Mengoreksi Paket Kebijakan Jilid 1
Oleh
: Ika Wahyu Cahyani
Paket kebijakan ekonomi
Jokowi sudah diterbitkan sejak tahun lalu. Jika tak salah, saat ini sudah
mencapai paket ke sebelas. Namun, tanda-tanda keberhasilan paket kebijakan
tersebut masih belum terasa. Seperti paket kebijakan jilid 1, yang berupaya
untuk mendorong daya saing industri nasional, mempercepat proyek strategis
nasional dengan menghilangkan berbagai hambatan, meningkatkan investasi
disektor properti. Sampai saat ini masih ditunggu keberhasilannya.
Bahkan, terdapat rumor
bahwa paket kebijakan Jokowi terkesan sebagai kebijakan panik. Artinya,
pemerintahan Jokowi cenderung memaksakan kebijakan tersebut setelah beberapa
ancaman perekonomian global membayangi wajah perekonomian nasional. Seperti
kemunculan kebijakan ekonomi jilid 1yang diterbitkan pada 9 September 2015
lalu, ditenggarai adanya pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dollar AS. Maka
dari itu, pemerintah mengupayakan perbaikan untuk tetap menjaga tingkat daya
beli masyarakat.
Namun beberapa
pertimbangan sepertinya kurang diperhatikan oleh pemerintah dalam mengambil
kebijakan tersebut. Dominasi masyarakat yang besar masih bergerak di sektor
pertanian, peternakan, perkebunan, perikanan dan sebagain lain di sektor
ekonomi kreatif. Selain itu juga, sebagian besar masyarakat yang bergerak
disektor tersebut cenderung tidak memiliki ketergantungan dengan impor. Dengan
adanya pelemahan rupiah, alangkah lebih baik jika pemerintah mengupayakan
stimulus pada sektor riil yang dapat mendorong kegiatan ekspor. Disamping, akan
mengembangkan potensi ekonomi yang ada, juga akan menaikkan tingkat ekpor yang
akan menambah pemasukan bagi negara.
Pemerintah mungkin
memiliki tujuan baik dalam setiap penerbitan paket kebijakan. Namun perlu juga
hati-hati dalam mengambil kebijakan tersebut. Sasaran tujuan juga harus jelas
dan keuntungan dalam jangka panjang juga lebih tegas. Jangan serta merta
melakukan kebijakan yang pada akhirnya akan mengamncam keberadaan potensi
ekonomi lokal.






0 komentar:
Posting Komentar