Blogroll

Kamis, 09 Juni 2016

Laju Inflasi



Laju Inflasi
 Oleh: Devi Sylvia Herman
Inflasi adalah tolak ukur gejolak pada harga – harga barang secara umum. Jika kita ingin melihat gejolak harga pada suatu periode kita dapat melihat inflasi yang terjadi pada periode tersebut, karena pengertian inflasi adalah naiknya harga barang – barang umum secara keseluruhan dan dengan terus - menerus dalam suatu periode. Jadi apabila terjadi inflasi yang tinggi dalam suatu periode berarti harga barang – barang secara umum meningkat. Begitu pula sebaliknya . faktor – faktor penyebab inflasi terdapat tiga yaitu faktor permintaan, jadi apabila permintaan akan barang itu meningkat tanpa pertambahan penawaran maka yang terjadi harga – haraga akan naik maka terjadinya inflasi. Faktor kedua penyebab inflasi adalah inflasi dorongan biaya, jadi biata produksi suatu barang meningkat akbat input yang digunakan untuk berproduksi meningakt maka akbitanya harga – harga penjulan ikut meningkat guna menutupi ongkos produksi yang meningkat. Akibatnya penawaran akan dikurangi. Dan yang terakhir adanya stagflasi yaitu kombinsi antara inflasi dan stagnasi pada perekonomian diman gterjadi saat permintaan melambung dan tidak diikuti ileg penwaran agregat yang menurun. Hal terjadi saat pertumbuhan ekonomi mengalami keterpurukan, output yang dihasilkan tetap sama bahkan berkurang, serta diperparah dengan terjadinya inflasi dalam perekeonomia. Dapat dikatakan inflasi adalah musuh besar oleh semua negara yang ada di dunia ini.
Banyak kombinasi - kombinasi kebijakan yang digunakan oleh pemerintah guna mengatasi masalah ekonomi tersebut mulai dari melalui kebijakan fiskal dengan menggunakan sistem defisit pengeluaran yaitu pemerintah menggelontorkan sewjumlah pengeluaran guan membuat sektor riil kembali bergerak dan menghasilkan oroduksi yang lebih banyak lagi dan tentunya dengan melakukan pengeluaran, daya beli masyarakat meningkat. Selain kebijakan fiskal pemerintah selaku otoritas moneter bersama bank sentral yaitu Bank Indonesia  dapat melakukan kebijakan moneter guna mendorong daya beli dan meningkatkan produksi, dengan melalui kelima instrumen moneter. 
Namun tidak selamanya inflasi ditakuti dan menjadi momok oleh semua negara seperti yang terjadi pada tahun 2015 dimana terjadi gejolak dalam perekonomain. Inflasi justru diharapakan ditengah terjadinya perlambatan ekonomi global bank dunia menyebutkan pertumbuhan ekonomi global tahun 2015 hanya 2.4 persen  dimana terjadi perlambatan ekonomi di Eropa berupa stagnasi dalam perekonomian  terjadinya deflasi  di jepang, perlambatan ekonomi  yang melambat dialami negara berkembang, kebijakn mormalisasi suku bunga The Fed yang membuat ketidakpastian perekonomian dan gejolak pasar uang. Salah satu cara yang dilakukan negara – negra Eropa dan diikuti oleh jepang  menghadapi stagnasi perekonomian  menerapkan suku  bunga negatif jadi dengan kebijkan tersebut diharapkan dapat mendorong  daya beli masyarakat dan masyarakat menjadi enggan menabungkan uangnya di bank karena apabila mereka menabung mereka harus membayar sejumlah uang kepada bank akibat kebijakan suku bunga negatif itu tadi. Namun pasti ada dampaknya yaitu dengan menerapkan kebijakn tersebut makn dampak pada produk – produk sektor keuangan yaitu larinya modal –modal asing ke luar negeri. Jadi bisa disimpulkan dari kebijkan suku bunga rendah tersebut ditujukan utnuk menggenjot konsumsi masyarakat agar perekonomian kembali berjalan.
Di Indonesia pun mangalami kondisi yang sama. Daya beli masyarakat yang rendah. inflasi yang lebih kecil dari pada proyeksi APBN – P 2015 sebesar  5.0 persen namun inflasi pada 2015 3.35 persen. Dan konsumsi rumah tangga yang tidak dapat ditumbuh sebsar 5 persen dan dampaknya terasa pada pertumbuhan ekonomi yang menurun menjadi 4.7 persen . artinya bahwa inflasi yang rendah tidak dapat mendorong daya beli masyarakat dan tentunya pertumbuhan ekonomi pun tidak tumbuh.
 Laalu apa yang menyebabkan hal ini terjadi. Jawabnnya karena kenaikan harga bahan pangan dan pangan. Terlihat terjadi inflasi harga pangan sebesar 6,42 dan inflasi bahan pangan 4.93 persen. Harga pangan khususnya pada beras naik pada bulan november 2015 sebesar 0,68% dibandingkan Oktober 2015 dan naik 13,5% dibandingkan November 2014, harga cabe naik pada bulan november mengalami peningkatan cukup tinggi sebesar ,98 % dibandingkan dengan bulan Oktober 2015. Jika dibandingkan dengan November 2014, harga cabe merah mengalami penurunan sebesar 62,38 %. Kenaikan harga pada bulan november ini pula diikuti oleh semua komditas pangan seperti daging ayam, daging sapi. Pemantauan yang dilakukan di pasar induk Kramat Jati Jakarta, pada awal tahun 2015 harga cabaimerah masih tinggi dan jatuh sebesar 13.000 ribu rupiah pada bulan maret 2015. Dan pada bulan juli cabai merah mengalami kenaikan lagi sebesar 40.000 ribu rupiah dan 32000 pada akhir tahun 2015. Sedangkan harga bawang merah yang pada awal januari 2015 berada pada kisaran 13000/ kg naik pada bulan maret 2015 pada kisaran 30.000/kg pada akhir tahun harga bawang merah naik 32.000/kg.
