Ramadhan, Harga Sembako Naik Lagi
Oleh
: Ika Wahyu Cahyani
Mungkin tak semua orang
paham tentang inflasi. Tetapi, orang awam jangan pernah ditanya
soal kenaikan harga sembako. Tentu mereka akan menggerutu bahkan bersuara paling
keras saat tahu harganya naik lagi. Rasanya sudah menjadi tradisi, ketika
hari-hari besar keagamaan dijadikan momentum sakral untuk menaikkan harga-harga
tersebut. Toh, mau tidak mau barang-barang yang menjadi kebutuhan pokok
akhirnya akan laris juga meski harganya selangit.
Seperti ramadhan kali
ini misalnya. Harga sembako dipastikan naik lagi. Kenaikan harga sembako pada
ramadhan tahun ini disebabkan oleh beberapa hal. Pertama, ketidakseimbangan
antara pasokan barang dengan jumlah permintaan. Kedua, pasokan barang cukup
namun ada permainan kotor dari pemain pasar yang sengaja menimbun barang.
Beberapa pihak mungkin telah memperhitungkan akan kesempatan yang datang,
sehingga akan menargetkan untung yang menjanjikan. Meskipun diliputi resah karena
penghasilan dengan harga kebutuhan tidak seimbang, masyarakat pun menyerah dan
membelinya juga.
Faktor lain yang tak
kalah dominan selain karena tidak seimbangnya pasokan barang dan jumlah
permintaan ataupun permainan pihak-pihak tertentu, beberapa barang sembako
ternyata ada yang impor. Misalnya pada komoditas bawang putih, yang semula
berharga Rp. 36.000 per kilogram kini mencapai Rp. 40.000 per kilogram. Pun
beberapa komoditas lain seperti beras, telur dan daging juga mengalami kenaikan
yang serupa.
Di Jawa Timur,
khususnya wilayah Jember kenaikan harga sembako pada momentum lebarang cukup
membuat pusing bukan kepalang. Pasalnya, beberapa komoditas yang telah
disebutkan sebelumnya mulai merangkak naik pada saat bulan puasa. Kenaikannya
pun cukup signifikan dengan kisaran kenaikan antara dua hingga lima ratus
rupiah untuk komoditas beras semua jenis, dan seribu hingga lima ribu rupiah
untuk komoditas lain, termasuk minyak goreng, telur dan gula pasir. Kenaikan
semacam ini diperkirakan akan terus terjadi sepanjang ramadhan hingga menjelang
lebaran, terlebih tidak adanya pasokan barang karena panen petani pun mulai
habis.
Sebagai upaya
antisipasi kenaikan harga yang lebih tinggi, baik dari pemerintah maupun pelaku
pasar lebih mengontrol pasokan barang dengan jumlah permintaan. Adanya upaya
tindak lanjut dari pemerintah terhadap pemain pasar yang melakukan permainan
kotor seperti menimbun barang yang menyebabkan pasokan barang berkuran. Pun,
konsumen hendaknya lebih bijak dalam melakukan pembelian terhadap barang
kebutuhan pokok untuk menekan dari sisi permintaan barang.






0 komentar:
Posting Komentar