Indikator penting dalam sebuah
perekonomian ialah tingkat inflasi dan pengangguran. Keduanya menurut kurva
Philips terjadi secara trade off, artinya ketika inflasi berusaha untuk
ditekan, justru pengangguran akan meningkat dan begitu pula sebaliknya. Dilema
ini sudah berlangsung sejak lama bahkan sejak manusia mulai mengenal ilmu
ekonomi.
Seiring semakin berkembangnya penelitian
yang melahirkan penemuan-penemuan baru dalam bidang ekonomi khususnya dalam
menangani fenomena ekonomi yaitu inflasi dan pengangguran. Keduanya jelas
membutuhkan treatment yang berbeda
agar kestabilan perekonomian dapat terjaga.
Selama tahun 2015, Direktur Eksekutif
Departmen Komunikasi BI, Tirta Segara menyatakan bahwa, “Bank Indonesia merilis
stabilitas harga untuk keseluruhan tahun 2015 cukup baik dan stabil pada
kisaran level 4 persen“. Keberhasilan pemerintah dalam mengendalikan laju
inflasi akan berdampak pada pertumbuhan ekonomi yang sebenarnya. Otoritas
moneter Indonesia menerapkan kebijakan Inflation
Targeting Framework (ITF) dalam rangka mengupayakan laju inflasi yang
stabil.
Dari sisi pasar barang, inflasi dapat
terjadi akibat adanya kelebihan permintaan akan barang dan jasa dalam
perekonomian yang menyebabkan harga-harga naik secara umum. Selain itu,
kekurangan pasokan barang di pasar juga cenderung meningkatkan laju inflasi
seperti yang terdapat pada artikel sebelumnya yang mengatakan bahwa cabai
mengalami inflasi yang cukup signifikan akibat pasokan barang yang mendapat
hambatan dalam proses distribusinya. Terhambatnya proses pendistribusian akan
menyebabkan biaya yang lebih besar lagi terhadap harga barang atau komoditas
yang dikirim.
Jika dipandang dari sudut moneter,
inflasi dapat terjadi akibat kenaikan tingkat suku bunga sehingga investasi
berkurang. Ketika investasi menurun, maka kegiatan perekonomian akan mulai
lesu, penawaran akan lebih lebih kecil daripada permintaan sehingga harga
barang-barang di pasar menjadi lebih mahal. Kebijakan pengaturan jumlah uang
beredar juga dapat mempengaruhi tingkat inflasi karena semakin banyak
masyarakat yang memegang uang, maka mereka akan semakin banyak meminta barang
dan jasa untuk dikonsumsi. Jika produksi nasional tidak mampu mencukupi
permintaan tersebut, maka inflasi akan terjadi akibat bertabahnya jumlah uang
yang beredar dalam masyarakat.
Selanjutnya mengenai pengangguran, di
Indonesia yang mengalami pertumbuhan ekonomi mencapai ± 5 persen setiap
tahunnya belum bisa dikatakan bahwa tingkat pengangguran Indonesia menurun. Akhmad Akbar Susanto, Ekonom Core Indonesia mengatakan bahwa
asumsi dasar berkaitan dengan pertumbuhan ekonomi dan pengangguran selalu luput
dari ketepatan. Begitu pun data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa
pada tahun 2005-2014 pengangguran semakin menurun seiring dengan pertumbuhan
ekonomi yang semakin tinggi.
Tentu
hal ini menimbulkan banyak pertanyaan sekaligus perdebatan yang cukup panjang.
Pengangguran tidak bisa dianggap sebagai hal yang remeh karena semakin
banyakkpengangguran semakin mengindikasikan bahwa kesejahteraan masyarakat yang
menjadi tujuan utama suatu kebijakan ekonomi masih jauh dari harapan.
Jika inflasi dapat di treatment melalui pengaturan suku bunga, jumlah uang
beredar (JUB) dan penetapan Giro Wajib Minimum (GWM) pada sektor perbankan,
maka treatment yang sebaiknya
dilakukan untuk menangani permasalahan pengangguran dalam perekonomian
diantaranya yaitu: (1) meningkatkan laju investasi, seperti yang diungkap oleh
Akhmad Akbar Susanto, Ekonom Core Indonesia, tumbuhnya investasi membuat
lapangan kerja semakin banyak dan menyerap banyak tenaga kerja. "Pandangan
sederhananya, semakin besar investasi, jumlah pengangguran akan menurun,"
kata Akhmad, (2) perlu adanya kesesuaian kebijakan pemerintah dalam mempersiapkan
tenaga kerja dan sektor apa yang memperoleh dukungan dari pemerintah. Karena
menurut Pengamat Ekonomi sekaligus
Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE), Hendri Saparini, "Kita
tahu bahwa dulu kita mendorong tenaga kerja dari SMK (Sekolah Menengah
Kejuruan), tapi sekarang pengangguran yang meningkat justru berasal dari
lulusan SMK, jadi ada sikap enggak nyambung antara menyiapkan tenaga
kerja dan sektor yang didorong oleh pemerintah”. Maka sebaiknya, BI dan
Kementerian Keuangan (Kemenkeu) harus bersinergi merumuskan strategi bersama
sektor manakah yang akan didorong atau diintensifkan agar mampu menyerap tenaga
kerja yang lebih banyak. Kemudian kebijakan fiskal dan moneter seperti apa yang
harus diambil untuk sektor tersebut.
Kiranya
seperti itu sekilas gambaran fenomena inflasi dan pengangguran di negeri ini.
Tak ada yang bisa kita lakukan selain terus bersama mengupayakan agar keduanya
tetap stabil yang kemudian akan berimbas pada kestabilan perekonomian nasional.
Jember, 19 Maret 2016






0 komentar:
Posting Komentar