Paradigma Mata Uang dalam Pembangunan
Nasional
Ade Linda
130810101076
Uang
adalah persediaan asset yang dapat dengan segera digunakan untuk melakukan
transaksi (Mankiw: 2007). Jadi pada dasarnya penggunaan uang dilakukan untuk
transaksi sehari-hari oleh masyarakat untuk mendapatkan sesuatu barang yang
mereka inginkan. Barang tersebut memiliki kegunaan ekonomis dan juga menjadi
barang yang dibutuhkan oleh masyarakat itu sendiri. Sehingga, penggunaan uang
sangat dibutuhkan oleh setiap manusia yang hidup di dunia ini. Tanpa di sadari
atau tidak semua barang memiliki nilai ukur dan tidak terlepas akan berkaitan
mengenai uang.
Selama
beberapa masa, uang mengalami perkembangan, dari masyarakat primitif yang masih
menggunakan sistem barter sampai yang sekarang alat transaski secara modern.
Barter merupakan sistem pembayaran yang masih bersifat tradisional karena
penggunaannya masih tergolong memiliki kelemahan berupa “double coincidence of want”. Syarat ini menyebabkan perekonomian
barter tidak efisien, kesulitan lainnya adalah tidak ada terdapatnya
kesepakatan standar mengenai nilai suatu barang (Sri Mulyani: 1988). Jadi
dengan kelemahan ini lah yang membuat sistem barter mengalami pergeseran, pada
saat dulu bentuk uang masih sangat sederhana tidak seperti sekarang yang
memiliki bentuk serta ciri khas yang berbeda tiap negara. Saat itu, bentuk mata
uang masih menggunakan barang-barang sederhana. Pada tahap permulaan masyarakat
kuno belum menciptakan bentuk uang secara khusus, tetapi menggunakan benda atau
komiditi yang sudah ada pada saat itu dan dinilai cukup berharga untuk dianggap
sebagai uang oleh sebab karenanya bentuk uang berbeda-beda di tiap daerah,
benda yang pernah berperan sebagai uang misalnya kerang, pisau, garam, gigi,
binatang, bulu binatang dan lain-lain ( Sri Mulyani: 1988 ). Seperti yang
berdasarkan oleh buku pengarang Sri Mulyani pada saat itu bentuk uang masih
bersifat sangat sederhana dan masih belum merata tiap daerah sehingga nominal
nya tidak bisa di jelaskan sejelas mungkin. Kemudian karena bentuk mata uang
tersebut masih belum merata di tiap negara maka terjadi perubahan atau lebih
tepat nya pergeseran pada bentuk uang. Maka yang sebelumnya mata uang memiliki
bentuk seperti kerang maka berganti menjadi bentuk koin yang terbuat dari emas.
Tapi pergeseran ini juga tidak berlangsung lama, disebabkan karena sama hal nya
dengan yang dibicarakn di uang kerang, karena koin emas tidak bisa menunjukan
nilai pada barang yang sebenarnya. Kemudian muncul alat pembayaran lainnya yang
seperti penggunaan uang kartal. Uang kartal adalah uang yang bentuknya berupa
koin dan juga kertas yang biasa digunakan sehari-hari oleh masyarakat di zaman
ini.
Di
zaman yang sudah modern ini, uang kini menjadi suatu kebutuhan atau vital bagi
perekonomian khususnya transaksi yang dilakukan masyarakat sehari-hari. Orang
kini berlomba-lomba memupuk kekayaan mereka agar memiliki uang yang banyak,
uang yang banyak akan membuat masyarakat dengan mudah mendapatkan barang yang
di inginkannya dari yang memiliki “brand” biasa maupun yang berkelas
internasional. Tidak jarang uang ditunjukan sebagai identitas manusia di dalam
masyarakat. Jadi uang tidak hanya di jadikan sebagai alat pembayaran tetapi
juga bisa di katakan menjadi penunjuk status atau derajat seseorang di tengah
masyarakat.
