Blogroll

Jumat, 10 Juni 2016

Momentual Target operasi kebijakan moneter



Momentual Target operasi kebijakan moneter
Oleh M Rizqi Iskhaqi,Ilmu Ekonomi dan Studi Pembangunan
UniversitasJember

Keputusan yang diambil sangat di dasarkan pada tingkat kondisional suatu perekonomian dan membuktikan bahwa suatu kelembagaan BI memang dalam suatu  kelembagaan yang sangat indipendent. Terbukti bahwa anjuran pemerintah untuk menurunkan tingkat suku bunga acuan pada tahun 2015 baru dapat terealisasi pada tahun 2016. BI menepis akan tuduhan bahwa kelembagaan mereka melawan akan alur pemikiran yang di usung oleh pihak pemerintah.
            Pengambilan keputusan yang dilakukan BI yang di nilai lamban dalam menentukan pengambilan keputusan suatu kebijakan bukannya tak berdasar. Hal ini di karenakan dua persepsi yang tak bertemu dengan berbagai pertimbangan yang menjadi sebuah acuan dalam pengambilan sebuah keputusan. Dapat dibayangkan bila seseorang harus mengiyakan suatu tindakan yang dimana tindakan tersebut dinilai belum perlu di jalankan karena dinilai masih diluar prioritas yang harus dilakukan pada saat kondisi tersebut.
            Pmerintah yang dengan kekehnya mengajukan usulan terhadap BI dimana sesegera mungkin pemerintah untuk menurunkan suku bunga acuan karena mereka mengejar akan taget pertumbuhan ekonomi yang sudah di tetapkan dalam awal perencanaan pembangunan ekonomi. Dalam hal ini mungkin pemerintah tidak mempertimbangkan sektor lain.  Pemerintah berharap bahwa setelah diturunkannya suku bunga acuan maka, yang akan diterima dari penurunan suku bunga acuan tersebut akan memperlonggar sektor moneter dalam likuiditas keuangan.
            Likuiditas sektor keuangan yang terjadi di harapkan memicu peningkatan Banyak uang beredar dalam masyarakat. Perilaku demikian ini karena suku bungan acuan yang di tetapkan oleh BI akan sesegera mungkin akan diikuti oleh nasabahnya yaitu lembaga-lembaga perbankan baik umum maupun swasta. Penurunakan suku bungan tersebut secara psikologis akan menjadi pandangan tersendiri. Beban bunga yang di bayarkan akan semakin berkurang sesuai prosentase penurunan akan suku bunga yang di tetapkan di awal.
Sektor keuangan memang menjadi sampul dalam Suatu perekonomian dimana pergerakan konsumsi maupun investasi beranjak. Secara rasional ketika suatu tingkat bunga di turunkan maka peredaran akan meningkat, hal ini dikarenakan banyak spekulan dalam dunia bisnis dengan harapan di peruntukkan atau di alokasikan dalam sektor produktif atau dalam bentuk investasi yang akan menggerakkan perekonomian masyarakat. Dalam sektor produktif tersebut menandakan adanya penyerapan tenaga kerja dan adanya output yang di hasilkan yang nantinya juga di harapkan samapai menuai produk sampai samapai ranah impor.
Tidak habis sampai disni dalam pandangan pemerintah mungkin menganalisis bahwa dengan adanya penyerapan tenaga kerja, maka secara tidak langsung akan terdapat kenaikan pendapatan atau tercipta pendapatan baru dalam masyrakat yang akan semakin menambah jumlah uang yang beredar. Dengan kenaikan pendapatan maka di harapkan konsumsi meningkat kemudian di ikuti oleh saving. Saving yang dilakukan oleh masyarakat dapat digunakan sebagai sarana penumpukan modal yang dimana nantinya dapat di alokasikan dalam investasi-investasi baru dan di ikuti dengan siklus seperti diatas. Namun tidak habis sampai disini suatu perekonomian pasti menyisakan atau memberikan dampak yang tersendiri bukan hanya dalam dampak positif namun bisa pula dalam dampak yang negatif.
Dalam hal ini dampak secara negative atau dampak yang di rasa tidak di harapkan atau tidak di inginkan sesuai dengan diambilnya suatu keputusan dapat berupa banyak hal. Contoh saja ketika mungkin suatu perekonomian akan mengalami peningkatan pertumbuhan ekonomi namun disisi lain akan terjadi hal yang mengganggu keberlangsungan perekonomian yang stabil.
