Blogroll

Mahasiswa Konsentrasi Moneter 2013

Perkuliahan terakhir TA 2015/2016 semester genap Mata Kuliah Ekonomi Moneter 2 bersama Bapak Adhitya Wardono SE., M.Sc., Ph.D

Moment Setelah UAS Semester Genap TA 2015/2016

Moment setelah Ujian Mata Kuliah Ekonomi Moneter 2 Selasa 14 Juni 2016

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Minggu, 26 Juni 2016



Portofolio salah satu aset keuangang yang dimiliki oleh suatu perusahaan , baik berupa saham,obligasi, emas dan lain sebagainya. Ada beberapa perusahaan di Indonesia yang memiliki aset berupa portofolio ini, salah satunya PT. Unilever. Perusahaan Unilever dikenal dengan perusahaan yang memiliki pontesi keuntungan cukup tinggi untuk para pemilik saham yang berada pada Unilever. Ada beberapa asumsi dalam suatu bidang keuangan mengenai investasi portofolio. Untuk mengkaji investasi yang paling efisien, maka fokus utamanya ialah terletak pada tujuan dari investor itu sendiri. Apabila seorang investor ingin berinvestasi portofolio bertujuan untuk jangka panjang dan tidak membutuhkan resiko yang cukup tinggi maka jawabannya ialah berinvestasi atau membeli saham pada para perusahaan-perusahaan yang anti krisis (contoh PT Unilever). Selain dapat mereduksi resiko yang akan ditimbulkan , investasi tersebut lebih bersifat jangka panjang dan bertujuan untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan masa depan, atau lebih diperjelas dengan motif berjaga-jaga. Namun kelemahan yang ada pada investasi berorientasi jangka panjang ini adalah meberikan feedback atau keuntungan yang diperoleh rendah.
Berbeda dengan investasi yang berorientasikan mendapatkan keuntungan tinggi atau dijadikan sebagai ladang penghasilan. Dalam konteks investasi tersebut dapat diartikan sebagai investasi jangka pendek. Keuntungan atau penghasilan yang diperoleh cukup tinggi namun hal tersebut juga diimbangi dengan resiko yang kemungkinan akan terjadi pun cukup tinggi. Jadi dalam hal ini keuntungan Jadi dalam hal ini keuntungan dan resiko yang akan diperoleh memiliki fluktuatif yang positif atau searah. Semakin tinggi resiko yang kemungkinan akan diperoleh maka keuntungan yang akan diperoleh pun akan cukup tinggi. Sebaliknya, semakin rendah resiko yang kemungkinan akan diperoleh maka keuntungan yag diperoleh pun akan rendah dan sifatnya jangka panjang.
Unilever adalah salah satu industri yang memiliki peran aktif dalam memenuhi kebutuhan masyarakat, baik dalam negri maupun luar negri. Struktur industri yang dapat dikatakan oligopoli atau bisa diartikan memiliki kredibel yang cukup tinggi dan sangat sulit untuk para pesaing yang ingin menyaingi PT.Unilever.  Pangsa pasar yang dimiliki PT.Unilever hampir 85% dari jumlah masyarakat yang berada di Indonesia. Dari hal tersebut dapat terlihat bahwa PT.Unilever selain mampu memenuhi kebutuhan masyarakat, PT Unilever pun menjadi suatu perusahaan yang memiliki ciri khas tersendiri yang mampu menyulitkan para pesaing yang ingin ikut bersinergi ke dalam pasar.
Berbagai arus modal yang berada di seluruh dunia, inilah yang menjadi latar belakang munculnya sebuah Penanaman Modal Asing. Integrasi antar negar menjadikan antar negara satu dengan negara yang lain menjadi satu, saling membantu baik dari segi nominal maupun kognitif. Dengan kondisi inilah, menjadikan tiap-tiap perusahaan lokal mengandalkan penanaman modal melalui investasi portofolio. Dalam artikel diatas dijelaskan bahwa dewasa ini bisnis PT.Unilever diprediksi pertumbuhannya akan ditentukan melalui kekuatan portofolio.
Portofolio adalah suatu aset yang perhitungannya sangat berkaitan dengan nilai mata uang negara lain yang sifatnya Hard Currency. Jika dikaitkan lebih detail lagi, Jika segala investasi dipengaruhi oleh nilai mata uang yang paling kuat, maka estimasinya Indonesia akan mengalami permasalahan dalam bisnisnya. Seharusnya bisnis di Indonesia bukan hanya terfokuskan pada harga dan keuntungan yang diperoleh akan tetapi diperuntukan kesejahteraan masyarakat tanpa pilah-pilih. Bisnis Indonesia yang mengalami perkembangan cukup pesat, memaksa para entrepreneur untuk tetap memajukan bisnisnya yang sifatnya berkesinambungan. Jadi tidak terikat pada portofolio saja, akan tetapi ada variabel fudemental yang perlu dikaji sebagai strategi dalam penguatan bisnis di Indonesia.

