TRADISI (MUDIK)
SUMBANG INFLASI
Oleh,
Suci Arvilia
Monetary’13
Lebaran
atau Hari Raya Idhul Fitri hari yang ditunggu – tunggu oleh semua umat islam
diseluruh dunia untuk bisa berkumpul, bersilaturahmi dan bertemu sanak saudara
terutama untuk mereka yang terpisah karena perantauan. Mulai dari merantau
karena pendidikan maupun berkarir diseberang pulau, tentunya akan berupaya
bagaimanapun untuk bisa apa yang disebut tradisi “mudik” atau pulang kampoeng
meskipun hanya sehari karena ada tuntutan profesi ataupun hambatan lainnya.
Di
Indonesia mudik telah menjadi tradisi tahunan terutama pada waktu hari – hari
mendekati lebaran. Cara mudikpun setiap orang memiliki perbedaan ada yang
bermontoran, naik bus, kereta, kapal, dan pesawat terbang. Mereka pun juga memiliki
alasan untuk mudik menggunakan berbagai bentuk tranportasi tersebut ada yang
beralasan dengan mengendarai sepeda motor maka akan menghemat kantong, ada yang
beralasan naik bus karena lebih nyaman, ada yang beralasan berkereta lebih
efisien untuk membawa keluarga yang masih kecil atau anak – anak, dan dengan
pesawat karena harus menyeberang pulau dan efisien waktu tentu tetap aka nada
resiko setiap alat tranportasi. Contoh
riil mudik dengan mengendarai sepeda motor banyak dilakukan masyarakat urban di
ibukota Jakarta, dimana pemudik berasal dari daerah jawa barat, jawa tengah
maupun jawa timur.
Jika
dibandingkan hari biasa harga tiket akan cenderung berbeda dan perbedaannya
yaitu harga tiket akan mengalami kenaikan hingga 100% untuk bus, kereta dan pesawat.
Kondisi tersebut akan terjadi pada saat menjelang lebaran dan banyak masyarakat
yang berebut untuk bisa membeli tiket. Maka inefisiensi pun tidak dapat
dihindari karena aka nada masyarakat yang harus dikorbankan untuk tidak bisa
membayar harga tiket ataupun tidak mendapatkan jatah karena keterbatasan jumlah
tiket, dan harus mengalah untuk menunda bisa mudik pada waktu yang diinginkan.
Kalau
sudah seperti itu maka larinya akan mendorong inflasi dalam negeri karena
adanya kenaikan harga tersebut. Menurut data BPS pada tahun 2015
tranportasi ikut andil dalam menyumbang
angka inflasi sebesar 0,2 untuk angkutan udara dan sebesar 0,1 untuk angkutan
darat, pada saat menjelang lebaran dan pada saat peak season seperti bulan
desember dan kemudian pada tahun 2016 menjadi urutan kedua setelah harga daging
ayam, dan mengalami kenaikan khusunya pada angkutan udara mencapai 6,29%.
Kondisi
tersebut semakin menguatkan bahwa tetap akan terjadi inflasi diluar dugaan pada
saat menjelang lebaran, baik dikarenakan perilaku masyarakat itu sendiri dalam
melakukan tradisi mudik maupun ketersediaan tranportasi. Solusi untuk
permasalah tersebut perlu adanya kontribusi berbagai pihak baik pemerintah,
dinar perhubungan, maupun masyarakat supaya melakukan revitalisasi program mudik
yang dicanangkan, dan terdapat batasan untuk wilayah – wilayah yang masih dapat
diakses oleh darat maka dianjurkan untuk naik kereta maupun bus sehingga tidak
menurangi pasokan tiket kereta, ataupun penambahan armada pesawat itu sendiri
jika memang diperlukan dan memungkinkan. Sehingga tradisi mudik itu sendiri
dapat tetap berjalan namun tidak menyebabkan gejolak angka infllasi.






0 komentar:
Posting Komentar