Blogroll

Kamis, 09 Juni 2016

Operasi Pengendalian Moneter yang Berbasis Suku Bunga dan Jumlah Uang Beredar


Setiap negara pasti bertujuan untuk meningkatkan pertumbuhan ekonominya. Ketika suatu negara mengalami pertumbahan ekonomi berarti mengindikasikan bahwa perekonomian meningkat, produksi barang dan jasa meningkat, tenaga kerja terserap, dan pemerataan pendapatan. Tetapi pertumbuhan ekonomi yang tinggi tidak selalu mengindikasikan terjadinya pemerataan.
Dalam suatu perekonomian dikatakan mengalami suatu pertumbuhan apabila pertumbuhan ekonomi lebih besar dari tahun sbelumnya atau bisa dikatakan jumlah balas jasa terhadap faktor produksi mengalami peningkatan daripada tahun sebelumnya. Untuk mengukur pertumbuhan ekonomi digunakan beberapa indikator seperti pendapatan nasional riil. Pendapatan nasional riil menunjukkan besarnya keseluruhan output barang dan jasa dalam suatu negara. Kedua pendapatan riil perkapita. Pendapatan perkapita menunjukkan besarnya pendapatan suatu masyarakat. Perekonomian suatu negara bisa dikatakan tumbuh apabila pendapatan masyarakatnya juga mengalami peningkatan dari waktu sebelumnya. Ketiga adalah terjadinya kesejahteraan penduduk. Peningkatan dalam kesejahteraan penduduk dari waktu ke waktu dalam jangka waktu yang panjang juga merupakan indikator yang digunakan untuk mengukur pertumbuhan ekonomi. Keempat adalah tentang penganguran dan tenaga kerja.
Perkembangan dari suatu perekonomian tidak bisa dilepaskan dari kebijakan yang dibuat di suatu negara. Kebjakan menjadi kunci penting dalam mendorong dan mengendalikan perekonomian. Dianatara kebijakan yang sangat penting dalam mengendalikan pereknomian adalah kebijakan moneter. Dalam hal ini bank sentral merupakan penentu kebijakan moneter di suatu negara. Bank sentral mengendalikan perbankan yang ada di seluruh negara. Perbankann dalam mhal ini juga memiliki peran yang cukup besar dalam mempengaruhi perekonomian negara. Kebijakan moneter dianggap cukup penting dalam suatu negara. Kebijakan moneer bisa di kombinasikan dengan kebijkan-kebijakan lainnya.
Kebijakan moneter merupakan  kebijakan yang berhubungan dengan jumlah uang yang beredar agar sesuai atau digunakan dalam pengendalian keadaan ekonomi secara makro. Dengan adanya kebijakan moneter atau otoritas moneter diharapkan bisa mengendalikan perekonomian ke arah yang diinginkan. Adanya kebutuhan negara membuat kebijakan moneter berjalan secara dinamis. Untuk mengetahui keadaan suatu negara ada dua indikator yang bisa digunakan yaitu  tingkat suku bunga dan jumlah uang yang beredar.
Kebijakan moneter menurut bank indonesia mempunyai tujuan untuk memelihara kestabilan rupiah yaitu kestabilan antara barang dan jasa yang tercermin dalam tinggi rendahnya inflasi. Dalam rangka mencapai tujuan tersebut maka pemerintah indonesia melaui bank indonesia menerpakan kerangka kebijakan moneter yang inflasi merupakan sasaran utama kebijakan moneternya (Inflasition targetting framework) dengan menganut sistem nilai tukar mengambang (free floating). Kestabilan nilai tukar sangat penting dalma mencapai stabilitas harga dan sistem keuangan menurut bank indonesia.
Kebijakna moneter yang dilakukan bank indonesia melalui penetapan sasaran moneter. Sasaran moneter tersebut menggunakan instrumen-instrumen, menurut bank indonesia  antara lain operasi pasar terbuka di pasar uang baik rupiah maupun valuta asing, penetapan tingkat diskonto, penetapan cadangan wajib minimum, dan pengaturan kredit atau pembiayaan. 
Tingkat suku bunga dan jumlah uang beredar mempunyai keterkaitan satu dengan lainnya. Tingkat suku bunga merupakan cerminan dari kedaan sutu negara yang di informasikan bank indonesia kepada publik.  Perubahan yang ad apada tingkat suku bunga akan ebredampak pada  investasi yang ad adalam sutu negara. Prubahan inveatsai dapat berasal dari investor dalam maupun luar negeri, investasi ini lebih condong atau kebanyakan berbentuk investasi portofolio. Investasi portofolio merupakan investasi yang pada umunya mempunyai jangka waktu yang pendek.
