Blogroll

Jumat, 10 Juni 2016

PENGUATAN NILAI TUKAR OLEH HARGA MINYAK

PENGUATAN NILAI TUKAR OLEH HARGA MINYAK
Oleh Qori Dhika Andria

Melihat berita tersebut bahwa rupiah menguat di akibat kan harga minyak naik dan dikarenakan nilai tukar Dollar melemah. Tidak hanya mata uang rupiah yang diduga menguat dari awal tahun 2016 ini. Terdapat 3 mata uang yang sudah bisa dikatakan menguat, yaitu rupiah, ringgit Malaysia, dan rupee India. Sudah di cantumkan bahwa rupiah menguat 0,5 persen, ringgit Malaysia menguat 0,4 persen dan rupee India menguat 0,3 persen, ini dapat di katakan bahwa menurunnya atau melemahnya nilai tukar Dollar sangat berpengaruh terhadap nilai tukar mata uang di negara-negara Asia. Tidak hanya berpengaruh terhadap nilai tukar mata uang di negara-negara Asia saja, melemahnya Dollar AS juga dapat mempengaruhi harga-harga barang dan jasa di setiap negara bagian Asia. Rupiah berada di level 13.277 per Dolar AS pada pukul 12.15 WIB. Level tersebut menguat jika dibandingkan dengan pembukaan yang ada di level 13.295 per dolar AS dan juga jika dibandingkan dengan penutupan kemarin yang ada di level 13.346 per dolar AS. Sejak pagi hingga siang hari ini, rupiah berada di kisaran 13.257 per dolar AS hingga 13.325 per dolar AS. Jika dihitung sejak awal tahun, rupiah telah menguat 3,71 persen (Bloomberg, 02 Maret 2016). Ini sangat bisa dikatakan bahwa menguatnya rupiah bertahap hingga akhir berita tersebuta diterbitkan.
Sedangkan dalam catatan Badan Pusat Statistik (BPS) dikatakan bahwa bertepatan pada bulan lalu tepatnya bulan Februari 2016 telah terjadi deflasi sebesar 0,09. Sedangkan pada bulan Januari telah terjadi inflasi sebesar 0,51 persen, dapat dikatakan kondisi tersebut sangat lah berbeda antara bulan januari dengan bulan Februari. Adapun tingkat inflasi untuk tahun kalender (Januari–Februari) 2016 tercatat sebesar 0,42 persen. Dan tingkat inflasi untuk tahun ke tahun (Februari 2016 terhadap Februari 2015) sebesar 4,42 persen (BPS, 2016). Inflasi itu sendiri merupakan masalah ekonomi yang dominan disamping masalah pengangguran yang telah lama menjadi masalah yang sulit sekali di berantas oleh masyarakat terutama oleh pemerintah di seluruh dunia teruma di Indonesia. Inflasi adalah suatu kenaikan  harga yang terus menerus dari barang-barang dan jasa secara umum (bukan satu macam barang saja dan sesaat). Menurut definisi ini kenaikan harga yang sporadis bukan dikatakan sebagai inflasi (Ackley, 1978).
Dapat dikatan terjadi nya inflasi salah satunya adalah permintaan terhadap uang yang meningkat dan jumlah uang yang beredar di masyarakat juga ikut meningkat. Teori inflasi yang bersifat Ekliktik yang dikemukakan oleh Keynes yang mengatakan bahwa kenaikan pengeluaran diatas nilai output pada harga tertentu akan menyebabkan inflasi, begitu inflasi mencul aparat kelembagaan serta struktur kelembagaan akan menentukan perilaku serta daya tahan inflasi. Pendekatan ini pada dasarnya mennganggap bahwa inflasi merupakan maslah ekonomi dan gejala ekonomi yang disebabkan karena berbagai isyu yang berinteraksi secara luas. Yang selaanjutnya kita dapat mampu mengidentifikasikan manakah faktor yang dominan yang harus diperhatikan sebagai penyebab utama perubahan indeks harga. Menurut teori ini tingkat harga dipengaruhi  oleh beberapa perubahan luar (exogenous variables), dimana menurut mereka hubungan antara perubahan harga dengan perubahan luar ini tidak stabil, variasi perubahan luar mungkin berbeda dari waktu ke waktu dan dari tempat ke tempat yang lain (Iswardono, 1999).
Salah satu yang masih hangat diperbincangkan secara luas adalah masalah inflasi-impor. Tidak dapat dipungkiri bahwa nilai tukar mata uang juga merupakan salah satu penyebab terjadinya inflasi.
Salah satu yang bersifat fiskal akan nampak bhawa peranan JUB dalam menentukan inflasi di Indonesia tidak begitu menyolok lagi atau faktor yang bersifat fiskal khususnya pengeluaran pemerintah (defisit anggaran) berpengaruh mendorong laju inflasi di Indonesia. Selanjutnya faktor bersifat struktural pun semakin kelihatan peranannya dalam meredam laju kenaikan inflasi di Indonesia. Ini berarti bahwa kenaikan pendapatan nasional, yang disebabkan tidak hanya dari kenaikan minyak bumi, mampu meningkatkan produksi domestik sehingga tidak lagi menunjukkan kekurangan produksi di dalam negeri. Sedangkan faktor luar negeri juga semakin dominan dalam artian bahwa semakin terbukanya suatu negara pada sektor luar negeri akan berpengaruh juga terhadap kenaikan laju inflasi di Indonesia (Iswardono, 1999).

Ekonom Samuel Sekuritas Rangga Cipta menjelaskan, rupiah masih melanjutkan tren penguatan bersamaan dengan pelemahan dolar terhadap beberapa nilai tukar mata uang negara-negara di Asia. "Inflasi Februari 2016 yang diumumkan naik hanya memberikan efek negatif yang minimal terlihat juga dari imbal hasil SUN 10 tahun yang turun tipis setelah beberapa hari sebelumnya mengalami kenaikan," jelasnya.Dari eksternal harga minyak yang konsisten naik akan terus memberikan dorongan penguatan ke rupiah serta aset berdenominasi rupiah lainnya. 

0 komentar:

Posting Komentar