Revitalisasi
Teluk Jakarta Potensi Ataukah Boomerang?
Oleh
Moch
Fitroh Kardiansyah
Universitas
Jember
Mungkin
sudah tidak asing lagi ditelinga kita jika mendengar kata Revitalisasi Teluk Jakarta.
Rumor yang muncul ditengah-tengah masyarakat menjadi perbincangan hangat yang menjadi
pembicaraan bagaimana kinerja pemerintah atas kebijakan yang telah diputuskan.
Pro dan Kontra menjadi suatu hal yang tak terpisahkan dalam realisasi mega
proyek ini. Pihak pemerintah sendiri menganggap realisasi pembanguman yang
sedang digalakkan akan dapat berjalan positif terhadap kesejahteraan masyarakat
dalam jangka panjang. Percepatan pembangunan, akselerasi perputaran uang,
peningkatan kesejahteraan diikuti oleh terbukanya peluang kerja terhadap
masyarakat menjadi alasan mengapa
revitalisasi teluk jakarta menjadi alternatif pilihan dalam mencapai tingkat kemakmuran
negara ini.
Namun
disamping itu semua terdapat beberapa pihak yang tidak sependapat dengan
lahirnya kebijakan ini karena Revitalisasi teluk jakarta dinilai akan menjadi
petaka jika terus dilaksanakan. Beberapa aspek akan terkena dampak yang buruk
dengan adanya Revitalisasi ini. Seperti halnya aspek sosial, ekonomi dan
lingkungan hidup menjadi problema baru yang akan muncul jikalau revitalisasi
ini terus menjadi sebuah alasan percepatan pembangunan. Terdapat anggapan
bahwasanya dengan adanya revitalisasi ini hanyalah berpacu pada kepentingan
politik saja demi memperoleh keuntungan yang sebesar-besarnya dan tidak ada
kaitannya dengan kemakmuran rakyat. Masyarakat sendiri menganggap, tentu sangat tidak bijaksana apabila pemerintah
terus melakukan revitalisasi ini karena dinilainya revitalisasi akan
menimbulkan berbagai polemik masalah baru.
Anggapan
yang muncul dalam masyarakat sendiri menyiratkan bahwa sejatinya pemerintah
tidaklah cukup ahli dalam memahami dan mengerti apa saja kebutuhan masyarakat
sendiri ibarat lintah darat yang menghisap darah. Tidaklah berlebihan jikalau
anggapan ini muncul ditengah masyarakat yang kecewa dengan kebijakan yang
muncul. Pasalnya penduduk yang tinggal disekitar area revitalisasi tersebut
hampir sebagian besar mencari nafkah dengan memanfaatkan alam sekitarnya
seperti halnya nelayan yang mencari ikan dilaut. Akankah revitalisasi dapat
menjamin terciptanya kemakmuran rakyat, yang mana selama ini mereka hanya bisa
pasrah akan keadaan. Ditengah petumbuhan ekonomi yang pesat dengan akselerasi
percepatan jumlah uang beredar masih terdapat beberapa kelompok golongan
masyarakat yang tak berdaya melawan arus megapolitan yang sarat akan
persaingan.
Selama
ini masyarakat hanya mampu mengandalkan kemampuan mereka untuk mencari
peruntungan dengan memanfaatkan sumber daya yang ada namun harapan itu sirna seketika dengan adanya
revitalisasi teluk jakarta yang merupakan sebuah mega proyek yang
digadang-gadang akan menjadi solusi jalan keluar dengan lesunya sistem ekonomi
yang terjadi. Tidakkah pemerintah berfikir Revitalisasi hanyalah menjadi unsur
pemborosan uang negara dimana hal itu juga merupakan hak rakyat untuk
menikmatinya. Jika melihat prospek yang dilakukan tentu sangat tidak bijaksana
mengingat indonesia adalah negara kepulauan, lantas mengapa melakukan revitalisasi, apakah
tidak ada lahan lagi yang dapat dimanfaatkan untuk pembangunan.
Jika
meninjau dengan kinerja beberapa negara yang telah berhasil melaksanakan
Revitalisasi seperti halnya dengan Singapura dan Belanda yang mengembangkan
pembangunannya dengan proses revitalisasi dan terbukti berhasil dalam segi pembangunan
ekonominya tentu berbeda dengan kondisi negara kita. Kedua negara tersebut
memiliki luas wilayah dengan didominasi wilayah perairan. Hal inilah yang
menjadi latar belakang untuk melakukan Revitalisasi. Namun berbeda dengan
indonesia yang memiliki kepulauan yang terbentang luas, akankah hal ini efektif
dilakukan.
Apabila
alasan revitalisasi hanya terfokus pada pembangunan gedung pemerintah dengan tujuan untuk
mengurangi unsur kepadatan penduduk dengan jumlah kendaraan yang membludak dan
menjadi faktor kemacetan kota, tentu sangat tidak realistis mengingat
pembangunan yang dilakukan membutuhkan biaya yang tidak sedikit untuk
mewujudkan revitalisasi yang diinginkan. Anggran dan belanja pemerintah yang
seharusnya diperuntukan untuk rakyat hanya digunakan untuk kepentingan politik
belaka.
Belum
lagi dampak lingkungan yang ditimbulkan dengan adanya revitalisasi teluk
jakarta menjadi masalah serius yang perlu ditangani. Sumber pendapatan
masyarakat yang awalnya bergantung pada hasil laut kini menjadi terkendala
dengan munculnya revitalisasi ini. Lingkungan hidup akan menjadi tercemar dan
biota laut akan mati tentu menjadi sebuah konsekuensi yang harus diterima oleh
masyarakat dimana kehidupan mereka hanyalah mangandalkan potensi laut.
Konsekuensi yang harus dibayar masyarakat akan kehilangan mata pencarian mereka
sehari-hari.
Jika
beranggapan lantas sampai kapan kita akan menjadi negara yang tertutup dan buta akan pembangunan.
Akankah selamanya hanya dapat menjadi negara berkembang yang tak berdaya
bersaing dengan negara tetangga yang selangkah lebih maju. Pembangunan memang
menjadi sebuah indikator penting dalam pertumbuhan ekonomi namun yang perlu
digaris bawahi adalah pembangunan haruslah bijaksana dan perlu dipertimbangkan
agar tidak mengorbankan aspek lainnya. Aspek lingkungan hidup, sosial, ekonomi
perlu dipertimbangkan terlebih dahulu sebelum melangkah terlalu jauh agar tidak
tercipta penyesalan dikemudian harinya.
Pemerintah
sebagai agen of change mempunyai peran yang cukup vital dalam menentukan
kebijakan agar roda pereknomian dapat berjalan seirama dengan hasil yang
memuaskan namu kaitannya dengan keberhasilan pembangunan diperlukan perencanaan
pembangunan yang matang agar proyeksi pembangunan dapat terealisasi dengan
baik.






0 komentar:
Posting Komentar