Terjadinya
perlambatan ekonomi Indonesia hampir berlangsung di seluruh wilayah khususnya
di daerah berbasis Sumber Daya Alam berupa migas. Wilayah tersebut ialah
Kalimantan Timur dan Papua. Indikasi perlambatan ekonomi kedua wilayah tersebut
dapat dilihat dari pertumbuhan ekonomi Kalimantan yang sebelumnya tumbuh
sebesar 1,45% turun menjadi 1,08% (yoy). Salah satu penyebabnya ialah penurunan
kinerja ekspor tambang karena melambatnya perekonomian Tiongkok yang merupakan
tujuan ekspor utama dari komoditas batu bara Indonesia.Demikian pula dengan
pertumbuhan ekonomi di Kawasan Timur Indonesia (KTI) yang mengalami perlambatan
dari sebelumnya 8,60% menjadi 6,01% pada triwulan I 2016. Papua menjadi
pendukung perlambatan di wilayah KTI karena kontraksi pertumbuhan ekonomi yang
disebabkan menurunnya produksi mineral.
Sementara itu,
perekonomian Jawa juga mengalami perlambatan dari 5,87% (yoy) pada tahun
2015 turun menjadi 5,31%. Penyerapan belanja [emerintah yang terbatas menjadi
pendukung utama perlambatan ekonomi di wilayah Jawa. Demikian halnya dengan ekonomi
Sumatera yang mengalami pertumbuhan lebih rendah dari sebelumnya sebesar 4,56%
menjadi 4,18%. Penurunan tersebut dipengaruhi oleh turunnya produksi kelapa
sawit yang disebabkan oleh curah hujan yang tinggi.
Dari
sisi moneter, perlambatan terindikasi oleh pertumbuhan likuiditas perekonomian
M2 yang melambat dari angka 7,7% menjadi 7,2% pada Februari 2016. Pengaruh
utamanya adalah lambatnya pertumbuhan tagihan kepada sektor kredit. Pada
Februari 2016, kredit perbankan yang tersalurkan tumbuh sebesar 9,3% (yoy) yang
sebelumnya sebesar 9,3% (yoy). Kredit Modal Kerja (KMK) dan Kredit Investasi
(KI) menjadi pendorong utama perlambatan penyaluran kredit.
Tren
perlambatan perekonomian Indonesia memang sejalan dengan lambatnya perekonomian
global. Isu-isu Internasional juga turut menyumbang pengaruh terhadap
perlambatan ekonomi domestik. Diantara
isu pelemahan ekonomi global ialah datang dari perekonomian negara Adikuasa
Amerika Serikat yang masih belum solid.
Hal tersebut ditunjukkan oleh melemahnya konsumsi dan indikator ketenagakerjaan
serta terjadinya inflasi yang rendah. The Fed terus melakukan penyesuaian suku
bunga FFR dengan hati-hati demi menjaga kestablian perekonomian AS. Sedang dari
negeri Eropa, ekonomi di negara-negara tersebut masih dihantui oleh isu Brexit. Begitu pula dengan Jepang yang
masih tertekan hingga tahun 2016. Dampaknya adalah kebijakan moneter didorong
untuk terus ekspansif di negara-negara maju, yang salah satunya ialah
menerapkan suku bunga negatif.
Jika
disimak, perlambatan ekonomi Indonesia memperoleh dukungan yang cukup baik dari
sisi global maupun domestik. Hal ini perlu mendapat perhatian lebih agar tidak
terus-menerus melambat hingga perekonomian menjadi lesu dan tak bergairah. Baik
Bank Indonesia selaku otoritas moneter maupun pemerintah yang mengatur urusan
fiskal juga para pembuat kebijakan sektor riil harus bersinergi demi perjalanan
perekonomian Indonesia ke arah yang lebih cerah di masa depan.






0 komentar:
Posting Komentar