Blogroll

Jumat, 10 Juni 2016

PERLAMBATAN EKONOMI DAN PENGANGGURAN


PERLAMBATAN EKONOMI DAN PENGANGGURAN
Oleh : Eka Wahyu Utami
Fakultas Ekonomi , Universitas Jember

Banyak definisi terkait pengangguran yang telah diungkapkan oleh para ahli di masing – masing disiplin ilmunya. Pada intinya pengangguran diartikan sebagai masalah yang serius dalam sebuah negara. Pengangguran merupakan seorang atau lebih yang telah cukup umur dimana mereka sudah mampu dan sangat menginginkan sebuah pekerjaan untuk memenuhi kebutuhan mereka sehari – hari namun tidak ada kesempatan kerja yang menerimanya. Hal ini dapat disebabkan oleh beberapa faktor seperti kesempatan kerja tidak sesuai dengan pelamar kerja, skill yang mereka miliki tidak ada, pendidikan rendah ataupun syarat – syarat tertentu yang tidak dipenuhi dan lain sebagainya. Masalah pengangguran sendiri tergantung dari macam – macam jenisnya. Ada pengangguran friksional, pengangguran musiman, pengangguran struktural dan pengangguran cyclical.
Pengangguran friksional terjadi ketika seseorang telah berhenti dari pekerjaannya dan sedang atau terus mencari pekerjaan yang baru. Akan tetapi ada waktu yang harus dilalui terlebih dahulu. Mereka tidak akan langsung mendapatkan pekerjaan karena mereka harus menyesuaikan diri terlebh dahulu. Hal ini terjadi biasanya karena ada ketidaksesuaina antara permintaan dan juga ketidakcocokan gaji. Pengangguran jenis ini hanya berlaku disaat yang semnetara saja, karena mereka akan kembali bekerja ketika telah menemukan pekerjaan yang cocok dengan skill serta kemampuan mereka.
Pengangguran musiman ini terjadi pada musim – musim tertentu saja. Dimana jasa akan dibutuhkan pada saat dibutuhkan dan kembali menjadi pengangguran ketika sudah tidak dibutuhkan lagi. Seperti contohnya pada pertanian. Apabila tidak ada musim tanam dan panen , maka para buruh akan kembali menjadi pengangguran seperti biasanya jika mereka tidak memiliki pekerjaan yang lain. Seperti pada nelayan pun juga demikian, pada saat – saat tertentu mereka dilarang untuk turun ke laut untuk mencari ikan sehingga mereka akan kembali menjadi seorang pengangguran pada saat tersebut.
Pengangguran struktural muncul karena adanya ketidaksesuain antara permintaan tenaga kerja dengan skill yang dimiliki oleh para pencari kerja. Bisa jadi pengangguran ini disebabkan karena ara pencari kerja yang tidak memiliki kemahiran saperti yang sedang dibutuhkan, lokasi tempat kerja, atau karena problem pribadi.
Pengangguran cyclical adalah pengangguran yang disebabkan oleh sedikitnya permintaan terhadap para pekerja. Contohnya apabila sebuah perusahaan yang mengeluarkan sebuah jenis produk. Pada saat terjadinya perlambatan ekonomi , maka konsumen akan mengurangi konsumsi mereka untuk megkonsumsi. Maka perusahaan harus mengurangi jumlah produk yang akan ditawarkan. Karena produksi yang dilakukan hanya sedikit, maka banyak tenaga kerja yang mengaggur , maka perusahaan harus mengurangi jumlah pekrjanya karena dianggap tidak efisien dan terlalu banyak biaya yang dikeluarkan dengan tingkat pendapatan yang justru menurun. Karena adanya faktor inilah yang menyebabkan sebuah perusahaan harus melakukan PHK secara besar – besaran. Sehingga banyak dari mereka yang harus menganggur tanpa memiliki pekerjaan. Inilah faktor yang meneyebabkan terjadinya pengangguran cyclical.
Pengangguran di Indonesia adalah sebuah gambaran yang dapat menunjukkan kondisi perekonomian pada suatu negara. Apabila pengangguran yang dimiliki sebuah negara terlalu banyak, maka negara tersebut dapat dikatakan masih belum makmur serta memiliki pertumbuhan ekonomi yang lambat. Sebaliknya ketika sebuah negara memiliki jumlah pengangguran yang relatif rendah, maka dapat dikatakan bahwa negara tersebut sudah mampu mensejahterakan masyarakat dan pertumbuhan ekonomi yang cepat. Pada tahun 2015 lalu, Indonesia memiliki peningkatan jumlah pengangguran. Pengangguraan di Indonesia meningkat daripada bulan Agustus 2014. Pengangguran di Indonesia pada 2015 adalah sebesar 7,4 juta jiwa. Pengangguran saat itu memiliki presentase yang berbeda – beda dari segi pendidikannya.
Pendidikan yang digunakan sebagai acuan disini adalah S1, Diploma, SMA, SD dan lainnya. Berdasarkan BPS pada pengangguran lulusan S1 mengalami peningkatan pada bulan Februari tahun 2015 dibandingkan dengan Februari 2014 lalu. Yaitu dari 5,34 persen menjadi 4,31 persen. Selain itu ada juga lulusan diploma yang mengalami peningkatan dari perbandingan waktu yang sama yakni dari 5,87 persen menjadi 7,49 persen. Sedangkanuntuk lulusan SMK yang awalnya 7,25 persen menjadi 9,05 persen. Dari masing – masing pendidikan memiliki presentase yang berbeda – beda. Sedangkan untuk pengangguran terbuka memiliki peningkatan resentase, yang awalnya adalah sebesar 5,7 persen nak menjadi 5,81 persen. Angka ini dibandingkan dengan tingkat presentase pada periode yang sama di tahun lalu. Namun angka ini dianggap masih rendah jika dibandingkan saat Agustus 2014. Sehingga pengangguran saat itu adalah mengalami penurunan dari Agustus 2014 ke Februari 2015.
Dari gambaran berita diatas tersebut telah menunjukkan adanya pengaruh inflasi terhadap sektor ketenagakerjaan. Keterpengaruhan hal ini telah disebutkan sebelumnya bahwa inflasi dan pengangguran ini adalah memiliki pengaruh yang positif. Dimana ketika inflasi suatu negara naik maka tingkat pengagguran juga akan naik. Sebaliknya apabila sebuah negara memiliki tingkat inflasi yag rendah maka pengangguran juga akan menunjukkan angka yang serupa dengan tingkat inflasi.



0 komentar:

Posting Komentar