Blogroll

Jumat, 10 Juni 2016

Pembentukan Nilai tukar dalam dan untuk perekonomian



    Pembentukan Nilai tukar dalam dan untuk perekonomian
Oleh M Rizqi Iskhaqi,Ilmu Ekonomi dan Studi Pembangunan
UniversitasJember
Pergerakan nilai tukar rupiah kini mulai membaik, tren positif mata uang rupiah haus dapat dijaga sampai nantinya meberikan suatu hal yang sangat berpengarh dalam sebuah perekonomian. Dalam beberapa hari kemarin NH Korindo Securities melakukan penelitian dan menilai bahwa pergerakan nilai rupiah sangat baik, pergerakan nilai tukar Rupiah dalam jangka waktu kedepan memang masih bisa menguat terhadap dolar Amerika Serikat (USD) dan mata uang regional lainnya. Prediksi Rupiah memang seperti menjadi acuan bagaimana pula keberlangsungan suatu bisnis dalam perekonomian.
            Bukan tanpa sebab bayangkan jika suatu perekonomian yang berlangsung bergantung pada perdagangan internasional yang besar maka suatu negara dalam menjalankan suatu perekonomian akan melakukan pandangan yang sangat berbeda dengan pergerakan nilai tukar mata uang yang negara tersebut sedang gunakan yang nantinya dikaitka dengan mata uang asing yang telah disepakati baik dalam dolar amerika yang digunakan sebagai satuan ukur pembayaran internasional atau mata uang regional terkait dengan rekan bisnis ekonomi yang sedang di jalankan. Maka sebuah negara yang dalam tarafnya menuju negara maju atau menaikkan level dalam status perekonomian maka nilai tukar menjadi sangat penting untuk dijaga kestabilannya, nilai tukarnya bahkan sampai pada nilai guna atau nilai riil suatu uang.
Sebagaimana telah disebutkan oleh Kepala Riset NH Korindo Securities Reza Priyambada menuturkan bahwa, proyeksi I penguatan nilai tukar rupiah terhadap dolar amerika tersebut dikarenakan dan didasari dengan adanya sentimen pasar yang positif dari rilis oleh data Badan Pusat Statistik (BPS) dalam pengamatannya. Di mana dalam perekonomian selam sebulan terkhir tercatat sepanjang kemarin terjadi deflasi sebesar 0,09 persen. Banyak sektor yang mengalami penguatan. Mungkin ini menjadi dampak yang mungkin dirasakan atau respon beberapa pelaku perekonomian yang semakin mengerti dengan apa yang harus dilakukan sesuaia dengan kebutuhan yang berlangsung saat dewasa ini.
Penguatan nilai tukar ruiah atau trend positif yang dialami oleh rupiah sendiri bukannya tak berdasar. Mengacu pada beberapa kebijakan yang sudah di keluarkan jauh hari sebelum penguatan nilai ini. Semua dalam penurunannaya pasti diawali dengan perubahan yang dirasakan dalam sektor riil yang akan berimbas merambah dalam sektor keuanagan lagi. Mungkin ini menjadi suatu gambaran tibal balik dari apa-apa yang sudah dilakukan seperti kebijakan dalam pengaturan perekonomian baik dari segenap pemerintahan ataupun pihak penyandang dana atau sektor finansial.
            Penguatan nilai tukar rupiah dapat saja di akibatkan oleh rutinitas suatu perekonomian atau trend positif dari suatu perekonomian suatu negara, baik dalam devisa, pendapatan perkapita, expor, dan kebijakan-kebijakan yang nantinya mendorong peningkatan suatu siklus perekonomian. Mari kita ulas kembali bahwa perekonomian yang dapat mndorong akan peningkatan atau tren akan mata uang adalah sektor barang dan jasa. Mungkin dalam saat ini sektor riil seperti rumah tangga produksi sedang mengalami kenaikan produksi atau menggenjot tingkat produksi perusahaan yang mereka jalankan. Produksi yang besar berarti akan menghasilkan output yang melimpah ruah sesuai dengan apa yang telah dijalankannya. Dalam hal ini mungkin akan dilakukan peningkatan expor barang produksi oleh sebagian perusahaan produksi baik di sektor makanan, bahan tambang, hasil pertanian dan lain sebagainya.