Disisi lain pihak pengambil keputusan dalam penurunan suku bunga acuan atau yang sering di sebut BI rate ini. Mereka menerka bahwa ketika mereka menentukan sebuah suku bunga acuan dengan menurunkannya maka akan banyak kemungkinan yang terjadi dari akibat yang di timbulkannya. Tidak hanya pada pertumbuhan perekonomian yang membaik yang di karenakan peningkatan investasi dan penyerapan tenaga kerja namun disisi lain berbagai gejolak akan terjadi. Contoh akan terjadi inflasi akibat dari jumlah uang yang beredar, terjadi  penurunan jumlah investasi luar yang menurun atau yang sering disebut FDA dan maslah lainnya.
Banyangkan ketika dalam suatu perkonomian pertumbuhan inflasi suatu negara bertambah atau tumbuh tanpa terkendali sebagai dampak dari bertambahnya jumlah uang yang beredar dikarenakan penurunan suku bunga acuan yang dilakukan oleh BI. Banayak sisi ketika mengkaji mengapa terjadi peningkatan inflasi. Namun dalam hal ini pertumbuhan ekonomi yang tidak di ukur dengan kemampuan suatu negara atau wilayah dalam berproduksi maka akan terjadi peningkatan nilai suatu barang. 
Dalam hal ini coba kita kaitkan ketika suatu perekonomian dengan peningkatan pertumbuhan yang di hasilkan dari likuiditas uang yang disebabkan dengan adanya penurunan suku bunga acuan tersebut dalam melakukan penyerapan sektor produktif atau menciptakan investasi baru dalam masyarakat.  dalam hal ini pemerintah yang menginginkan peningkatan pertumbuhan ekonomi dengan harus mempertimbangkan sejauh mana uang yang mereka keluarkan dapat menyentuh masyarakat luas.  Namun yang menjadi pertanyaan, apakah pertumbuhan ekonomi tersebut dapat secara riil meningkatkan suatu daya konsumsi atau daya belii masyarakat?
Permasalahan sebenarnya ada dalam hal ini, coba kita bayangkan ketika suatu negara mengalami pertumbuhan ekonmi yang secara tidak langsung menjadi beban bagi masyarakat yang dalam taraf ekonomi bawah. Mereka akan sulit dalam mengimbangi pertumbuhan yang dikarenakan basik yang mungkin tidak mendukung perkembangan kehidupan, sektor pendidikan, kesehatan. Masyarakat ini hanya akan menjadi seorang followers yang tidak mengerti perubahan apa yang akan mereka terima dengan pertumbuhan yang terjadi.
Pertumbuhan ekonomi yang dirasa sangat penting dan di gembor-gemborkan akan di rasa tidak ada gunanya bahkan hanya akan menambah beban bagi masyarakat bawah yang tidak dapat mengikuti trend persaingan yang sudah menjadi lapangan persaingan dalam perebutan kekuasaan demi sebuah kelangsungan hidup. Merek yang tak terjamah akan merasa semakin terpuruk karena di nilai gugur dalam persaingan. perekonomian yang semakin tinggi yang tidak di ikuti dengan peningkatan pendapatan yang sesuai kebutuhan juga semakin menekan ekonomi masyarakat ekonomi golongan bawah.
Sekarang kita beralih pada inflasi yang disebabkan oleh pertumbuhan perekonmian dengan membuka sektor likuiditas keuangan. Dalam hal ini tidak perlu diragukan dari cakupan luas inflasi yang terjadi dalam suatu negara. Tidak satupun masyarakat dapat menghindari inflasi. Entah mereka yang mempunyai pekerjaan, mempunyai pendapatan atau tidak, mereka akan tetap merasakan betapa harga semakin tak terjangkau karena penigkatan jumlah uang yang beredar.
Aliran investasi yang masuk ke dalam negri melewati lembaga perbankan juga akan menurun karena apa yang akan di cairkan ketika cadangan odal kapital yang lemah. Bukan masalah pertumbuhannya namun dampak-dampak riil yang akan diterima oleh masyarakat harus lebih menjadi pertimbangan. Maka dengan demikian bahwa suatu pengambilan suatu kebijakan yang sifat universal seperti BI rate harus melihat kondisi internal negara dan faktor-faktor lain yang sangat berpengaruh dengan kesetabilan perekonomian negara.
Berkaca dalam suatu perekonomian dimana saat kondisi perekonomian dalam kondisi yang lesu maka penetapan penurunan BI rate sangat tepat untuk menjaga agar perekonomian tetap kondusif dan tidak banyak pengangguran dari phk dan pra memasuki MEA. maka perubahan ini sangat penting untuk menggerakkan sektor riil dan menjaga agar perekonomian tetap dalam kondisi stabil.  Jadi perubahan ini menurut saya memang sesuai dengan rencana bukan sekedar tekanan politik.

0 komentar:

Posting Komentar