Blogroll

Jumat, 10 Juni 2016

TRADISI (MUDIK) SUMBANG INFLASI



TRADISI (MUDIK) SUMBANG INFLASI
Oleh,
Suci Arvilia
Monetary’13
Lebaran atau Hari Raya Idhul Fitri hari yang ditunggu – tunggu oleh semua umat islam diseluruh dunia untuk bisa berkumpul, bersilaturahmi dan bertemu sanak saudara terutama untuk mereka yang terpisah karena perantauan. Mulai dari merantau karena pendidikan maupun berkarir diseberang pulau, tentunya akan berupaya bagaimanapun untuk bisa apa yang disebut tradisi “mudik” atau pulang kampoeng meskipun hanya sehari karena ada tuntutan profesi ataupun hambatan lainnya.
Di Indonesia mudik telah menjadi tradisi tahunan terutama pada waktu hari – hari mendekati lebaran. Cara mudikpun setiap orang memiliki perbedaan ada yang bermontoran, naik bus, kereta, kapal, dan pesawat terbang. Mereka pun juga memiliki alasan untuk mudik menggunakan berbagai bentuk tranportasi tersebut ada yang beralasan dengan mengendarai sepeda motor maka akan menghemat kantong, ada yang beralasan naik bus karena lebih nyaman, ada yang beralasan berkereta lebih efisien untuk membawa keluarga yang masih kecil atau anak – anak, dan dengan pesawat karena harus menyeberang pulau dan efisien waktu tentu tetap aka nada resiko setiap alat tranportasi.  Contoh riil mudik dengan mengendarai sepeda motor banyak dilakukan masyarakat urban di ibukota Jakarta, dimana pemudik berasal dari daerah jawa barat, jawa tengah maupun jawa timur.
Jika dibandingkan hari biasa harga tiket akan cenderung berbeda dan perbedaannya yaitu harga tiket akan mengalami kenaikan hingga 100% untuk bus, kereta dan pesawat. Kondisi tersebut akan terjadi pada saat menjelang lebaran dan banyak masyarakat yang berebut untuk bisa membeli tiket. Maka inefisiensi pun tidak dapat dihindari karena aka nada masyarakat yang harus dikorbankan untuk tidak bisa membayar harga tiket ataupun tidak mendapatkan jatah karena keterbatasan jumlah tiket, dan harus mengalah untuk menunda bisa mudik pada waktu yang diinginkan.
Kalau sudah seperti itu maka larinya akan mendorong inflasi dalam negeri karena adanya kenaikan harga tersebut. Menurut data BPS pada tahun 2015 tranportasi  ikut andil dalam menyumbang angka inflasi sebesar 0,2 untuk angkutan udara dan sebesar 0,1 untuk angkutan darat, pada saat menjelang lebaran dan pada saat peak season seperti bulan desember dan kemudian pada tahun 2016 menjadi urutan kedua setelah harga daging ayam, dan mengalami kenaikan khusunya pada angkutan udara mencapai 6,29%.
Kondisi tersebut semakin menguatkan bahwa tetap akan terjadi inflasi diluar dugaan pada saat menjelang lebaran, baik dikarenakan perilaku masyarakat itu sendiri dalam melakukan tradisi mudik maupun ketersediaan tranportasi. Solusi untuk permasalah tersebut perlu adanya kontribusi berbagai pihak baik pemerintah, dinar perhubungan, maupun masyarakat supaya melakukan revitalisasi program mudik yang dicanangkan, dan terdapat batasan untuk wilayah – wilayah yang masih dapat diakses oleh darat maka dianjurkan untuk naik kereta maupun bus sehingga tidak menurangi pasokan tiket kereta, ataupun penambahan armada pesawat itu sendiri jika memang diperlukan dan memungkinkan. Sehingga tradisi mudik itu sendiri dapat tetap berjalan namun tidak menyebabkan gejolak angka infllasi.

0 komentar:

Posting Komentar