Blogroll

Kamis, 09 Juni 2016

Pertumbuhan Ekonomi: Inflasi atau Pengangguran?



Indikator penting dalam sebuah perekonomian ialah tingkat inflasi dan pengangguran. Keduanya menurut kurva Philips terjadi secara trade off, artinya ketika inflasi berusaha untuk ditekan, justru pengangguran akan meningkat dan begitu pula sebaliknya. Dilema ini sudah berlangsung sejak lama bahkan sejak manusia mulai mengenal ilmu ekonomi.

Seiring semakin berkembangnya penelitian yang melahirkan penemuan-penemuan baru dalam bidang ekonomi khususnya dalam menangani fenomena ekonomi yaitu inflasi dan pengangguran. Keduanya jelas membutuhkan treatment yang berbeda agar kestabilan perekonomian dapat terjaga.

Selama tahun 2015, Direktur Eksekutif Departmen Komunikasi BI, Tirta Segara menyatakan bahwa, “Bank Indonesia merilis stabilitas harga untuk keseluruhan tahun 2015 cukup baik dan stabil pada kisaran level 4 persen“. Keberhasilan pemerintah dalam mengendalikan laju inflasi akan berdampak pada pertumbuhan ekonomi yang sebenarnya. Otoritas moneter Indonesia menerapkan kebijakan Inflation Targeting Framework (ITF) dalam rangka mengupayakan laju inflasi yang stabil.

Dari sisi pasar barang, inflasi dapat terjadi akibat adanya kelebihan permintaan akan barang dan jasa dalam perekonomian yang menyebabkan harga-harga naik secara umum. Selain itu, kekurangan pasokan barang di pasar juga cenderung meningkatkan laju inflasi seperti yang terdapat pada artikel sebelumnya yang mengatakan bahwa cabai mengalami inflasi yang cukup signifikan akibat pasokan barang yang mendapat hambatan dalam proses distribusinya. Terhambatnya proses pendistribusian akan menyebabkan biaya yang lebih besar lagi terhadap harga barang atau komoditas yang dikirim.

Jika dipandang dari sudut moneter, inflasi dapat terjadi akibat kenaikan tingkat suku bunga sehingga investasi berkurang. Ketika investasi menurun, maka kegiatan perekonomian akan mulai lesu, penawaran akan lebih lebih kecil daripada permintaan sehingga harga barang-barang di pasar menjadi lebih mahal. Kebijakan pengaturan jumlah uang beredar juga dapat mempengaruhi tingkat inflasi karena semakin banyak masyarakat yang memegang uang, maka mereka akan semakin banyak meminta barang dan jasa untuk dikonsumsi. Jika produksi nasional tidak mampu mencukupi permintaan tersebut, maka inflasi akan terjadi akibat bertabahnya jumlah uang yang beredar dalam masyarakat.

Selanjutnya mengenai pengangguran, di Indonesia yang mengalami pertumbuhan ekonomi mencapai ± 5 persen setiap tahunnya belum bisa dikatakan bahwa tingkat pengangguran Indonesia menurun. Akhmad Akbar Susanto, Ekonom Core Indonesia mengatakan bahwa asumsi dasar berkaitan dengan pertumbuhan ekonomi dan pengangguran selalu luput dari ketepatan. Begitu pun data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa pada tahun 2005-2014 pengangguran semakin menurun seiring dengan pertumbuhan ekonomi yang semakin tinggi.

Tentu hal ini menimbulkan banyak pertanyaan sekaligus perdebatan yang cukup panjang. Pengangguran tidak bisa dianggap sebagai hal yang remeh karena semakin banyakkpengangguran semakin mengindikasikan bahwa kesejahteraan masyarakat yang menjadi tujuan utama suatu kebijakan ekonomi masih jauh dari harapan.
Jika inflasi dapat di treatment  melalui pengaturan suku bunga, jumlah uang beredar (JUB) dan penetapan Giro Wajib Minimum (GWM) pada sektor perbankan, maka treatment yang sebaiknya dilakukan untuk menangani permasalahan pengangguran dalam perekonomian diantaranya yaitu: (1) meningkatkan laju investasi, seperti yang diungkap oleh Akhmad Akbar Susanto, Ekonom Core Indonesia, tumbuhnya investasi membuat lapangan kerja semakin banyak dan menyerap banyak tenaga kerja. "Pandangan sederhananya, semakin besar investasi, jumlah pengangguran akan menurun," kata Akhmad, (2) perlu adanya kesesuaian kebijakan pemerintah dalam mempersiapkan tenaga kerja dan sektor apa yang memperoleh dukungan dari pemerintah. Karena menurut  Pengamat Ekonomi sekaligus Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE), Hendri Saparini, "Kita tahu bahwa dulu kita mendorong tenaga kerja dari SMK (Sekolah Menengah Kejuruan), tapi sekarang pengangguran yang meningkat justru berasal dari lulusan SMK, jadi ada sikap enggak nyambung antara menyiapkan tenaga kerja dan sektor yang didorong oleh pemerintah”. Maka sebaiknya, BI dan Kementerian Keuangan (Kemenkeu) harus bersinergi merumuskan strategi bersama sektor manakah yang akan didorong atau diintensifkan agar mampu menyerap tenaga kerja yang lebih banyak. Kemudian kebijakan fiskal dan moneter seperti apa yang harus diambil untuk sektor tersebut.

Kiranya seperti itu sekilas gambaran fenomena inflasi dan pengangguran di negeri ini. Tak ada yang bisa kita lakukan selain terus bersama mengupayakan agar keduanya tetap stabil yang kemudian akan berimbas pada kestabilan perekonomian nasional.

Jember, 19 Maret 2016

0 komentar:

Posting Komentar