Momentual
Target operasi kebijakan moneter
Oleh M Rizqi Iskhaqi,Ilmu Ekonomi
dan Studi Pembangunan
UniversitasJember
Keputusan
yang diambil sangat di dasarkan pada tingkat kondisional suatu perekonomian dan
membuktikan bahwa suatu kelembagaan BI memang dalam suatu kelembagaan yang sangat indipendent. Terbukti
bahwa anjuran pemerintah untuk menurunkan tingkat suku bunga acuan pada tahun 2015
baru dapat terealisasi pada tahun 2016. BI menepis akan tuduhan bahwa
kelembagaan mereka melawan akan alur pemikiran yang di usung oleh pihak
pemerintah.
Pengambilan
keputusan yang dilakukan BI yang di nilai lamban dalam menentukan pengambilan
keputusan suatu kebijakan bukannya tak berdasar. Hal ini di karenakan dua
persepsi yang tak bertemu dengan berbagai pertimbangan yang menjadi sebuah
acuan dalam pengambilan sebuah keputusan. Dapat dibayangkan bila seseorang
harus mengiyakan suatu tindakan yang dimana tindakan tersebut dinilai belum perlu
di jalankan karena dinilai masih diluar prioritas yang harus dilakukan pada
saat kondisi tersebut.
Pmerintah
yang dengan kekehnya mengajukan usulan terhadap BI dimana sesegera mungkin
pemerintah untuk menurunkan suku bunga acuan karena mereka mengejar akan taget
pertumbuhan ekonomi yang sudah di tetapkan dalam awal perencanaan pembangunan
ekonomi. Dalam hal ini mungkin pemerintah tidak mempertimbangkan sektor
lain. Pemerintah berharap bahwa setelah
diturunkannya suku bunga acuan maka, yang akan diterima dari penurunan suku
bunga acuan tersebut akan memperlonggar sektor moneter dalam likuiditas
keuangan.
Likuiditas
sektor keuangan yang terjadi di harapkan memicu peningkatan Banyak uang beredar
dalam masyarakat. Perilaku demikian ini karena suku bungan acuan yang di
tetapkan oleh BI akan sesegera mungkin akan diikuti oleh nasabahnya yaitu
lembaga-lembaga perbankan baik umum maupun swasta. Penurunakan suku bungan
tersebut secara psikologis akan menjadi pandangan tersendiri. Beban bunga yang
di bayarkan akan semakin berkurang sesuai prosentase penurunan akan suku bunga
yang di tetapkan di awal.
Sektor
keuangan memang menjadi sampul dalam Suatu perekonomian dimana pergerakan
konsumsi maupun investasi beranjak. Secara rasional ketika suatu tingkat bunga
di turunkan maka peredaran akan meningkat, hal ini dikarenakan banyak spekulan dalam dunia bisnis dengan
harapan di peruntukkan atau di alokasikan dalam sektor produktif atau dalam
bentuk investasi yang akan menggerakkan perekonomian masyarakat. Dalam sektor
produktif tersebut menandakan adanya penyerapan tenaga kerja dan adanya output
yang di hasilkan yang nantinya juga di harapkan samapai menuai produk sampai
samapai ranah impor.
Tidak habis
sampai disni dalam pandangan pemerintah mungkin menganalisis bahwa dengan
adanya penyerapan tenaga kerja, maka secara tidak langsung akan terdapat
kenaikan pendapatan atau tercipta pendapatan baru dalam masyrakat yang akan
semakin menambah jumlah uang yang beredar. Dengan kenaikan pendapatan maka di
harapkan konsumsi meningkat kemudian di ikuti oleh saving. Saving yang dilakukan oleh masyarakat dapat digunakan
sebagai sarana penumpukan modal yang dimana nantinya dapat di alokasikan dalam
investasi-investasi baru dan di ikuti dengan siklus seperti diatas. Namun tidak
habis sampai disini suatu perekonomian pasti menyisakan atau memberikan dampak
yang tersendiri bukan hanya dalam dampak positif namun bisa pula dalam dampak
yang negatif.
Dalam hal
ini dampak secara negative atau dampak yang di rasa tidak di harapkan atau
tidak di inginkan sesuai dengan diambilnya suatu keputusan dapat berupa banyak
hal. Contoh saja ketika mungkin suatu perekonomian akan mengalami peningkatan
pertumbuhan ekonomi namun disisi lain akan terjadi hal yang mengganggu
keberlangsungan perekonomian yang stabil.