Kemudian
dari penjelasan tersebut maka dapat disimpulkan bahwa uang memiliki fungsi yang
berbeda dengan benda lainnya. Fungsi tersebut adalah :
1. Sebagai
satuan hitung (unit of account )
2. Alat
transaksi ( medium of exchange )
3. Penyimpan
nilai ( store of value )
4. Standar
pembayaran di masa mendatang ( standard of Deffered Payment )
Dunia
kini sudah mengenal globalisasi. Globalisasi ada di tandai dengan kemajuan
suatu teknologi di berbagai negara baik di negara berkembang maupun negara
maju. Yang membedakan antara negara maju dan berkembang adalah penggunaan
kemajuan dari teknologi yang dipakai. Satu hal, teknologi kini merambah pada
pemakaian uang. Kecanggihan teknologi pun merambah dalam sistem pembayaran
seperti penggunaan Alat Pembayaran
dengan Menggunakan Kartu (APMK) seperti ATM, Debet dan Kredit. Penggunaan yang
biasa di pakai oleh masyarakat umum adalah ATM, berdasarkan wikipedia ATM (bahasa
Indonesia: Anjungan Tunai Mandiri atau
dalam bahasa
Inggris: Automated Teller Machine)
adalah sebuah alat elektronik yang melayani nasabah bank untuk mengambil uang dan mengecek rekening tabungan mereka
tanpa perlu dilayani oleh seorang "teller" manusia. Sedangkan debit
sendiri merupakan alat elektronik yang hampir sama kegunaannya dengan kartu ATM
yang membedakannya adalah bahwa kartu debit ini bisa digunakan dengan alat bernama
EDC yang berbentuk kecil yang biasanya terdapat di pusat perbelanjaan. Jadi
disini pengguna tidak perlu ke mesin ATM, tapi cukup memberikan kartu debit
kepada pelayan maka secara otomatis pelayan tersebut akan menggesekan kartu ke
mesin EDC. Jadi secara otomatis uang akan diambil oleh alat ini dan nanti di
rekening tabungannya akan ada keterangan pengambilan. Sedangkan kartu kredit
sendiri pengunaannya juga hampir sama hanya yang membedakan adalah ketika
memakainya dan melakukan transaksi maka akan dianggap hutang pada pemakai. Orang
kini tidak perlu repot-repot membawa uang banyak di dompet. Dengan membawa satu
kartu saja, masyarakat tidak perlu takut keberatan. Masyarakat cukup
menabungkan uang nya di bank – bank umum yang mereka pilih. Misalnya saja Dewi
memiliki uang sebesar Rp. 1.000.000,00 kemudian Dewi menabungkannya di Bank A
sebesar yang dimiliki atau keinginannya untuk di tabung. Maka di tabungannya
Dewi ia telah memiliki uang sekian. Jadi suatu saat apabila Dewi membutuhkan
uang ketika ia berbelanja atau lainnnya ia hanya perlu memasukan kartu kredit
nya ke tempat ATM yang disediakan oleh bank umum itu sendiri di titik tempat
tertentu. Penggunaan kartu kredit ini sangat bermanfaat bagi masyarakat sudah
mengglobal. Di dunia yang global ini masyarakat dituntut untuk melakukan suatu
kepraktisan dalam bertindak.
Selain
penggunaan Alat Pembayaran dengan Menggunakan Kartu adapula alat penggunaan
dengan menggunakan uang elektronik. Berdasarkan wikipedia uang elektronik ( atau uang digital atau
e-money) adalah uang yang digunakan
dalam transaksi internet dengan cara elektronik. Biasanya, transkasi ini
melibatkan penggunaan jaringan komputer (seperti internet dan sistem
penyimpanan harga digital). Manfaat yang dirasakan dengan menggunakan e-money
adalah kepraktisan penggunanya dalam membawa maupun bertransaksi sehari – hari.
Jadi definisi uang kini tidak hanya lagi pada terfokus pada uang kartal (uang
koin dan kertas) tetapi definisi uang bisa juga yang lain Seperti yang
diungkapkan oleh Sri Mulyani (1988) pada mulanya, yang dimasukkan dalam
definisi uang hanyalah uang kartal (yang terdiri uang koin dan uang kertas)
yang beredar di masyarakat. Kemudian, dengan berkembangnya peranan bank, yang
termasuk sebagai uang adalah uang kartal dan uang giral (demand deposit). Jadi orang kini tidak hanya mengenal uang kertas
tetapi juga mengenal uang giral. Sesuai dengan kemajuan teknologi. Perkembangan
jenis-jenis uang ini mengikuti perkembangan kebutuhan sarana pembayaran dan
transaksi dalam perekonomian (Sri Mulyani: 1988). Seperti yang dilansir pada
sebuah media online Sindonews.com terkait berita mengenai Bank Indonesia
mengingkatkan uang non tunai kepada masyarakat. Dimana Bank Indonesia terus
melakukan peningkatan dan berusaha dalam pertumbuhan uang listrik ( e-money )
ini disebabkan terjadi pertumbuhan transaksi elektronik domestik tapi nyatanya
untuk penggunaan sendiri masih sedikit yang menggunakan uang elektronik.
