Pembentukan Nilai tukar dalam dan untuk
perekonomian
Oleh M Rizqi Iskhaqi,Ilmu Ekonomi
dan Studi Pembangunan
UniversitasJember
Pergerakan nilai tukar rupiah kini mulai
membaik, tren positif mata uang rupiah haus dapat dijaga sampai nantinya
meberikan suatu hal yang sangat berpengarh dalam sebuah perekonomian. Dalam
beberapa hari kemarin NH Korindo Securities melakukan penelitian dan menilai
bahwa pergerakan nilai rupiah sangat baik, pergerakan nilai tukar Rupiah dalam
jangka waktu kedepan memang masih bisa menguat terhadap dolar Amerika Serikat
(USD) dan mata uang regional lainnya. Prediksi Rupiah memang seperti menjadi
acuan bagaimana pula keberlangsungan suatu bisnis dalam perekonomian.
Bukan tanpa sebab bayangkan
jika suatu perekonomian yang berlangsung bergantung pada perdagangan
internasional yang besar maka suatu negara dalam menjalankan suatu perekonomian
akan melakukan pandangan yang sangat berbeda dengan pergerakan nilai tukar mata
uang yang negara tersebut sedang gunakan yang nantinya dikaitka dengan mata
uang asing yang telah disepakati baik dalam dolar amerika yang digunakan
sebagai satuan ukur pembayaran internasional atau mata uang regional terkait
dengan rekan bisnis ekonomi yang sedang di jalankan. Maka sebuah negara yang
dalam tarafnya menuju negara maju atau menaikkan level dalam status
perekonomian maka nilai tukar menjadi sangat penting untuk dijaga
kestabilannya, nilai tukarnya bahkan sampai pada nilai guna atau nilai riil
suatu uang.
Sebagaimana telah disebutkan oleh Kepala Riset NH Korindo Securities
Reza Priyambada menuturkan bahwa, proyeksi I penguatan nilai tukar rupiah
terhadap dolar amerika tersebut dikarenakan dan didasari dengan adanya sentimen
pasar yang positif dari rilis oleh data Badan Pusat Statistik (BPS) dalam
pengamatannya. Di mana dalam perekonomian selam sebulan terkhir tercatat
sepanjang kemarin terjadi deflasi sebesar 0,09 persen. Banyak sektor yang
mengalami penguatan. Mungkin ini menjadi dampak yang mungkin dirasakan atau
respon beberapa pelaku perekonomian yang semakin mengerti dengan apa yang harus
dilakukan sesuaia dengan kebutuhan yang berlangsung saat dewasa ini.
Penguatan nilai tukar ruiah atau trend positif yang dialami oleh rupiah
sendiri bukannya tak berdasar. Mengacu pada beberapa kebijakan yang sudah di
keluarkan jauh hari sebelum penguatan nilai ini. Semua dalam penurunannaya
pasti diawali dengan perubahan yang dirasakan dalam sektor riil yang akan
berimbas merambah dalam sektor keuanagan lagi. Mungkin ini menjadi suatu
gambaran tibal balik dari apa-apa yang sudah dilakukan seperti kebijakan dalam
pengaturan perekonomian baik dari segenap pemerintahan ataupun pihak penyandang
dana atau sektor finansial.
Penguatan nilai tukar
rupiah dapat saja di akibatkan oleh rutinitas suatu perekonomian atau trend
positif dari suatu perekonomian suatu negara, baik dalam devisa, pendapatan
perkapita, expor, dan kebijakan-kebijakan yang nantinya mendorong peningkatan
suatu siklus perekonomian. Mari kita ulas kembali bahwa perekonomian yang dapat
mndorong akan peningkatan atau tren akan mata uang adalah sektor barang dan
jasa. Mungkin dalam saat ini sektor riil seperti rumah tangga produksi sedang
mengalami kenaikan produksi atau menggenjot tingkat produksi perusahaan yang
mereka jalankan. Produksi yang besar berarti akan menghasilkan output yang
melimpah ruah sesuai dengan apa yang telah dijalankannya. Dalam hal ini mungkin
akan dilakukan peningkatan expor barang produksi oleh sebagian perusahaan produksi
baik di sektor makanan, bahan tambang, hasil pertanian dan lain sebagainya.