Penyebabnya adalah periode panen yang kacau dan fenomena el nino yang menyebabkan harga besar naik . sementara pada kenaikan harga ayam akibat pengurangn DOCnya karena mereka menyesuaikan harga yang turun pada bulan – bulan sebelumnnya selain itu larangan mengimpor jagung juga menjadi penyebab harga ternak menjadi naik. Kenaikan harga ini tidak dapat dirasakan oleh para petani penjualan gabah kering pada tingkat petani cenderung konstan walupun pemerintah sudah menaiikan harga pokok pembelian setiap tahunnhya. Keenganan pemerintah untuk mengimpor komoditas pertania juga menajadi faktor naiknya harga – harga komoditas pangan.
 Sekitar 70 persen masyarakat indonesia memiliki pekerjaan diluar bidang pertanian akan juga merasakan dampak dari inflasi pangan ini dapat dipastkan mereka akan meminta kenaikan pendapatan guna membeli kebutuhannya, kenaikan upah yang tidak diimbangi dengan pasokan komditas yang cukup hanya akan menyebabkan bertambahnya inflasi. Jadi akan terjadi stagflasi diman permintaan bertambah tanpa diimbangin dengan penawaran yang bertambah akibatnya, pertumbuhan ekonomi staganan bahkan menurun, inflasi pun bertambah.
Dapat dipastikan pemerintah akan mengeluarkan berbagai kebijakan guna menanggulangi inflasi pada harga pangan dengan menambah permintaan namun, tanpa diimbangi tambahan pasokan akan menyebabkan imflasi yang makin parah jadi diperlukan langkah – langkah yang lebih meningkatkan pasokan dan menstabilkan harga – harga pangan.  
Tahun 2016
Inflasi Januari 2016 melambat mendukung perkiraan sasaran inflasi yaitu kurang dari 4 persen. inflasi pada bulan Januari tahun 2016 sebesar   Inflasi IHK tercatat sebesar 0,51% (mtm), melambat dari bulan lalu 0,96 (mtm). Hal ini di sebabkan oleh deflasi pada harga- harga barang yang diatur oleh pemerintah dan relatyif rendahnya inflasi inti. Kelompok harga barang yang diatur pemerintah mengalami deflasi karena penurunan harga bbm dan tarif angkutan udara yang menuru dan penurunan harga LPG 12 kg. Semestara inflasi inti tergolong rendah yaitu sebesar 0.29 persen (mtm) ditompang dengan stabilinya ekspektasi indlasi dan rendahnya tekanan permintaan. Disilain gelojak harga pangan masih relatif terkendali ditengah terjadinya El Nino.
Inflasi pada februari 2016 sebesar . menurut IHK mencatat deflasi sebesar 0.09 persen (mtm) ditompang oleh deflasi pada komponen barang yang diatur oleh pemerintah terutama disumbang oleh penurunan harga bahan bakar rumah tangga penurunan listrik setra penuruanan tarrif angkutan uadara. Sedangkan deflasi kelompok bahan pangan bersumber dari penurunan harga komoditas harga pangan, sedangkan harga besar meningkat disebabkan dari Elnino.
Inflasi pada bulan Maret tercatat rendah dan mendukung propek inflasi pada tahun 2016. Indeks Harga Konsumen (IHK) mencatat inflasi sebesar 0,19% (mtm) atau 4,45% (yoy), terutama disumbang oleh inflasi komponen bahan makanan bergejolak (volatile foods). Tekanan inflasi volatile foods bersumber dari kenaikan harga beberapa komoditas pangan akibat gangguan pasokan. Di sisi lain, kelompok harga yang diatur pemerintah (administered prices) mengalami deflasi terutama bersumber dari penurunan tarif listrik, tarif angkutan udara dan bensin nonsubsidi.
Indeks Harga Konsumen (IHK) pada April 2016 mencatat deflasi sebesar 0,45% (mtm) atau secara tahunan inflasi sebesar 3,60% (yoy). Deflasi IHK terutama disumbang oleh deflasi komponen barang yang diatur Pemerintah (administered prices) dan komponen bahan makanan bergejolak (volatile foods). Deflasi kelompok administered prices terutama didorong oleh penurunan harga BBM, tarif angkutan umum, dan tarif tenaga listrik (TTL). Kelompok volatile foods (VF) mencatat deflasi sebesar 1,04% (mtm), atau secara tahunan mengalami inflasi sebesar 9,44% (yoy). Deflasi kelompok VF terutama bersumber dari penurunan harga komoditas bahan pangan, seiring dengan berlangsungnya panen raya.
Namun yang kita ketahui pada bulan Juni harga – harga komoditas pangan mengalami kenaikan menjelang masuknya bulan Ramadhan, salah satu aalsannya karena berkurangnya pasokan. Pemerintah terus melakukan operasi pasar berharap harga – harga komoditas pangan dapat turun namun gal ini dirasa sangat sulit karena makin memasuki bulan puasa harga – harga makin meroket. Diharapkan uasa pemerintah dalam menurunkan harga dapat terealisasi dengan cepat.



0 komentar:

Posting Komentar