PENGUATAN
NILAI TUKAR OLEH HARGA MINYAK
Oleh Qori Dhika Andria
Melihat
berita tersebut bahwa rupiah menguat di akibat kan harga minyak naik dan
dikarenakan nilai tukar Dollar melemah. Tidak hanya mata uang rupiah yang
diduga menguat dari awal tahun 2016 ini. Terdapat 3 mata uang yang sudah bisa
dikatakan menguat, yaitu rupiah, ringgit Malaysia, dan rupee India. Sudah di
cantumkan bahwa rupiah menguat 0,5 persen, ringgit Malaysia menguat 0,4 persen
dan rupee India menguat 0,3 persen, ini dapat di katakan bahwa menurunnya atau
melemahnya nilai tukar Dollar sangat berpengaruh terhadap nilai tukar mata uang
di negara-negara Asia. Tidak hanya berpengaruh terhadap nilai tukar mata uang
di negara-negara Asia saja, melemahnya Dollar AS juga dapat mempengaruhi harga-harga
barang dan jasa di setiap negara bagian Asia. Rupiah
berada di level 13.277 per Dolar AS pada pukul 12.15 WIB. Level tersebut
menguat jika dibandingkan dengan pembukaan yang ada di level 13.295 per dolar
AS dan juga jika dibandingkan dengan penutupan kemarin yang ada di level 13.346
per dolar AS. Sejak pagi hingga siang hari ini, rupiah berada di kisaran 13.257
per dolar AS hingga 13.325 per dolar AS. Jika dihitung sejak awal tahun, rupiah
telah menguat 3,71 persen (Bloomberg, 02 Maret 2016). Ini sangat bisa dikatakan
bahwa menguatnya rupiah bertahap hingga akhir berita tersebuta diterbitkan.
Sedangkan
dalam catatan Badan Pusat Statistik (BPS) dikatakan bahwa bertepatan pada bulan
lalu tepatnya bulan Februari 2016 telah terjadi deflasi sebesar 0,09. Sedangkan
pada bulan Januari telah terjadi inflasi sebesar 0,51 persen, dapat dikatakan
kondisi tersebut sangat lah berbeda antara bulan januari dengan bulan Februari.
Adapun tingkat inflasi untuk tahun kalender
(Januari–Februari) 2016 tercatat sebesar 0,42 persen. Dan tingkat inflasi untuk
tahun ke tahun (Februari 2016 terhadap Februari 2015) sebesar 4,42 persen (BPS,
2016). Inflasi itu sendiri merupakan masalah ekonomi yang dominan disamping
masalah pengangguran yang telah lama menjadi masalah yang sulit sekali di
berantas oleh masyarakat terutama oleh pemerintah di seluruh dunia teruma di
Indonesia. Inflasi adalah suatu kenaikan
harga yang terus menerus dari barang-barang dan jasa secara umum (bukan
satu macam barang saja dan sesaat). Menurut definisi ini kenaikan harga yang
sporadis bukan dikatakan sebagai inflasi (Ackley, 1978).
Dapat dikatan terjadi nya inflasi salah satunya adalah
permintaan terhadap uang yang meningkat dan jumlah uang yang beredar di
masyarakat juga ikut meningkat. Teori inflasi yang bersifat Ekliktik yang
dikemukakan oleh Keynes yang mengatakan bahwa kenaikan pengeluaran diatas nilai
output pada harga tertentu akan menyebabkan inflasi, begitu inflasi mencul
aparat kelembagaan serta struktur kelembagaan akan menentukan perilaku serta daya
tahan inflasi. Pendekatan ini pada dasarnya mennganggap bahwa inflasi merupakan
maslah ekonomi dan gejala ekonomi yang disebabkan karena berbagai isyu yang
berinteraksi secara luas. Yang selaanjutnya kita dapat mampu
mengidentifikasikan manakah faktor yang dominan yang harus diperhatikan sebagai
penyebab utama perubahan indeks harga. Menurut teori ini tingkat harga
dipengaruhi oleh beberapa perubahan luar
(exogenous variables), dimana menurut mereka hubungan antara perubahan harga
dengan perubahan luar ini tidak stabil, variasi perubahan luar mungkin berbeda
dari waktu ke waktu dan dari tempat ke tempat yang lain (Iswardono, 1999).
Salah satu yang masih hangat diperbincangkan secara luas
adalah masalah inflasi-impor. Tidak dapat dipungkiri bahwa nilai tukar mata
uang juga merupakan salah satu penyebab terjadinya inflasi.
Salah satu yang bersifat fiskal akan nampak bhawa peranan JUB
dalam menentukan inflasi di Indonesia tidak begitu menyolok lagi atau faktor
yang bersifat fiskal khususnya pengeluaran pemerintah (defisit anggaran)
berpengaruh mendorong laju inflasi di Indonesia. Selanjutnya faktor bersifat
struktural pun semakin kelihatan peranannya dalam meredam laju kenaikan inflasi
di Indonesia. Ini berarti bahwa kenaikan pendapatan nasional, yang disebabkan
tidak hanya dari kenaikan minyak bumi, mampu meningkatkan produksi domestik
sehingga tidak lagi menunjukkan kekurangan produksi di dalam negeri. Sedangkan
faktor luar negeri juga semakin dominan dalam artian bahwa semakin terbukanya
suatu negara pada sektor luar negeri akan berpengaruh juga terhadap kenaikan
laju inflasi di Indonesia (Iswardono, 1999).
Ekonom Samuel Sekuritas Rangga Cipta menjelaskan, rupiah
masih melanjutkan tren penguatan bersamaan dengan pelemahan dolar terhadap
beberapa nilai tukar mata uang negara-negara di Asia. "Inflasi Februari 2016 yang diumumkan naik hanya
memberikan efek negatif yang minimal terlihat juga dari imbal hasil SUN 10
tahun yang turun tipis setelah beberapa hari sebelumnya mengalami
kenaikan," jelasnya.Dari eksternal harga minyak yang konsisten naik akan
terus memberikan dorongan penguatan ke rupiah serta aset berdenominasi rupiah
lainnya.






0 komentar:
Posting Komentar