Padahal, peredaran uang elektronik sudah ada sejak beberapa tahun silam tapi
perkembangan pemakainnya masih saja tidak terlalu menunjukan tingkat yang
tinggi. Padahal Bank Indonesia mengharapkan agar masyarakat banyak yang memakai
pemakian uang non tunai. Karena akan ada banyak kemudahan yang di dapatkan
setelah memkai penggunaan uang non tunai. Seperti yang di lansir yaitu
memudahkan dalam melakukan transaksi pembayaran bagi masyarakat, lebih dapat
menghemat waktu bagi si pengguna dalam bertransaksi.
Bentuk
e-money merupakan salah satu alat pembayaran peningkatan infanstruktur di
bidang pembayaran. Jadi, Bank Indonesia mengharapkan ke depannya Indonesia
dapat menggunakan dan mewujudkan pembayaran dengan uang non tunai, dimana
jumlah daftar penerbit uang elektronik berjumlah Sekitar 20 nama penerbit
(sumber: bi.go.id). salah satu penerbit yang mengeluarkan sistem uang
elektronik adalah PT. Telekomunikasi Indonesia atau biasa di singkat dengan PT.
Telkom. PT. Telkom merupakan sebuah perusahaan yang terdapat di Indonesia,
dimana perusahaan tersebut bergerak di informasi dan jasa pada bidang
komunikasi dengan pelanggan seluler sebanyak 140 juta. Adapun banyak hal
terobosan yang dilakukan oleh PT. Telkom demi memuaskan pelanggannya seperti
hal nya dengan dikeluarkannya alat pembayaran uang elektronik beruapa T-Cash.
T-Cash merupakan layanan uang elektronik dari telkomsel dengan media melalui
Ponsel. Sebenarnya T-Cash hampir sama dengan pulsa yang sering dipakai
oleh masyarakat sehari-hari hanya yang
membedakannya adalah bahwa pulsa T-Cash ini dapat dipakai atau digunakan
sebagai alat pembayaran di merchant yang bekerjasama dengan T-Cah iut sendiri.
Pada prinsipnya hampir sama pemakainnya dengan uang elektronik lainnya hanya
saja T-Cash ini lebih muda digunakan untuk bertransaksi. Tetapi penggunaan ini
hanya bisa di pakai atau digunakan oleh pelanggan dengan menggunakan kartu
Simpati, Hallo dan AS atau dengan prabayar operator Telkomsel. Bagi pelanggan
yang ingin melakukan hal seperti ini, pelanggan hanya cukup mendaftarkan
penggunan T-Cash ini melalui SMS atau juga bisa dengan mendaftar kan ke Grapari
Telkomsel yang menyediakan layanan ini. Sistem T-Cash ini menggunakan NFC tag
yang dipasangkan dengan akun T-Cash. Kemudian pelanggan akan diberi sebuah
stiker berlogo T-Cash yang nantinya akan di pasang pada Smartphone pelanggan.
Maksimal pengisiannya adalah sebesar 5 juta yang bisa di isi di gerai telkomsel
ataupun juga bisa di indomaret terdekat. Sistem NFC ( Nier Field Communication
) adalah merupakan bentuk komunikasi nirkabel jarak pendekd dimana antena yang
digunakan lebih pendek dari pada gelombang sinyal operator yang mencegah
interfensi gelombang dari antena yang sama (sumber: wikipedia).
Sistem
NFC ini sudah sering dipakai di negara-negara lain seperti hal nya di negara
Korea Selatan. Dimana penggunaan sistem NFC sudah biasa sering dipakai seperti
halnya di Korea Selatan terdapat penggunaan pembayaran menaiki bus dengan
menggunakan jam tangan oleh si pengguna. Si pengguna hanya cukup menyentuhkan
jam tangan mereka ke mesin NFC yang berada di tempatnya maka secara otomatis
saldo akan berkurang sesuai dengan jumlah harga bus tersebut. Jam tangan ini
sudah dipasang NFC di dalam jam tangan pengguna. Jadi pengguna tidak perlu
memberikan uang kepada sopir bus. Ini mengakibatkan rasa nyaman bagi pengguna
dan juga supir bus tersebut. Itulah sekilas mengenai penggunaan sistem NFC di
korea selatan. Seperti hal nya Korea
Selatan, sistem ini juga mulai diterapkan di Indonesia yang notabennya memiliki
penduduk yang sangat banyak. Sehingga ini membuat setiap harinya butuh beberapa
lembar uang yang dipakai. Kembali lagi dengan pembahasan mengenai T-Cash yang
sudah menerapkan sistem NFC untuk menunjang kemudahan bagi pelanggan. Kemudian,
Menurut sumber berita online Kontan.id jumlah pengguna T-Cash di indonesia di
tahun 2015 sudah sebanayak 17 juta pelanggan. Lalu apa yang menjadi manfaat
bagi pengguna T-Cash, bagi pengguna T-Cash mereka mendapatkan kemudahan dalam
bertransaksi atau T-Cash dapat dipakai di beberapa merchant seperti McDonalds,
Coffe Been, Baskin Rabbin, Indomaret, Seven Eleven, Gramedia, dll. Demi
meninkatkan dan menargetkan jumlah pengguna, pihak T-Cash melakukan berbagai
hal seperti hal nya dengan melakukan promosi melalui iklan, melakukan promosi.
