Blogroll

Kamis, 09 Juni 2016

Paradigma Kekrisisan Dan Ekonomi Kontemporer



Paradigma Kekrisisan Dan Ekonomi Kontemporer 

            Ada salah satu kalimat menarik dalam sebuah buku yang menuliskan bahwa Ilmu Ekonomi adalah ilmu yang sedih (dismal science) dimana ia selalu, selalu, dan lebih sering memprediksi tentang krisis daripada kemakmuran. Bahkan mungkin bagi kita yang tak asing lagi dengan nama Muhammad Chatib Basri, pernah mengatakan dalam tulisannya bahwa ilmu ekonomi adalah ilmu yang murung, ilmu ekonomi tak pernah luput dari istilah yang namanya “krisis”. Krisis merupakan satu-satunya topik dan bahasan yang tidak pernah absen dalam setiap peradaban, selalu menjadi perbincangan yang aktual khususnya dalam ilmu ekonomi. Krisis ekonomi bukanlah fenomena yang baru dalam suatu peradaban di dunia ini. Kemudian muncul pertanyaan, lantas bagaimana mekanisme terjadinya krisis? Jika memang kita paham tentang proses terjadinya krisis, bagaimana krisis bisa menggerogoti organ-organ vital perekonomian bak suatu virus yang menyerang sistem imun pada tubuh kita, mengerti tentang sumber terjadinya krisis, dan tahu bagaimana krisis bisa dengan cepat menyebar ke negara-negara lain, lantas apakah mungkin negara-negara di dunia bisa terlepas dan tidak dihantui dengan ancaman terjadinya suatu krisis?
            Sejarah telah mencatat deretan krisis yang pernah terjadi di negara-negara yang ada dunia ini. Pada tahun 1929 tepatnya tanggal 29 Oktober adalah awal mulai krisis ekonomi paling berat dan paling dahsyat yang pernah ada. Dimana peristiwa ini dikenal dengan sebutan ‘Black Tuesday’ yaitu krisis yang terjadi di Amerika Serikat yang ditandai dengan ambruknya pasar modal pada saat itu. Pada tahun 1930 sampai dengan awal tahun 1940, kemudian muncul peristiwa yang sama yakni krisis dengan sebutan The Great Depression. Krisis yang terjadi pada rentang tahun ini digambarkan dengan cepat dapat menyebar ke benua-benua tetangga seperti Benua Eropa (Perancis, Belanda, Jerman) Australia, Asia, dan bahkan sampai ke Afrika. Terjadinya the great depression disebabkan karena ekspansi moneter yang terjadi pada saat itu ditandai dengan credit booming. Sampai dengan bulan Oktober 1930, terdapat sekitar 744 bank yang kolaps atau mengalami kebangkrutan, sehingga nasabah kehilangan uangnya dan tidak kembali sejumlah 140 miliar USD, jutaan pusat industri yang tersebar di kota-kota pun ikut bangkrut yang menyebabkan angka pengangguran membludak tajam hingga mencapai sebesar 25% di tahun 1933. Demikian adalah gambaran umum secara singkat sejarah terjadinya krisis yang terjadi pada abad ke 19.
            Tidak cukup berhenti sampai disitu, di abad yang sama yakni abad ke-19 tepatnya pada tahun 1998, negara di dunia pun dikejutkan perisitiwa muram lagi dengan terjadinya krisis yang melanda di Asia. Dalam peristiwa ini, Indonesia menjadi salah satu korban ganasnya krisis moneter yang terjadi. Sejarah mengklaim krisis nilai tukar yang terjadi di Indonesia pada tahun 1997 hingga 1998 merupakan krisis moneter terparah yang terjadi di Asia Tenggara. Krisis bermula pada saat pemerintah orde baru menerapkan regulasi liberalisasi sektor keuangan, dimana liberalisasi yang terjadi pada sektor keuangan menyebabkan bertambah banyak atau menjamurnya bank-bank yang ada di dalam negeri. Pada saat itu syarat pendirian bank di permudah. Kredit mengalami pertumbuhan yang sangat signifikan. Hingga akhirnya berawal dari krisis nilai tukar Baht yang terjadi di Thailand merembet masuk dan berdampak pada negara Indonesia pada 2 Juli 1997, dengan cepat berkembang menjadi krisis ekonomi. Situasi yang terjadi pada saat itu menggambarkan terdepresiasinya nilai tukar rupiah terhadap USD yang sangat tajam telah membuat inflasi seketika membludak tinggi yang menyebabkan industri-industri di dalam negeri akhirnya gulung tikar dan menutup usahanya. PHK terjadi dimana-mana dan angka pengangguran menjadi bertambah, masyarakat yang jatuh miskin terus meningkat. Peristiwa ini kemudian berlanjut kepada investor-investor yang menarik danannya yang menyebabkan capital outflow karena panik, khawatir dan semakin tidak amannya situasi dan kondisi yang terjadi di Indonesia pada saat itu, hal ini semakin membuat rupiah terperosok tajam. Rasio kredit macet meningkat, akhirnya untuk menjaga kepercayaan masyarakat terhadap bank, pada saat itu pemerintah melakukan intervensi dengan meminta bantuan dana dari IMF. Krisis 1998 juga menjadi sejarah lengsernya rezim orde baru.