FED NAIKKAN SUKU BUNGA, JOKOWI: INI EFEK POSITIF



FED NAIKKAN SUKU BUNGA, JOKOWI: INI EFEK POSITIF

Bank sentral Amerika Serikat atau The Fed baru saja mengeluarkan kebijakan mengenai tingkat suku bunga, dimana The Fed mengeluarkan kebiajakn untuk menaikkan tingak suku bunga acuan. Kenaikan suku bunga yang terjadi nilainya cukup besar yaitu sebesar 0,25%. Dimana pada awalnya The Fed memiliki tingkat suku bunga acuan sebesar 0,25% dan sekarang tingkat suku bunga acuannya sebesar 0,5%.  Hal tersebut tentunya berdampak pada perekonomian global, mengingat kenaikan nilai tingkast suku bunga acuan yang bisa dikatakan lumayan berarti. Pastinya semua Negara akan menghadapi dampak akibat kenaikan tingkat suku bunga acuan yang dikeluarkan oleh The Fed ini, tidak terkecuali dengan Indonesia.
Namun ada hal yang berbeda menganai tanggapan dari Indonesia mengenai The Fed yang menaikkan tingkat suku bunganya, dimana kenaikan tingkat suku bunga ini direspon dengan sangat positif oleh Indonesia. Hal tersebut disampaikan langsung oleh Presiden Indonesia Joko Widodo. Dalam rapat musyawarah nasional DPRD tingkat kabupaten Presiden Joko Widodo menyampaikan bahwa merupakan suatu dampak positif bagi Negara Indonesia menanggapi naiknya tingkat suku bunga The Fed. Presiden Joko Widodo juga menyampaikan bahwa dampak positif dari kenaikan tingkat suku bunga The Fed ini sudah mulai terlihat. Contohnya adalah nilai tukar rupiah menguat sebagai dampak dari naiknya tingkat suku bunga The Fed. Hal tersebut tentunya membuat keadaan perekonomian di Indonesia semakin membaik.
Menguatnya nilai tukar rupiah tersebutlah yang mendorong indeks harga saham gabungan Indonesia mengalami progress yang semakin menguat. Hal tersebut dikarenakan ketika nilai tukar rupiah menguat maka akan berpengaruh pada segala sektor perekonomian. Dimana segala sektor perekonomian akan membaik, termasuk keadaan perekonomian Indonesia pada ranah global. Jadi tidak heran jika indeks harga saham gabungan di Indonesia nilainya mengalami kenaikan.
Menanggapi dampak positif dari kenaikan tingkat suku bunga The Fed ini, seharusnya dapat direspon dengan baik oleh seluruh stakeholder perekonomian Indonesia. Segala sektor harus dapat memanfaatkan keadaan dengan baik, misalnya saja sektor industri. Berbagai industri yang ada di Indonesia seharusnya khususnya yang masih mengimpor bahan baku dari luar negeri, dapat meningkatkan efisiensi produksinya. Hal tersebut dikarenakan dengan harga input yang turun tentunya laba yang diperoleh akan semakin banyak sehingga kesempatan untuk memajukan industri sangatlah besar. Selain itu, peluang untuk masuk ke perdagangan global semakin besar karena produksinya telah mencapai tingkat efisiensi.
Sebelumnya, The Fed sendiri belum pernah menaikkan tingkat suku bunganya. Hal tersebut bahkan terjadi selama satu dekade terakhir. Dimana tingkat suku bunga The Fed pada satu dekade terakhir stagnan diangka 0,25%. Hal tersebut dikarenakan The Fed mempertahankan kedaan perekonomian Amerika Serikat stagnan pada posisi tersebut dengan tingkat suku bunga 0,25%. Karena pada tingkat suku bunga 0,25% keadaan perekonomian Amerika Serikat dirasa berada pada posisi yang menguntungkan sehingga The Fed tidak buru-buru dalam mengeluarkan kebijakan mengenai penaikan atau penurunan tingkat suku bunga.