Hal itu dilakukan agar pengguna T-Cash semakin puas dengan memakai T-Cash.
T-Cash merupakan salah satu wujud dari transaksi elektronik yang telah bekerja
sama dengan Bank Indonesia sehingga pihak Telkomsel dapat melakukan berbagai
hal untuk meningkatkan jumlah konsumen, tetapi meskipun begitu, pihak telkomsel
tidak boleh melakukn tindakan yang dapat merugikan negara misalnya mengeluarkan
sesuatu tanpa se izin oleh Bank Indonesia yang memiliki hak kewenangan. Dengan
begitu tidak ada pihak yang di rugikan, Telkomsel menjadi salah satu yang dapat
membantu cita-cita atau harapan dari Bank Indonesia yang menginginkan adanya
kenaikan pada pengguna uang non tunai dan dapat mengurangi anggaran penciptaan
uang tunai rupiah.
Lalu
apa yang menjadi perbedaan uang elektronik lain dengan T-Cash. Pertanyaan
tersebut tentu nya akan ada di pikiran konsumen. Perbedaan yang mendasar adalah
bahwa T-Cash ini sebuah inovasi yang dilakukan oleh PT. Telkomsel, disini dapat
di ketahui bahwa sejak dulu Telkomsel sudah menjadi sahabat komunikasi
masyarakat indonesia. Jaringan radar sinyal nya pun sudah meluas dan terkenal akan memiliki sinyal
seluler yang kuat dan dapat menjangkau daerah manapun. Sehingga bagi pengguna
yang menggunakan Telkomsel tidak perlu merasa kerepotan. Ditambah lagi dengan
masyarakat Indonesia yang gemar memakai Smartphone. Berdasarkan kutipan berita
dari media online Okezone.com pada akhir tahun 2015 pengguna Smartphone
Indonesia sebanyak 55 juta pengguna dan ini berakibat pula pada penggunaan
tumbuhnya internet di tanah air sebab rata-rata pengguna mengakses internet
menggunakan dengan mobile sendiri. Ke praktisan menjadi alasan lebih banyak
penggguna mengakses dengan menggunakan mobile. Jika dilihat ini, Telkomsel
mengeluarkan T-Cash karena target nya adalah orang- orang yang menggunakan atau
memakai Smartphone. Dan bila di jadikan satu maka pengguna T-Cash mendaptkan ke
praktisan yaitu selain smartphone mereka dapat dipakai untuk melakukan
komunikasi, yang di fungsi selanjutnya adalah digunakan untuk bertransaksi
secara online. Tetapi perlu diperhatikan sistem T-Cash ini menggunakan
Smartphone dan stiker T-Cash, masyarakat masih belum di sosialiasasikan atau
belum ada penelitian mengenai dampak pemakaian sistem uang elektronik yang
menempel pada smartphone.
Tetapi
penggunaan e-money T-Cash masih belum bisa secara menyuluruh di pakai oleh
masyarakat Indonesia. hanya beberapa sekian yang sudah memanfaat kan kemajuan
ini. Ini bisa dilihat dari jumlah dari penggunanya yang sebesar 17 juta. Maka
ini dapat disimpulkan bahwa penggunaanya masih belum sepenuhnya merasakan,
karena masih banyak sebagian masayarakat yang belum mengetahui apa sebenarnya
itu T-Cash. Apalagi dengan keterbatasan penggunanya dalam melakukan transaksi.
Karena hanya beberapa yang bekerja sama dengan telkomsel seperti indomaret,
McDonalds dll. Jadi penggunanya hanya bisa memakai T-Cash ke pada
tempat-temopta yang bekerja sama dengan T-Cash. Di tempat yang belum bekerja
sama masih belum bisa digunakan pembayaran T-Cash, maka tetap saja pengguna
akan tetap memakai transkasi uang tunai.