            Terlepas dari itu pa yang berkaitan dengan expor memang harus lagi di telaah seperti sektor jasa yang menyediakan layanan dalam pelaksananaan roda perekonomian baik dalam sektor distribusi, transportasi, dan banyak lagi lainnya ynag mengalami kenaikan intensitas yang nantinya meberikan kontribusi positifnya. Katakanlah distribusi dalam hal ini mungkin distribusi akan penyerapan tenaga kerja yang dilakukan oleh sektor ini dapat mengembangkan dalam pendapat perkapita yang juga akan meningkatkan daya beli masyarakat lewat distribusi pendapatannya, penerimaan pemerintah lewat npwp dan pajak penghasilan ini hanya ketika kita membahas dari peningktan produksi dari perusahaan. Berbeda lagi ketika membahas sektor tranportasi yang mungkin nantinya akan menyangkut sedikit dengan kebijakan regional dalam melakkan tataran pembangunan infrastruktur dalam suatu daerah yang akan memberikan efek langsung seperti kelancaran dalam pengalokasian hasil produksi dan bahan produksi untuk perusahaan.
            Berbeda lagi ketika nanti kita melakukan penilaian yang melalui sektor kebijakan yang di keluarkan oleh pemerintah dalam usaha menggerakkan sektor riil untuk melakukan meningkatkan kualitas dan kuantitas produksi yang dilakukan suatu perusahaan yang nantinya akan memberi balasan atau sumbangan terhadap devisa atau pendapatan suatu daerah. Kebijakan tersebut bisa berupa dalam kemudahan dalam melakukan perizian usaha, pembukaan lahan dalam perluasan lahan produksi yang biasanya dilakukan pada daerah yang tidak produktif seperti padang gambut denga harapan nantinya akan mebuka lebar peluang usaha yang akan terbentukatau aglomerasi industri dalam suatu wilayah.
            Pembukaan lahan untuk membuka akses transportasi seperti pembangunan jalan tol, kemudian pembebasan lahan dengan membuka jalan baru untuk pengalokasian dan pendistribusian ekonomi pedalaman dan penyaluran bantuan untuk pengembangan perekonomian masyarakat bawah. Dengan pembukaan jalan ini diharapkan anantinya memberikan kontribusi seperti terankatnya potensi suatu daerah yang selama ini masih menemui batasan akses pemasaran padahal hal tersebut mempunyai daya jual yang tinggi. Pengembangan ekonomi kreatif daerah yang semakin dpat di explor dengan berbagai inovatif dan kreatifitas seiring dengan berkembangnya pengetahuan yang di bawa masuk dalam suatu wilayah terseut. Keanekaragaman dan khas daerah juga akan menemui nilai jual yang tinggi untuk nantinya di publikasikan kepada masyarakat luas diluar untuk penguatan perekonomian daerah. Harapan yang sesungguhnya adalah pemerataan pditribusi pendapatan sehingga terdapat kesetabilan di dalamnya.
            Beralih dari campur tangan pemerintah kini beranjak pada sektor jasa keuangan atau sektor financial yang sebagai pengatur, penyedia, bahkan perumus dan penggerak dalam sektor keuangan. Dalam sektor ini adalah sektor yang sangat riskan ketika mengalami suatu prubahan kebijakan yang nantinya di ikut dengan perubahan perilaku yan dilakukan oleh sebagian besar pelaku ekonomi dalam suatu negara. Tenryata yang paling berpengaruh terkait adanya penurunan inflasi atau deflasi yang dialami perekonomian saat ini yang smapai memberikan kontribusi langsung terhadap penguatan nilai tukar rupiah terhadap dolar amerika yang di prediksikan akan terus meningkat ( trend positif ) karena kebijakan yang sedikit menggairahkan para pelaku ekonomi.
            Trend positif yang dirasa ini tidak lepas dari sektor industri yang bergerak di bidang ritel yang kini mengalami penurunan suku bunga kreditnya. tingkat suku bunga kredit dalam bidang ritel oleh bank BUMN berkisar 11,5%-12,25%, sedangkan bunga KPR dan non-KPR tercatat 8,6%-12,5%. Ini sudah menjadi langkah yang baik yang sudah dilakukan oleh pihak perbankan agar proses perputaran uang yang tinggi pada nanti akhirnya. Issue penurunan suku bunga acuan dan  bunga kredit juga menjadi gairah tersendiri yan dirasakan oleh para pebisnis yang berlaga dalam perekonomian saat ini. Belum lagi penurunan giro wajib minimum yang dilakukan oleh bank indonesia guna menggerakkan sektor keuangan dalam menyuplai modal untuk sektor riil.       Dengan demikian dapat dilakukan penerkaan akan hasil yang terkait trend nilai mata uang yang diprediksi aka mengalami trend positif.

0 komentar:

Posting Komentar