Blogroll

Jumat, 10 Juni 2016

KORUPSI DAN PEREKONOMIAN INDONESIA

KORUPSI DAN PEREKONOMIAN INDONESIA
            Korupsi mungkin adalah sesuatu yang tidak asing lagi bagi masyarakat Indonesia karena sering sekali berita tentang kasus korupsi ini  muncul, baik dari media cetak maupun elektronik. Indonesia masih berpredikat sebagai negara terkorup di dunia walaupun peringkatnya semakin menurun. Kerugian negara sangat besar bahkan selama 2015 mencapai 3107 triliun rupiah. Sebuah angka yang sangat besar dan mungkin jika jumlah uang hasil korupsi tersebut jika disalurkan kepada masyarakat miskin, kemiskinan Indonesia akan menurun drastis. Korupsi bukan hanya terjadi pada pejabat pemerintahan elit saja namun sampai merembet pada pemerintah daerah sampai ke pejabat pedesaan.
            Praktik korupsi ini merupakan sebuah penyelewengan dari salah satu fungsi uang yaitu sebagai alat penyimpan nilai. Fungsi uang sebagai alat penyimpan nilai berarti bahwa uang dapat disimpan dalam berbagai bentuk kekayaan. Para koruptor mengimplementasikan fungsi ini melalui pencucian uang (money loundry). Banyak para pelaku korupsi yang menyimpan uang hasil korupsinya dalam bentuk mobil mewah, rumah mewah, tanah dan juga dibagi-bagikan kepada wanita-wanita lain selain istrinya. Hal ini dilakukan agar kekayaan yang dimilikinya tidak dapat diketahui oleh pihak-pihak yang berwenang. Memang hal ini bukan merupakan penyelewengan fungsi uang sebagai alat penyimpan nilai, namun penyelewengannya terdapat pada sumber uang tersebut.
            Praktik korupsi tentu memiliki dampak yang besar bagi perekonomian. Para koruptor yang “memakan” uang rakyat akan semakin memperlambat pembangunan ekonomi karena dana yang akan dialokasikan untuk pembangunan berkurang. Praktik korupsi juga akan membuat pengeluaran negara membengkak karena kerugian-kerugian yang terjadi. Hal ini akan menjadikan APBN Indonesia akan terkuras habis dan berdampak pada hutang Indonesia yang semakin membengkak. Sistem birokrasi yang terdapat praktik korupsi di dalamnya juga membuat sistem birokrasi semakin tidak efisien dan mahal. Misalkan, adanya mark-up biaya administrasi menjadikan izin usaha semakin mahal dan apabila tidak membayar biaya tersebut pasti izin akan dipersulit. Ini menyebabkan para pelaku usaha akan berkurang karena membuka usaha akan terasa sulit. Berkurangnya pelaku usaha ini mengurangi kesempatan untuk membangun perekonomian kepada kondisi yang lebih baik karena berdirinya usaha baru akan memiliki multiplier effect yang besar bagi perekonomian diantaranya berkurangnya pengangguran dan bertambahnya pendapatan nasional.
            Dari sisi moneter, tindakan korupsi juga memiliki dampak negatif. APBN yang defisitnya semakin membengkak menuntut Indonesia mencari pinjaman dana asing untuk pembangunan. Banyaknya korupsi pada berbagai proyek juga menghilangkan kepercayaan investor yang menyebabkan investasi menurun. Jika investasi menurun maka dapat dipastikan  perekonomian nasional akan lesu. Jika perekonomian nasional lesu para pemilik modal asing juga akan menarik modalnya untuk diinvestasikan di negara lain sehingga terjadi capital outflow yang mengakibatkan anjloknya nilai tukar rupiah. Anjloknya nilai tukar ini akan diikuti dengan semakin mahalnya biaya produksi karena sebagian besar bahan baku adalah hasil impor. Biaya produksi yang meningkat akan mengakibatkan inflasi meningkat.

Dampak korupsi bagi perekonomian sebenarnya sudah disampaikan pada saat seleksi calon pimpinan KPK. Ketua panitia seleksi calon pimpinan KPK, Destry Damayanti menguraikan data korupsi dari tahun 2005 sampai 2014. Dia menyatakan bahwa memang peringkat Indonesia semakin menurun. Indonesia pada tahun 2005 berada di posisi 137 dan menjadi 107 di tahun 2014. Tapi dibanding Filipina dan India, mereka bisa di peringkat 85 di tahun 2014. Apalagi dibanding Singapura yang pernah peringkat 1, lalu sekarang berada di peringkat 7. Kemudian dari data lain dinyatakan bahwa setiap peningkatan 1 peringkat di indeks persepsi korupsi, pertumbuhan ekonomi Indonesia bisa turun sampai 0,9 persen. 

0 komentar:

Posting Komentar