Setiap negara pasti bertujuan untuk
meningkatkan pertumbuhan ekonominya. Ketika suatu negara mengalami pertumbahan
ekonomi berarti mengindikasikan bahwa perekonomian meningkat, produksi barang
dan jasa meningkat, tenaga kerja terserap, dan pemerataan pendapatan. Tetapi
pertumbuhan ekonomi yang tinggi tidak selalu mengindikasikan terjadinya
pemerataan.
Dalam suatu perekonomian dikatakan
mengalami suatu pertumbuhan apabila pertumbuhan ekonomi lebih besar dari tahun
sbelumnya atau bisa dikatakan jumlah balas jasa terhadap faktor produksi
mengalami peningkatan daripada tahun sebelumnya. Untuk mengukur pertumbuhan
ekonomi digunakan beberapa indikator seperti pendapatan nasional riil.
Pendapatan nasional riil menunjukkan besarnya keseluruhan output barang dan
jasa dalam suatu negara. Kedua pendapatan riil perkapita. Pendapatan perkapita
menunjukkan besarnya pendapatan suatu masyarakat. Perekonomian suatu negara bisa
dikatakan tumbuh apabila pendapatan masyarakatnya juga mengalami peningkatan
dari waktu sebelumnya. Ketiga adalah terjadinya kesejahteraan penduduk.
Peningkatan dalam kesejahteraan penduduk dari waktu ke waktu dalam jangka waktu
yang panjang juga merupakan indikator yang digunakan untuk mengukur pertumbuhan
ekonomi. Keempat adalah tentang penganguran dan tenaga kerja.
Perkembangan dari suatu perekonomian
tidak bisa dilepaskan dari kebijakan yang dibuat di suatu negara. Kebjakan
menjadi kunci penting dalam mendorong dan mengendalikan perekonomian. Dianatara
kebijakan yang sangat penting dalam mengendalikan pereknomian adalah kebijakan
moneter. Dalam hal ini bank sentral merupakan penentu kebijakan moneter di
suatu negara. Bank sentral mengendalikan perbankan yang ada di seluruh negara.
Perbankann dalam mhal ini juga memiliki peran yang cukup besar dalam
mempengaruhi perekonomian negara. Kebijakan moneter dianggap cukup penting
dalam suatu negara. Kebijakan moneer bisa di kombinasikan dengan
kebijkan-kebijakan lainnya.
Kebijakan moneter merupakan kebijakan yang berhubungan dengan jumlah uang
yang beredar agar sesuai atau digunakan dalam pengendalian keadaan ekonomi
secara makro. Dengan adanya kebijakan moneter atau otoritas moneter diharapkan
bisa mengendalikan perekonomian ke arah yang diinginkan. Adanya kebutuhan
negara membuat kebijakan moneter berjalan secara dinamis. Untuk mengetahui
keadaan suatu negara ada dua indikator yang bisa digunakan yaitu tingkat suku bunga dan jumlah uang yang
beredar.
Kebijakan moneter menurut bank
indonesia mempunyai tujuan untuk memelihara kestabilan rupiah yaitu kestabilan
antara barang dan jasa yang tercermin dalam tinggi rendahnya inflasi. Dalam
rangka mencapai tujuan tersebut maka pemerintah indonesia melaui bank indonesia
menerpakan kerangka kebijakan moneter yang inflasi merupakan sasaran utama
kebijakan moneternya (Inflasition targetting framework) dengan menganut sistem
nilai tukar mengambang (free floating). Kestabilan nilai tukar sangat penting
dalma mencapai stabilitas harga dan sistem keuangan menurut bank indonesia.
Kebijakna moneter yang dilakukan bank
indonesia melalui penetapan sasaran moneter. Sasaran moneter tersebut
menggunakan instrumen-instrumen, menurut bank indonesia antara lain operasi pasar terbuka di pasar
uang baik rupiah maupun valuta asing, penetapan tingkat diskonto, penetapan
cadangan wajib minimum, dan pengaturan kredit atau pembiayaan.
Tingkat suku bunga dan jumlah uang
beredar mempunyai keterkaitan satu dengan lainnya. Tingkat suku bunga merupakan
cerminan dari kedaan sutu negara yang di informasikan bank indonesia kepada
publik. Perubahan yang ad apada tingkat
suku bunga akan ebredampak pada
investasi yang ad adalam sutu negara. Prubahan inveatsai dapat berasal
dari investor dalam maupun luar negeri, investasi ini lebih condong atau
kebanyakan berbentuk investasi portofolio. Investasi portofolio merupakan
investasi yang pada umunya mempunyai jangka waktu yang pendek.