Terlepas dari itu pa
yang berkaitan dengan expor memang harus lagi di telaah seperti sektor jasa
yang menyediakan layanan dalam pelaksananaan roda perekonomian baik dalam sektor
distribusi, transportasi, dan banyak lagi lainnya ynag mengalami kenaikan
intensitas yang nantinya meberikan kontribusi positifnya. Katakanlah distribusi
dalam hal ini mungkin distribusi akan penyerapan tenaga kerja yang dilakukan
oleh sektor ini dapat mengembangkan dalam pendapat perkapita yang juga akan
meningkatkan daya beli masyarakat lewat distribusi pendapatannya, penerimaan
pemerintah lewat npwp dan pajak penghasilan ini hanya ketika kita membahas dari
peningktan produksi dari perusahaan. Berbeda lagi ketika membahas sektor
tranportasi yang mungkin nantinya akan menyangkut sedikit dengan kebijakan
regional dalam melakkan tataran pembangunan infrastruktur dalam suatu daerah
yang akan memberikan efek langsung seperti kelancaran dalam pengalokasian hasil
produksi dan bahan produksi untuk perusahaan.
Berbeda lagi ketika
nanti kita melakukan penilaian yang melalui sektor kebijakan yang di keluarkan
oleh pemerintah dalam usaha menggerakkan sektor riil untuk melakukan
meningkatkan kualitas dan kuantitas produksi yang dilakukan suatu perusahaan
yang nantinya akan memberi balasan atau sumbangan terhadap devisa atau
pendapatan suatu daerah. Kebijakan tersebut bisa berupa dalam kemudahan dalam
melakukan perizian usaha, pembukaan lahan dalam perluasan lahan produksi yang
biasanya dilakukan pada daerah yang tidak produktif seperti padang gambut denga
harapan nantinya akan mebuka lebar peluang usaha yang akan terbentukatau
aglomerasi industri dalam suatu wilayah.
Pembukaan lahan untuk
membuka akses transportasi seperti pembangunan jalan tol, kemudian pembebasan
lahan dengan membuka jalan baru untuk pengalokasian dan pendistribusian ekonomi
pedalaman dan penyaluran bantuan untuk pengembangan perekonomian masyarakat
bawah. Dengan pembukaan jalan ini diharapkan anantinya memberikan kontribusi
seperti terankatnya potensi suatu daerah yang selama ini masih menemui batasan
akses pemasaran padahal hal tersebut mempunyai daya jual yang tinggi.
Pengembangan ekonomi kreatif daerah yang semakin dpat di explor dengan berbagai
inovatif dan kreatifitas seiring dengan berkembangnya pengetahuan yang di bawa
masuk dalam suatu wilayah terseut. Keanekaragaman dan khas daerah juga akan
menemui nilai jual yang tinggi untuk nantinya di publikasikan kepada masyarakat
luas diluar untuk penguatan perekonomian daerah. Harapan yang sesungguhnya
adalah pemerataan pditribusi pendapatan sehingga terdapat kesetabilan di
dalamnya.
Beralih dari campur
tangan pemerintah kini beranjak pada sektor jasa keuangan atau sektor financial
yang sebagai pengatur, penyedia, bahkan perumus dan penggerak dalam sektor
keuangan. Dalam sektor ini adalah sektor yang sangat riskan ketika mengalami
suatu prubahan kebijakan yang nantinya di ikut dengan perubahan perilaku yan
dilakukan oleh sebagian besar pelaku ekonomi dalam suatu negara. Tenryata yang
paling berpengaruh terkait adanya penurunan inflasi atau deflasi yang dialami
perekonomian saat ini yang smapai memberikan kontribusi langsung terhadap
penguatan nilai tukar rupiah terhadap dolar amerika yang di prediksikan akan
terus meningkat ( trend positif ) karena kebijakan yang sedikit menggairahkan
para pelaku ekonomi.
Trend positif yang
dirasa ini tidak lepas dari sektor industri yang bergerak di bidang ritel yang
kini mengalami penurunan suku bunga kreditnya. tingkat suku bunga kredit dalam
bidang ritel oleh bank BUMN berkisar 11,5%-12,25%, sedangkan bunga KPR dan
non-KPR tercatat 8,6%-12,5%. Ini sudah menjadi langkah yang baik yang sudah
dilakukan oleh pihak perbankan agar proses perputaran uang yang tinggi pada nanti
akhirnya. Issue penurunan suku bunga acuan dan
bunga kredit juga menjadi gairah tersendiri yan dirasakan oleh para
pebisnis yang berlaga dalam perekonomian saat ini. Belum lagi penurunan giro
wajib minimum yang dilakukan oleh bank indonesia guna menggerakkan sektor
keuangan dalam menyuplai modal untuk sektor riil. Dengan demikian dapat dilakukan penerkaan akan hasil yang
terkait trend nilai mata uang yang diprediksi aka mengalami trend positif.






0 komentar:
Posting Komentar