Upaya The Fed untuk menaikkan tingkat suku bunga acuan ini tentunya bukan tanpa sebab, The Fed tentunya memiliki tujuan yang ingin dicapai. The Fed sebenarnya mengelurkan kebijakan untuk menaikkan tingkat suku bunga ini ingin mengubah siklus perekonomian yang ada. Dimana awalnya siklus perekonomian yang ada di Amerika Serikat bersifat longgar. Dimana siklus perekonomian dibiarkan berjalan sendiri tanpa ada pengawasan yang ketat dari pemerintah maupun bank sentral, hal ini tentunya sesuai dengan sistem perekonomian yang dianut oleh Amerika Serikat. Siklus perekonomian yang longgar ini tentunya akan membentuk perekonomian yang mandiri dimana seluruh pelaku ekonomi akan berusaha semaksimal mungkin dalam melakukan kegiatan perekonomian mengingat persaingan yang terjadi antar pelaku ekonomi sangat ketat.
Menanggapi perekonomian yang selama ini siklusnya longgar, The Fed menganalisis bahwa dengan berbagau keunggulan yang dimiliki siklus perekonomian yang longgar ternyata juga memiliki kekurangan. Kekurangan dari siklus perekonomian yang longgar adalah tidak adanya kontrol dari pemerintah dan bank sentral dalam berjalannya perekonomian. Meskipun sistem perekonomian yang dianut oleh Amerika Serikat tidak melibatkan adanya intervensi dari pemerintah namun menyerahkan segala aktivitas perekonomian kepada mekanisme pasar, namun pemerintah dalam hal ini berperan dalam hal controlling. Sesekali pemerintah juga menggunakan intervensinya dalam mengeluarkan kebijakan seputar perekonomian, karena secara empiris suatu mekanisme pasar tidak dapat terjadi jika tidak ada intervensi pemerintah.
Dimana The Fed merasa bahwa perekonomian yang longgar justru memiliki kekurangan, maka dari itu The Fede mengeluarkan kebijakan menaikkan tingkat suku bunga acuan. Tujuannya adalah untuk mengubah siklus perekonomian yang ada di Amerika Serikat yang awalnya longgar kemudian dibuat menjadi ketat. The Fed berharap dengan siklus perekonomian yang ketat maka akan memudahkan pemerintah Amerika Serikat maupun The Fed dalam melakukan fungsi controlling dalam perekonomian.
Dengan fungsi controlling yang tepat, diharapkan bahwa aktivitas perekonomian di Amerika Serikat akan dapat berjalan dengan baik tanpa ada pihak swasta yang dapat memonopoli perekonomian di Amerika Serikat. Meskipun pelaksanaan siklus perekonomian yang baru ini belum sepenuhnya terlaksana dikarenakan harus ada tahapan-tahapan yang harus dijalani dalam perubahan siklus perokonomian. Harus ada fase penyesuaian yang membutuhkan waktu yang cukup lama, tidak bisa dilakukan dengan instant. Maka dari itu pemerintah Amerika Serikat dan juga The Fed harus sedikit bersabar dalam hal ini.
Selain mengeluarkan kebijakan menaikkan tingkat suku bunga acuan, The Fed juga mengeluarkan kebijakan sebagai pengiring kebijakan yang ada. Kebijakan yang dikeluarkan yaitu berupa penerapan premi dalam mengontrol tingkat inflasi yang ada. Karena sebelumnya tingkat inflasi yang ada sempat merosot dari target yang telah ditentukan, sehingga The Fed mengkhawatirkan tingkat inflasi yang ada akan merosot lagi dari target jika tidak ditentukan premi.

