjadi sebuah kebiasaan yang tak terlepaskan dalam kehidupan masyarakat. Oleh karenaya, memberikan makan menjadi menu wajib yang tidak boleh dilewatkan.
Menginjak ke permasalahan yang terjadi adanya budaya tersebut akan berdampak pada permintaan akan kebutuhan barang pokok akan mengalami peningkatan yang cukup pesat. Utamanya daging sapi yang menjadi barang wajid yang harus dihidangkan dalam perayaan hari besar tersebut. Namun yang menjadi kendala saat ini stok sapi dalam negeri masih jauh dari sempurna untuk mengantisipasi permintaan yang ada. Kekurangan ini akan berdampak pada gejolak ekonomi yang terjadi dimana permintaan terus mengalami peningkatan sedangkan pemenuhannya masih kurang.
Akibatnya tentu akan berdampak pada gejolak ekonomi yang terjadi. Harga pasar tidak akan terkendali mengingat barang yang diminta menjadi langkah dan para pelaku pasar membuat kebijakan sendiri untuk menaikkan harga dengan ekspektasi keuntungan mereka akan berlipat ganda apabila menaikkan harga pasar. Pelaku pasar akan berfikir resiko kerugian yang akan diperoleh kecil sekali mengingat permintaan pasar terus mengalami peningkatan akibat masyarakat pada umumnya tidak mau apabila permintaan akan daging sapi diganti dengan produk lainnya. Budaya ini akan memunculkan masalah baru dalam perekonomian dalam negeri apabila tidak segara diatasi dan menemukan alternatif pemecahannya.
Gejolak ekonomi yang terjadi pada pasar barang akan berakibat pada inflasi yang tinggi. Hal ini akan direspon oleh pemerintah dan Bank sentral untuk melakukan kebijakan ekspansi agar masalah yang terjadi tidak merambat secara meluas dan segera teratasi. Instrumen yang diperlukan oleh pemerintah sendiri adalah dengan melakukan kebijakan pasar terbuka. Pemerintah akan meninjau langsung harga pasar dan menindak lanjuti apabila terdapat kecurangan dari pedagang yang seenaknya memperlakukan harga sehingga harga dapat stabil. Namun itu bukanlah hanyalah pemecahan masalah dalam jangka pendek, lantas bagaimana dengan jangka panjang.
Pemerintah sebagai pemangku kebijakan mempunyai hak dalam menentukan jalannya perekonomian. Oleh karenanya, Kebijakan yang dilakukan adalah dengan impor sapi tetapi bukanlah sapi yang siap untuk dikonsumsi melainkan sapi yang masih mengalami proses pembesaran sehingga sapi-sapi yang diimpor akan diternakkan di dalam negeri dan mengalami proses pembesaran. hal ini tentu positif mengingat permintaan yang melonjak akan menyulitkan bagi pemerintah sendiri untuk menyediakan kebutuhan daging sapi dalam negeri.
Tidak hanya itu gejolak ekonomi yang terjadi juga merupakan tugas Bank Sentral sendiri untuk melakukan kebijakan ekspansi. Adanya gejolak ekonomi akan berdampak pada inflasi yang tinggi pula. Ketidakstabilan harga pasar dengan permintaan yang tetap akan mempengaruhi kemampuan akan daya beli masyarakat lemah. Tentu hal ini berbahaya jika tidak ditangani secara serius. Inflasi yang tinggi akan berakibat pada krisis ekonomi sehingga mamaksa bank sentral untuk mempengaruhi tingkat suku bunga. Penetapan tinkat suku bunga tetap akan menstabilkan harga pasar. Fluktuasi ekonomi yang terjadi mungkin tidaklah mudah untuk ditundukkan oleh karenya dengan penetapan suku bunga tetap akan berdampak pada kestabilan harga pasar

Dalam hal ini pemerintah maupun bank sentral harusnya selaras dalam menentukan masing-masing kebijakannya. Sebuah bangsa akan berhasil apabila kebijakan moneter dan fiskal saling mendukung satu sama lain sehingga dalam membentuk kebijakan ekonomi tujuan yang akan dicapai dapat terealisasi dengan baik. Koordinasi yang baik antara pemerintah selaku penentu kebijakan fiskal dan Bank sentral selaku penentu kebijakan moneter haruslah berjalan harmonis sehingga target kebijakan ekonomi dapat mencapai tigkat pertumbuhan ekonomi yang diharapkan. 

0 komentar:

Posting Komentar