Menurut madura, 2000, perubahan yang ada pada tinngkat suku bunga akan berpengatruh pad apermintaan dan penawaran di pasar uang dalam negeri. Apabila ada aliran masuk modal (capital flows) hal ini akan mempengaruhi perubahan nilai tukar mata uang Indonesia terhadap mata uang asing pada pasar valuta asing.
Jumlah uang beredar merupakan kebijakan moneter yang betujuan untuk memelihara kestabilan tngkta harga. Menurut mankew, 2006, negara -negara yang mempunyai pertumbuhan uang yang tinggi cenderung memiliki  tingkat inflasi yang tinggi sedangkan negara- negara yang mempunyai pertumbuhan uang yang rendah cenderung memiliki tinkat inflasi yang rendah. Adanaya teori kuatitas yang menyaakan ketika terjadi kenaikan tingkat pertumbuhan sebesar satu persen maka akan medorong kenaikan inflasi sebesar satu persen.
Pengaruh tingkat suku bunga terhadap perekonomian adalah menentukan tingkat investasi yang masuk ke Indonesia. Karena tingkat investasi dapat menjdi acuan bagi investor dalam maupun luar negeri untuk menanamkan modalnya ke dalam negeri. Investor akan melakukan investasi apabila tingkat pengembalian modal yang diperoleh akan melebihi tingkat suku bunga. Maka besarnya investasi yang ada dalam sutu jangka waktu tertentu merupakan investasi yang besar pengembalian modalnya lebih besar daripada tingkat suku bunga. Apabila sku bunga berdada pada tingkat yang rendah maka pengembalian modal yang diperoleh investor akan lebih besar atau tinggi daripada tingkat suku bunga. Ketika suku bunga rendah maka semakin rendah buga yang harus di bayar oleh investor.
Pada bulan Februari tahun 2016 bank indonesia mengumumkan adanya penurunan pada tingkat suku bunga atau BI rate. Penurunan BI rate merupakan indikasi adanya kelesuan dalam perekonomian. Dengan adanya penurunan BI rate maka diharapkan akan mendorong antusiasme masyarkat untuk melakukan kredit. Kredit ditujukan untuk rumah tangga maupun perusahaan, jadi kredit bisa merupakan kredit konsumtif. Dengan adanya penurunan suku bunga dan meningkatnya kredit maka akan mendorong meningkatnya konsumsi masyarakat. Konsumsi yang dilakukan msayarkat merupakan konsumsi baik untuk konsumsi perusahaan ataupun konsumsi rumah tangga, hal ini bisa mendorong adanya pertumbuhan ekonomi.
Langkah kebijakan pemerintah ini bisa menjadi dua sisi yang berlainan apabila tidak dilakukan dengan benar. Karena dengan penurunan BI rate akan mendorong masyarakat yang konsumtif, dana kredit yang di berikan harusnya di salurkan pada sektor industri agar ada pengemabalian pada jangka waktu panjang. Apabila sektor rumah tangga melakukan kredit yang bersifat konsumtif maka hal ini juga bukanlah pilihan yang baik dalam perekonomian. Karena konsumsi yang berlebihan oleh masyarakat akan meningkatkan jumlah uang yang beredar dan meningkatkan permintaan. Dan terjadinya hal tersebut maka akan membuat harga-harga secara umum meningkan. Dengan adanya peningkatan general level of price mengindikasikan atau mencerminkan perekonomian yang terjangkit inflasi. Maka dengan adanya inflasi akan menurunkan geliat perekonomian. Maka harus ada peraturan dan proteksi tentang pemberian kredit.
Jumlah uang yangberdar dalam masyarakat tidak seluruhnya ditentukan oleh Pemerintah tetapi perilaku bank dan masyrakat umum juga dapat mempengaruhi jumlah uang beredar. Perilaku dari bank dan masyarakat umum juga mempunyai peran tetapi memnag pemerintah mempunyai kekuasaan untuk memepnagruh jumlah uang beredar. Kebijakan moneter merupakan kebijakan di buat untuk menentukan atau mengendalikan jumlah uang beredar sebagai salah satu sasarannya. Bank sentral mempengaruhi atau mengubah uang beredar secara tidak langsung yaitu dengna menggunakan instrumen kebijakan moneter yang tersedia.

Menurut teori Keynes kebijakan moneter bisa mempengaruhi situasi makro lewat jumlah uang beredar (JUB), tingkat suku bunga, pengeluaran investasi dan selanjutnya permintaan agregat. Lalu muncul kebijakan supply side yang merupakan kebijakan moneter yang mempunyai pengarh langsung terhadap penawaran agregat atau menggeser kurva penawaran agregat. 

0 komentar:

Posting Komentar