Memahami Jurus Baru Bank Indonesia Perkuat Operasi Moneter



Memahami Jurus Baru Bank Indonesia Perkuat Operasi Moneter

Bank Indonesia (BI) akan menggumumkan kebijakan baru terkait penguatan operasi moneter. Penguatan operasi moenter ini di sebut akan mengubah acuan suku bunga BI Rate ke Instrumen lainnya yang lebih mencerminkan kondisi pasar. Menurut Meteri Koordinator Perekonomian mengatakan penguatan operasi moneter sebelumnya pernah dibahas oleh bank sentral. Kenyataannya, BI rate dengan tingkat inflasi terpaut jauh. Ketika inflasi berada di level 3,5 persen, Bi Rate malah berada di posisi 6,75 persen.
Seharusnya sebenarnya, BI Rate tidak jauh dengan tingkat inflasi. Kalau ini terus menerus terjadi, maka BI Rate akan selalu tertekan oleh capital outflow dan kurs. Sejumlah bankir dan pengamat, akhirnya mengubah suku bunga acuan akan berkiblat pada bunga reverse repurchase tuju hari (repo). Kebjakan moneter yang baru ini lebih mencerminkan pada kondisi pasar yang terjadi. Sehingga, jarak antara PUAB, bunga spesial deposito dan lending facility BI tidak terpaut jatuh.
Riset Deutsche Bank menyebutkan, tingkat suku bunga acuan BI Rate sudah tidak kredibel lagi dalam mencerminkan kondisi pasar saat rupiah mengalami pergerakan, dan suku bunga acuan BI Rate justru tetap relatis stagnan. Overnight rate justru lebih relevan.
Menurut saya, jurus baru yang dikeluarkan oleh Bank Indonesia untuk mengubah kebijakan moneter yang berupa suku bunga acuan BI Rate menjadi suku bunga BI 7-Day Reserse Repo Rate merupakan suatu keputusan yang tepat untuk menjaga transmisi kebijakan moneter.
Dalam hal ini, BI Rate adalah suatu kebijakan suku bungan yang mencerminkan sikap kebijakan moneter yang telah di tetapkan oleh Bank Sentral yaitu Bank Indonesia. BI Rate ini selalu rutin diumumkan oleh Dewan Gubernur BI Setiap Rapat Dewan Gubernur secara bulanan dan diimplementasikan pada operasi moneter melalui pengelolaan simpanan likuiditas di pasar uang. Tujuannya utamanya yaitu mencapai sasaran operasional kebijakan moneter.
Sasaran operasional kebijakan moneter suku bunga acuan tersebut dicerminkan pada perkembangan yang terjadi di suku bunga Pasar Uang Antar Bank (PUAB) atau overnight (O/N). Pergerakan suku bunga Pasar Uang Antar Bank (PUAB) diharapkan akan diikuti oleh perkembangan di suku bunga deposito dan pada gilirannya juga diikuti oleh suku bunga kredit perbankan.
Dalam hal ini, BI Rate merupukan suatu indikasi level dalam suku bunga jangka pendek yang di inginkan oleh Bank Indonesia dalam upaya untuk mencapat target tingkat inflasi yang di harapkan. Dalam operasi moneter, penggunaan Bi Rate adalah untuk mengarahkan agar tingkat suku bungan Sertifikan Bank Indonesia (SBI) yang di lelang di Operasi Pasar Terbuka (OPT) oleh Bank Indoensia berada di sekitar BI Rate.
Menurut wikipedia, Sertifikat Bank Indonesia (SBI) adalah surat berharga yaitu yang dikeluarkan oleh Bank Indoensia sebagai pengakuan utang berjang waktu pendek (1-3 bulan) dengan sistem dikonto/bunga. Sertifikat Bank Indonesia (SBI) merupakan salah satu mekanisme yang digunakan Bank Indoensia untuk mengontrol kestabilan nilai Rupiah, Dengan menjual Sertifikat Bank Indonesia (SBI), Bank Indonesia dapat menyerap kelebihan uang kartal yang beredar di masyarakta.
