Laju
Inflasi
Oleh: Devi Sylvia Herman
Inflasi
adalah tolak ukur gejolak pada harga – harga barang secara umum. Jika kita
ingin melihat gejolak harga pada suatu periode kita dapat melihat inflasi yang
terjadi pada periode tersebut, karena pengertian inflasi adalah naiknya harga
barang – barang umum secara keseluruhan dan dengan terus - menerus dalam suatu
periode. Jadi apabila terjadi inflasi yang tinggi dalam suatu periode berarti
harga barang – barang secara umum meningkat. Begitu pula sebaliknya . faktor –
faktor penyebab inflasi terdapat tiga yaitu faktor permintaan, jadi apabila
permintaan akan barang itu meningkat tanpa pertambahan penawaran maka yang
terjadi harga – haraga akan naik maka terjadinya inflasi. Faktor kedua penyebab
inflasi adalah inflasi dorongan biaya, jadi biata produksi suatu barang
meningkat akbat input yang digunakan untuk berproduksi meningakt maka akbitanya
harga – harga penjulan ikut meningkat guna menutupi ongkos produksi yang
meningkat. Akibatnya penawaran akan dikurangi. Dan yang terakhir adanya
stagflasi yaitu kombinsi antara inflasi dan stagnasi pada perekonomian diman
gterjadi saat permintaan melambung dan tidak diikuti ileg penwaran agregat yang
menurun. Hal terjadi saat pertumbuhan ekonomi mengalami keterpurukan, output
yang dihasilkan tetap sama bahkan berkurang, serta diperparah dengan terjadinya
inflasi dalam perekeonomia. Dapat dikatakan inflasi adalah musuh besar oleh
semua negara yang ada di dunia ini.
Banyak
kombinasi - kombinasi kebijakan yang digunakan oleh pemerintah guna mengatasi
masalah ekonomi tersebut mulai dari melalui kebijakan fiskal dengan menggunakan
sistem defisit pengeluaran yaitu pemerintah menggelontorkan sewjumlah
pengeluaran guan membuat sektor riil kembali bergerak dan menghasilkan oroduksi
yang lebih banyak lagi dan tentunya dengan melakukan pengeluaran, daya beli
masyarakat meningkat. Selain kebijakan fiskal pemerintah selaku otoritas moneter
bersama bank sentral yaitu Bank Indonesia
dapat melakukan kebijakan moneter guna mendorong daya beli dan
meningkatkan produksi, dengan melalui kelima instrumen moneter.
Namun
tidak selamanya inflasi ditakuti dan menjadi momok oleh semua negara seperti
yang terjadi pada tahun 2015 dimana terjadi gejolak dalam perekonomain. Inflasi
justru diharapakan ditengah terjadinya perlambatan ekonomi global bank dunia
menyebutkan pertumbuhan ekonomi global tahun 2015 hanya 2.4 persen dimana terjadi perlambatan ekonomi di Eropa
berupa stagnasi dalam perekonomian
terjadinya deflasi di jepang,
perlambatan ekonomi yang melambat
dialami negara berkembang, kebijakn mormalisasi suku bunga The Fed yang membuat
ketidakpastian perekonomian dan gejolak pasar uang. Salah satu cara yang
dilakukan negara – negra Eropa dan diikuti oleh jepang menghadapi stagnasi perekonomian menerapkan suku bunga negatif jadi dengan kebijkan tersebut
diharapkan dapat mendorong daya beli
masyarakat dan masyarakat menjadi enggan menabungkan uangnya di bank karena
apabila mereka menabung mereka harus membayar sejumlah uang kepada bank akibat
kebijakan suku bunga negatif itu tadi. Namun pasti ada dampaknya yaitu dengan
menerapkan kebijakn tersebut makn dampak pada produk – produk sektor keuangan
yaitu larinya modal –modal asing ke luar negeri. Jadi bisa disimpulkan dari
kebijkan suku bunga rendah tersebut ditujukan utnuk menggenjot konsumsi
masyarakat agar perekonomian kembali berjalan.
Di
Indonesia pun mangalami kondisi yang sama. Daya beli masyarakat yang rendah.
inflasi yang lebih kecil dari pada proyeksi APBN – P 2015 sebesar 5.0 persen namun inflasi pada 2015 3.35
persen. Dan konsumsi rumah tangga yang tidak dapat ditumbuh sebsar 5 persen dan
dampaknya terasa pada pertumbuhan ekonomi yang menurun menjadi 4.7 persen .
artinya bahwa inflasi yang rendah tidak dapat mendorong daya beli masyarakat
dan tentunya pertumbuhan ekonomi pun tidak tumbuh.
Laalu apa yang menyebabkan hal ini terjadi.
Jawabnnya karena kenaikan harga bahan pangan dan pangan. Terlihat terjadi
inflasi harga pangan sebesar 6,42 dan inflasi bahan pangan 4.93 persen. Harga
pangan khususnya pada beras naik pada bulan november 2015 sebesar 0,68%
dibandingkan Oktober 2015 dan naik 13,5% dibandingkan November 2014, harga cabe
naik pada bulan november mengalami peningkatan cukup tinggi sebesar ,98 %
dibandingkan dengan bulan Oktober 2015. Jika dibandingkan dengan November 2014,
harga cabe merah mengalami penurunan sebesar 62,38 %. Kenaikan harga pada bulan
november ini pula diikuti oleh semua komditas pangan seperti daging ayam,
daging sapi. Pemantauan yang dilakukan di pasar induk Kramat Jati Jakarta, pada
awal tahun 2015 harga cabaimerah masih tinggi dan jatuh sebesar 13.000 ribu
rupiah pada bulan maret 2015. Dan pada bulan juli cabai merah mengalami
kenaikan lagi sebesar 40.000 ribu rupiah dan 32000 pada akhir tahun 2015.