            Memasuki episode selanjutnya, tepatnya 10 tahun pasca krisis finansial yang melanda Asia, pada tahun 2008, dunia kembali diperkenalkan dengan istilah ‘Krisis Ekonomi Global’ Awal mula krisis ekonomi global yang terjadi pada tahun 2008 berawal dari Subprime Mortgage atau krisis surat utang berkualitas rendah di bank dan pasar keuangan AS yang menyebabkan neraca perbankan menjadi buruk telah merembet ke neraca pemerintah yang ikut memburuk. Memburuknya neraca pemerintah akan berakibat pada pengeluaran pemerintah untuk kesejahteraan warganya berkurang, sehingga pada saat yang bersamaan struktur perekonomian menjadi terganggu dan tingkat kesejahteraan akan menurun yang bermuara pada meningkatnya angka kemiskinan yang terjadi akibat krisis finansial ini.
            Kita dapat menarik kesimpulan bahwasanya dimensi dan ruang krisis ekonomi yang terjadi adalah berbeda-beda dari episode satu ke episode yang lainnya. Mekanisme bekerjanya suatu krisis pun berbeda. Namun krisis yang telah terjadi secara umum disebabkan karena adanya liberalisasi pada sektor keuangan. Kemudian bagaimana sikap kita seharusnya menanggapi hal yang demikian? Sebagian besar, krisis yang pernah terjadi sumbernya adalah dari lemahnya fundamental keuangan. Karena terbukti dari krisis 1929 sampai dengan krisis finansial tahun 2008 disebabkan karena sektor finansial berkembang lebih pesat dari pada sektor riil. Pada dasarnya perekonomian yang lebih didominasi oleh pesatnya berkembangan sektor finansial di tengah kolapsnya sektor riil juga merupakan penyebab munculnya bubble economic. Seperti pandangan para ahli ekonomi, bahwa pesatnya perkembangan sektor finansial yang terjadi pada negara emerging market justru sangat riskan terhadap krisis. Fenomena bubble economic ini mengakibatkan para pencari kerja tidak mempunyai harapan seiiring dengan meningkatnya pertumbuhan ekonomi.  
            Seiring berjalannya waktu, negara-negara di dunia, khususnya negara yang pernah dilanda krisis ganas beramai-ramai dan berlomba-lomba dalam menciptakan stabilitas sistem keuangan agar tahan terhadap tekanan yang disebabkan oleh internal maupun tekanan yang disebabkan dari faktor eksternal. Banyak sekali kebijakan-kebijakan anyar dalam sektor keuangan untuk bisa sedini mungkin mengantisipasi financial shock yang akan terjadi. Disini penulis menawarkan sebuah konsep bahwa untuk dapat mengantisipasi terjadinya sebuah krisis yang mungkin bakal terjadi di sebuah negara akibat financial shock, perlu dibuatkan adanya pembelajaran dan studi yang mendalam tentang “Ekonomi Kekrisisan”. Dimana di dalam spektrum ekonomi kekrisisan, nantinya akan mendalami hal-hal yang berkaitan dengan krisis ekonomi. Jadi di dalam disiplin ilmu ini atau lebih tepatnya di dalam paradigma ini, nantinya akan ada bagaimana mengelola krisis, sejarah krisis dari episode ke episode, sumber pemicu krisis, mekanisme terjadinya sebuah krisis, indikasi-indikasi yang menjadi alarm adanya sebuah krisis, dan ranah lingkup lainnya yang berhubungan dengan kekrisisan. Sehingga disini orang akan lebih mengerti dan paham tentang krisis secara mendalam. Jadi orang akan lebih mengerti kapan krisis akan terjadi, bagaimana sikap dan kebijakan ketika ada indikasi suatu perekonomian mengarah kepada krisis, bagaimana resiliensi suatu negara terhadap krisis yang mungkin sedang terjadi.
Sehingga hal ini akan menjadi early alarm atau peringatan dini untuk mencegah krisis ekonomi yang pemicunya adalah dari sektor keuangan (financial shock) yang nantinya akan bermuara terjadinya krisis pada sektor riil, sosial, dan krisis politik. Karena kita tidak tahu kapan krisis global akan terjadi lagi. Mungkin apa yang ditulis David M. Smick (Penasihat Ekonomi Para Presiden AS dari Demokrat dan Republik) dalam bukunya yang berjudul ‘Kiamat Ekonomi Global’ yang pernah saya baca sekilas, menyebutkan bahwa krisis yang pernah terjadi di tahun 2007-2008 barulah awal. Krisis yang terjadi pada tahun 2008 adalah krisis 10 tahun pasca krisis ekonomi yang terjadi di Asia pada tahun 1998. Kita juga tidak tahu bisa jadi krisis merupakan siklus 10 tahunan yang terjadi. Jika memang krisis merupakan siklus 10 tahunan, maka semoga di tahun 2018 justru malah sebaliknya, perekonomian dunia akan tumbuh berkualitas yang dapat menyebabkan naiknya taraf hidup penduduk di setiap negara, terutama Indonesia.

0 komentar:

Posting Komentar