Tingkat suku bunga yang berlaku pada setiap penjualan Sertifikat Bank Indonesia (SBI) ditentukan oleh mekanisme pasar yang berdasarkan sistem lelang dengan masyarakat. Sejak awal Juli 2005, Bank Indonesia menggunakan mekanisme BI Rate, yaitu Bank Indoenisa menggumumkan target suku bunga Sertifikat Bank Indonesia (SBI) yang diiginkan oleh Bank Indonesia untuk pelelangan pada masa periode tertentu. Bi Rate ini kemudia yang digunakan sevafai acuan pada pelaku pasar dalam mengikuti pelelangan di pasar uang.
 Bank Indonesia akan selalu mengubah kebijakan moneternya sesuai dengan perubahan yang terjadi di perekonomian. Bank Indonesia akan menaikan tingkat suku bunga jika tingkat inflasi di Indonesia di perkirakan melampaui sasaran yang telah di targetkan oleh Bank Indonesia. Kebijakan moneter adalah sebuah kebijakan yang bertujuan untuk meningkatkan pendapatan nasional dengan cara mengubah jumlah uang yang beredar di masyarakat.
Dalam hal ini, jika di suatu perekonomian terjadi deflasi (penurunan harga-harga secara serentak di masyarakat), maka Bank Indonesia akan mengubah kebijakan moneternya untuk menurunkan tingkat Bi Rate, karena inflasi yang di harapkan di masa yang akan datang berada pada dibawah sasaran yang telah ditargetkan oleh Bank Indoneisa.
Respon kebijakan moneter yang di nyatakan oleh Bank Indonesia dengan perubahan BI Rate secara konsisten dan bertahap dalam kelipatan 25 basis poin (bps). Dalam kondisi untuk menunjukkan intensi Bank Indonesia yang lebih besar terhadap pencap;aian sasaran inflasi, penurunan suku bunga Bi Rate dapat dilakukan lebih dari 25 bps. Namun, tetap dalam kelipatan 25 bps.
Sebagai sebuah mekanisme transmisi kebijakan moneter, Bank sentral memiliki tujuan dalam melakukan penyesuain terhadap suku bunga BI Rate. Salah satunya, yaitu untuk menjaga agar tingkat inflasi tetap stabil dan sesuai dengan target yang telah di tentukan. Jika terjadi kondisi yang diramalkan akan mengakibatkan lonjakan pada tingkat inflasi, seperti kenaikan bahan bakar minyak (BBM). Dengan adanya kenaikan bahan bakar minyak (BBM) maka akan diikuti dengan kenaikan harga-hara komditas di seluruh daerah. Walaupun dampak kenaikan harga komoditas tidak terjadi secara langsung tapi secara bertahap-tahap. Hal ini akan menyebabkan jumlah uang yang beredar di masyarakat akan semakin meningkat. Dalam hal ini pun, Bank Indonesia membuat kebijakan untuk meningkatkan tingkat suku bunga BI Rate untuk memperketat jumlah uang yang beredar di masyarakat. Dengan cara seperti, tingkat gejolak inflasi dapat ditahan.
Dalam rangkai untuk mencapai sasaran akhir kebijakan moneter, Bank Indonesia menerapkan kebijakan moneter melalui pengendalian tingkat suku bunga. Mekanisme transmisi kebijakan moneter menggambarkan tindakan Bank Indonesia melalui perubahan-perubahan instrumen moneter dan target operasionalnya akan mempengaruhi berbagai variabel ekonomi dan keuangan sebelum akhirnya berpengaruh ke tujuan akhir inflasi. Mekanisme tersebut terjadi melalui interaksi antara Bank Sentral, perbankan, dan sektor keuangan, serta sektor rill. Perubahan suku bunga BI Rate mempengaruhi inflasi melalui berbagai jalur, diantaranya jalur suku bunga, jalur kredit, jalur nilai tukar, jalur harga aset, dan jalur ekspetasi.
Melalui jalur suku bunga, perubahan yang terjadi BI Rate mempengaruhi suku bunga deposito dan suku bunga kredit perbankan. Apabila perekonomian sedang mengalami kelesuan atau pelemahan, Bank Indonesia dapat menggunakan kebijakan moneter yang ekspansif melalui penurunan suku bunga untuk mendorong aktifitas ekonomi. Penurunan suku bunga Bi rate akan menurunkan suku bunga kredit sehingga permintaan akan kredit dari perusahaan dan rumah tangga akan meningkat.