PERLAMBATAN EKONOMI DAN PENGANGGURAN
Oleh : Eka Wahyu Utami
Fakultas Ekonomi , Universitas
Jember
Banyak
definisi terkait pengangguran yang telah diungkapkan oleh para ahli di masing –
masing disiplin ilmunya. Pada intinya pengangguran diartikan sebagai masalah
yang serius dalam sebuah negara. Pengangguran merupakan seorang atau lebih yang
telah cukup umur dimana mereka sudah mampu dan sangat menginginkan sebuah
pekerjaan untuk memenuhi kebutuhan mereka sehari – hari namun tidak ada
kesempatan kerja yang menerimanya. Hal ini dapat disebabkan oleh beberapa
faktor seperti kesempatan kerja tidak sesuai dengan pelamar kerja, skill yang
mereka miliki tidak ada, pendidikan rendah ataupun syarat – syarat tertentu
yang tidak dipenuhi dan lain sebagainya. Masalah pengangguran sendiri
tergantung dari macam – macam jenisnya. Ada pengangguran friksional,
pengangguran musiman, pengangguran struktural dan pengangguran cyclical.
Pengangguran
friksional terjadi ketika seseorang telah berhenti dari pekerjaannya dan sedang
atau terus mencari pekerjaan yang baru. Akan tetapi ada waktu yang harus
dilalui terlebih dahulu. Mereka tidak akan langsung mendapatkan pekerjaan
karena mereka harus menyesuaikan diri terlebh dahulu. Hal ini terjadi biasanya
karena ada ketidaksesuaina antara permintaan dan juga ketidakcocokan gaji.
Pengangguran jenis ini hanya berlaku disaat yang semnetara saja, karena mereka
akan kembali bekerja ketika telah menemukan pekerjaan yang cocok dengan skill
serta kemampuan mereka.
Pengangguran
musiman ini terjadi pada musim – musim tertentu saja. Dimana jasa akan
dibutuhkan pada saat dibutuhkan dan kembali menjadi pengangguran ketika sudah
tidak dibutuhkan lagi. Seperti contohnya pada pertanian. Apabila tidak ada
musim tanam dan panen , maka para buruh akan kembali menjadi pengangguran
seperti biasanya jika mereka tidak memiliki pekerjaan yang lain. Seperti pada
nelayan pun juga demikian, pada saat – saat tertentu mereka dilarang untuk
turun ke laut untuk mencari ikan sehingga mereka akan kembali menjadi seorang pengangguran
pada saat tersebut.
Pengangguran
struktural muncul karena adanya ketidaksesuain antara permintaan tenaga kerja
dengan skill yang dimiliki oleh para pencari kerja. Bisa jadi pengangguran ini
disebabkan karena ara pencari kerja yang tidak memiliki kemahiran saperti yang
sedang dibutuhkan, lokasi tempat kerja, atau karena problem pribadi.
Pengangguran
cyclical adalah pengangguran yang disebabkan oleh sedikitnya permintaan
terhadap para pekerja. Contohnya apabila sebuah perusahaan yang mengeluarkan
sebuah jenis produk. Pada saat terjadinya perlambatan ekonomi , maka konsumen
akan mengurangi konsumsi mereka untuk megkonsumsi. Maka perusahaan harus
mengurangi jumlah produk yang akan ditawarkan. Karena produksi yang dilakukan
hanya sedikit, maka banyak tenaga kerja yang mengaggur , maka perusahaan harus
mengurangi jumlah pekrjanya karena dianggap tidak efisien dan terlalu banyak
biaya yang dikeluarkan dengan tingkat pendapatan yang justru menurun. Karena
adanya faktor inilah yang menyebabkan sebuah perusahaan harus melakukan PHK
secara besar – besaran. Sehingga banyak dari mereka yang harus menganggur tanpa
memiliki pekerjaan. Inilah faktor yang meneyebabkan terjadinya pengangguran
cyclical.
Pengangguran di
Indonesia adalah sebuah gambaran yang dapat menunjukkan kondisi perekonomian
pada suatu negara. Apabila pengangguran yang dimiliki sebuah negara terlalu
banyak, maka negara tersebut dapat dikatakan masih belum makmur serta memiliki
pertumbuhan ekonomi yang lambat. Sebaliknya ketika sebuah negara memiliki
jumlah pengangguran yang relatif rendah, maka dapat dikatakan bahwa negara
tersebut sudah mampu mensejahterakan masyarakat dan pertumbuhan ekonomi yang
cepat. Pada tahun 2015 lalu, Indonesia memiliki peningkatan jumlah
pengangguran. Pengangguraan di Indonesia meningkat daripada bulan Agustus 2014.
Pengangguran di Indonesia pada 2015 adalah sebesar 7,4 juta jiwa. Pengangguran
saat itu memiliki presentase yang berbeda – beda dari segi pendidikannya.
Pendidikan yang
digunakan sebagai acuan disini adalah S1, Diploma, SMA, SD dan lainnya.
Berdasarkan BPS pada pengangguran lulusan S1 mengalami peningkatan pada bulan
Februari tahun 2015 dibandingkan dengan Februari 2014 lalu. Yaitu dari 5,34
persen menjadi 4,31 persen. Selain itu ada juga lulusan diploma yang mengalami
peningkatan dari perbandingan waktu yang sama yakni dari 5,87 persen menjadi
7,49 persen. Sedangkanuntuk lulusan SMK yang awalnya 7,25 persen menjadi 9,05
persen. Dari masing – masing pendidikan memiliki presentase yang berbeda –
beda. Sedangkan untuk pengangguran terbuka memiliki peningkatan resentase, yang
awalnya adalah sebesar 5,7 persen nak menjadi 5,81 persen. Angka ini
dibandingkan dengan tingkat presentase pada periode yang sama di tahun lalu.
Namun angka ini dianggap masih rendah jika dibandingkan saat Agustus 2014.
Sehingga pengangguran saat itu adalah mengalami penurunan dari Agustus 2014 ke
Februari 2015.
Dari gambaran berita diatas tersebut telah menunjukkan
adanya pengaruh inflasi terhadap sektor ketenagakerjaan. Keterpengaruhan hal ini
telah disebutkan sebelumnya bahwa inflasi dan pengangguran ini adalah memiliki
pengaruh yang positif. Dimana ketika inflasi suatu negara naik maka tingkat
pengagguran juga akan naik. Sebaliknya apabila sebuah negara memiliki tingkat
inflasi yag rendah maka pengangguran juga akan menunjukkan angka yang serupa
dengan tingkat inflasi.






0 komentar:
Posting Komentar