Blogroll

Kamis, 09 Juni 2016

Menyimak Tren Perlambatan Ekonomi Domestik



Terjadinya perlambatan ekonomi Indonesia hampir berlangsung di seluruh wilayah khususnya di daerah berbasis Sumber Daya Alam berupa migas. Wilayah tersebut ialah Kalimantan Timur dan Papua. Indikasi perlambatan ekonomi kedua wilayah tersebut dapat dilihat dari pertumbuhan ekonomi Kalimantan yang sebelumnya tumbuh sebesar 1,45% turun menjadi 1,08% (yoy). Salah satu penyebabnya ialah penurunan kinerja ekspor tambang karena melambatnya perekonomian Tiongkok yang merupakan tujuan ekspor utama dari komoditas batu bara Indonesia.Demikian pula dengan pertumbuhan ekonomi di Kawasan Timur Indonesia (KTI) yang mengalami perlambatan dari sebelumnya 8,60% menjadi 6,01% pada triwulan I 2016. Papua menjadi pendukung perlambatan di wilayah KTI karena kontraksi pertumbuhan ekonomi yang disebabkan menurunnya produksi mineral.
 Sementara itu,  perekonomian Jawa juga mengalami perlambatan dari 5,87% (yoy) pada tahun 2015 turun menjadi 5,31%. Penyerapan belanja [emerintah yang terbatas menjadi pendukung utama perlambatan ekonomi di wilayah Jawa. Demikian halnya dengan ekonomi Sumatera yang mengalami pertumbuhan lebih rendah dari sebelumnya sebesar 4,56% menjadi 4,18%. Penurunan tersebut dipengaruhi oleh turunnya produksi kelapa sawit yang disebabkan oleh curah hujan yang tinggi.
Dari sisi moneter, perlambatan terindikasi oleh pertumbuhan likuiditas perekonomian M2 yang melambat dari angka 7,7% menjadi 7,2% pada Februari 2016. Pengaruh utamanya adalah lambatnya pertumbuhan tagihan kepada sektor kredit. Pada Februari 2016, kredit perbankan yang tersalurkan tumbuh sebesar 9,3% (yoy) yang sebelumnya sebesar 9,3% (yoy). Kredit Modal Kerja (KMK) dan Kredit Investasi (KI) menjadi pendorong utama perlambatan penyaluran kredit.
Tren perlambatan perekonomian Indonesia memang sejalan dengan lambatnya perekonomian global. Isu-isu Internasional juga turut menyumbang pengaruh terhadap perlambatan ekonomi domestik.  Diantara isu pelemahan ekonomi global ialah datang dari perekonomian negara Adikuasa Amerika Serikat yang  masih belum solid. Hal tersebut ditunjukkan oleh melemahnya konsumsi dan indikator ketenagakerjaan serta terjadinya inflasi yang rendah. The Fed terus melakukan penyesuaian suku bunga FFR dengan hati-hati demi menjaga kestablian perekonomian AS. Sedang dari negeri Eropa, ekonomi di negara-negara tersebut masih dihantui oleh isu Brexit. Begitu pula dengan Jepang yang masih tertekan hingga tahun 2016. Dampaknya adalah kebijakan moneter didorong untuk terus ekspansif di negara-negara maju, yang salah satunya ialah menerapkan suku bunga negatif.
Jika disimak, perlambatan ekonomi Indonesia memperoleh dukungan yang cukup baik dari sisi global maupun domestik. Hal ini perlu mendapat perhatian lebih agar tidak terus-menerus melambat hingga perekonomian menjadi lesu dan tak bergairah. Baik Bank Indonesia selaku otoritas moneter maupun pemerintah yang mengatur urusan fiskal juga para pembuat kebijakan sektor riil harus bersinergi demi perjalanan perekonomian Indonesia ke arah yang lebih cerah di masa depan.

Situbondo, 9 Juni 2016

0 komentar:

Posting Komentar