Blogroll

Jumat, 10 Juni 2016

Revitalisasi Teluk Jakarta Potensi Ataukah Boomerang?

Revitalisasi Teluk Jakarta Potensi Ataukah Boomerang?
Oleh
Moch Fitroh Kardiansyah
Universitas Jember

Mungkin sudah tidak asing lagi ditelinga kita jika mendengar kata Revitalisasi Teluk Jakarta. Rumor yang muncul ditengah-tengah masyarakat menjadi perbincangan hangat yang menjadi pembicaraan bagaimana kinerja pemerintah atas kebijakan yang telah diputuskan. Pro dan Kontra menjadi suatu hal yang tak terpisahkan dalam realisasi mega proyek ini. Pihak pemerintah sendiri menganggap realisasi pembanguman yang sedang digalakkan akan dapat berjalan positif terhadap kesejahteraan masyarakat dalam jangka panjang. Percepatan pembangunan, akselerasi perputaran uang, peningkatan kesejahteraan diikuti oleh terbukanya peluang kerja terhadap masyarakat menjadi alasan mengapa revitalisasi teluk jakarta menjadi alternatif pilihan dalam mencapai tingkat kemakmuran negara ini.
Namun disamping itu semua terdapat beberapa pihak yang tidak sependapat dengan lahirnya kebijakan ini karena Revitalisasi teluk jakarta dinilai akan menjadi petaka jika terus dilaksanakan. Beberapa aspek akan terkena dampak yang buruk dengan adanya Revitalisasi ini. Seperti halnya aspek sosial, ekonomi dan lingkungan hidup menjadi problema baru yang akan muncul jikalau revitalisasi ini terus menjadi sebuah alasan percepatan pembangunan. Terdapat anggapan bahwasanya dengan adanya revitalisasi ini hanyalah berpacu pada kepentingan politik saja demi memperoleh keuntungan yang sebesar-besarnya dan tidak ada kaitannya dengan kemakmuran rakyat. Masyarakat sendiri menganggap, tentu  sangat tidak bijaksana apabila pemerintah terus melakukan revitalisasi ini karena dinilainya revitalisasi akan menimbulkan berbagai polemik masalah baru.
Anggapan yang muncul dalam masyarakat sendiri menyiratkan bahwa sejatinya pemerintah tidaklah cukup ahli dalam memahami dan mengerti apa saja kebutuhan masyarakat sendiri ibarat lintah darat yang menghisap darah. Tidaklah berlebihan jikalau anggapan ini muncul ditengah masyarakat yang kecewa dengan kebijakan yang muncul. Pasalnya penduduk yang tinggal disekitar area revitalisasi tersebut hampir sebagian besar mencari nafkah dengan memanfaatkan alam sekitarnya seperti halnya nelayan yang mencari ikan dilaut. Akankah revitalisasi dapat menjamin terciptanya kemakmuran rakyat, yang mana selama ini mereka hanya bisa pasrah akan keadaan. Ditengah petumbuhan ekonomi yang pesat dengan akselerasi percepatan jumlah uang beredar masih terdapat beberapa kelompok golongan masyarakat yang tak berdaya melawan arus megapolitan yang sarat akan persaingan.
Selama ini masyarakat hanya mampu mengandalkan kemampuan mereka untuk mencari peruntungan dengan memanfaatkan sumber daya yang ada namun  harapan itu sirna seketika dengan adanya revitalisasi teluk jakarta yang merupakan sebuah mega proyek yang digadang-gadang akan menjadi solusi jalan keluar dengan lesunya sistem ekonomi yang terjadi. Tidakkah pemerintah berfikir Revitalisasi hanyalah menjadi unsur pemborosan uang negara dimana hal itu juga merupakan hak rakyat untuk menikmatinya. Jika melihat prospek yang dilakukan tentu sangat tidak bijaksana mengingat indonesia adalah negara kepulauan, lantas mengapa melakukan revitalisasi, apakah tidak ada lahan lagi yang dapat dimanfaatkan untuk pembangunan.
Jika meninjau dengan kinerja beberapa negara yang telah berhasil melaksanakan Revitalisasi seperti halnya dengan Singapura dan Belanda yang mengembangkan pembangunannya dengan proses revitalisasi dan terbukti berhasil dalam segi pembangunan ekonominya tentu berbeda dengan kondisi negara kita. Kedua negara tersebut memiliki luas wilayah dengan didominasi wilayah perairan. Hal inilah yang menjadi latar belakang untuk melakukan Revitalisasi. Namun berbeda dengan indonesia yang memiliki kepulauan yang terbentang luas, akankah hal ini efektif dilakukan.
Apabila alasan revitalisasi hanya terfokus pada pembangunan  gedung pemerintah dengan tujuan untuk mengurangi unsur kepadatan penduduk dengan jumlah kendaraan yang membludak dan menjadi faktor kemacetan kota, tentu sangat tidak realistis mengingat pembangunan yang dilakukan membutuhkan biaya yang tidak sedikit untuk mewujudkan revitalisasi yang diinginkan. Anggran dan belanja pemerintah yang seharusnya diperuntukan untuk rakyat hanya digunakan untuk kepentingan politik belaka.
Belum lagi dampak lingkungan yang ditimbulkan dengan adanya revitalisasi teluk jakarta menjadi masalah serius yang perlu ditangani. Sumber pendapatan masyarakat yang awalnya bergantung pada hasil laut kini menjadi terkendala dengan munculnya revitalisasi ini. Lingkungan hidup akan menjadi tercemar dan biota laut akan mati tentu menjadi sebuah konsekuensi yang harus diterima oleh masyarakat dimana kehidupan mereka hanyalah mangandalkan potensi laut. Konsekuensi yang harus dibayar masyarakat akan kehilangan mata pencarian mereka sehari-hari.
Jika beranggapan lantas sampai kapan kita akan menjadi negara  yang tertutup dan buta akan pembangunan. Akankah selamanya hanya dapat menjadi negara berkembang yang tak berdaya bersaing dengan negara tetangga yang selangkah lebih maju. Pembangunan memang menjadi sebuah indikator penting dalam pertumbuhan ekonomi namun yang perlu digaris bawahi adalah pembangunan haruslah bijaksana dan perlu dipertimbangkan agar tidak mengorbankan aspek lainnya. Aspek lingkungan hidup, sosial, ekonomi perlu dipertimbangkan terlebih dahulu sebelum melangkah terlalu jauh agar tidak tercipta penyesalan dikemudian harinya.
Pemerintah sebagai agen of change mempunyai peran yang cukup vital dalam menentukan kebijakan agar roda pereknomian dapat berjalan seirama dengan hasil yang memuaskan namu kaitannya dengan keberhasilan pembangunan diperlukan perencanaan pembangunan yang matang agar proyeksi pembangunan dapat terealisasi dengan baik.


0 komentar:

Posting Komentar