Sedangkan harga bawang merah yang pada awal januari 2015 berada pada kisaran
13000/ kg naik pada bulan maret 2015 pada kisaran 30.000/kg pada akhir tahun
harga bawang merah naik 32.000/kg.
Penyebabnya
adalah periode panen yang kacau dan fenomena el nino yang menyebabkan harga
besar naik . sementara pada kenaikan harga ayam akibat pengurangn DOCnya karena
mereka menyesuaikan harga yang turun pada bulan – bulan sebelumnnya selain itu
larangan mengimpor jagung juga menjadi penyebab harga ternak menjadi naik.
Kenaikan harga ini tidak dapat dirasakan oleh para petani penjualan gabah
kering pada tingkat petani cenderung konstan walupun pemerintah sudah menaiikan
harga pokok pembelian setiap tahunnhya. Keenganan pemerintah untuk mengimpor
komoditas pertania juga menajadi faktor naiknya harga – harga komoditas pangan.
Sekitar 70 persen masyarakat indonesia
memiliki pekerjaan diluar bidang pertanian akan juga merasakan dampak dari
inflasi pangan ini dapat dipastkan mereka akan meminta kenaikan pendapatan guna
membeli kebutuhannya, kenaikan upah yang tidak diimbangi dengan pasokan
komditas yang cukup hanya akan menyebabkan bertambahnya inflasi. Jadi akan
terjadi stagflasi diman permintaan bertambah tanpa diimbangin dengan penawaran
yang bertambah akibatnya, pertumbuhan ekonomi staganan bahkan menurun, inflasi
pun bertambah.
Dapat
dipastikan pemerintah akan mengeluarkan berbagai kebijakan guna menanggulangi
inflasi pada harga pangan dengan menambah permintaan namun, tanpa diimbangi
tambahan pasokan akan menyebabkan imflasi yang makin parah jadi diperlukan
langkah – langkah yang lebih meningkatkan pasokan dan menstabilkan harga –
harga pangan.
Tahun 2016
Inflasi
Januari 2016 melambat mendukung perkiraan sasaran inflasi yaitu kurang dari 4
persen. inflasi pada bulan Januari tahun 2016 sebesar Inflasi IHK tercatat sebesar 0,51%
(mtm), melambat dari bulan lalu 0,96 (mtm). Hal ini di sebabkan oleh
deflasi pada harga- harga barang yang diatur oleh pemerintah dan relatyif
rendahnya inflasi inti. Kelompok harga barang yang diatur pemerintah mengalami
deflasi karena penurunan harga bbm dan tarif angkutan udara yang menuru dan
penurunan harga LPG 12 kg. Semestara inflasi inti tergolong rendah yaitu
sebesar 0.29 persen (mtm) ditompang dengan stabilinya ekspektasi indlasi dan
rendahnya tekanan permintaan. Disilain gelojak harga pangan masih relatif
terkendali ditengah terjadinya El Nino.
Inflasi pada februari
2016 sebesar . menurut IHK mencatat deflasi sebesar 0.09 persen (mtm) ditompang
oleh deflasi pada komponen barang yang diatur oleh pemerintah terutama
disumbang oleh penurunan harga bahan bakar rumah tangga penurunan listrik setra
penuruanan tarrif angkutan uadara. Sedangkan deflasi kelompok bahan pangan
bersumber dari penurunan harga komoditas harga pangan, sedangkan harga besar
meningkat disebabkan dari Elnino.
Inflasi
pada bulan Maret tercatat rendah dan mendukung propek inflasi pada tahun 2016.
Indeks Harga Konsumen (IHK) mencatat inflasi sebesar 0,19% (mtm) atau 4,45%
(yoy), terutama disumbang oleh inflasi komponen bahan makanan bergejolak
(volatile foods). Tekanan inflasi volatile foods bersumber dari kenaikan harga
beberapa komoditas pangan akibat gangguan pasokan. Di sisi lain, kelompok harga
yang diatur pemerintah (administered prices) mengalami deflasi terutama
bersumber dari penurunan tarif listrik, tarif angkutan udara dan bensin
nonsubsidi.
Indeks
Harga Konsumen (IHK) pada April 2016 mencatat deflasi sebesar 0,45% (mtm) atau
secara tahunan inflasi sebesar 3,60% (yoy). Deflasi IHK terutama disumbang oleh
deflasi komponen barang yang diatur Pemerintah (administered prices) dan
komponen bahan makanan bergejolak (volatile foods). Deflasi kelompok
administered prices terutama didorong oleh penurunan harga BBM, tarif angkutan
umum, dan tarif tenaga listrik (TTL). Kelompok volatile foods (VF) mencatat
deflasi sebesar 1,04% (mtm), atau secara tahunan mengalami inflasi sebesar
9,44% (yoy). Deflasi kelompok VF terutama bersumber dari penurunan harga
komoditas bahan pangan, seiring dengan berlangsungnya panen raya.
Namun
yang kita ketahui pada bulan Juni harga – harga komoditas pangan mengalami
kenaikan menjelang masuknya bulan Ramadhan, salah satu aalsannya karena
berkurangnya pasokan. Pemerintah terus melakukan operasi pasar berharap harga –
harga komoditas pangan dapat turun namun gal ini dirasa sangat sulit karena
makin memasuki bulan puasa harga – harga makin meroket. Diharapkan uasa
pemerintah dalam menurunkan harga dapat terealisasi dengan cepat.






0 komentar:
Posting Komentar