Lalu
apakah sistem ini benar-benar bisa dipakai di Indonesia ? apa kelemahan dari
penggunaan ini ? sistem pembayaran ini memang sangat baik apabila dilihat dari
segi ke globalisasiannya, karena ini dapat memudahkan bagi pelanggannya dalam
bertransaksi. Apalagi dengan kecanggihan, modern di dunia ini. Tapi selain
memiliki keuntungan ada bebarap hal yang menjadi kelemahan. T-Cash memang
merupakan sebuah inovasi di bidang alat pembayaran, inovasi yang dapat
memudahkan bagi pemakainya. Dimana seseorang tersebut menginginkan adanya
sebuah kemudahan di dalam transaksi dimana pun adan kapanpun dengan mudah,
cepat dan ringan. Itu adalah pemikiran yang dirancang oleh para inovator dalam
menemukan sebuah inovasi dibidang alat pembayaran. Lalu apakah sistem ini siap negeri
ini memakai sistem t-cash dalam bertransaksi ? seperti halnya keuntungan yang
dapat dirasakan adalah beruapa lebih cepat dalam bertansaksi dan membutuhkan
waktu yang tidak lama dalam memakainya, adanya sistem pasword yang berfungsi
untuk mengecek saldo dan sebagainya. Kemdudian pertanyaan selanjutnya adalah
apakah sistem ini dapat dipakaioleh masyarakat menengah ke bawah ? diamna
notabennya masyarakat bawah masih belum mengetahui t-cash atau alat pembayaran
uang elektronik. Karena hanya beberapa kalangan yang menengetahuinya dan
pemanfaatannya ini masih dirasa belum merata di Indonesia. kemudian sistem
sangat tidak efektif bagi masyarakat bawah karena kita harus melihat beberapa
pertimbangan, dimana ketika negeri ini menerapakan sistem t-cash, para penjual
di pasar, ojeg dan lain-lainnya harus memiliki alat media NFC T-Cash tersebut.
Begitupun juga bagi para penjual di pasar tradisional maka mereka harus memiliki
alat nya. Sistem ini mungkin hanya bisa dipakai beberapa tempat tertentu
seperti pusat perbelanjaan, sistem ini sangat tidak coco apabila di gunakan di
tempa-tempat yang tradisional. Mungkin
alasan selanjutnya selain memudahkan dalam bertransaksi ada pula alasan lain
yaitu untuk mengurangi bentuk kecurangan atau tindakan kriminal yang dilakukan
pihak-pihak yang tak patut. Kemajuan teknologi memudahkan orang dapat melakukan
sesuatu hal seperti hal nya pemlasuan mata uang rupiah dan mengurangi jumlah uang beredar di tangan
masyarakat.
Sistem
ini memang sangat membantu bagi kelangsungan transaksi pembayaran apapun karena
bersifat online,dan pembayaran ini menunjukan kemajuan dari negara yang
memakai. Tetapi disini dilihat penggunaannya, meskipun teknologi semakin maju
maka perlu diperhatikan kegunaannya, bilapun terdapat sebuah inovasi. Ini
bertujuan seolah-olah pengguna atau masyarakat diberi kemudahan dalam bertindak
samahalnya bertransaksi. Dan pula, ini dapat di manfaatkan sedemikian tugas nya
pembayaran, dan tidak untuk di gunakan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung
jawab. Dengan hal seperti itu, maka sebagai warga negara Indonesia tindakan
tersebut dapat membantu tugas dari Bank Indonesia, pemerintah dan menciptkan
kesejahteraan dan keseimbangan bagi perekonomian negara Indonesia.
Referensi
:
Indrawatii S.M. 1988. Teori Moneter.
Jakarta: Lembaga Penerbt Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia
Mankiw N.G. 2007. Makroekonomi
Edisi Keenam. Jakrta: Penerbit Erlangga
Rahardja P. Manurung M. 2008.
Pengantar Ilmu Ekonomi Edisi Ketiga. Jakarta: Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi
Universitas Indonesia.
https://digitalpayment.telkomsel.com/
[ 29 Februaru 2016 ]
http://techno.okezone.com/read/2015/09/19/57/1217340/2015-pengguna-smartphone-di-indonesia-capai-55-juta
[04 Maret 2016]
http://www.bi.go.id/id/sistem-pembayaran/instrumen-nontunai/unik/Contents/Default.aspx
[04 Maret 2016]
http://www.bi.go.id/en/statistik/sistem-pembayaran/uangelektronik/Documents/Daftar%20
Penerbit%20 Uang%20Elektronik%20JAN16%20en.pdf [ 29 Februari 2016]
https://id.wikipedia.org/wiki/Uang_elektronik
[ 04 Maret 2016 ]






0 komentar:
Posting Komentar