Disisi lain
pihak pengambil keputusan dalam penurunan suku bunga acuan atau yang sering di
sebut BI rate ini. Mereka menerka bahwa ketika mereka menentukan sebuah suku
bunga acuan dengan menurunkannya maka akan banyak kemungkinan yang terjadi dari
akibat yang di timbulkannya. Tidak hanya pada pertumbuhan perekonomian yang
membaik yang di karenakan peningkatan investasi dan penyerapan tenaga kerja
namun disisi lain berbagai gejolak akan terjadi. Contoh akan terjadi inflasi
akibat dari jumlah uang yang beredar, terjadi
penurunan jumlah investasi luar yang menurun atau yang sering disebut
FDA dan maslah lainnya.
Banyangkan
ketika dalam suatu perkonomian pertumbuhan inflasi suatu negara bertambah atau
tumbuh tanpa terkendali sebagai dampak dari bertambahnya jumlah uang yang
beredar dikarenakan penurunan suku bunga acuan yang dilakukan oleh BI. Banayak
sisi ketika mengkaji mengapa terjadi peningkatan inflasi. Namun dalam hal ini
pertumbuhan ekonomi yang tidak di ukur dengan kemampuan suatu negara atau
wilayah dalam berproduksi maka akan terjadi peningkatan nilai suatu
barang.
Dalam hal
ini coba kita kaitkan ketika suatu perekonomian dengan peningkatan pertumbuhan
yang di hasilkan dari likuiditas uang yang disebabkan dengan adanya penurunan
suku bunga acuan tersebut dalam melakukan penyerapan sektor produktif atau
menciptakan investasi baru dalam masyarakat.
dalam hal ini pemerintah yang menginginkan peningkatan pertumbuhan
ekonomi dengan harus mempertimbangkan sejauh mana uang yang mereka keluarkan
dapat menyentuh masyarakat luas. Namun
yang menjadi pertanyaan, apakah pertumbuhan ekonomi tersebut dapat secara riil
meningkatkan suatu daya konsumsi atau daya belii masyarakat?
Permasalahan
sebenarnya ada dalam hal ini, coba kita bayangkan ketika suatu negara mengalami
pertumbuhan ekonmi yang secara tidak langsung menjadi beban bagi masyarakat
yang dalam taraf ekonomi bawah. Mereka akan sulit dalam mengimbangi pertumbuhan
yang dikarenakan basik yang mungkin tidak mendukung perkembangan kehidupan,
sektor pendidikan, kesehatan. Masyarakat ini hanya akan menjadi seorang
followers yang tidak mengerti perubahan apa yang akan mereka terima dengan
pertumbuhan yang terjadi.
Pertumbuhan
ekonomi yang dirasa sangat penting dan di gembor-gemborkan akan di rasa tidak
ada gunanya bahkan hanya akan menambah beban bagi masyarakat bawah yang tidak
dapat mengikuti trend persaingan yang sudah menjadi lapangan persaingan dalam
perebutan kekuasaan demi sebuah kelangsungan hidup. Merek yang tak terjamah
akan merasa semakin terpuruk karena di nilai gugur dalam persaingan.
perekonomian yang semakin tinggi yang tidak di ikuti dengan peningkatan
pendapatan yang sesuai kebutuhan juga semakin menekan ekonomi masyarakat ekonomi
golongan bawah.
Sekarang
kita beralih pada inflasi yang disebabkan oleh pertumbuhan perekonmian dengan
membuka sektor likuiditas keuangan. Dalam hal ini tidak perlu diragukan dari
cakupan luas inflasi yang terjadi dalam suatu negara. Tidak satupun masyarakat
dapat menghindari inflasi. Entah mereka yang mempunyai pekerjaan, mempunyai
pendapatan atau tidak, mereka akan tetap merasakan betapa harga semakin tak
terjangkau karena penigkatan jumlah uang yang beredar.
Aliran
investasi yang masuk ke dalam negri melewati lembaga perbankan juga akan
menurun karena apa yang akan di cairkan ketika cadangan odal kapital yang
lemah. Bukan masalah pertumbuhannya namun dampak-dampak riil yang akan diterima
oleh masyarakat harus lebih menjadi pertimbangan. Maka dengan demikian bahwa
suatu pengambilan suatu kebijakan yang sifat universal seperti BI rate harus
melihat kondisi internal negara dan faktor-faktor lain yang sangat berpengaruh
dengan kesetabilan perekonomian negara.
Berkaca
dalam suatu perekonomian dimana saat kondisi perekonomian dalam kondisi yang
lesu maka penetapan penurunan BI rate sangat tepat untuk menjaga agar
perekonomian tetap kondusif dan tidak banyak pengangguran dari phk dan pra
memasuki MEA. maka perubahan ini sangat penting untuk menggerakkan sektor riil
dan menjaga agar perekonomian tetap dalam kondisi stabil. Jadi perubahan ini menurut saya memang sesuai
dengan rencana bukan sekedar tekanan politik.






0 komentar:
Posting Komentar