Menurut madura, 2000, perubahan yang
ada pada tinngkat suku bunga akan berpengatruh pad apermintaan dan penawaran di
pasar uang dalam negeri. Apabila ada aliran masuk modal (capital flows) hal ini
akan mempengaruhi perubahan nilai tukar mata uang Indonesia terhadap mata uang
asing pada pasar valuta asing.
Jumlah uang beredar merupakan
kebijakan moneter yang betujuan untuk memelihara kestabilan tngkta harga. Menurut mankew, 2006, negara
-negara yang mempunyai pertumbuhan uang yang tinggi cenderung memiliki tingkat inflasi yang tinggi sedangkan negara-
negara yang mempunyai pertumbuhan uang yang rendah cenderung memiliki tinkat
inflasi yang rendah. Adanaya teori kuatitas yang menyaakan ketika terjadi
kenaikan tingkat pertumbuhan sebesar satu persen maka akan medorong kenaikan
inflasi sebesar satu persen.
Pengaruh
tingkat suku bunga terhadap perekonomian adalah menentukan tingkat investasi
yang masuk ke Indonesia. Karena tingkat investasi dapat menjdi acuan bagi
investor dalam maupun luar negeri untuk menanamkan modalnya ke dalam negeri.
Investor akan melakukan investasi apabila tingkat pengembalian modal yang
diperoleh akan melebihi tingkat suku bunga. Maka besarnya investasi yang ada
dalam sutu jangka waktu tertentu merupakan investasi yang besar pengembalian
modalnya lebih besar daripada tingkat suku bunga. Apabila sku bunga berdada
pada tingkat yang rendah maka pengembalian modal yang diperoleh investor akan
lebih besar atau tinggi daripada tingkat suku bunga. Ketika suku bunga rendah
maka semakin rendah buga yang harus di bayar oleh investor.
Pada bulan Februari tahun 2016 bank
indonesia mengumumkan adanya penurunan pada tingkat suku bunga atau BI rate. Penurunan
BI rate merupakan indikasi adanya kelesuan dalam perekonomian. Dengan adanya
penurunan BI rate maka diharapkan akan mendorong antusiasme masyarkat untuk
melakukan kredit. Kredit ditujukan untuk rumah tangga maupun perusahaan, jadi
kredit bisa merupakan kredit konsumtif. Dengan adanya penurunan suku bunga dan
meningkatnya kredit maka akan mendorong meningkatnya konsumsi masyarakat.
Konsumsi yang dilakukan msayarkat merupakan konsumsi baik untuk konsumsi
perusahaan ataupun konsumsi rumah tangga, hal ini bisa mendorong adanya
pertumbuhan ekonomi.
Langkah kebijakan pemerintah ini bisa
menjadi dua sisi yang berlainan apabila tidak dilakukan dengan benar. Karena
dengan penurunan BI rate akan mendorong masyarakat yang konsumtif, dana kredit
yang di berikan harusnya di salurkan pada sektor industri agar ada
pengemabalian pada jangka waktu panjang. Apabila sektor rumah tangga melakukan
kredit yang bersifat konsumtif maka hal ini juga bukanlah pilihan yang baik
dalam perekonomian. Karena konsumsi yang berlebihan oleh masyarakat akan
meningkatkan jumlah uang yang beredar dan meningkatkan permintaan. Dan
terjadinya hal tersebut maka akan membuat harga-harga secara umum meningkan. Dengan
adanya peningkatan general level of price mengindikasikan atau mencerminkan
perekonomian yang terjangkit inflasi. Maka dengan adanya inflasi akan
menurunkan geliat perekonomian. Maka harus ada peraturan dan proteksi tentang
pemberian kredit.
Jumlah uang yangberdar dalam
masyarakat tidak seluruhnya ditentukan oleh Pemerintah tetapi perilaku bank dan
masyrakat umum juga dapat mempengaruhi jumlah uang beredar. Perilaku dari bank
dan masyarakat umum juga mempunyai peran tetapi memnag pemerintah mempunyai kekuasaan
untuk memepnagruh jumlah uang beredar. Kebijakan moneter merupakan kebijakan di
buat untuk menentukan atau mengendalikan jumlah uang beredar sebagai salah satu
sasarannya. Bank sentral mempengaruhi atau mengubah uang beredar secara tidak
langsung yaitu dengna menggunakan instrumen kebijakan moneter yang tersedia.
Menurut teori Keynes kebijakan
moneter bisa mempengaruhi situasi makro lewat jumlah uang beredar (JUB),
tingkat suku bunga, pengeluaran investasi dan selanjutnya permintaan agregat. Lalu
muncul kebijakan supply side yang merupakan kebijakan moneter yang mempunyai
pengarh langsung terhadap penawaran agregat atau menggeser kurva penawaran
agregat.






0 komentar:
Posting Komentar